NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.

Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.

Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Waktu merangkak dengan sangat lambat di dalam kamar utama Mansion Aditama.

Sejak Pak Aditama keluar dari kamar pagi tadi, keheningan yang tercipta antara Citra dan Putra terasa begitu pekat hingga bisa dipotong dengan pisau. Sesuai perintah ayahnya, Putra benar-benar membatalkan seluruh jadwal rapatnya hari ini. Pria itu kini duduk bersandar di sofa single di sudut ruangan, memangku laptopnya, dan mengetik dengan kecepatan agresif. Suara tuts keyboard yang ditekan keras-keras menjadi satu-satunya melodi yang menemani Citra.

Citra sendiri hanya berbaring menatap langit-langit kamar. Suhu pendingin ruangan sudah dinaikkan menjadi dua puluh empat derajat suhu normal yang akhirnya membuat tubuh Citra berhenti menggigil.

Menjelang siang, perut Citra mulai berbunyi. Ia belum makan apa pun sejak kemarin siang. Ingin rasanya ia turun ke dapur, tapi selang infus di tangan kirinya dan perban tebal di tangan kanannya membuatnya tak berdaya.

Tok... tok...

Pintu kamar diketuk pelan, disusul dengan kemunculan Pak Aditama. Di belakangnya, Bibi pelayan mengekor membawa nampan berisi semangkuk bubur ayam hangat, segelas air putih, dan sepiring apel yang belum dikupas.

"Bagaimana keadaanmu, Citra? Sudah merasa lebih baik?" sapa Pak Aditama ramah, berjalan mendekati ranjang.

"Sudah lumayan, Pa. Kepala Citra sudah tidak terlalu pusing," jawab Citra sopan, mencoba tersenyum meski bibirnya masih pucat.

"Syukurlah. Sekarang waktunya kamu makan siang dan minum obat," ujar Pak Aditama. Ia menoleh ke arah Bibi. "Taruh nampannya di atas nakas, Bi."

"Baik, Tuan." Bibi meletakkan nampan itu dengan hati-hati, lalu menunduk pamit keluar.

Pak Aditama kemudian menatap putra sulungnya yang masih sibuk menatap layar laptop seolah istrinya yang sedang sakit itu tidak ada.

"Putra," panggil Pak Aditama tegas. "Tutup laptopmu. Suapi istrimu makan."

Jari-jari Putra seketika berhenti mengetik. Ia perlahan mengangkat wajahnya, menatap ayahnya dengan sorot mata tak percaya. Rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga otot-otot di lehernya menonjol.

"Pa, aku sedang mengecek laporan keuangan kuartal ini. Ini sangat penting," bantah Putra dengan suara rendah yang ditahan. "Suruh saja Bibi yang menyuapinya."

"Tidak ada yang lebih penting dari istrimu saat ini," potong Pak Aditama mutlak, nada suaranya tidak menerima bantahan. Pria paruh baya itu menunjuk tangan Citra. "Kamu punya mata, kan? Tangan kanan istrimu melepuh dan diperban karena ulah siapa? Tangan kirinya dipasang selang infus. Bagaimana dia mau memegang sendok? Lakukan tugasmu sebagai suami, atau Papa sendiri yang akan melemparkan laptopmu itu ke luar jendela."

Ancaman itu membuat dada Putra naik turun menahan amarah yang mendidih. Dengan gerakan kaku dan kasar, Putra menutup laptopnya hingga berbunyi klik keras, meletakkannya di atas meja, lalu berjalan menghampiri ranjang.

Citra menelan ludah. Jantungnya berdebar kencang melihat kilat kemarahan di mata Putra saat pria itu duduk di tepi ranjang, tepat di sebelahnya.

"Bagus," ucap Pak Aditama puas. "Papa mau ke ruang kerja sebentar mengurus beberapa email. Pastikan mangkuk itu kosong saat Papa kembali, Putra."

"Iya, Pa," desis Putra melalui gigi-giginya yang terkatup rapat.

Begitu pintu kamar tertutup dan langkah kaki Pak Aditama menjauh, Putra langsung meraih mangkuk bubur itu dengan kasar. Ia mengaduk bubur ayam tersebut tanpa perasaan, lalu menyendoknya dalam porsi besar.

Tanpa aba-aba, Putra menyorongkan sendok penuh bubur panas itu tepat di depan bibir Citra.

"Makan," perintahnya dingin. Tatapannya seolah ingin membunuh Citra detik itu juga.

Citra sedikit memundurkan wajahnya. Hawa panas dari bubur itu menerpa wajahnya. Tiba-tiba, sebuah ingatan melintas di benak Citra. Ia teringat janjinya pada diri sendiri di malam sebelum pernikahan. Janji untuk tidak terus-terusan menjadi korban. Janji untuk menjadi istri yang menyebalkan jika Putra terus bersikap jahat padanya.

Selama ini ia hanya diam, dan ia tetap ditindas hingga pingsan. Jika Putra sudah berjanji akan menghukumnya nanti saat Pak Aditama pergi, maka bukankah lebih baik ia menikmati perlindungannya sekarang?

Dengan sisa-sisa keberanian yang entah datang dari mana, Citra tidak membuka mulutnya. Ia menatap Putra dengan wajah polos.

"Mas... buburnya kepanasan," ucap Citra pelan. "Tolong ditiup dulu. Nanti lidah saya melepuh seperti tangan saya."

Mata Putra membelalak. Ia menatap Citra dengan tatapan membunuh. Gadis kampung ini berani menyuruhnya meniup bubur?

"Jangan banyak tingkah. Buka mulutmu," desis Putra mengancam.

"Kalau lidah saya melepuh, nanti saya teriak kesakitan, Mas. Kalau Papa dengar, mungkin Papa kira Mas sengaja menyakiti saya lagi," balas Citra dengan nada datar, namun kalimatnya mengandung ancaman balik yang sangat halus.

Putra terdiam kaku. Ia tahu Citra benar. Jika Pak Aditama mendengar keributan, masalahnya akan semakin panjang.

Dengan napas memburu dan dada yang terasa mau meledak, Putra menarik kembali sendok itu. Ia meniup bubur tersebut beberapa kali dengan wajah ditekuk rapat. Pemandangan seorang CEO arogan yang terpaksa meniup bubur demi istri yang dibencinya benar-benar terlihat sangat ironis.

"Cukup?" tanya Putra sarkas, lalu kembali menyorongkan sendok itu.

Citra membuka mulutnya dan menerima suapan itu. Ia mengunyahnya perlahan. Rasanya hambar di lidah, namun ada sedikit rasa kemenangan yang manis di hatinya.

"Saya mau minum, Mas," pinta Citra lagi saat suapan kelima.

Putra meletakkan mangkuk dengan kasar, mengambil gelas, dan mendekatkannya ke bibir Citra.

"Pelan-pelan, Mas. Nanti tumpah ke baju saya," tegur Citra lagi saat Putra memiringkan gelas itu terlalu cepat.

"Kamu sengaja memancing emosi saya, kan?" geram Putra, urat di pelipisnya berdenyut.

Citra menatap mata elang suaminya dengan berani. "Saya cuma minta tolong disuapi dengan benar, Mas. Tangan saya benar-benar sakit."

Putra meletakkan gelas itu kembali ke nakas. Ia lalu mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan wajahnya ke telinga Citra hingga gadis itu bisa merasakan hembusan napas Putra yang hangat sekaligus mematikan.

"Silakan mainkan peranmu sebagai korban yang malang selagi bisa, Citra," bisik Putra dengan nada yang sangat rendah dan berbahaya. "Buat saya meniup buburmu. Buat saya mengambilkan air minummu. Lakukan sesukamu hari ini."

Putra menarik wajahnya, menatap lurus ke dalam mata Citra dengan seringai tipis yang mengerikan.

"Tapi ingat, Papa tidak akan tinggal di rumah ini selamanya. Dan saat pria tua itu melangkah keluar dari gerbang besok lusa... saya pastikan setiap suapan yang kamu makan hari ini, akan kamu muntahkan kembali."

Ancaman itu membuat darah di nadi Citra seolah membeku. Namun, Citra sudah terlanjur basah. Ia membuang muka, menatap ke arah pintu.

"Kalau begitu, selama Papa masih di sini... tolong kupaskan buah apel itu untuk saya, Mas. Saya mau potongannya kecil-kecil agar mudah dikunyah," pinta Citra dengan nada setenang mungkin, meski tangannya di bawah selimut bergetar hebat.

Putra menatap piring berisi apel merah dan pisau buah di atas nakas. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih, namun pada akhirnya, pria arogan itu meraih pisau tersebut dan mulai mengupas apel untuk istrinya dalam keheningan yang mematikan.

1
Rani Manik
good, tapi buat karakter perempuan nya lebih tanguh lagi for independent women, both in terms of intelligence and revenge
partini
Morgan hemmm
Rani Manik: kiw morgan
total 1 replies
Lenty Fallo
😍😍😍💪
Lenty Fallo
mntap citra saya salut sama kamu, perthankn sifatmu itu. buat putra mnyesal dgn kelakuannya selama ini. bila perlu pergi mninggalkn laki yg sombong dan arogan itu. 💪❤️
Rani Manik
lanjut thour
partini
give coffee
partini
lanjut Thor 👍👍👍👍
partini
bermain cantik itu lebih baik
partini
very good 👍👍👍👍
partini
jangan lama" citra masa harus ad uang buanyakkk baru kabur
partini
good story
partini
nanggung put Siksa Ampe sekarat terus methong kamu jadi bebas
partini
betul"nyesek ini cerita , berakhir luka aja lah Thor pergi jauh mulai dari nol become strong woman and sukses
suaminya bikin dia menyesal kalau bisa sih
Yani Cuhayanih
belum ada pencerahan jangan buat lama lama citra tertindas nanti di ambil orang..begitulah lagu cici paramida...asyickk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!