Akselia Kinanti terbangun dalam genangan darahnya sendiri. Tangannya meremas perut yang kram hebat.
"Kamu... harus bertahan," bisiknya pada perut yang mulai terasa dingin.
Ponselnya berdering. Notifikasi siaran langsung : Kevin Pratama & Karina Adelia - Live Engagement Party.
Jemarinya gemetar membuka video itu. Di layar, Kevin tersenyum lebar, merangkul pinggang Karina Adelia model terkenal dengan gaun putih yang berkilau. "Aku sudah lama menunggu momen ini," kata Kevin di depan ratusan tamu.
Akselia tertawa pahit. Darah masih mengalir dari tubuhnya.
"Ini pasti salah paham," gumamnya lemah. Tapi matanya yang mulai sayu menatap cincin murah di jarinya, cincin yang Kevin bilang 'sementara'.
Gelap.
Ketika matanya terbuka lagi, Akselia bukan lagi pelayan restoran lemah yang mencintai pria salah. Dia adalah mantan pelatih bela diri yang pernah bikin lawan-lawannya menangis minta ampun.
"Kevin Pratama... Karina Adelia..."
Senyumnya tajam. Berbahaya.
"Permainan baru saja dimulai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 - MEMULAI LAGI
TIGA BULAN KEMUDIAN - DOJO PAK DHARMA
Akselia berdiri di depan cermin besar dojo, mengamati refleksinya. Rambut pendeknya mulai panjang lagi, sekarang sudah sebahu, warna cokelat gelap juga sudah pudar kembali ke hitam alami. Tubuhnya lebih berotot dari sebelumnya, hasil latihan konsisten tiga bulan tanpa jeda.
Tapi yang paling berbeda adalah matanya. Tidak ada lagi bayangan gelap di sana. Tidak ada amarah terpendam. Hanya kedamaian dan determinasi.
"Kamu siap?" tanya Pak Dharma dari belakang.
Akselia menoleh. Mentornya berdiri dengan map cokelat di tangan.
"Siap untuk apa, Pak?"
"Ini." Pak Dharma membuka map itu, mengeluarkan beberapa dokumen. "Sertifikat instruktur bela diri resmi atas namamu. Aku sudah urus semuanya. Sekarang kamu bisa buka dojo sendiri kalau mau."
Akselia menatap sertifikat itu dengan mata melebar. "Pak... ini..."
"Kamu layak dapat ini. Bahkan sudah dari dulu." Pak Dharma menyerahkan dokumen itu. "Tiga tahun lalu kamu kabur gara-gara merasa bersalah. Sekarang kamu kembali dengan lebih kuat. Saatnya kamu punya tempat sendiri."
"Tapi saya... saya belum siap..."
"Kamu sudah lebih dari siap, Akselia." Pak Dharma tersenyum. "Dan aku tidak bilang kamu harus pergi sekarang. Tapi opsinya ada. Kalau suatu saat kamu siap, kamu bisa."
Akselia memeluk sertifikat itu ke dada, air mata menggenang. "Terima kasih, Pak. Untuk semua yang Bapak lakukan."
"Aku cuma mengingatkanmu siapa dirimu sebenarnya. Kamu yang melakukan semua kerja keras."
***
SIANG HARI - KANTOR MAHENDRA GROUP
Akselia masuk ke ruang Arjuna dengan surat pengunduran diri di tangan. Jantungnya berdebar bukan karena takut, tapi karena ini keputusan besar.
Arjuna mengangkat kepala dari laptop. "Selia... oh, maaf, Akselia. Aku masih terbiasa dengan nama itu." Dia tersenyum. "Ada apa?"
Akselia meletakkan surat di meja. "Saya mau mengundurkan diri, Pak."
Arjuna menatap surat itu, lalu menatap Akselia. Tidak terkejut. Seperti sudah menduga.
"Kamu dapat tawaran lebih bagus?"
"Bukan begitu. Saya... saya mau fokus ke dojo. Pak Dharma baru kasih saya sertifikat instruktur. Dan saya pikir, sudah saatnya saya kembali ke tempat saya seharusnya berada."
Arjuna mengangguk perlahan. "Aku mengerti. Dan jujur aku sudah menduga ini akan datang." Dia berdiri, berjalan ke jendela. "Dari awal, aku tahu kamu bukan tipe orang yang akan jadi pengawal selamanya. Kamu terlalu kuat untuk cuma jadi bayangan orang lain."
"Pak Arjuna..."
"Tapi..." Arjuna berbalik, tersenyum, "...sebelum kamu pergi resmi, aku punya satu tawaran untuk kamu."
Akselia mengerutkan kening. "Tawaran apa?"
Arjuna membuka laci mejanya, mengeluarkan dokumen lain. "Aku mau investasi di dojomu. Bukan sebagai bos, tapi sebagai partner diam. Kamu tetap yang kelola sepenuhnya. Aku cuma bantu modal dan koneksi kalau kamu butuh."
Akselia tersentak. "Pak... saya tidak bisa terima ini..."
"Kenapa tidak? Ini investasi bagus. Kelas pemberdayaan perempuan sedang naik. Dan dengan kemampuanmu, aku yakin dojo itu akan sukses." Arjuna meletakkan dokumen di meja. "Pikir saja sebagai terima kasihku. Kamu sudah bantu aku lebih dari sekadar jadi pengawal. Kamu ajari aku tentang integritas. Tentang melawan dengan cara yang benar."
Akselia menatap dokumen itu, proposal kemitraan dengan angka yang sangat adil. Tidak mengambil untung berlebihan, murni untuk membantu.
"Saya... saya tidak tahu harus bilang apa."
"Bilang iya." Arjuna mengulurkan tangan. "Partner?"
Akselia menatap tangan itu. Lalu tersenyum, senyum tulus penuh syukur. "Partner."
Mereka berjabat tangan bukan lagi sebagai bos dan karyawan, tapi sebagai teman dan partner bisnis.
***
SORE HARI - RUMAH SAKIT UMUM
Akselia mengunjungi Bella yang bekerja sebagai relawan di rumah sakit, keputusan yang Bella ambil setelah meninggalkan dunia modeling.
"Akselia!" Bella melambaikan tangan saat melihatnya di lorong. "Kamu datang!"
"Aku bilang akan datang." Akselia tersenyum. "Bagaimana kabarmu?"
"Lebih baik. Jauh lebih baik." Bella terlihat berbeda wajahnya lebih berseri tanpa makeup tebal, mata lebih hidup. "Bekerja di sini membantu orang yang sakit, bikin aku sadar kalau masalahku itu kecil dibanding yang mereka hadapi."
"Aku bangga denganmu."
"Aku belajar dari kamu." Bella memeluk Akselia sekilas. "Kamu yang ajari aku bahwa kita tidak perlu hancur gara-gara satu pria brengsek. Kita bisa bangkit dan jadi lebih baik."
Mereka berjalan ke kantin rumah sakit, ngobrol tentang rencana masa depan. Bella cerita dia mau kuliah keperawatan mengubah arah hidupnya total.
"Dan kamu?" tanya Bella. "Apa rencanamu ke depan?"
"Buka dojo sendiri. Fokus ke kelas pemberdayaan perempuan. Bantu perempuan-perempuan yang pernah jadi korban, entah kekerasan, manipulasi, atau apa pun belajar melindungi diri."
Bella tersenyum lebar. "Itu sempurna untukmu. Kamu... kamu seperti superhero buat aku."
Akselia tertawa. "Aku bukan superhero. Aku cuma perempuan biasa yang pernah jatuh dan belajar bangkit."
"Dan itu yang bikin kamu luar biasa."
***
MALAM HARI - MAKAM AKSANA
Akselia datang lagi ke makam adiknya, membawa bunga segar dan lilin kecil. Dia duduk di depan nisan, menatap nama Aksana yang terukir di batu.
"Hai, Aksana," bisiknya lembut. "Kakak datang lagi."
Angin malam berhembus pelan, membawa aroma bunga dari taman di sekitar makam.
"Kakak ada kabar baik. Kakak dapat sertifikat instruktur resmi. Dan kakak akan buka dojo sendiri... seperti yang dulu kita impikan bareng, ingat?"
Akselia tersenyum mengingat percakapan mereka dulu. Aksana yang bersemangat bilang suatu hari mereka akan punya dojo sendiri, melatih anak-anak muda, jadi inspirasi.
"Aksana tidak ada untuk lihat itu jadi kenyataan. Tapi kakak akan tetap lakukan untuk kita berdua." Air matanya jatuh, tapi ini air mata damai. "Dan kakak janji, kakak akan hidup dengan baik. Jadi orang yang Aksana banggakan. Tidak akan pernah lupa kamu."
Dia diam lama, membiarkan keheningan malam memeluknya.
Lalu berbisik, "Terima kasih sudah jadi adik terbaik, meski waktunya pendek. Kakak sayang kamu. Selamanya."
***
TENGAH MALAM - KAMAR KOS BELAKANG DOJO
Akselia mengemas barang-barangnya, besok dia akan pindah ke apartemen kecil yang lebih dekat dengan lokasi dojo barunya. Pak Dharma bantuin cari tempat yang terjangkau tapi layak.
Saat mengemas, dia menemukan foto lama yang terlipat di laci. Foto dia dan Kevin setahun lalu, tersenyum bahagia di taman kota.
Akselia menatap foto itu lama.
Tidak ada lagi sakit di dadanya. Tidak ada amarah. Hanya kenangan, kenangan yang sudah tidak punya kuasa atasnya lagi.
Dia memasukkan foto itu ke amplop, menulis alamat penjara tempat Kevin ditahan, dan catatan singkat:
[Ini milikmu. Semoga suatu hari kamu lihat foto ini dan ingat, kamu pernah membuat seseorang bahagia, sebelum kamu pilih menghancurkannya. Belajarlah dari kesalahan. Jadi lebih baik. - Akselia]
Dia memasukkan amplop itu ke kotak surat besok pagi. Bukan karena dia masih peduli pada Kevin. Tapi karena ini penutupan terakhir yang dia butuhkan.
***
PAGI HARI - HARI BARU
Akselia bangun dengan perasaan ringan. Hari pertamanya sebagai instruktur resmi. Hari pertamanya memulai hidup baru, benar-benar baru.
Dia mengenakan kaus hitam bertuliskan logo dojo Pak Dharma, celana training, dan sepatu kets. Rambut diikat kuda tinggi, siap untuk hari yang panjang.
Pak Dharma, Sari, dan beberapa murid senior sudah menunggu di dojo untuk memberikan kejutan. Banner besar bertuliskan: "SELAMAT AKSELIA KINANTI - INSTRUKTUR RESMI"
Akselia tertawa terharu. "Kalian... kalian tidak perlu repot-repot..."
"Ini bukan repot. Ini perayaan!" Sari memeluknya. "Kamu layak dirayakan!"
Mereka sarapan bersama, nasi uduk dan gorengan dari warung langganan. Ngobrol, tertawa, merencanakan masa depan dojo.
Di tengah keramaian itu, Akselia merasakan sesuatu yang sudah lama tidak dia rasakan: Kebahagiaan murni. Tanpa syarat. Tanpa beban. Tanpa bayang-bayang masa lalu.
Dia menatap orang-orang di sekelilingnya, orang-orang yang mendukungnya di saat tergelap, yang tidak menyerah padanya saat dia menyerah pada diri sendiri.
Dan dia tahu ini baru permulaan. Permulaan hidup Akselia Kinanti yang sebenarnya.
Perempuan yang pernah jatuh, hancur, penuh amarah tapi bangkit lebih kuat, lebih bijak, lebih manusiawi.
Dan yang paling penting... bebas.
jadi seharusnya kurang lebih 8 THN yg lalu bukan?
maaf kalau salah.
tipikal awal malu malu, tp akhirnya malu maluin, sok-sok'an masih takut membuka hati tp ternyata lebih agresif.... eeehhh....
🤭🤭🤭🏃🏃🏃
gk setuju aq/Drowsy//Drowsy/
semangat❤️