Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang sangat mengejutkan
Dan kemudian—
“Az Zahra.”
Namaku menggema di seluruh gedung.
Untuk sesaat, aku tidak bergerak. Suara itu terasa terlalu dekat, terlalu nyata, seolah memanggil bukan hanya tubuhku, tapi juga seluruh isi kepalaku yang sejak tadi dipenuhi kegelisahan. Beberapa detik berlalu sebelum aku benar-benar berdiri dari kursi.
Langkah kakiku terasa ringan namun rapuh saat aku berjalan menuju panggung. Sorot lampu menyorot dari atas, membuat pandanganku sedikit silau. Aku menunduk, seperti yang selalu kulakukan, menjaga langkah tetap terukur.
Tepuk tangan terdengar.
Namun di telingaku, suara itu seperti datang dari tempat yang jauh.
Aku naik ke atas panggung, menerima ijazah dari tangan guru dengan senyum tipis yang kupaksakan. Tanganku dingin saat menyentuh kertas itu—bukan karena gugup semata, melainkan karena perasaanku belum sepenuhnya kembali dari kejutan-kejutan hari ini.
Aku berdiri di depan podium kecil yang telah disiapkan.
“Silakan,” ujar salah satu guru dengan suara lembut.
Aku menarik napas.
Pidato singkat.
Hanya ucapan terima kasih.
Itu yang sudah kusiapkan sejak lama.
“Terima kasih kepada pesantren dan sekolah,” ucapku pelan namun jelas, “yang telah membimbing kami bukan hanya dalam ilmu, tapi juga dalam adab dan kesabaran.”
Aku berhenti sejenak, menunduk.
“Terima kasih kepada para guru,” lanjutku, “yang tidak pernah lelah mengingatkan kami tentang batas, tanggung jawab, dan tujuan hidup.”
Aku menoleh sedikit ke arah orang tuaku di antara hadirin.
“Dan terima kasih kepada orang tua,” kataku, “yang selalu mendoakan kami, bahkan ketika kami sendiri sering lupa pada diri kami.”
Tepuk tangan kembali terdengar. Lebih hangat kali ini.
Aku menunduk hormat, lalu melangkah mundur, bersiap turun dari panggung. Jantungku mulai kembali ke ritmenya. Setidaknya… bagian ini sudah selesai.
Namun tepat ketika kakiku hendak menuruni anak tangga—
“Mohon perhatian.”
Suara MC menghentikanku.
Langkahku terhenti.
“Para hadirin yang kami hormati,” lanjutnya, suaranya terdengar lebih tegang dari sebelumnya, “tamu yang paling ditunggu… telah tiba.”
Aku tidak bergerak.
Entah kenapa, tubuhku terasa kaku, seolah ada sesuatu yang menahanku di tempat itu. Aku berdiri di atas panggung, di antara turun dan tetap tinggal—dan memilih tetap tinggal.
Rasa penasaran menahan napasku.
Pintu gedung terbuka sekali lagi.
Namun kali ini…
suasananya berbeda.
Tidak ada kegaduhan.
Tidak ada bisik-bisik.
Semua seperti menahan napas bersamaan.
Seorang pria muda masuk ke dalam gedung, diapit oleh dua pengawal di kanan dan kirinya. Langkahnya tenang, nyaris tanpa suara. Posturnya tegap, sikapnya terkendali—bukan seperti orang yang ingin diperhatikan, tapi seperti seseorang yang memang terbiasa diperhatikan.
Ia terlihat… sangat muda.
Terlalu muda untuk berada di antara para pemimpin dunia.
Terlalu muda untuk membuat seluruh ruangan seketika diam.
Wajahnya tampan, rapi, dan tenang. Rambutnya tertata sederhana. Kacamata berbingkai tipis bertengger di wajahnya, memberi kesan dingin sekaligus berwibawa. Setelannya gelap, pas di tubuh, tanpa aksesori berlebihan.
Semua mata tertuju padanya.
Aku pun ikut menatap—tanpa sadar.
Dan lalu aku melihat sesuatu yang membuat jantungku hampir berhenti.
Para pemimpin negara…
berdiri.
Satu per satu, mereka bangkit dari kursinya dan memberikan penghormatan penuh.
Gedung itu seakan membeku.
Aku berdiri di atas panggung, sendirian, menyaksikan pemandangan yang rasanya tidak nyata. Siapa dia, sampai orang-orang yang selama ini kulihat sebagai puncak kekuasaan… berdiri untuknya?
Pria itu melangkah maju.
Di tangan kanannya, ia membawa setangkai bunga—indah, sederhana, dan kontras dengan suasana megah di sekelilingnya. Bunga itu tidak terlihat berlebihan, tapi jelas dipilih dengan sengaja.
Aku menelan ludah.
Langkahnya terarah.
Bukan ke kursi.
Bukan ke para tamu.
Melainkan… ke panggung.
Ke arahku.
Pengawalnya berhenti beberapa langkah sebelum panggung. Pria itu melanjutkan sendiri. Setiap langkahnya terasa berat di mataku, seolah jarak di antara kami menyusut terlalu cepat.
Aku masih berdiri di tempat yang sama.
Lampu sorot kini mengarah ke dua titik:
dia—yang sedang mendekat,
dan aku—yang tak tahu harus berbuat apa.
Ia menaiki anak tangga panggung dengan langkah mantap. Tidak tergesa. Tidak ragu. Tatapannya lurus ke depan.
Ke arahku.
Aku ingin menunduk.
Aku ingin bergerak.
Namun tubuhku tidak menurut.
Ia berhenti tepat di hadapanku.
Jarak kami tidak dekat—masih ada ruang yang aman—namun kehadirannya terasa terlalu jelas, terlalu nyata. Aku bisa melihat pantulan cahaya di kacamatanya. Bisa merasakan ketenangan aneh yang dibawanya.
Ia menatapku.
Bukan tatapan menilai.
Bukan tatapan menguasai.
Tatapannya tenang. Dalam. Seolah ia melihatku bukan sebagai seseorang yang sedang berdiri di atas panggung, melainkan sebagai seseorang yang sudah lama ia ketahui keberadaannya. Tidak ada senyum, tidak pula ekspresi berlebihan. Hanya ketenangan yang membuat dadaku bergetar tanpa alasan yang bisa kupahami.
Dan tanpa sepatah kata apa pun, ia mengulurkan tangannya.
Bunga itu.
Bunga yang sejak tadi kuberi jarak dengan tatapanku, kini berada tepat di hadapanku. Kelopaknya segar, warnanya lembut, aromanya nyaris tak tercium—namun entah kenapa, kehadirannya terasa begitu nyata.
Aku tidak ingat kapan tanganku bergerak.
Aku tidak ingat kapan jemariku menyentuh tangkai bunga itu.
Yang aku tahu, di detik berikutnya…
aku sudah menerimanya.
Tanganku gemetar ringan. Napasku tertahan. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku—aku menyadari sesuatu yang membuatku takut sekaligus bingung.
Aku terpikat.
Bukan oleh kata-kata.
Bukan oleh janji.
Melainkan oleh kehadiran.
Perasaan itu datang begitu saja, tanpa izin, tanpa logika. Dadaku terasa hangat, namun bersamaan dengan itu ada ketakutan yang menyelinap. Aku, Zahra—yang selama ini menjaga jarak, menahan diri, dan menutup rasa—kini berdiri di hadapan seseorang yang mampu menembus semua pertahananku hanya dengan diam.
Ia sedikit menunduk, lalu berkata dengan suara rendah namun jelas,
“Kembalilah ke tempat dudukmu.”
Nada suaranya tenang. Tidak memerintah, tidak memaksa. Seolah ia hanya memastikan aku tidak lupa pada diriku sendiri.
Aku tersentak kecil.
Seakan baru terbangun dari mimpi.
Aku mengangguk pelan, lalu berbalik.
Langkahku menuju anak tangga panggung terasa berbeda dari saat aku naik tadi. Tanganku masih menggenggam bunga itu erat, seolah jika kulepaskan, semua yang baru saja terjadi akan menguap begitu saja.
Aku kembali ke tempat dudukku—di antara ayah dan ibu.
Ibu menatapku dengan mata yang berkaca-kaca, antara terkejut dan bingung. Ayah… tetap tenang, namun rahangnya mengeras, seolah menahan sesuatu yang tidak ingin ia tunjukkan.
Aku duduk.
Dan baru saat itulah aku benar-benar menyadari…
Semua mata mengarah padaku.
Tatapan-tatapan itu bukan sekadar penasaran. Ada kekagetan, kekaguman, kebingungan, bahkan rasa ingin tahu yang nyaris tak disembunyikan. Aku menunduk, memeluk bunga itu di pangkuanku, berharap diriku bisa menghilang di antara kursi-kursi yang tersusun rapi.
Namun acara belum selesai.
Pria itu—Schevenko—masih berdiri di atas panggung.
MC memberi isyarat dengan sedikit gugup. Schevenko melangkah maju ke podium. Gerakannya terukur, seolah setiap langkah telah ia perhitungkan dengan matang.
Ia berdiri tegak. Menatap hadirin.
Dan kemudian, ia mulai berbicara.
“My name is Schevenko Alistair Whitmore.”
Suara itu…
jernih.
Tenang.
Berwibawa.
Bahasa Inggrisnya fasih, dengan aksen yang tidak asing—jelas bukan aksen lokal.
“I come from the United Kingdom. I am twenty years old.”
Ruangan kembali sunyi.
Aku membeku di tempat dudukku.
Britania Raya?
Dua puluh tahun?
Kepalaku berdenyut pelan.
Ia masih sangat muda—bahkan hanya dua tahun lebih tua dariku—namun cara bicaranya, caranya berdiri, dan cara semua orang menghormatinya… sama sekali tidak mencerminkan usianya.
“I am honored,” lanjutnya, “to be present at this graduation ceremony.”
Aku menoleh cepat ke ayah.
Ayah tetap menatap ke depan, seolah ini bukan kejutan baginya. Dan saat itulah aku menyadari—semua ini bukan kebetulan.
Schevenko berbicara dengan tenang, menyampaikan penghargaan kepada pesantren dan sekolah, tentang pendidikan, tentang nilai, tentang masa depan generasi muda. Kata-katanya tidak panjang, tidak berlebihan, namun setiap kalimatnya terasa tepat sasaran.
Aku hampir tidak mendengarnya dengan utuh.
Pikiranku masih tertahan pada satu hal.
Tadi…
ia menyuruhku duduk.
aku mendengar dengan jelas Ia berbicara menggunakan bahasa Indonesia, "ia bisa menggunakan bahasa Indonesia "gumamku penuh dengan kebingungan.
"Dan dia berasal dari Britania Raya? datang ke pesantren? berarti agamanya....." pikirku di dalam hati.
aku benar-benar kebingungan.
Beberapa menit kemudian, ia menutup pidatonya dengan anggukan kecil. Tepuk tangan menggema—lebih panjang, lebih dalam, lebih penuh penghormatan dari sebelumnya.
Schevenko turun dari panggung.
Ia berjalan ke kursi yang sejak tadi kosong—kursi terakhir di barisan tamu istimewa—dan duduk di sana dengan sikap tenang.
Aku melirik bunga di tanganku lagi.
Bunga ini nyata.
Perasaan ini juga.
Acara berlanjut hingga akhirnya mendekati penutup. Sambutan terakhir disampaikan. Doa dipanjatkan. Suasana mulai melonggar, meski aura megah dan tegang masih menggantung di udara.
Dan tepat sebelum acara benar-benar ditutup—
MC kembali berbicara.
“Mohon perhatian,” katanya. “Untuk Az Zahra dan keluarga, setelah acara ini selesai… mohon tidak langsung pulang ke rumah.”
Dadaku mencelos.
“Ada seseorang,” lanjutnya, “yang ingin berbicara dengan Anda, ia menunggu di luar.”
Aku menoleh cepat ke ayah.
Lalu ke ibu.
Lalu kembali ke bunga di tanganku.
Tanganku sedikit bergetar.
Seseorang.
Aku tahu siapa yang dimaksud.
Aku merasakannya bahkan sebelum nama itu terlintas di pikiranku.
Acara resmi akhirnya selesai. Para hadirin mulai berdiri. Suara-suara kecil kembali terdengar. Namun sebelum aku sempat berdiri sepenuhnya, aku melihat sesuatu yang membuatku kembali terdiam.
Para pemimpin negara mulai bergerak keluar.
Termasuk… Schevenko.
Ia berjalan bersama mereka, namun tidak sejajar—ia sedikit di depan, seolah arah langkah mereka mengikuti ritmenya. Pengawal kembali berada di sisinya.
Aku memperhatikan dari jauh.
Dan saat rombongan itu keluar gedung, aku melihat sesuatu yang tak kuduga.
Di luar…
telah disiapkan tempat duduk khusus.
Bukan sembarang kursi.
Deretan kursi yang tertata rapi, teduh, dan terpisah dari kerumunan. Area itu dijaga, namun tidak terasa mengancam—lebih seperti ruang untuk percakapan penting.
Aku menelan ludah.
Bunga itu masih di tanganku.
Masih segar.
Masih hangat oleh genggamanku sendiri.
Dan untuk pertama kalinya sejak hari ini dimulai, aku benar-benar menyadari satu hal:
Pertemuan ini…
bukan kebetulan.
Bukan pula sekadar kejutan.
Ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar
daripada kelulusanku.
Dan aku, Zahra—yang selama ini hanya ingin hidup tenang dan menjaga jarak—
tanpa sadar…
sudah melangkah masuk ke dalamnya.
Dan setelah acaranya benar-benar selesai, aku....
Bersambung.....