Ternyata, teori tentang benang merah itu memang ada. Sejauh dan selama apapun berpisah, jika ada yang belum selesai makan akan tetap bertemu dengan cara yang terkadang tak masuk dalam logika.
Siapa yang sangka, Bianca akan kembali bertemu , mantan tunangan yang dulu dijodohkan dengannya dalam keadaan Bianca yang sudah tidak seperti dulu lagi.
Tunangan yang dulunya pergi meninggalkannya karena alasan tidak mencintainya, kini justru selalu terlihat dalam hidup Bianca yang begitu pelik.
Padahal mantan tunangannya itu sudah memiliki wanita yang dicintai sejak dulu menjalin hubungan dengan Bianca.
"Bisakah kau melewatiku begitu saja saat melihatku? Jangan mendekat dan jangan ikut campur terlalu jauh ke dalam hidupku!" - Bianca -
Apa jadinya jika dua orang itu justru terikat oleh sebuah teori benang merah yang tidak pernah putus diantara mereka?
Apakah mereka akan kembali bersama meski benang merah sudah terlalu rumit mengikat mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Bianca
"Lepaskan tanganmu Nick!!" Ucap seseorang yang ternyata sejak tadi memperhatikan Bianca dengan diam tanpa Bianca sadari.
Bianca menoleh pada pria yang kini menyambar tangannya dari tangan pria bernama Nick tadi.
"Kau menginginkannya?" Pria itu menyeringai tajam.
Tapi pria itu hanya diam kemudian menarik Bianca keluar dari ruangan itu. Langkahnya yang panjang begitu sulit untuk Bianca ikuti dengan tubuhnya yang terlihat mungil dibandingkan pria di depannya itu.
Bianca langsung menarik tangannya dengan kencang ketika mereka sudah agak menjauh dari ruangan tadi.
"Terima kasih sudah menolong saya Tuan. Permisi!"
Srett...
Pria tadi kembali menarik tangan Bianca hingga keduanya saling berhadapan.
"Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini Bee? Kau mau menjual diri?"
Bianca mengangkat kepalanya untuk menatap pria yang sudah dia kali ai temui malam ini.
"Apa yang saya lakukan bukan urusan anda Tuan!" Suara Bianca terdengar begitu rendah dan dingin.
"Permisi!" Bianca memilih meninggalkan pria di hadapannya tadi karena merasa tidak ada urusannya sama sekali dengan pria itu di dalam hidupnya.
Sementara pria itu hanya menatap kepergian Bianca dengan tatapan yang begitu penasaran tentang Bianca.
"Sebenarnya apa yang terjadi dalam hidupmu Bee, kenapa kau bekerja di tempat seperti ini?"
Pria tadi menghubungi seseorang untuk mencari tau tentang Bianca selama delapan tahun terakhir yang tidak pernah ia ketahui.
Memang dia tau kalau keluarga Bianca jatuh setelah kasus korupsi itu, tapi dia tidak tau kalau Bianca sampai bekerja di tempat seperti ini.
Byuurr...
Bianca memejamkan matanya ketika wajahnya disiram dengan segelas air oleh pria yang tadi melemparkan pakaian ke wajahnya.
"Kau baru satu hari bekerja sudah berani membuat ulah hah?!!" Sentak pria di hadapannya itu.
"Kau tau? Dia adalah pelanggan VIP dan kau malah membuatnya marah. Kau memang tidak berguna!!"
"Saya minta maaf Tuan!"
"Pergilah dari sini, aku tidak butuh wanita sok jual mahal sepertimu!!"
Pria itu kembali melemparkan beberapa lembar uang ke wajah Bianca. Di hadapan pria itu, Bianca benar-benar seperti sampah yang tak berguna. Melempar baju ke wajahnya, menyiram air dan kini memberinya uang dengan cara yang sama. Didirnya benar-benar tidak pernah berharga di mata orang lain.
Tapi tak ada raut kemarahan di wajah yang tampak polos tanpa polesan make up itu. Wajah itu terlihat begitu datar tanpa linangan air mata meski dihina dan di rendahkan seperti itu.
"Terima kasih Tuan!" Bianca menunduk memungut uang tak seberapa yang ia dapatkan malam ini.
Bianca keluar dari club malam dengan celana jeans dan kemeja kebesaran sederhana yang ia kenalan tadi. Dia berjalan kaki menjauh dari sana menuju ke apartemennya tanpa berniat mencari taksi sama sekali. Uangnya tidak akan cukup untuk membayar taksi sedangkan untuk bus sudah tidak lagi beroperasi lewat tengah malam seperti ini.
Dia sudah sangat terbiasa berjalan begitu jauh saat tak punya uang seperti sekarang ini. Andai saja dulu Ayahnya tidak tersandung kasus korupsi, pasti hidupnya tidak akan seperti sekarang ini. Dia pasti masih menjadi putri kaya raya yang bisa melakukan apapun tanpa harus bersusah payah.
Tapi meski kasus itu sudah delapan tahun berlalu, Bianca yakin kalau Ayahnya tidak pernah berbuat seperti yang dituduhkan sampai harus menanggung kurungan penjara dua puluh tahun lamanya.
Bianca tau betul seperti apa Ayahnya. Dia tau kalau Ayahnya orang yang jujur dan selalu mementingkan kepentingan orang lain. Tapi entah mengapa, hari itu semua bukti tertuju pada Ayahnya.
Sudah berulang kali Ayahnya mencoba untuk membela diri, mengumpulkan bukti kalau memang Ayahnya tidak bersalah, tapi semua itu nihil. Ayahnya tetap berakhir di penjara dengan semua tuduhan dan bukti palsu itu.
Sejak saat itu, hidup Bianca hancur. Dia serta Ibu dan Kakaknya harus pergi dari rumah yang ia tempati sejak kecil. Rumah yang dibangun Ayahnya untuk Ibunya setelah pernikahan mereka. Bianca benar-benar berasa dititik terendah saat itu tanpa ada orang yang mau membantu keluarga mereka sama sekali.
Korupsi memang kasus paling rendahan apalagi Ayahnya adalah seorang politikus. Tapi orang-orang tak bisa melihat kebenaran itu. Mereka semua hanya bisa melihat bukti yang bisa saja memang direkayasa untuk menjatuhkan Ayahnya. Bagi mereka semua, melihat keluarga pelaku korupsi menderita dan tidak punya apa-apa adalah hal yang membahagiakan.
🌻🌻🌻
Elgard menerima berkas yang diberikan oleh orang suruhannya untuk mencari tau tentang apa yang terjadi pada Bianca dan keluarganya selama ini.
"Jelaskan secara singkat apa yang kau temukan tentang Bianca dan keluarganya!" Perintahnya dengan kuasa.
"Setelah kasus korupsi waktu itu, Tuan Tomy Jhonson ditangkap polisi dan dihukum dua puluh tahun kurungan penjara. Sedangkan Nona Bianca dan Ibunya serta Kakak kandungnya harus keluar dari kediaman mereka dan tinggal di apartemen kumuh. Selang tiga bulan Tuan Tomy di dalam penjara, beliau mengakhiri hidupnya!"
"Apa? Jadi Ayah Bianca sudah meninggal?"
"Benar Tuan. Karena kabar Tuan Tomy yang meninggal karena mengakhiri hidupnya, Nyonya Tatiana mengalami gangguan jiwa. Jadi selama ini Nyonya Tatiana dirawat di rumah sakit jiwa sampai beberapa hari yang kalau akhrinya dinyatakan meninggal dunia karena kesehatannya yang menurun!"
Elgard bersandar dengan lemah. Dia tak menyangka kalau kedua orang tua Bianca sudah meninggal dunia. Terlebih tentang Ayahnya yang memilih mengakhiri hidupnya dan Ibunya yang menjadi gila.
"Lalu dimana Kakaknya, Davis Jhonson?"
"Saat ini dia ada di dalam penjara karena kasus penggunaan obat-obatan terlarang Tuan. Hukumannya tujuh tahun dan baru berjalan tiga tahun!"
Elgard memijat pangkal hidungnya. Dia tak menyangka kalau hidup Bianca begitu berat dan Elgard tidak tau apa-apa sama sekali.
Rasa bersalah langsung menyeruak di dalam dadanya. Dulu dia memang terpaksa menerima pertunangan dengan Bianca, dia tidak mencintai wanita itu, tapi seharusnya Elgard tidak lepas tangan dan meninggalkannya begitu saja setelah perjodohan mereka batal.
"Sekarang apa yang Bianca lalukan? Kenapa dia bekerja di tempat seperti itu?"
"Nona Bianca sebenarnya tidak hanya bekerja di tempat itu Tuan. Itu hanya pekerjaan sampingannya saja. Banyak sekali yang dilakukan Nona Bianca untuk mendapatkan uang, menjadi pelayan, memakai kostum maskot, terkadang juga menjadi pengantar makanan. Semua itu Nona Bianca lakukan untuk mendapatkan uang uang ia gunakan untuk membayar biaya perawatan Ibunya dan membayar semua hutang Kakaknya yang dibebankan kepadanya"
"Kau tau dimana apartemen Bianca saat ini?"
"Ada di dalam dokumen itu Tuan, saya sudah merangkum semuanya dengan rinci!"
"Baiklah, kau boleh pergi!"
"Permisi Tuan!"
"Hmm!"
"Sialan, apa gunanya pria itu!" Elgard memaki Davis yang menurutnya menjadi pria tak berguna setelah membaca semua tentang Bianca yang tidak ia ketahui selama ini.
lanjut....
baguslah kamu sudah menceritakan kelakuan Meriana ke Elgard dengan jujur