Seorang wanita yang dikhianati dan dihancurkan hidupnya kembali ke masa kuliah 6 tahun lalu. Berbekal ingatan masa depan, ia bertransformasi dari si "Memey" yang naif menjadi Odelyn yang predator, demi menghancurkan pria yang pernah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja. Memiliki misi Glow Up dan pola hidup sehat secara ekstrem buat balas dendam. Tapi dia malah terjebak di tengah konflik keluarga konglomerat yang misterius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam di Bawah Cahaya Tipu Daya
Setelah drama di kantor, gue berakting seolah-olah gue masih terguncang. Gue minta Gavin nemenin gue makan malam di sebuah restoran privat di daerah Dempsey Hill—tempat yang sepi dan eksklusif.
"Gue masih kepikiran omongan Rizky tadi, Vin," ucap gue sambil memainkan gelas wine, mata gue terlihat sayu.
"Dia bilang dia punya data rahasia G-Corp yang bisa hancurin lo, dan dia ngancem gue biar gue mau bantu dia 'mencuri' sisa aset lo."
Gavin menggebrak meja pelan, wajahnya memerah. "Brengsek! Jadi itu alasannya dia intimidasi lo? Dia mau meras gue lewat lo?"
"Iya... dia bilang kalau gue nggak nurut, dia bakal bikin karier gue di Singapura tamat," gue menunduk, membiarkan satu tetes air mata buatan jatuh.
"Gue takut, Vin. Gue nggak mau kehilangan pekerjaan ini, tapi gue juga nggak mau hancurin lo."
Gavin langsung pindah duduk ke samping gue, merangkul gue erat.
"Enggak, Lyn. Gue nggak akan biarin itu terjadi. Gue bakal lawan dia. Apapun yang dia punya, gue punya yang lebih besar."
Di saat Gavin lagi sibuk menenangkan gue dengan kata-kata manis, gue melakukan langkah kedua. Gue pura-pura membetulkan posisi tas gue, tapi tangan gue dengan cekatan mengambil HP Gavin yang tergeletak di meja.
Karena dia lagi mode "pahlawan panik", dia bahkan nggak sadar saat gue menggunakan jarinya (yang lagi ngerangkul gue) buat membuka Face ID atau fingerprint HP-nya.
Gue mengirim sebuah dokumen keuangan G-Corp yang paling sensitif ke email pribadi gue dalam hitungan detik, lalu menaruh HP-nya kembali.
Sambil izin ke toilet, gue mengeluarkan HP gue sendiri. Gue mengirim pesan singkat ke Rizky.
Odelyn: "Tadi itu akting yang bagus, kan? Gavin sekarang bener-bener percaya lo itu monster. Oh, soal ancaman lo... gue baru aja dapet data aliran dana ilegal Archipelago Capital ke rekening offshore di Panama. Kalau lo berani buka mulut soal audit gue, dokumen ini bakal sampe ke otoritas moneter Singapura besok pagi. Main bersih atau hancur bareng, Rizky?"
Gue tahu Rizky bakal murka, tapi dia pengecut kalau soal urusan penjara. Dia bakal diam, setidaknya untuk sementara.
Gue balik ke meja dengan senyum paling manis yang pernah gue miliki. Gavin menatap gue dengan penuh pemujaan.
"Lyn, lo tenang aja. Besok gue bakal perintahin tim hukum gue buat cari celah Archipelago Capital. Kita bakal hancurin Rizky bareng-bareng," ucap Gavin mantap.
Gue menggenggam tangannya. "Makasih ya, Vin. Gue nggak tahu harus gimana kalau nggak ada lo. Lo bener-bener penyelamat gue."
Gavin tersenyum bangga, ngerasa egonya kembali pulih sebagai laki-laki pelindung. Dia nggak tahu kalau malam ini, dia baru saja memberikan kunci kehancuran perusahaannya sendiri ke tangan gue lewat HP-nya tadi. Dia juga nggak tahu kalau "musuh" yang dia lawan (Rizky) sebenarnya sedang gue ancam di balik layar.
...
Rencana "Mastermind" gue ternyata punya satu celah: gue meremehkan seberapa besar api dendam Rizky. Dia bukan cuma mau mengancam, dia sudah menyiapkan "bom waktu" sejak dia menginjakkan kaki di Singapura.
Pagi itu, kantor G-Corp digerebek. Bukan oleh polisi, tapi oleh tim pengambilalihan paksa. Rizky masuk ke ruangan CEO dengan senyum kemenangan yang paling mengerikan. Di tangannya ada dokumen akuisisi yang sah.
"Gimana rasanya, Vin?" tanya Rizky sambil melempar dokumen ke meja. "Gue udah beli semua hutang perusahaan lo lewat pihak ketiga selama enam bulan terakhir. Secara hukum, G-Corp sekarang milik Archipelago Capital. Lo... nggak punya apa-apa lagi."
Gavin berdiri terpaku.
Wajahnya pucat pasi. Seluruh kerja kerasnya buat nebus dosa masa lalu hilang dalam hitungan detik. Rizky nggak berhenti di situ. Dia menoleh ke arah gue dengan tatapan tajam.
"Dan buat lo, Olyn... lo pikir ancaman money laundering itu bakal mempan? Gue udah bersihin semua jejak itu sebelum gue nemuin lo. Sekarang, lo nggak punya kartu buat lawan gue."