NovelToon NovelToon
Vows Of Silence

Vows Of Silence

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Hazel Bellvania Cavanaugh adalah definisi kesetiaan yang naif. Ia mencintai James Patrick, seorang atlet sekolah yang karismatik namun manipulatif.
Hubungan mereka aneh—tanpa ciuman, tanpa sentuhan intim, karena James berjanji ingin "menjaga" Hazel hingga pernikahan. Namun, di balik topeng itu, James adalah predator yang memanfaatkan jari-jarinya untuk memuaskan hampir seluruh siswi di SMA mereka.
Kebohongan James terkubur rapat di bawah bayang-bayang geng paling berkuasa di sekolah yang dipimpin oleh Kenneth Karl Graciano. Kenneth yang dingin dan tak tersentuh mengetahui rahasia busuk James, namun ia diam. Bukan karena setia kawan, melainkan karena ia sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan segalanya dan mengambil apa yang menurutnya pantas ia miliki, Hazel Bellvania Cavanaugh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siuman Ditengah Keributan

Langkah kaki Diandra yang terburu-buru meninggalkan lorong rumah sakit baru saja menghilang, menyisakan keheningan yang mencekam sebelum sebuah suara langkah kaki lain mendekat dengan sangat cepat.

Plak!

Suara tamparan keras menggema di sepanjang lorong ICU. Kepala Kenzo terlempar ke samping. Rasa panas menjalar di pipinya, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan sorot mata penuh kebencian yang ia lihat dari kembarannya sendiri.

Zella berdiri di sana dengan napas memburu, air mata masih membasahi masker wajahnya yang sudah berantakan. Ia telah mendengar semuanya, setiap kata yang diucapkan Kenzo pada Diandra.

"Zella..." gumam Kenzo, tangannya menyentuh pipinya yang memerah.

"Jangan panggil namaku!" teriak Zella, suaranya parau karena emosi yang meluap. "Ternyata kau tahu, Ken? Ternyata kau tahu selama ini Alexa mencintaimu sampai mati-matian seperti itu, dan kau memilih untuk mengabaikannya? Kau memilih untuk mencium wanita lain di depannya hanya untuk memberikan pelajaran?"

"Zella, kau tidak mengerti. Aku hanya mencoba bersikap tegas agar dia tidak terjebak dalam obsesi..."

"Obsesi?!" Zella memotong dengan tawa sinis yang menyakitkan. "Lihat dia di dalam sana, Kenzo! Dia sekarat! Itu bukan sekadar obsesi remaja yang kau bicarakan dengan sombongnya. Itu adalah cinta yang kau injak-injak sampai dia merasa hidupnya tidak lagi berharga!"

Zella melangkah maju, mendorong dada Kenzo dengan telunjuknya. "Kalau kau tahu dia mencintaimu, kenapa tidak kau coba membuka hatimu untuknya sedikit saja? Apa susahnya memberi kesempatan pada gadis yang sudah tumbuh bersamamu, yang memujamu seperti Tuhan? Kenapa kau harus begitu kejam dengan membawa Diandra masuk ke tengah-tengah?"

Kenzo terdiam, ia tidak sanggup membalas tatapan kembarannya. Selama ini, Zella adalah pendukung terbesarnya, namun kini Zella menatapnya seolah ia adalah monster.

"Kau benar-benar pengecut," desis Zella dengan nada jijik. "Kau takut pada perasaanmu sendiri, atau kau memang hanya ingin merasa paling benar? Dasar bodoh! Aku malu... aku benar-benar malu mengakui kau sebagai saudaraku."

Zella berbalik, mengabaikan Kenzo yang kini luruh ke lantai lorong rumah sakit. Kalimat Zella barusan seperti vonis mati bagi Kenzo. Ia telah kehilangan Diandra, ia hampir kehilangan Alexa, dan sekarang ia kehilangan rasa hormat dari kembarannya sendiri.

Kenzo menyandarkan kepalanya ke dinding rumah sakit yang dingin, memejamkan mata rapat-rapat. Ia merasa dunia sedang menghukumnya dari segala arah.

Di dalam ruang ICU, mesin detak jantung Alexa berbunyi teratur, seolah-olah sedang menghitung mundur waktu hingga Kenzo benar-benar tidak punya pilihan lain selain menyerahkan seluruh hidupnya pada gadis itu.

.

.

Langkah Diandra benar-benar di luar dugaan. Sebagai wanita yang cerdas dan berkelas, ia tahu bahwa cara terbaik untuk membalas rasa sakit hatinya bukanlah dengan memohon pada Kenzo, melainkan dengan mengungkap kebenaran di balik tirai kemegahan keluarga Graciano dan Bernardo.

Tanpa menyebutkan nama secara eksplisit, Diandra mengunggah sebuah tulisan panjang di akun media sosialnya dan melakukan wawancara eksklusif dengan sebuah majalah gaya hidup ternama. Ia menceritakan bagaimana hubungannya hancur karena manipulasi emosional seorang remaja yang menggunakan nyawanya sebagai senjata untuk merebut pria yang tidak mencintainya.

Netizen tidak butuh waktu lama untuk menyatukan potongan teka-teki itu.

Di Queenstown, berita tentang putri James Bernardo yang melakukan percobaan bunuh diri sedang berada di puncak pencarian. Cerita Diandra tentang kekasih yang meninggalkannya karena rasa bersalah yang dipaksakan langsung mengarah tepat pada sosok Kenzo dan Alexa.

"Jadi, percobaan bunuh diri itu cuma taktik?" tulis salah satu akun di forum diskusi.

"Gila, kalau benar, cewek itu psikopat banget. Kasihan pacarnya yang dewasa itu harus kalah sama bocah manipulatif."

"Tapi Kenzo juga bodoh, masa lebih milih rasa bersalah daripada cinta aslinya?"

Dalam sekejap, opini publik terbelah. Alexa yang tadinya mendapat simpati sebagai korban depresi belajar, kini mulai dipandang sebagai sosok yang terobsesi dan berbahaya.

Di rumah sakit, James Bernardo yang sedang menunggu Alexa siuman tampak bergetar saat membaca berita yang mulai viral tersebut. Ia belum tahu pasti apakah itu tentang anaknya, tapi deskripsinya terlalu akurat.

"Kenneth, apa-apaan ini?" tanya James dengan suara rendah yang menakutkan, sambil menunjukkan ponselnya. "Siapa wanita bernama Diandra ini? Kenapa dia menyudutkan putriku di saat dia masih bertaruh nyawa di dalam sana?"

Kenneth Graciano menatap layar itu dengan rahang yang mengeras. Ia tahu ini akan terjadi. Ia mengenal Diandra sebagai wanita yang tidak akan tinggal diam jika diinjak. Ia menoleh ke arah Kenzo yang masih terduduk lemas.

"Kenzo," panggil Kenneth dengan nada dingin yang menusuk. "Kau lihat apa yang terjadi? Keegoisanmu menangani masalah ini membuat nama baik dua keluarga besar dipertaruhkan. Sekarang, bukan hanya Alexa yang hancur, tapi martabat perusahaan kita juga sedang diseret ke dalam lumpur."

Kenzo tidak bisa berkata-kata. Ia ingin marah pada Diandra, tapi di sisi lain, ia tahu Diandra hanya mengatakan kebenaran versinya. Namun, saat melihat James yang begitu emosional membela kehormatan putrinya, Kenzo sadar bahwa ia terjebak di tengah api.

Di tengah hiruk-pikuk berita tersebut, mesin monitor di dalam ruang ICU tiba-tiba berbunyi lebih cepat. Kelopak mata Alexa bergerak perlahan. Tangannya yang terbalut perban bergerak sedikit, seolah mencari sesuatu, atau seseorang.

Alexa akhirnya membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit putih dan wajah Kenzo yang menatapnya dari balik kaca dengan tatapan yang hancur.

Alexa tidak tahu bahwa di luar sana, rahasia gelapnya sudah mulai tercium oleh publik karena Diandra.

Namun, melihat Kenzo yang kini berdiri sendiri tanpa Diandra di sisinya, Alexa menarik napas lemah dan tersenyum sangat tipis di balik masker oksigennya.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Triana Oktafiani
Selalu menarik cerita2mu 👍
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
😍
terimakasih
ceritanya bagus
ros 🍂: Ma'aciww 😍
total 1 replies
falea sezi
lanjut
falea sezi
kapok kau kenzo
falea sezi
suka deh g bertele tele sat set
falea sezi
aneh wong kakak mu yg ngemis cinta ampe gila kok Arthur di salahkan hadehhh ampe bales dendam ke adeknya abis ini qm pasti nyesel kenn
falea sezi
bodohnya qm hazel
falea sezi
jahat nya kennet
falea sezi
q ksih hadiah deh
falea sezi
tolol harusnya biarin aja tau hadeh
Rahmawaty24
Semangat kk ceritanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!