Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9# Terjebak 16 Bulan
Tiga hari telah berlalu sejak serangan monster yang merusak sebagian fasilitas di Saka. Sesuai kesepakatan, mereka menunda keberangkatan untuk memberikan waktu bagi Rayden memulihkan traumanya. Selama tiga hari itu, suasana camp sangat sunyi. Rayden lebih banyak diam, sementara Lira terus mendampinginya. Arlo dan Zephyr memanfaatkan waktu untuk memperkuat senjata mereka, sementara Harry tetap waspada di mulut gua.
"Waktu kita habis," ucap Harry pada pagi hari keempat. Ia menunjuk ke arah alat pelindung listrik milik Dokter Luz yang mulai mengeluarkan suara dengungan aneh dan lampu indikatornya berkedip merah. "Energinya akan habis. Jika kita tetap di sini, kita hanya menunggu dinding ini runtuh diserang kawanan monster. Kita harus pergi sekarang."
Dengan hati yang berat, mereka semua mengemasi barang-barang. Rayden tampak pucat, namun ia berusaha berdiri tegak di samping Finn. Dokter Luz berjalan di tengah barisan dengan tudung jas putihnya yang kotor, wajahnya yang berusia 30-an tahun itu tetap dingin dan penuh rahasia, memicu tatapan curiga dari Zephyr.
Baru sekitar sepuluh menit mereka meninggalkan mulut gua Saka, kabut tebal tiba-tiba turun menyelimuti jalur perak. Udara mendadak sunyi, bahkan suara burung-burung hutan pun menghilang.
"Sesuatu datang," bisik Lira, bulu kuduknya berdiri.
Tiba-tiba, dari balik bayang-bayang pohon raksasa, tiga ekor Phenix Omega melompat keluar secara serentak. Serangan itu begitu cepat hingga memecah formasi mereka. Arlo terlempar ke arah semak berduri saat salah satu monster menghantamkan kaki besarnya ke tanah. Ia berusaha meraih senjatanya, namun monster itu sudah berada di atasnya, menekan dadanya hingga Arlo tersedak napas.
Mata kuning monster itu berkilat, rahangnya terbuka lebar tepat di atas wajah Arlo. Arlo sudah tidak punya tenaga lagi; rasa sakit di dadanya membuat pandangannya mulai menghitam. Ia merasa maut benar-benar sudah di depan mata.
TAK! DUARRR!
Sebuah anak panah dengan hulu ledak kecil menghantam sendi kaki monster itu, meledakkannya hingga hancur. Di saat yang sama, seorang pemuda asing melompat dari dahan pohon tinggi. Ia memegang sebuah tombak mekanis yang memancarkan sengatan listrik biru. Dengan gerakan yang sangat terlatih, ia menghujamkan tombaknya ke leher monster itu hingga makhluk itu tewas seketika.
"Menyingkir!" teriak pemuda asing itu sambil menarik paksa Arlo menjauh dari bangkai monster.
Arlo terengah-engah, menatap pemuda itu dengan bingung. Pemuda itu terlihat berusia sekitar 18 tahun, berpakaian kulit monster yang penuh dengan goresan luka. Ia segera berbalik dan membantu Zephyr serta Harry menghalau dua monster lainnya hingga mereka melarikan diri ke dalam kegelapan kabut.
Suasana kembali sunyi, namun penuh dengan ketegangan baru. Arlo dan teman-temannya segera mengangkat senjata mereka, menodongkan potongan besi dan kayu tajam ke arah pemuda asing itu. Pemuda itu pun tidak tinggal diam; ia mengangkat tombak listriknya, siap menyerang balik.
"Siapa kau?! Kenapa kau mengikuti kami?!" bentak Harry dengan suara berat.
"Aku tidak mengikuti kalian! Kalian yang masuk ke wilayah perburuan kami!" balas pemuda itu dengan nada yang sama kerasnya. "Namaku Rick. Dan turunkan senjata kalian jika tidak ingin lubang di dada kalian bertambah!"
Rick sama sekali tidak mengenal Arlo, apalagi Dokter Luz. Baginya, mereka hanyalah sekelompok orang asing yang mencurigakan.
"Rick! Sudah cukup!" sebuah suara perempuan terdengar dari balik pohon.
Seorang gadis bernama Cicilia muncul sambil menopang seorang pemuda bernama Leo. Keadaan Leo sangat mengerikan, perutnya berlumuran darah segar dan wajahnya sepucat kertas. Mereka bertiga mengenakan gelang perak yang sama dengan Arlo dan teman-temannya.
"Tolong..." bisik Cicilia dengan suara parau. "Leo terluka parah. Kami tidak punya obat lagi."
Harry dan Arlo saling berpandangan. Mereka melihat gelang di tangan ketiga orang asing itu. "Kalian... subjek eksperimen juga?" tanya Arlo pelan.
Rick menurunkan tombaknya sedikit, namun matanya tetap penuh kecurigaan. "Eksperimen? Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Kami sudah terjebak di neraka ini selama enam belas bulan. Kami adalah sisa dari tim berjumlah dua belas orang. Sembilan teman kami sudah mati dikuliti oleh monster-monster itu."
"Enam belas bulan?" Naya menutup mulutnya dengan tangan, tak percaya ada yang bisa bertahan selama itu di luar sana.
"Kita tidak bisa bicara di sini. Darah Leo akan memancing kawanan yang lebih besar," ucap Arlo tegas. Meskipun ia tidak mengenal mereka, ia tidak bisa membiarkan sesama remaja dengan gelang yang sama mati begitu saja. "Kembali ke Saka! Sekarang!"
Dengan sangat waspada, kedua kelompok yang tidak saling kenal ini bergerak kembali menuju gua Saka. Harry memimpin di depan dengan rasa tidak percaya bahwa ada kelompok lain yang selamat selama itu.
Begitu sampai di dalam camp, suasana menjadi sangat penuh sesak dan tegang. Leo segera dibaringkan di atas tumpukan jerami. Naya langsung mengeluarkan kotak medisnya untuk menghentikan pendarahan Leo. Dokter Luz melangkah maju untuk membantu, namun langkahnya terhenti saat Rick menodongkan tombaknya ke arah dada Luz.
"Siapa kau, wanita?" tanya Rick dengan nada mengancam. "Kenapa kau mengenakan jas laboratorium orang-orang yang memenjarakan kami?"
Luz menatap Rick dengan tatapan dingin yang biasa ia tunjukkan. "Aku adalah orang yang bisa menyelamatkan nyawa temanmu. Turunkan senjatamu jika kau ingin dia tetap bernapas."
Rick menatap Luz dengan penuh kebencian dan rasa asing. Ia tidak mengenal Luz, namun pakaian yang dikenakan Luz adalah simbol dari segala penderitaannya selama 16 bulan. "Aku tidak percaya pada siapapun yang mengenakan jas itu. Arlo, siapa wanita ini? Kenapa kalian bersamanya?"
"Kami menemukannya di bawah tanah," jawab Arlo sambil mencoba menenangkan Rick. "Dia membantu kami."
Malam itu, Saka dipenuhi oleh rasa tidak percaya yang amat sangat. Kelompok Arlo mencurigai kelompok Rick sebagai ancaman baru, sementara kelompok Rick mencurigai Luz sebagai bagian dari orang-orang jahat yang membuang mereka. Harry duduk di dekat pintu gua, mengamati sepuluh remaja yang kini berkumpul di dalam rumahnya.
"Sembilan tahun aku sendirian... dan sekarang tempat ini penuh dengan anak-anak yang hancur," gumam Harry pada diri sendiri. Arlo duduk bersandar pada dinding tebing, menatap Rick yang terus berjaga di samping Leo. Mereka tidak saling kenal, mereka saling curiga, namun luka di pergelangan tangan mereka adalah satu-satunya hal yang mempersatukan mereka malam itu.