Setelah diselamatkan dari penculikan maut oleh Pratama, seorang penjual soto sederhana, Luna justru terjebak fitnah warga yang memaksa mereka menikah. Situasi kian pelik karena Pratama masih terikat pernikahan dengan Juwita, istri materialistis yang tanpa ragu "menjual" suaminya seharga Rp50 juta sebagai syarat cerai.
Demi menolong pria yang telah menyelamatkan nyawanya, Luna membayar mahar tersebut dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri tunggal seorang CEO kaya raya. Ia rela hidup dalam kesederhanaan dan mengaku hanya sebagai guru TK biasa. Di tengah rasa bersalah Pratama yang berjanji akan bekerja keras membalas kebaikannya, ia tidak menyadari bahwa istri barunya memiliki kuasa untuk membalikkan nasib mereka dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Di dalam ruang kesehatan yang tenang itu, Pratama dengan telaten menggosokkan minyak kayu putih ke telapak tangan dan pelipis istrinya.
Aroma eucalyptus yang tajam perlahan mengembalikan kesadaran Luna.
Luna mengerjapkan matanya, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu.
Begitu kesadarannya pulih sepenuhnya, ia langsung terduduk tegak di atas ranjang.
Matanya tertuju lurus pada Papa Jati dan Arini yang berdiri mematung di depannya dengan wajah pucat pasi.
Suasana sempat hening mencekam. Papa Jati sudah bersiap menerima omelan atau tangisan putrinya. Namun, di luar dugaan, Luna justru melompat turun dari ranjang dan langsung menghambur, memeluk tubuh Papa Jati dan Arini sekaligus dalam satu dekapan hangat.
"Ayo, kapan kalian menikah?" tanya Luna antusias, suaranya terdengar ceria tanpa ada nada kemarahan sedikit pun.
Papa Jati tertegun, tubuhnya kaku karena terkejut.
"Kamu tidak marah, Luna? Papa pikir kamu pingsan karena syok dan tidak setuju."
Luna melepaskan pelukannya, lalu menatap Papanya dan Arini bergantian dengan mata yang berbinar tulus.
"Buat apa aku marah, Pa?" Luna tersenyum lebar.
"Aku pingsan karena saking senangnya! Aku memang syok, tapi syok bahagia. Papa sudah terlalu lama sendiri menjaga perusahaan dan menjaga aku. Papa butuh pendamping hidup, dan Arini, dia sudah lebih dari sekadar asisten bagiku. Dia sahabat yang hebat, dan dia memang sangat pantas untuk jadi mamaku."
Arini tak kuasa membendung air matanya. Ia memeluk Luna kembali dengan erat.
"Terima kasih, Luna. Terima kasih banyak. Aku takut sekali kamu akan membenciku karena menganggap aku memanfaatkan posisiku untuk mendekati Pak Jati."
"Hush! Jangan bicara begitu," potong Luna sambil menghapus air mata Arini.
"Aku malah tenang kalau Papa sama kamu."
Pratama yang memperhatikan dari samping hanya bisa menghela napas lega sambil tersenyum tipis.
Ia berjalan mendekat dan merangkul bahu Luna.
"Sepertinya soto kita besok harus soto spesial perayaan, ya?" goda Pratama, memecah suasana haru menjadi penuh tawa.
"Betul, Mas! Kita bikin pesta soto di rumah baru!" seru Luna.
Papa Jati tampak sangat lega, beban berat yang selama ini ia pikul di pundaknya seolah menguap begitu saja.
"Terima kasih, Luna, Pratama. Kalau begitu, kita tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi. Minggu depan, Papa akan resmikan hubungan ini."
Malam itu, suasana Mall yang sempat tegang berubah menjadi penuh kehangatan.
Setelah Luna siuman dan memberikan restunya, mereka tidak membiarkan momen bahagia itu berlalu begitu saja. Luna, dengan semangat yang kembali pulih, segera mengambil alih komando.
"Sudah, jangan ada yang sedih lagi. Malam ini kita harus merayakan kejujuran!" seru Luna sambil menggandeng tangan Arini.
"Mas Pratama, ayo kita ke restoran seafood langganan Papa dan Arini. Aku tahu mereka sering diam-diam ke sana, kan?"
Papa Jati dan Arini hanya bisa saling lirik sambil tersipu malu.
Mereka pun berangkat menuju sebuah restoran di pinggir dermaga yang menjadi saksi bisu pertemuan rahasia selama ini.
Sesampainya di sana, aroma udang bakar dan kepiting saus padang langsung menyapa indra penciuman mereka.
Di sebuah meja panjang yang menghadap ke laut, mereka duduk melingkar.
Suara deburan ombak kecil menjadi musik pengiring yang sempurna.
"Pa," buka Luna di tengah santap malam mereka,
"ada satu hal lagi yang ingin Luna sampaikan. Luna memutuskan untuk tetap mengajar di TK."
Papa Jati menghentikan gerakannya yang sedang mengupas udang.
Ia menatap putrinya dengan kening berkerut. "Lho, bukannya kamu sudah mulai sibuk kembali ke kantor? Apa mereka di sekolah tidak keberatan kalau gurunya ternyata seorang CEO?"
Luna tersenyum tipis, melirik Pratama yang memberikan tatapan mendukung.
"Justru itu, Pa. Anak-anak di sana tidak peduli aku ini CEO atau bukan. Mereka menangis waktu aku bilang mau pamit. Mereka tidak mau berpisah dengan Luna."
Luna menghela napas, matanya berbinar tulus.
"Kepala sekolah bahkan meminta agar Luna tetap mengajar, meski hanya hari Jumat dan Sabtu. Aku sudah setuju, Pa. Bagiku, di sana adalah tempat di mana aku bisa menjadi diriku sendiri, bukan sekadar nama di papan direksi."
Papa Jati terdiam sejenak, lalu menatap Arini yang mengangguk setuju, kemudian beralih pada Pratama.
"Pratama, bagaimana menurutmu sebagai suami?" tanya Papa Jati.
Pratama meminum teh hangatnya pelan sebelum menjawab.
"Saya mendukung penuh, Pa. Bagi saya, kebahagiaan Luna adalah prioritas. Jika mengajar anak-anak bisa membuatnya tersenyum seperti tadi sore, saya akan selalu mengantarnya ke sekolah."
Papa Jati tertawa bangga, menepuk bahu menantunya itu.
"Luar biasa. Ternyata pilihanku tidak salah. Kalian berdua memang pasangan yang unik. Yang satu CEO hobi mengajar TK, yang satu lagi pria cerdas yang setia dengan gerobak sotonya."
"Dan jangan lupa, Pa," sela Luna sambil melirik nakal ke arah Arini, "sebentar lagi akan ada Nyonya Jati baru yang akan membantuku mengurus perusahaan, jadi aku punya waktu lebih untuk di sekolah."
Tawa pecah di meja makan itu. Namun, di tengah kegembiraan mereka, Arini tiba-tiba terdiam.
Matanya menangkap pantulan sosok mencurigakan dari kaca jendela restoran—seorang pria bertopi hitam yang terus mengamati meja mereka dari kejauhan.
Arini tahu, kebahagiaan ini masih berada di bawah bayang-bayang Noah yang belum tertangkap.
Makan malam itu diakhiri dengan tawa yang memenuhi ruangan, namun gurat kelelahan yang bahagia mulai tampak di wajah Luna.
Setelah semua hidangan laut itu tandas, Luna berdiri dan menghampiri Arini.
Tanpa ragu, ia memeluk wanita yang selama ini menjadi tangan kanannya itu dengan sangat erat, lebih erat dari biasanya.
"Ma, aku pulang dulu ya sama Mas Pratama," bisik Luna tepat di telinga Arini.
Arini sempat terpaku mendengar sebutan itu.
"Luna, kamu panggil aku apa?"
Luna melepaskan pelukannya, lalu menatap Arini dengan senyum paling manis yang ia miliki.
"Jaga Papa ya, Mama. Sekarang tugas jagain Papa bukan cuma di aku, tapi di tangan Mama Arini."
Seketika itu juga, pipi Arini langsung memerah sempurna, persis seperti warna kepiting saus padang yang mereka makan tadi.
Ia kehilangan kata-kata, hanya bisa menunduk sambil meremas ujung kemejanya, sementara Papa Jati hanya bisa berdehem salah tingkah namun dengan raut wajah yang sangat bangga.
"Duh, anak ini. Sudah pintar menggoda Mamanya ternyata," sahut Papa Jati sambil tertawa kecil untuk mencairkan suasana.
Pratama yang berdiri di samping Luna hanya tersenyum melihat kehangatan itu.
Ia menjabat tangan Papa Jati dengan hormat.
"Kami pamit dulu, Pa. Besok pagi saya harus mulai memanaskan kuah soto lagi di rumah baru."
"Hati-hati, Pratama. Jaga putriku baik-baik," pesan Papa Jati dengan nada kebapakan yang dalam.
Mereka pun berpisah di area parkir. Pratama membukakan pintu mobil untuk Luna, sementara Arini masih berdiri mematung di samping Papa Jati, memegangi pipinya yang masih terasa panas karena panggilan "Mama" dari sang CEO.
Saat mobil mulai melaju meninggalkan restoran, Luna menyandarkan kepalanya di bahu Pratama yang sedang menyetir.
"Mas, aku senang sekali hari ini. Rasanya beban di pundakku hilang semua," gumam Luna pelan.
"Mas juga senang, Dik. Ternyata kejujuran itu memang pahit di awal, tapi sangat manis di akhir," jawab Pratama sambil mengusap lembut tangan istrinya.
👍👍👍👍