NovelToon NovelToon
Ibu Yang Tak Pernah Dipanggil Mama

Ibu Yang Tak Pernah Dipanggil Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Tiri / Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aure Vale

Helena kira setelah ia memilih menikah dengan seorang duda beranak 3 dan juga menjadi seorang mualaf kehidupannya akan membaik, namun ia salah, karena setelah menikah pun keluarga dan saudaranya tidak pernah berhenti mengusik kehidupannya belum lagi kedua anak tirinya tidak pernah menyukai keberadaannya bahkan Helena tidak pernah mendengar kata 'mama' keluar dari bibir mereka.

Dan suatu ketika, ia mengetahui niat Farhan menikahi dirinya, bahkan alasan mengapa tidak ada satupun keluarga besar Farhan menyukak dirinya. Hatinya benar-benar terluka, cinta yang tulus ia berikan kepada Farhan ternyata hanya dianggap sampah yang menjijikan olehnya.

Helena bertekad, ia akan membalas semua orang yang melukai hatinya agar mendapatkan hal yang setimpal dengan dirinya, karena mulai saat itu, ia akan berpura-pura menjadi lemah dan memaklumi banyak hal demi bisa membalas semua rasa sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Farhan dihantui rasa bersalah

Farhan menghela napas panjang, entah untuk keberapa kalinya ia menghela napas panjang seraya menatap istrinya yang sedang tertidur.

Malam ini, perasaan bersalah itu kembali muncul, kembali menyelimuti dirinya, membuat Farhan lagi-lagi tidak bisa tidur, ia gelisah sekaligus khawatir.

Farhan tidak pernah memperlakukan orang sekasar ia memperlakukan Helena, ia benar-benar kelepasan, gelap mata, karena yang diingatnya hanya rasa sakit ketika ia menemukan Elnara yang waktu itu masih menjadi istrinya sedang berhubungan badan dengan pria lain, di sebuah hotel yang kebetulan Farhan berada di sana.

Farhan ingat ketika malam dirinya memaksa Helena untuk melayani dirinya, wajah Helena yang waktu itu tiba-tiba mirip dengan Elnara, semakin membuat Farhan kalap, bahkan ia tidak sadar telah melakukan banyak sekali kekerasa pada tubuh Helena, begitu paginya, Farhan langsung merasa bersalah.

Farhan memang berniat membuat Helena hancur, tapi tidak dengan mengambil kesuciannya, karena begitu Helena benar-benar sudah jatuh cinta dengannya, Farhan bisa dengan mudah melepaskan Helena, karena mereka benar-benar tidak akan pernah terikat lagi, apalagi mereka yang tidak pernah berhubungan intim, itu semakin mmebuat Farhan dapat dengan mudah menjalan niatnya.

Tapi kini, Farhan mengambilnya secara paksa, Farhan hanya takut jika ada kehidupan baru yang tumbuh di dalam rahim Helena, karena malam itu, Farhan sudah pasti tidak menggunakan pengaman, dan itu akan membuat Farhan kesulitan menghancurkan perasaan Helena, di tambah dari hari ke hari, perasaan bersalah itu semakin besar memasuki ruang di dadanya.

Karena perasaan bersalah itu lah, Farhan berusaha keras mengabaikan Helena, agar ia tidak terjebak di dalam jebakan yang telah ia buat sendiri, Farhan berusaha menjaga jarak agar tidak lagi merasa bersalah, agar ia tetap tidak memiliki perasaan kasihan terhadap Helena, karena jika sudah menyangkut perasaan, Farhan akan kesulitan, dan yang paling Farhan takuti adalah ketika akhirnya ia menyerah dan benar-benar bersimpati kepada Helena.

"Mas,"

Farhan terkejut ketika Helena terbangun dan duduk bersandar di kepala ranjang.

"Maaf, aku mengganggu tidurmu?" tanya Farhan.

Helena menggeleng, ia menggeser tubuhnya agar semakin dekat dengan Farhan.

"mas," panggil Helena, kali ini ia memeluk pinggang suaminya dari samping dan mendongakkan kepalanya agar dapat menatap mata suaminya.

Farhan menunduk, mengangkat sebelas alisnya, seakan bertanya ada apa Helena memanggilnya.

"Kamu enggak bisa tidur?"

Farhan lagi-lagi menghela napasnya, kali ini ia akan memberanikan diri untuk meminta maaf kepada Helena, Farhan benar-benar tidak bisa lagi menyimpan rasa bersalah itu di dadanya lebih lama lagi, rasanya sangat menyiksa.

"Helen," Farhan ikut menatap mata Helena yang juga sedang menatapnya.

"Mas minta maaf," lirihnya penuh sesal.

Helena mengerutkan dahinya, bingung, minta maaf untuk apa?

"Untuk apa mas minta maaf?"

"Mas minta maaf untuk kejadian malam sebulan yang lalu, mas kelepasan, mas gelap mata, yang mas lihat bukan kamu, tapi Elnara, itulah kenapa mas sampai benar-benar kasar kepadamu," Farhan menjelaskan alasan mengapa ia benar-benar sekalap itu.

Mendengar itu, hati Helena kembali terluka, ia ingat bagaimana sakitnya ketika Farhan berulang kali memukulnya, menampar dirinya, bahkan sesekali mencambuknya dengan ikat pinggang suaminya, Helena tidak bisa melupakannya begitu saja, ia terluka, hatinya juga raganya. Dan itu semakin membuat Helena benci kepada Farhan, rasanya ia sangat muak melihat wajah Farhan yang menatap matanya lembut, merasa bersalah pun tidak ada gunanya, apalagi meminta maaf yang jelas-jelas sulit untuk Helena maafkan.

Helena langsung tersenyum kecil dan membalas tatapan suaminya sama lembutnya.

"Tidak apa-apa mas, aku sudah melupakannya, maaf juga selama sebulan itu aku mendiamkanmu bahkan mendiamkan anak-anak, waktu itu aku masih marah, tapi sekarang aku sudah tidak marah lagi," balas Helena dengan senyum tulusnya.

Bohong. Helena berbohong, sejak kapan Helena melupakan hal menyakitkan itu, karena sampai kapanpun Helena tidak akan pernah bisa benar-benar melupakan kejadian menyakitkan itu.

"Mas benar-benar minta maaf, mas merasa sangat bersalah dengan kamu, dengan keadaanmu,"

Helena langsung membuat wajah sedih, "kenapa waktu itu mas juga ikut mendiamkanku, bahkan sengaja mengabaikan aku?" tanya Helena memainkan jari-jarinya di dada Farhan.

Farhan kebingungan, jelas ia kebingungan, tidak mungkin kan ia mengatakan alasan mengapa ia sampai menjauhi Helena agar tidak merasa kasihan demi melancarkan niat dan aksinya? Farhan mencoba mencari alasan lain, alasan yang bisa Helena Terima dan masuk logika.

"Mas minta maaf sudah menjauhi dan mengabaikan kamu dalam waktu lama, mas pikir kamu yang diam waktu itu masih sangat marah dengan mas, makanya mas menjaga jarak untuk memberikan kamu waktu berdamai dengan semuanya," ucap Farhan sembari mengelus lembut punggung Helena.

"Mas marah tidak waktu aku mendiamkan kalian semua?"

Farhan langsung menggeleng, "tidak marah sama sekali, itu sangat wajar, mas mengerti kenapa kamu mendiamkan semua orang,"

Helena tersenyum lebar dan mengeratkan pelukannya, "Terima kasih, mas,"

Farhan tidak membalasnya, ia hanya mengusap-usap lembut punggung Helena.

Helena tersenyum kecil, bukan senyum tulus apalagi bahagia, sebuah senyuman licik yang tidak Farhan sadari.

"Sudah sangat larut malam, kita tidur ya?"

Helena mengangguk, lalu melepaskan pelukannya dan mengambil posisi untuk kembali berbaring, Farhan pun melakukan hal yang sama, ia berbaring dan sengaja berdekatan dengan Helena, bahkan Farhan tidur menyamping agar dapat memeluk Helena, Helena tidak menolaknya, untuk apa? Itu bagus untuk membuat Farhan jatuh cinta kepadanya.

Helena yang memang sudah sangat mengantuk, langsung tertidur, ia biarkan Farhan memeluknya erat, tapi ia sendiri tidak mau memeluk Farhan, ia malah menaruh tangannya di atas tangan Farhan, memberikan sentuhan agar Farhan merasa jika ia pun dicintai oleh Helena.

Diam-diam Farhan memperhatikan wajah istrinya yang sudah terlelap, napasnya benar-benar sangat teratur, tidurnya pun sangat Damai, tidak terlihat gelisah sama sekali.

Sedangkan Farhan malah tambah gelisah, bukan karena mengkhawatirkan Helena, tapi mengkhawatirkan hatinya yang sepertinya sudah jatuh kepada Helena. Farhan jadi sedikit memaki dirinya karena kejadian bodoh malam itu, jika seandainya itu tidak terjadi, mungkin Farhan hampir mencapai finish untuk bisa mencapai tujuannya.

"Kenapa aku menjadi seperti ini? Apa ini efek malam ini? Atau masih dengan alasan yang sama seperti sebelum-sebelumnya?" lirih Farhan di depan wajah Helena yang tampak damai.

"Bagaimana aku bisa membalaskan dendamku kepadamu, jika kamu saja malah membuat hatiku ragu untuk melakukannya, bagaimana ini Helena? Aku tidak bisa lagi mengabaikanmu, seharusnya malam itu aku pergi, agar aku tidak seperti sekarang,"

Diam-diam Helena tersenyum di dalam hatinya, ia memang mengantuk, tapi masih sanggup mendengar ocehan suaminya yang semakin membuat Helena bersemangat untuk menjadikan Farhan alat balas dendam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!