NovelToon NovelToon
PLEASURE AND PUNISHMENT

PLEASURE AND PUNISHMENT

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Kriminal dan Bidadari / Misteri / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:884
Nilai: 5
Nama Author: lanasyah

"Satu tubuh dicumbu, satu jiwa diburu; saat kehormatan dicuri, kenikmatan adalah hukuman mati yang paling sunyi."
​Dunia Valerie adalah logika. Sebagai psikolog forensik, ia terbiasa membedah kegelapan. Namun, insiden misterius melempar jiwanya ke raga yang paling ia benci: Zura, bintang film dewasa yang baru saja dieksekusi rapi. Valerie terbangun di hotel pengap, menyadari ia terjebak dalam raga seorang "pendosa".
​Ia terpaksa memasuki "Klub 0,1%", lingkaran elit berisi penguasa dengan fantasi gelap. Valerie harus memerankan Zura demi membongkar konspirasi pembunuhannya. Namun,kejutan mengerikan menanti; tubuh asli Valerie telah bangun, dihuni jiwa Zura yang licik. Zura sengaja menukar nasib untuk mencuci masa lalunya, menjadikan Valerie tumbal bagi musuh-musuhnya. Kini, Valerie harus bertarung melawan waktu dan adiksi fisik sebelum identitasnya hancur total. Dalam dunia noir ini,kehormatan dan kehancuran hanya setipis kulit yang mereka kenakan. Kesucian mati,kini waktunya pembalasan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lanasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: PERTEMUAN DENGAN PEMANGSA

Julian tidak bergerak. Ia hanya berdiri di sana, satu anak tangga di atasku, membiarkan keheningan yang menyesakkan menyelimuti kami berdua. Asap dari rokok yang kini ia nyalakan merayap lambat di antara kami, menciptakan tirai tipis yang menyamarkan ekspresi wajahnya. Namun, aku bisa merasakan tatapannya—seperti pembedah yang sedang mencari titik lemah pada subjeknya. Di mata Julian, raga Zura hanyalah sebuah objek, sebuah aset yang seharusnya sudah kedaluwarsa.

"Tiket keluar?" Julian akhirnya bersuara, tawanya terdengar seperti gesekan amplas pada kayu. "Kau bicara seolah-olah kau punya kuasa, Zura. Padahal satu-satunya alasan kau masih bernapas adalah karena aku belum menarik pelatuk ini."

Ia melangkah turun, perlahan namun pasti, hingga ia berdiri tepat di depanku. Ia jauh lebih tinggi dari raga ini. Kehadirannya mengintimidasi, membawa aura kekerasan yang dingin. Ia menghembuskan asap rokok tepat ke wajahku. Aku tidak terbatuk. Aku bahkan tidak berkedip. Valerie yang asli sering menghadapi pembunuh berantai di ruang interogasi; gertakan seperti ini adalah makanan sehari-hariku.

Julian menyipitkan mata. Keheranannya semakin nyata. "Biasanya kau akan gemetar dan mencoba menawarkan tubuhmu agar aku tidak melaporkanmu ke pusat. Tapi sekarang? Kau menatapku seolah kau sedang mengotopsi jiwaku."

"Mungkin karena aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk ditawarkan selain kebenaran, Detektif," balasku tenang. "Pria di kamar 402 itu. Namanya adalah salah satu donatur terbesar di kota ini, bukan? Dan kau dikirim ke sini bukan untuk menangkap pembunuhnya, tapi untuk memastikan Zura—si pelacur pecandu—menjadi tersangka utama sebelum ia ditemukan mati overdosis. Skenario yang bersih. Klasik."

Tangan Julian bergerak cepat. Ia mencengkeram leherku dan mendorongku hingga punggungku membentur dinding semen dengan keras. Rasa sakit menjalar dari tulang belikatku, dan tubuh Zura yang ringkih mulai protes. Oksigen mulai menipis, tapi aku tetap menjaga mataku tetap terkunci pada matanya yang kemerahan.

"Siapa yang memberitahumu soal itu?" geram Julian. Wajahnya hanya beberapa inci dari wajahku. "Zura yang kusewa tidak sepintar ini. Kau memakai narkoba jenis baru atau apa?"

Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa salah di wajah cantik Zura. "Aku hanya mulai menghubungkan titik-titik yang kalian biarkan berceceran. Kau tahu apa yang lucu, Julian? Kau adalah anjing pelacak yang hebat, tapi kau berada di rantai yang salah. Klub 0,1% tidak akan membiarkanmu hidup setelah tugas ini selesai. Kau tahu terlalu banyak. Kau sama 'sekali-pakainya' denganku."

Cengkeraman Julian mengendur, bukan karena rasa kasihan, tapi karena keraguan yang mulai merayap di pikirannya. Ia melepaskanku, lalu mundur satu langkah. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah foto yang tampak seperti hasil jepretan kamera pengawas. Di foto itu, Zura terlihat sedang masuk ke kamar 402 beberapa jam yang lalu.

"Rencana berubah," ucap Julian pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Kau tidak boleh mati di sini. Bukan karena aku peduli, tapi karena jika kau bicara seperti ini di depan pers, semuanya akan berantakan."

Ia menyambar lenganku—tepat di bekas suntikan yang masih nyeri—dan menyeretku menuju pintu keluar lantai dasar. Aku terhuyung, mencoba menyamai langkah besarnya sementara kepalaku mulai berdenyut lagi. Gejala sakau itu kembali datang, lebih kuat dari sebelumnya. Keringat dingin mulai membasahi gaun hitamku, dan dunianya terasa mulai mencair di tepian penglihatanku.

"Lepaskan," desisku, mencoba menarik tanganku.

"Diam dan ikut aku jika kau tidak ingin kepalamu meledak di gang ini," ancam Julian.

Kami keluar ke gang sempit yang basah oleh sisa hujan. Sebuah SUV hitam dengan kaca gelap menunggu di sana, mesinnya menderu rendah seperti binatang buas yang sedang menggeram. Julian membukakan pintu penumpang dengan kasar dan mendorongku masuk. Sebelum ia menutup pintu, ia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Siapa pun kau yang sedang meminjam raga Zura saat ini," bisik Julian dengan nada yang nyaris terdengar seperti peringatan tulus, "berdoalah agar kau bisa terus berakting. Karena begitu kau terpeleset, aku sendiri yang akan memastikan kau kembali ke liang lahat."

Pintu tertutup dengan dentuman keras. Di dalam mobil yang kedap suara itu, aku terduduk lemas. Aku meraba dadaku, merasakan detak jantung Zura yang liar. Di dalam saku pakaian dalamku, Koin Hitam itu terasa seperti membakar kulitku.

Aku menoleh ke luar jendela saat Julian memutar mobil. Di kejauhan, lampu biru-merah mobil polisi mulai mengerumuni lobi hotel. Aku melihat sosok seorang wanita keluar dari ambulans di depan hotel, dikelilingi oleh paramedis dan kilatan lampu kamera.

Jantungku seakan berhenti berdetak.

Wanita itu memiliki rambut hitam yang dicepol rapi. Ia memakai setelan blazer abu-abu yang kukenal baik. Bahkan dari kejauhan, aku mengenali kacamata berbingkai tipis itu. Itu adalah diriku. Itu adalah Valerie.

Wanita itu menoleh ke arah SUV kami yang melaju menjauh. Melalui kaca jendela, aku bersumpah melihat 'diriku' di sana tersenyum. Bukan senyum Valerie yang penuh empati, melainkan senyum Zura yang penuh kemenangan dan kelicikan.

"Zura," bisikku menyebut namaku sendiri dengan kebencian yang mendalam.

"Apa?" tanya Julian tanpa menoleh, tangannya lincah memutar kemudi menghindari kerumunan.

"Tidak ada," jawabku, sambil mengepalkan tangan hingga kuku-kukuku menusuk telapak tangan. "Hanya menyadari bahwa neraka ternyata bukan sebuah tempat, melainkan wajah yang biasa kulihat di cermin setiap pagi."

Julian tidak membalas. Ia menginjak pedal gas, membawa raga Zura dan jiwa Valerie masuk lebih dalam ke jantung kota yang korup, menuju babak baru di mana pemangsa dan mangsa tak lagi bisa dibedakan.

1
ayin muPp
SEMANGAT KAKK, isi novel yang kamu buat berbobot banget ga cuma cinta'an gitu. anw ga ada niatan buat up di apk lain gituu? biar lebih ramee
XXAURORA: apaaaa terimakasih yaaa, ada rekomendasi apk apa kira²?/Slight/
total 1 replies
Rani Saraswaty
sbg pembaca agaknya ikut mikir lama nih, penuh dg analisa utk menambah ilmu
XXAURORA: biar ikut mikir, jadi author ada temen🤭
total 1 replies
pocong
semangat
XXAURORA: terimakasih, terus ikutin ceritanya yaaa/Kiss/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!