Bagi Arkanza Malik, sentuhan wanita adalah racun yang mematikan. CEO dingin ini mengidap penyakit aneh yang membuatnya sesak napas dan kulitnya terbakar setiap kali kulitnya bersentuhan dengan lawan jenis. Namun, sebuah insiden di lorong hotel mengubah segalanya.
Aira, gadis miskin yang kabur dari kejaran rentenir setelah menghantam kepala pria yang ingin melecehkannya, tanpa sengaja jatuh ke pelukan Arkanza. Bibir mereka bertemu dalam kegelapan. Arkanza yang seharusnya mati karena alergi, justru merasakan napasnya kembali. Gadis kumal ini adalah satu-satunya penawar racunnya!
"Aku sudah melunasi hutang ayahmu. Sebagai gantinya, kau harus menjadi istriku dan biarkan aku menyentuhmu kapan pun aku membutuhkannya."
Aira terjebak. Menjadi "obat hidup" bagi CEO kejam yang tidak punya hati. Di antara kontrak miliaran rupiah dan intrik perebutan harta, mampukah Aira bertahan tanpa harus menyerahkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Sayap-Sayap Maut
Guncangan hebat menghantam badan jet pribadi milik keluarga Malik. Alarm merah menyala di seluruh kabin, mengeluarkan bunyi melengking yang menusuk telinga. Arkanza, yang masih lemas akibat serangan alergi buatan, mencoba bangkit dengan bertumpu pada bahu Aira.
"Arkan, jangan paksakan diri! Kau masih lemas!" teriak Aira di tengah deru angin yang mulai masuk melalui celah ventilasi yang rusak.
"Aira... dengarkan aku," Arkanza mencengkeram tangan Aira, tatapannya tajam meski matanya masih memerah. "Edward tidak hanya mengirim pembunuh. Dia meretas sistem autopilot pesawat ini. Dia ingin kita lenyap di atas samudra tanpa meninggalkan jejak. Kita harus ke kokpit, sekarang!"
Aira memapah Arkanza, berjuang melewati lorong pesawat yang miring ke satu sisi. Saat mereka mencapai kokpit, pemandangan di depan mereka sangat mengerikan. Pilot pingsan di kursinya dengan luka di kepala, sementara layar navigasi hanya menampilkan kode-kode error berwarna merah.
"Sialan!" Arkanza mendudukkan diri di kursi kopilot. Jari-jarinya yang masih gemetar mulai menari di atas tombol kendali. "Dia mengunci sistem hidrolik dari jarak jauh!"
"Apa yang bisa kulakukan, Arkan? Beritahu aku!" Aira berdiri di belakangnya, memegangi kursi agar tidak terjatuh akibat turbulensi.
"Aira, kau lihat kotak hitam di bawah panel radar itu? Buka tutupnya! Ada tuas manual di sana. Jika sistem digital mati, kita harus menarik tuas itu bersamaan dengan aku menarik kendali utama!" Arkanza terbatuk, napasnya berat. "Tapi itu sangat berat, Aira. Kau harus menggunakan seluruh tenagamu!"
Aira segera berlutut, membuka penutup baja itu hingga kukunya patah dan berdarah. Ia menemukan tuas besi yang sudah berkarat karena jarang digunakan.
"Aku siap! Sekarang, Arkan?!"
"Tunggu... tunggu sampai hidung pesawat ini sejajar dengan cakrawala!" Arkanza berteriak, keringat dingin mengucur di dahinya. "Edward... kau pikir kau bisa membunuhku sekeren ini? Tidak akan!"
Pesawat menukik tajam menuju permukaan laut yang gelap di bawah sana. Arkanza mengerang, otot-otot lengannya menegang hebat saat ia mencoba menarik kemudi manual yang sangat keras karena tekanan udara.
"SEKARANG, AIRA! TARIK!!!"
"AAAAAAARRGGHHH!" Aira menjerit, menarik tuas itu dengan sisa tenaganya.
Suara gesekan logam yang memilukan terdengar di seluruh pesawat. Perlahan, sangat perlahan, hidung pesawat mulai terangkat. Guncangan mereda sesaat, namun mesin kanan tiba-tiba meledak, mengeluarkan api yang berkobar.
"Kita kehilangan satu mesin!" Arkanza menoleh ke arah Aira. Wajahnya pucat, tapi ia tersenyum tipis—sebuah senyum penuh kegilaan dan obsesi. "Aira, jika kita tidak selamat... aku ingin kau tahu, aku tidak menyesal menculikmu ke dalam hidupku."
"Jangan bicara omong kosong!" Aira memeluk leher Arkanza dari belakang, air matanya jatuh ke bahu Arkanza. "Kau tidak boleh mati! Kau bilang kau pelindungku! Kau berjanji akan membawaku melihat kastel Ibu!"
"Kalau begitu, pegangan yang erat, Nyonya Malik!" Arkanza mengunci posisi pendaratan. "Kita akan melakukan pendaratan darurat di pangkalan militer terdekat di pesisir Inggris. Mereka tidak bisa menolak kita jika aku mengirimkan sinyal darurat diplomatik!"
Pesisir Inggris – 30 Menit Kemudian
Jet pribadi itu mendarat dengan dentuman keras, menyeret sayapnya yang terbakar di atas landasan pacu darurat. Percikan api terbang ke mana-mana sampai akhirnya pesawat berhenti tepat beberapa meter sebelum masuk ke dalam hutan.
Hening.
Arkanza perlahan membuka matanya. Ia melihat Aira tergeletak di sampingnya, pingsan namun masih bernapas. Arkanza segera meraih tubuh istrinya, memeriksanya dengan panik.
"Aira? Aira, bangun!" Arkanza menciumi wajah Aira, tangisnya pecah—sesuatu yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun. "Bangun, Sayang... kumohon..."
Aira terbatuk, matanya terbuka perlahan. "Arkan... kita... kita sudah di tanah?"
Arkanza tertawa hancur, memeluk Aira begitu erat hingga Aira sulit bernapas. "Iya, kita selamat. Kita di Inggris. Edward Sterling baru saja memberikan sambutan yang luar biasa, dan aku akan membalasnya dengan neraka."
Tiba-tiba, suara sirine mendekat. Beberapa mobil hitam mewah—bukan mobil polisi atau ambulans—mengepung bangkai pesawat mereka. Dari salah satu mobil, keluarlah Arthur Kingsley yang tadi dikira sudah diamankan, namun ternyata ia punya sekutu lain.
Arthur berdiri di sana dengan senyum dingin, sementara lusinan pria bersenjata menodongkan laras senapan ke arah pintu pesawat yang hancur.
"Tuan Arkanza, Nona Aira... Selamat datang di tanah kelahiran keluarga Sterling," suara Arthur menggema. "Tuan Edward sudah menunggu kalian untuk jamuan makan malam. Dan kali ini, tidak ada jalan untuk lari."
Arkanza berdiri, menutupi tubuh Aira dengan tubuhnya sendiri. Meski bajunya robek dan tubuhnya penuh luka, aura predatornya kembali muncul.
"Kau pikir senjata ini bisa menghentikanku, Arthur?" Arkanza melangkah keluar dari bangkai pesawat, matanya berkilat penuh dendam. "Bawa aku ke hadapan Edward. Aku ingin melihat wajah pengecut itu sebelum aku menghancurkan setiap inci dari apa yang dia miliki."
Aira menggenggam tangan Arkanza. "Kita masuk ke sarang serigala sekarang?"
"Tidak, Sayang," Arkanza mengecup tangan Aira di depan moncong senjata. "Serigala itu adalah aku. Mereka hanya domba yang memakai seragam."
...****************...
Saat mereka dimasukkan ke dalam mobil, Arkanza menyadari bahwa Arthur tidak membawa mereka ke kantor Sterling, melainkan ke sebuah kastel tua yang terisolasi di perbukitan kabut. Di gerbang kastel, terpajang sebuah foto besar Riana yang dicoret dengan tinta merah. Dan di bawahnya tertulis: "Kembalikan apa yang kau curi, atau kau akan menyusulnya ke jurang."