tentang dia yang samar keberadaannya tapi pasti tentang rasa cintanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: RESONANSI YANG TERPAKSA
Ruang bawah tanah di Salford itu terasa seperti ruang kedap suara yang berubah menjadi ruang penyiksaan. Dinding-dinding beton yang tebal tidak membiarkan satu pun desibel suara bocor ke luar, membuat setiap getaran frekuensi yang dihasilkan oleh mesin-mesin Murid Sang Arsitek memantul dengan kekuatan penuh, menghantam tubuh Elara seperti gelombang fisik yang tak terlihat.
"Kau gila!" Arlo berteriak, suaranya hampir tenggelam oleh dengungan frekuensi rendah yang membuat tulang rusuk Elara bergetar. Arlo mencoba menarik kabel-kabel yang menjalar di lantai seperti urat nadi mekanis, namun setiap kali ia menyentuh perangkat itu, sebuah kejutan statis melemparnya kembali.
Pria muda di depan monitor itu, yang kini mereka kenal sebagai pewaris obsesi Sang Arsitek, tertawa tanpa suara. Matanya yang merah karena kurang tidur terpaku pada spektrum gelombang yang menari-nari liar di layar. "Gila adalah kata yang digunakan orang-orang biasa untuk menjelaskan keajaiban yang tidak bisa mereka pahami, Arlo. Kau yang memulainya di mercusuar! Kau yang menciptakan formula untuk membuka gerbang emosi manusia. Aku hanya... menyempurnakan kuncinya."
Elara masih berlutut di lantai, tangannya menekan telinga dengan kuat. Namun, frekuensi yang dihasilkan pria itu bukan menyerang gendang telinga, melainkan menyerang sistem saraf pusat. Ia bisa merasakan dadanya sesak, sebuah kesedihan yang tak beralasan tiba-tiba muncul, disusul oleh kemarahan yang meluap-luap, lalu ketakutan yang dingin. Ini adalah manipulasi emosi melalui suara—teori Arlo yang kini menjadi senjata nyata.
"Hentikan... kumohon..." Elara berbisik, namun suaranya justru tertangkap oleh mikrofon sensitif di tengah ruangan dan diproses secara instan oleh perangkat lunak pria itu.
"Dengar itu!" teriak si Murid Sang Arsitek. "Suara ketakutanmu memiliki puncak frekuensi di 440 hertz dengan distorsi organik yang indah! Tapi itu belum cukup. Aku butuh kutub yang berlawanan. Aku butuh frekuensi cinta yang murni untuk menstabilkan simfoni ini. Katakan, Elara! Katakan kau mencintai Arlo dengan seluruh jiwamu, tepat di depan mikrofon ini!"
Arlo merangkak menuju Elara, wajahnya penuh peluh. "Jangan lakukan, El! Jika kau memberikan suara itu padanya, dia akan memiliki rekaman emosi yang sempurna. Dia akan bisa menduplikasi perasaan kita dan menjualnya sebagai obat digital! Dia akan menghancurkan privasi jiwa manusia!"
Elara menatap Arlo. Di tengah kekacauan suara yang memekakkan telinga ini, ia melihat pria yang telah menghabiskan sepuluh tahun dalam kegelapan hanya untuk mencarinya. Ia melihat luka-luka di tangan Arlo, kelelahan di matanya, dan pengorbanan yang telah mereka lalui sejak mercusuar terbakar.
Pikiran Elara melayang kembali ke apartemennya yang rapi di London. Betapa jauhnya ia telah melangkah dari hidupnya yang teratur sebagai akuntan. Di sini, di Salford yang kotor dan berisik, ia menyadari satu hal: cinta mereka bukan untuk dijadikan data. Cinta mereka adalah sesuatu yang berantakan, tidak sempurna, dan seharusnya tetap menjadi rahasia di antara dua manusia.
"Kau ingin nada terakhir?" Elara tiba-tiba berdiri. Ia melepaskan tangannya dari telinganya. Meskipun kepalanya terasa seperti akan meledak, ia melangkah maju menuju mikrofon perak yang berdiri tegak itu.
"Elara, jangan!" Arlo mencoba meraih kakinya, namun ia terlalu lemah.
Murid Sang Arsitek menahan napas, tangannya bersiap di atas tuas perekam. "Ya... berikan padaku. Biarkan frekuensi ini menjadi abadi."
Elara berdiri tepat di depan mikrofon. Ia tidak melihat ke arah monitor, ia melihat langsung ke mata Arlo. Di dalam kebisingan yang gila itu, Elara menemukan sebuah titik fokus. Ia teringat saat-saat paling sunyi di pulau Skotlandia, saat Arlo menggambar wajahnya dengan arang.
Ia mendekatkan bibirnya ke mikrofon. Murid Sang Arsitek tersenyum lebar, merasa kemenangannya sudah di depan mata.
Namun, alih-alih mengucapkan kata-kata cinta yang diinginkan pria itu, Elara melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia menarik napas sedalam-dalamnya, lalu mengeluarkan suara teriakan yang paling keras, paling sumbang, dan paling tidak beraturan yang pernah ia keluarkan seumur hidupnya.
Itu bukan suara musik. Itu bukan suara resonansi yang indah. Itu adalah suara kemarahan seorang wanita yang muak dijadikan objek. Suara itu begitu mentah dan penuh dengan lonjakan energi yang tidak terduga sehingga jarum pada monitor frekuensi melonjak melampaui batas maksimal.
*KRETEK!*
Layar monitor pertama meledak. Disusul oleh yang kedua.
"TIDAK! APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak si Murid Sang Arsitek, mencoba menyelamatkan datanya.
Tapi Elara tidak berhenti. Ia terus berteriak, mengubah nada suaranya menjadi geraman yang menghancurkan harmoni buatan mesin tersebut. Arlo, menyadari apa yang terjadi, segera bangkit dan ikut berteriak, menggabungkan suaranya dengan suara Elara dalam sebuah disonansi yang menghancurkan.
Sistem suara itu tidak dirancang untuk menerima ketidakteraturan yang begitu masif. Kapasitor di dalam rak server mulai berasap. Suara *feedback* yang melengking tinggi bergema di seluruh ruangan, memecahkan sisa-sisa bohlam lampu dan kaca monitor. Laboratorium bawah tanah itu mendadak menjadi gelap total, hanya diterangi oleh percikan api dari kabel-kabel yang terbakar.
Suara mesin pun mati.
Keheningan yang menyusul terasa sangat menyakitkan, namun kali ini itu adalah keheningan yang bebas.
Di kegelapan, Elara terengah-engah. Ia merasakan tangan Arlo meraba-raba dalam gelap, hingga akhirnya menemukan tangannya. Mereka berpegangan erat di tengah aroma plastik terbakar dan ozon.
"Datanya... semua risetku..." terdengar isak tangis si Murid Sang Arsitek dari sudut ruangan. "Kalian menghancurkan kesempurnaan..."
"Kesempurnaan tidak ada dalam rekaman, Nak," suara Arlo terdengar dingin dan berwibawa di kegelapan. "Kesempurnaan itu ada pada apa yang tidak bisa kau tangkap."
Jamie mendobrak pintu besi dari luar, membawa senter besar. "Kalian tidak apa-apa?! Aku mendengar suara ledakan dari atas!"
Elara tidak menjawab. Ia hanya bersandar pada dada Arlo, merasakan detak jantung pria itu yang kini jauh lebih nyata daripada frekuensi mana pun di dunia. Mereka berjalan keluar dari bunker Salford, meninggalkan puing-puing obsesi terakhir yang mencoba mengurung mereka.
Di atas, Manchester sedang diguyur hujan deras. Air hujan terasa dingin dan membersihkan saat menyentuh wajah Elara. Ia menatap jalanan Salford yang suram, namun kali ini ia tidak merasa takut.
"Kita sudah menghancurkan formulanya, Arlo. Benar-benar menghancurkannya," bisik Elara.
"Ya," jawab Arlo, menatap langit malam. "Kini tidak ada lagi yang bisa mencuri suaramu. Tidak juga aku."
Namun, saat mereka berjalan menjauh, Elara melihat sebuah mobil hitam yang terparkir di bawah jembatan kereta api. Lampu depannya menyala sekali, lalu mati. Elara tahu, meskipun laboratorium itu hancur, dunia luar belum selesai dengan mereka. Gema dari siaran Skotlandia telah menciptakan gelombang yang tidak bisa dihentikan hanya dengan merusak beberapa monitor.
Bab 19 ditutup dengan mereka yang masuk ke dalam taksi Jamie, bergerak menembus hujan Manchester. Mereka telah memenangkan pertempuran melawan "teknologi", namun perang melawan "ketenaran" yang tidak diinginkan dan pengikut-pengikut Sang Arsitek lainnya baru saja dimulai.Elara menyadari bahwa nada terakhir yang sebenarnya bukanlah sebuah kata, melainkan keberanian untuk tetap tidak terdengar di dunia yang terlalu berisik.
Aku suka gaya tulisan seperti ini. Cara kamu ngedeskripsiin tiap bait suasana, benda dan waktu, bikin aku bener-bener masuk ke dalam diri El. Sukses selalu thor, semangat ⭐