NovelToon NovelToon
Pesona Kakak Posesif Season 2

Pesona Kakak Posesif Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Keluarga / Cintamanis
Popularitas:225
Nilai: 5
Nama Author: Dwi Asti A

Season 2
Hanin akhirnya meninggalkan Satya, pemuda yang telah menolak dijodohkan dengan dirinya dan meninggalkan keluarga angkatnya untuk pergi ke Kairo mencari ayah kandungnya.

Aariz Zayan Malik, ayah kandungnya ternyata telah menikah lagi dan mempunyai anak.
Kehidupan Hanin bersama keluarga barunya mulai berubah setelah ayahnya sakit dan harus dioperasi. Sebagai anak tertua Hanin dituntut memikul tanggung jawab semuanya dari biaya hidup, biaya kuliah dan pengobatan ayahnya.

Di tengah-tengah masalahnya, ayahnya meminta Hanin menikah dengan CEO baru di perusahaannya.

Apakah Hanin menyetujuinya?
Bagaimana perjalanan cintanya dengan Satya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Asti A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Pertama

Hanin mulai dengan pikiran yang berbeda saat itu. Dicampakkan dan dibuang itu sangat menyakitkan. Jika ibunya masih hidup dan tahu suaminya sudah menikah pasti sakit hati. Saat ini saja mendengar sepenggal cerita itu Hanin mulai berubah perasaannya, tiba-tiba dia merasa sangat marah. Namun, dia berusaha menahannya.

“Pak Aariz bercerita banyak tentang Hanin?” tanya Awan.

“Tidak banyak, hanya mengatakan akan bertemu dengan putrinya yang selama ini dicarinya,” jawab sopir.

Mendengar jawaban itu Hanin merasa laki-laki itu sedang berusaha memberikan kesan baik tentang atasannya.

“Benarkah dia mencarinya? Aku pikir dia sudah membuangnya,” pikir Awan.

“Saya tidak tahu masa lalunya, tapi Tuan Aariz ini orangnya baik dan bijaksana, tidak mungkin dengan sengaja membuang keluarga lain. Seperti apa kejadiannya, kalian akan tahu jawabannya setelah bertemu. Saya baru bekerja dengan beliau selama 15 tahun, jadi tidak begitu paham masa lalunya. Saya bekerja padanya sebelum Tuan Aariz bersama keluarganya yang sekarang.”

“Itu artinya kau sudah cukup mengenalnya.”

Laki-laki itu hanya mengulas senyum.

Awan menoleh ke belakang, rupanya Hanin tertidur di sana, sepertinya dia tidak mendengar apa yang mereka bicarakan saat itu, padahal Hanin hanya memejamkan mata, tapi telinganya mendengar.

Perjalanan di negeri yang asing itu membuat Awan tak merasa mengantuk. Dia sangat menikmatinya hingga tak terasa mereka tiba di sebuah hotel mewah. Amaan bilang Tuan Aariz sudah membiayai semuanya.

“Hani, tidak apa kalau kita memesan satu kamar saja? Karena hanya sehari atau dua hari saja setelah itu kita mungkin akan tinggal di rumah ayah. Kau percayai dengan kakak, kan?”

Sejauh ini sebelum mengetahui Awan adalah kakaknya, Awan tak pernah bersikap buruk, dia selalu dengan sikap baiknya jadi tidak ada alasan untuk mencurigainya, toh saat ini mereka adalah saudara.

“Iya, Kak,” jawab Hanin.

Mereka hanya memesan satu kamar untuk hari itu beristirahat.

“Saya pergi dulu, nanti sore sekitar pukul tiga atau empat saya akan datang lagi bersama Tuan Aariz.”

“Baik, terima kasih.”

Begitu Amaan pergi, Hanin masuk ruangan langsung menghempaskan dirinya di sofa. Wajahnya yang semula semringah ketika baru keluar dari pesawat, mulai berubah begitu keluar dari mobil penjemput itu.

Setelah menyimpan koper di sudut ruangan Awan menghampiri Hanin dan duduk di sampingnya.

“Adikku kenapa bermuka masam, kalau lelah tidur saja, nanti sore kakak bangunkan,” ucapnya Perhatian.

“Apa aku selama ini sudah salah mengira, berpikir ayahku itu orang baik yang tidak mungkin meninggalkan aku dan ibu. Dia bahkan tidak datang saat ibu melahirkan, atau berusaha mencariku.”

“Jadi kau mendengar cerita, Amaan? jangan dulu berpikir seperti itu, kita akan tahu saat nanti bertemu dengan pria itu.”

“Tapi ayah sudah berkeluarga, bagiku sudah menunjukkan dia bukan pria setia. Dia sudah mengkhianati ibu.”

“Tenang, Hani, jangan terlalu banyak berpikir negatif. Sekarang sebaiknya kita beristirahat atau kau mau kita keluar untuk jalan-jalan?”

“Hani ingin tidur. Hani sudah tidak sabar ingin bertemu dengan pria bernama Aariz itu. Apa benar dia ayahku atau bukan.” Hanin bertambah kesal.

“Baiklah, nanti kakak bangunkan saat waktunya tiba.” Awan mengusap kepala Hanin sebelum gadis itu beranjak dan pergi tidur di ranjang. Sementara dirinya menuju tempat tidur lainnya.

Perasaan Awan tidak terlalu khawatir seperti yang dirasakan Hanin saat ini. Entah mengapa dengan pria bernama Aariz itu dirinya tidak cukup penasaran untuk mengetahuinya, padahal seharusnya pria itu adalah ayahnya juga, lantaran hubungan saudara kandung dirinya dengan Hanin. ‘Apa mungkin karena selama ini diriku sudah cukup dekat dengan Louis sebagai ayah hingga aku tak membutuhkan pria lain untuk menjadi ayahku,’ pikir Awan. ‘Sudahlah, kita lihat nanti bagaimana, yang terpenting saat ini adalah mempertemukan Hanin dengan pria itu yang selama ini dicarinya,’ batinnya.

••

Sore harinya seperti waktu yang telah dijanjikan, Hanin dan Awan dijemput Amaan untuk dipertemukan dengan pria bernama Aariz. Di restoran hotel tempat Hanin dan Awan menginap hari itu.

Untuk tiba di sana Awan dan Hanin harus turun dari lantai 5 menuju lantai satu.

Tiba di lantai bawah, sebelum masuk ruangan yang dituju mereka bertemu dengan Amaan di depan pintu.

“Apa dia sudah di sini?” tanya Awan pada Amaan.

“Dia sudah tiba lima menit yang lalu, dia sudah menunggu kalian di dalam,” jawab Amaan.

Awan menoleh pada Hanin yang terlihat tegang, terbukti semenjak keluar dari kamar gadis itu tidak banyak bicara.

“Bagaimana, Hani? Kamu sudah siap?” Awan memastikan perasaan Hanin.

Hanin tak punya pilihan lain selain mengangguk. Saat itu adalah momen yang dinantikannya, bertemu dengan ayah kandung yang dicarinya selama ini.

Untuk meredakan ketegangan Hanin, Awan menggandeng tangan Hanin. Sebenarnya dia sendiri masih merasa canggung dengan Hanin. Dia masih butuh belajar dan menyesuaikan diri bagaimana memperlakukan Hanin sebagai adiknya. Memiliki adik kandung perempuan setelah dewasa tentu saja tidak mudah baginya. Untung saja dirinya seorang pemuda yang mudah untuk menyesuaikan diri.

Pintu ruangan terbuka lebar. Hanin dan Awan melangkah masuk diikuti Amaan di belakangnya. Sebelum tiba di dalam ruangan luas itu Hanin berpikir ruangan itu adalah ruang tertutup, ternyata di tempat itu dia bisa melihat pemandangan di luar ruangan yang cukup indah. Hanin nyaris lupa tujuannya masuk ruangan itu karena terlalu fokus menikmati suasana.

“Kalau belum puas menikmati pemandangan, setelah dari sini aku akan mengajak kalian keliling kota.” Suara itu cukup mengejutkan Hanin dan Awan, terutama Hanin.

Hanin memutar tubuh mencari arah datangnya suara, dan seseorang kini berdiri di hadapannya berjarak tiga meter. Pria yang tingginya hampir sama dengan Awan. Tubuhnya tegap. Pria itu mengenakan setelan jas warna biru gelap dan kemeja putih. Pandangannya yang teduh saat ini tertuju pada Hanin yang tengah terpaku menatapnya. Pria berusia 45 tahun.

Melihat Hanin yang diam mematung, pria itu melangkah menghampirinya. Sementara Hanin merasakan tubuhnya serasa kaku karena tegang. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat itu. Pria itu ternyata masih sama persis seperti yang ada di foto, hanya tubuhnya lebih besar saat ini dan memiliki kumis dan cambang tipis di wajahnya, memberikan kesan dewasa.

“Benarkah gadis yang sedang berdiri di hadapanku ini adalah putriku?” gumamnya dengan pandangan tak percaya. Dia kemudian mengulurkan tangannya. Namun, baru dia mengangkat sedikit tangannya Hanin langsung bergerak mundur menghindar.

“Kita baru bertemu, dan untuk memastikan kau adalah ayahku maka ada proses untuk membuktikannya,” ucap Hanin. Reaksi yang tak terduga dari gadis itu.

Awan tidak menduganya. Awalnya dia mengira Hanin dan pria itu bakal saling berpelukan untuk menyambut pertemuan mereka, tapi kenyataannya jauh dari perkiraannya. Awan tidak menyalahkan Hanin, dia pun ikut berbicara untuk mencairkan suasana yang canggung itu.

“Ini pertemuan pertama kita Pak Aariz, perkenalkan namaku Awan Praditya, dan ini adikku Hanin Dya Pramesti.” Awan memperkenalkan diri.

Pria itu mengangkat sudut bibirnya, tak tampak tersinggung melihat reaksi Hanin. Dia juga menyadari kekeliruannya. Dengan sikapnya yang tenang dia membalas salam Awan.

“Aku terlalu senang sampai lupa untuk memperkenalkan diri. Namaku kalian pasti sudah tahu, aku Aariz Zayan Malik. Kalian bisa memanggilku Aariz atau Zayan,” balas Aariz. Kemudian mempersilakan kedua tamunya untuk duduk di meja makan yang sudah disiapkan. Meja bundar yang bisa berputar saat memilih menu yang mereka inginkan.

Aariz masih sesekali memandangi Hanin sebelum mereka memulai makan. Sikapnya itu membuat Hanin salah tingkah dan lebih memilih menunduk menyembunyikan wajahnya saat tak sengaja pandangan mereka bertemu.

“Hanin nama yang bagus dan cantik seperti orangnya. Aku minta maaf sudah membuatmu ketakutan tadi, aku hanya gugup, ini pertama kalinya aku bertemu dengan putriku,” ucapnya ragu-ragu sembari menyiapkan makanan untuk dirinya. “Maksudku setelah kita membuktikan dengan tes DNA,” ralatnya.

Hanin memaksakan senyum di wajahnya dan dengan sedikit anggukan kecil. Hanin sendiri perasaannya tak menentu. Sebenarnya dia tidak ingin bersikap seperti itu tadi, tapi dia refleks mengucapkannya. Jujur saja dia merasa senang jika pria itu adalah ayahnya, tapi memikirkan pria itu sudah meninggalkan ibunya selama puluhan tahun, dirinya tidak bisa bersikap seketika menerimanya.

1
Muhammad Raihan
Sudah sampai seperti itu masih saja tidak mau ngaku suka, Satya breng*** juga
Muhammad Raihan
Semangat Kakak 👍🏻
D Asti
Selamat datang di novel ke dua aku, ayo kakak pembaca yang terkasih beri author dukungannya dengan like, komentar, saran dan ulasannya ya, terima kasih😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!