"Aku tidak membelimu untuk dicintai. Aku membelimu untuk menghancurkan ayahmu."
Aria Vane hanyalah tumbal. Dijual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi utang darah kepada Dante Moretti, pria paling kejam yang pernah memimpin sindikat Milan.
Dante tidak butuh istri. Dia butuh senjata.
Aria tidak butuh perlindungan. Dia butuh balas dendam.
Di atas ranjang yang sama, mereka saling mengincar nyawa. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Aria menyadari bahwa sang Iblis yang menikahinya adalah satu-satunya peluru yang ia miliki untuk bertahan hidup.
Satu pernikahan. Dua pengkhianatan. Ribuan peluru yang mengintai.
Di dunia Moretti, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta, atau kau akan menjadi orang pertama yang mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coldmaniac, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Tamu dari Masa Lalu
LANTAI marmer yang dingin di koridor utama Vila Como seolah ikut membeku saat Dante dan Aria melangkah menuruni tangga besar. Cahaya lampu gantung kristal yang biasanya memberikan kesan hangat, kini terasa seperti sorotan lampu interogasi yang tajam. Di bawah, di ruang tamu yang luas, seorang pria duduk dengan tenang di sofa kulit sapi berwarna cokelat tua.
Pria itu tampak berusia akhir lima puluhan, mengenakan setelan jas linen berwarna krem yang terlihat santai namun sangat mahal. Rambutnya yang memutih di bagian pelipis disisir rapi ke belakang, memberikan kesan pria terhormat yang menghabiskan waktunya di kapal pesiar atau lapangan golf, bukan di dalam parit peperangan mafia.
Namun, saat pria itu berdiri dan berbalik, Aria melihat mata itu. Mata yang sama dengan milik Dante—abu-abu badai yang tajam, tak kenal ampun, dan dipenuhi oleh ribuan rahasia yang terkubur.
"Dante, keponakanku tersayang," ucap pria itu. Suaranya halus, seperti beledu, namun memiliki getaran otoritas yang tidak bisa diabaikan. "Sudah berapa lama? Lima belas tahun? Kau sudah tumbuh menjadi pria yang jauh lebih mengancam daripada ayahmu."
Dante tidak membalas pelukan atau jabat tangan. Ia berhenti beberapa langkah di depan pria itu, tangannya masih melingkar protektif di pinggang Aria. Aura Dante berubah seketika; ia kembali menjadi predator yang siap menerkam.
"Alessandro," sahut Dante, suaranya sedingin es di puncak Alpen. "Terakhir kali aku mendengarmu, kau sedang melarikan diri ke Brazil karena Lorenzo ingin memenggal kepalamu karena mencuri dana operasional klan. Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku tidak akan menyelesaikan pekerjaan yang gagal diselesaikan ayahku?"
Alessandro tertawa kecil, suara yang terdengar begitu tulus hingga hampir menipu. Ia kembali duduk dan menuangkan wiski ke dalam gelas tanpa menunggu izin.
"Duniaku sudah berubah, Dante. Lorenzo sudah tidak ada, dan kau... yah, kau baru saja membuat kekacauan besar di Sisilia dan New York. Aku datang bukan sebagai musuh, tapi sebagai suara akal sehat bagi keluarga ini."
Mata Alessandro beralih ke arah Aria. Ia memperhatikan wanita itu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang membuat Aria merasa seperti sebuah lukisan di museum yang sedang ditaksir harganya.
"Dan ini... Nyonya Moretti yang terkenal itu," gumam Alessandro. "Aria Vane. Putri dari Julian. Menarik. Sangat menarik. Dante, kau selalu punya selera yang berisiko, persis seperti ibumu."
Dante mengencangkan rahangnya. "Jangan sebut nama ibuku di depan mulutmu yang kotor itu, Alessandro. Katakan apa maumu, lalu pergilah sebelum aku kehilangan kesabaran."
Alessandro meletakkan gelasnya dan mencondongkan tubuh ke depan. Ekspresi santainya menghilang, digantikan oleh keseriusan yang mematikan.
"Dewa-dewa Sisilia tidak senang, Dante. Serangan Lucchese ke Castello dei Corvi adalah sebuah penghinaan besar. Mereka menganggap kau tidak mampu menjaga tanah suci kita karena kau terlalu sibuk bermain rumah-rumahan dengan putri musuhmu. Aku di sini untuk mewakili 'Dewa-dewa' itu. Mereka menuntut agar tanah di Sisilia dikelola oleh seseorang yang memiliki garis keturunan murni dan pengalaman yang lebih matang."
"Maksudmu dirimu sendiri?" tanya Aria, memecah kesunyian dengan suara yang tenang namun tajam.
Alessandro menoleh ke arah Aria, sedikit terkejut namun tampak terkesan dengan keberanian wanita itu. "Kau cerdas, Nyonya. Sisilia butuh stabilitas. Dan aku memiliki dukungan dari klan-klan lama yang merasa Dante terlalu impulsif. Jika kau memberikan kendali Sisilia kepadaku secara sukarela, Dante, maka klan Moretti akan tetap utuh. Jika tidak... perang saudara akan membuat serangan Lucchese kemarin terlihat seperti permainan anak-anak."
Dante tetap diam selama beberapa saat, matanya menatap Alessandro seolah ia sedang menghitung berapa cara untuk membunuhnya di tempat itu juga. Aria bisa merasakan detak jantung Dante yang mulai meningkat di balik punggungnya.
"Pergilah," ucap Dante akhirnya. "Agostino akan mengantarmu ke pintu. Jangan pernah menginjakkan kaki di propertiku lagi."
Alessandro berdiri, merapikan jasnya dengan tenang. "Aku akan pergi. Untuk sekarang. Tapi ingatlah ini, Dante. Kau mungkin sudah mengalahkan Julian Vane, tapi dia hanyalah seekor tikus. Musuh yang sesungguhnya adalah mereka yang duduk di meja makan bersamamu, mereka yang berbagi nama belakang yang sama denganku. Aku akan menunggu jawabanmu di Palermo dalam tiga hari."
Alessandro memberikan anggukan sopan ke arah Aria, lalu ia berjalan pergi dengan langkah yang ringan, seolah ia baru saja memberikan kabar baik.
Setelah pintu depan tertutup, Dante langsung menuju bar dan menenggak wiski dalam satu tarikan napas. Ia membanting gelas itu ke meja hingga retak.
"Dante," panggil Aria pelan, mendekati suaminya.
"Dia benar tentang satu hal, Aria," desis Dante tanpa berbalik. "Para sesepuh di Sisilia adalah sekumpulan serigala tua yang haus darah. Jika Alessandro berhasil meyakinkan mereka bahwa aku lemah, mereka tidak akan ragu untuk menusukku dari belakang."
"Tapi kau tidak lemah, Dante. Kita baru saja menghancurkan Vane dan Lucchese!"
Dante berbalik, matanya dipenuhi oleh kegelapan yang belum pernah Aria lihat sebelumnya. "Di dunia mafia, kemenangan di luar negeri tidak berarti apa-apa jika kau tidak bisa mengendalikan rumahmu sendiri. Sisilia adalah jantung dari kekuatan Moretti. Jika aku kehilangan Sisilia, aku kehilangan segalanya. Termasuk kemampuanku untuk melindungimu."
Aria memegang wajah Dante dengan kedua tangannya, memaksanya untuk menatapnya. "Lalu kita hadapi mereka. Kita pergi ke Palermo. Kita tunjukkan pada mereka siapa pemilik sah dari nama Moretti."
Dante menatap Aria, ada kilatan kekaguman di matanya. "Kau tidak tahu apa yang kau minta, Aria. Pertemuan di Palermo bukan seperti pesta gala di New York. Itu adalah perjamuan berdarah. Jika mereka tidak menyukaimu, kau tidak akan pernah keluar dari sana hidup-hidup."
"Aku sudah pernah menatap maut di ruang aman kastil itu, Dante. Aku sudah pernah membunuh untukmu. Jangan pernah meremehkanku lagi," ucap Aria dengan nada yang tak terbantahkan.
Dante menarik Aria ke dalam pelukannya, membenamkan wajahnya di leher wanita itu. "Terkadang aku tidak tahu apakah aku yang menyelamatkanmu, atau kau yang sedang menyeretku ke dalam kegelapan yang lebih dalam, Aria."
Tiga hari berikutnya adalah masa persiapan yang sangat intens. Dante tidak lagi hanya melatih Aria menembak; ia mulai mengajarkan Aria tentang politik internal klan-klan Sisilia. Ada lima keluarga besar yang memegang kekuasaan di sana, dan Moretti adalah yang paling dominan, namun juga yang paling diincar.
Aria mempelajari silsilah keluarga, mengetahui siapa yang berutang budi pada kakek Dante, dan siapa yang memiliki dendam pada ayahnya. Ia menyadari bahwa Alessandro bukan hanya seorang paman yang serakah. Dia adalah seorang manipulator ulung yang telah menghabiskan lima belas tahun di pengasingan untuk membangun jaringan sekutu di Amerika Selatan yang kini ia bawa kembali ke Italia.
"Alessandro membawa kartel Medellin bersamanya," lapor Marco saat mereka sedang rapat di ruang kerja. "Mereka menyediakan pendanaan dan tentara bayaran yang tidak punya kode etik mafia Italia. Itu sebabnya dia begitu percaya diri."
"Jadi dia membawa kotoran asing ke tanah kita sendiri," gumam Dante sambil memeriksa peta wilayah Palermo. "Itu akan menjadi kelemahannya. Para sesepuh Sisilia sangat rasis dalam hal bisnis. Mereka tidak suka orang luar ikut campur dalam tanah mereka."
Aria mencatat sesuatu di buku catatannya. "Jika kita bisa membuktikan bahwa Alessandro hanyalah boneka bagi kartel Kolombia, para sesepuh akan berbalik melawannya."
Dante menoleh ke arah Aria dengan senyum miring. "Itulah sebabnya aku mencintaimu, Nyonya Moretti. Kau selalu bisa melihat celah di balik perisai musuh."
Aria tersipu mendengar kata "cinta" yang keluar begitu alami dari mulut Dante, namun ia segera kembali fokus. "Kita butuh bukti transaksi. Jika dia menggunakan dana kartel untuk menyuap para pengawal di Sisilia, kita harus menemukannya."
Malam sebelum keberangkatan ke Palermo, suasana di vila sangat sunyi. Aria sedang berkemas ketika ia melihat Dante berdiri di balkon, menatap danau yang gelap. Aria mendekat dan memeluk pinggangnya dari belakang.
"Apa kau takut?" tanya Aria pelan.
Dante menghela napas, tangannya mengusap tangan Aria yang melingkar di perutnya. "Aku tidak takut mati, Aria. Aku sudah mati berkali-kali di dalam kepalaku. Aku hanya takut jika aku gagal, kau akan menjadi orang yang menanggung konsekuensinya. Mereka akan memperlakukanmu jauh lebih buruk daripada yang bisa kau bayangkan."
Aria memutar tubuh Dante agar menghadapnya. "Ingat sumpah kita di New York? Kita tidak akan pernah sendirian lagi. Jika kita harus jatuh, kita akan jatuh bersama. Tapi aku punya perasaan... kita tidak akan jatuh malam ini."
Dante mencium kening Aria, lalu bibirnya. Ciuman itu terasa sangat melankolis, penuh dengan beban tanggung jawab yang berat. Malam itu, mereka bercinta dengan intensitas yang berbeda—seolah-olah itu adalah terakhir kalinya mereka bisa merasakan kehadiran satu sama lain di dunia yang kejam ini.
Palermo, Sisilia
Mereka mendarat di Palermo dengan pengawalan yang jauh lebih besar. Empat mobil SUV berlapis baja membawa mereka menuju sebuah manor tua di lereng bukit yang dikenal sebagai Villa delle Ombre—Vila Bayangan. Tempat ini adalah tempat pertemuan tradisional bagi para pemimpin klan.
Suasananya sangat mencekam. Puluhan pria bersenjata dengan jas hitam berdiri di sepanjang jalan masuk. Tidak ada suara musik, tidak ada tawa. Hanya ada suara angin yang berhembus melalui pohon-pohon zaitun tua.
Dante keluar dari mobil, mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja hitam—penampilan seorang penguasa yang sedang berduka namun siap untuk membantai. Aria keluar di sampingnya, mengenakan gaun panjang berwarna ungu tua yang anggun namun memberikannya kesan misterius dan kuat. Di jari manisnya, cincin zamrud pemberian Dante berkilau di bawah sinar bulan.
Mereka melangkah masuk ke dalam aula besar di mana sebuah meja bundar raksasa sudah terisi oleh empat pria tua berwajah kaku. Alessandro duduk di antara mereka, tampak sangat nyaman seolah ia sudah memenangkan pertempuran.
"Keponakanku," sapa Alessandro sambil berdiri. "Tepat waktu seperti biasa."
Dante tidak menjawab. Ia menarik kursi untuk Aria, lalu ia sendiri duduk dengan santai namun waspada.
"Mari kita mulai," ucap salah satu sesepuh, Don Calogero, seorang pria berusia delapan puluh tahun yang suaranya terdengar seperti gesekan kertas pasir. "Dante Moretti, namamu sedang dipertanyakan. Ada laporan bahwa kau telah melemahkan keluarga dengan membawa musuh ke dalam tempat tidurmu dan membiarkan orang asing menyerang Castello dei Corvi."
Dante menatap Don Calogero dengan tatapan yang bisa membekukan darah. "Serangan ke kastil sudah dibalas dengan darah musuh yang membasahi jalanan New York. Jika itu yang kau sebut lemah, Don Calogero, maka aku sarankan kau memeriksa kembali definisi kekuatanmu."
"Dan bagaimana dengan istrimu?" tanya sesepuh lain. "Darah Vane tidak punya tempat di meja ini."
Aria berdeham, menarik perhatian semua orang di ruangan itu. Ia membuka tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah flashdisk kecil, meletakkannya di tengah meja bundar.
"Sebelum Anda mempermasalahkan darah saya, mungkin Anda harus mempermasalahkan uang yang saat ini sedang mengalir ke rekening Anda masing-masing," ucap Aria dengan nada tenang namun mematikan.
Semua sesepuh terdiam. Alessandro sedikit mengernyit.
"Di dalam perangkat itu," lanjut Aria, "terdapat bukti bahwa Alessandro Moretti telah menandatangani kontrak rahasia dengan kartel Medellin. Dia menjanjikan bahwa jika dia menguasai Sisilia, dia akan mengubah pelabuhan kita menjadi gerbang utama bagi kokain dari Amerika Selatan. Dia akan mencemari tradisi kita dengan bisnis yang akan menarik perhatian seluruh agensi intelijen dunia ke pulau ini."
Aria menatap Alessandro langsung ke matanya. "Dia tidak ingin menyelamatkan keluarga ini. Dia ingin menjualnya kepada orang yang menawarkan harga tertinggi. Dia adalah pengkhianat yang sebenarnya, bukan saya."
Aula itu mendadak menjadi sangat sunyi, hanya suara detak jam kuno di sudut ruangan yang terdengar. Alessandro mencoba untuk tertawa, namun tawanya terdengar hambar.
"Itu adalah fitnah!" teriak Alessandro. "Dante, kau menyuruh istrimu untuk berbohong demi menyelamatkan posisimu?"
Dante berdiri, menaruh kedua tangannya di meja, dan mencondongkan tubuh ke arah Alessandro. "Aria tidak pernah berbohong tentang angka, Alessandro. Dia seorang pengacara. Dia tahu cara melacak uang yang bahkan iblis pun tidak bisa sembunyikan."
Don Calogero mengambil flashdisk itu dan memberikannya kepada asistennya untuk diperiksa di laptop. Beberapa menit kemudian, asisten itu membisikkan sesuatu ke telinga Don Calogero yang membuat wajah pria tua itu berubah menjadi sangat gelap.
Don Calogero menatap Alessandro dengan jijik. "Kau membawa Kolombia ke tanah kami, Alessandro? Kau pikir kami akan membiarkan pulau ini menjadi tempat pembuangan sampah bagi kartel?"
"Don Calogero, dengarkan aku—"
"Cukup!" teriak Don Calogero. Ia menoleh ke arah Dante. "Dante Moretti, posisimu sebagai pemimpin klan tetap tidak tergoyahkan. Dan istrimu... dia memiliki keberanian yang jarang ditemukan di meja ini."
Don Calogero memberikan isyarat kepada pengawalnya. Tiba-tiba, dua pria di belakang Alessandro mencengkeram bahunya.
"Apa yang kalian lakukan?" teriak Alessandro panik.
"Tradisi Sisilia untuk pengkhianat adalah satu hal, Alessandro," ucap Dante sambil berjalan mendekati pamannya. Ia mengeluarkan pisau kecil dari sakunya—pisau yang sama yang pernah ia berikan pada Aria. "Kau tidak akan mendapatkan kematian yang terhormat. Kau akan dikirim kembali ke teman-temanmu di Kolombia... dalam beberapa bagian."
Aria memalingkan wajah saat Dante melakukan apa yang harus dilakukan. Ia tahu bahwa ini adalah bagian dari hidup yang ia pilih. Ia mendengar jeritan Alessandro yang tiba-tiba terputus, diikuti oleh suara tubuh yang jatuh ke lantai.
Dante kembali ke sisi Aria, tangannya sedikit ternoda darah, namun wajahnya tampak lebih tenang. Ia menatap para sesepuh yang kini menundukkan kepala sebagai tanda hormat.
"Perjamuan selesai," ucap Dante tegas.
Mereka keluar dari vila itu saat fajar mulai menyingsing di atas langit Palermo. Udara pagi Sisilia terasa segar, seolah-olah baru saja dibersihkan dari kotoran.
Saat mereka masuk ke dalam mobil, Aria merasa tubuhnya sangat lelah namun puas. Ia telah membuktikan dirinya bukan hanya sebagai istri, tapi sebagai perisai yang sesungguhnya bagi klan Moretti.
Dante menggenggam tangan Aria, meremasnya dengan lembut. "Kau melakukannya, Aria. Kau baru saja menyelamatkan seluruh klan tanpa melepaskan satu butir peluru pun."
Aria tersenyum lelah. "Aku menggunakan senjataku sendiri, Dante. Hukum dan angka."
Dante menarik Aria ke dalam pelukannya. "Mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang berani mempertanyakan namamu. Kau adalah Moretti yang sesungguhnya."
Namun, di tengah kemenangan itu, Aria melihat sebuah mobil hitam yang mengikuti mereka dari kejauhan. Mobil itu bukan milik pengawal Moretti. Ia tidak mengatakan apa-apa pada Dante, tidak ingin merusak momen ini. Namun di dalam hatinya, ia tahu bahwa di dunia ini, satu musuh mati hanya untuk digantikan oleh musuh yang lain.
Siapakah yang berada di dalam mobil itu? Dan apakah perang internal keluarga Moretti benar-benar sudah berakhir?