NovelToon NovelToon
MONSTER DI DUNIA MURIM

MONSTER DI DUNIA MURIM

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem
Popularitas:947
Nilai: 5
Nama Author: FantasiKuyy

Dulu aku adalah sampah di Sekte Awan Azure, sampai sistem 'Night Crawler' merobek kemanusiaanku dan menggantinya dengan insting predator. Sekarang, aku bisa bertransformasi menjadi monster dan melahap kultivasi siapa pun yang berani menghalangi jalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Cengkeraman itu terasa seperti ribuan silet yang mengiris kulit kepalaku secara bersamaan. Aku merintih, mencoba melepaskan diri, namun seluruh ototku seakan lumpuh seketika. Wanita di depanku, yang tadinya kupikir adalah He Ran, kini menatapku dengan mata yang berputar-putar liar.

"Rasanya sangat manis, Vanguard," bisik makhluk itu dengan suara yang serak.

Kepalaku terasa ingin pecah karena teriakan sistem yang terus menghitung mundur di dalam pikiranku.

[50 detik menuju penghancuran diri.]

Aku melirik ke arah pria misterius di depanku. Ia tidak lagi menyerang. Ia justru berdiri diam, menatapku dengan sorot mata yang sulit dibaca.

"Sudah kubilang, dia adalah bagian dari jebakan makam ini," ucap pria itu sembari menyarungkan kembali pedang berkaratnya.

"Kenapa kau hanya diam?" tanyaku dengan gigi yang terkatup rapat.

Pria itu mendengus pelan. Ia melangkah mendekat, namun gerakannya tidak lagi mengancam. "Jika aku membantumu sekarang, kau hanya akan menjadi boneka bagi sistem itu selamanya."

Aku merasakan energi di dalam jantungku ditarik paksa keluar melalui ujung jari si Mimic. Wajah cantiknya kini sudah benar-benar hilang, berganti dengan gumpalan daging merah yang berdenyut dan dipenuhi lubang-lubang kecil.

"Jangan bergerak terlalu banyak, atau kau akan merusak rasanya," desis si Mimic sembari memperdalam tusukan kukunya ke tulang tengkorakku.

[40 detik.]

"Han Wol, dengarkan aku," panggil pria itu dengan suara yang sangat tenang.

Aku menoleh perlahan, meskipun leherku terasa sangat kaku.

"Kau harus memilih. Menghancurkan dirimu bersama sistem itu, atau menerima monster di dalam dirimu tanpa syarat apa pun," jelas pria itu sembari menunjuk ke arah jantungku.

"Apa maksudmu?" tanyaku sembari terbatuk darah.

Pria itu tersenyum tipis. "Sistem itu adalah belenggu. Ia memberimu kekuatan, tapi ia juga yang mengendalikan kapan kau harus menjadi monster."

Si Mimic tiba-tiba berteriak nyaring saat tubuhku mulai mengeluarkan uap hitam yang sangat panas. Ia mencoba menarik tangannya, namun sekarang justru tangannya yang terjepit di dalam tulang tengkorakku.

"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" teriak si Mimic dengan nada panik.

Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya merasa amarah yang luar biasa besar mulai meluap dari dasar jiwaku. Aku tidak lagi peduli pada hitungan mundur sistem. Aku tidak lagi peduli pada rasa sakit di bahuku.

"Kau yang datang padaku," geramku sembari mencengkeram pergelangan tangan si Mimic.

[30 detik.]

Aku bisa merasakan sisik emas di lenganku mulai meleleh, namun di bawahnya muncul lapisan kulit baru yang berwarna merah gelap seperti darah kering. Ini bukan transformasi Vanguard. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih liar.

"Pilihan yang bagus," gumam pria misterius itu sembari melangkah mundur.

Si Mimic mencoba melepaskan diri dengan cara memotong tangannya sendiri, namun sebelum ia sempat melakukannya, aku sudah merobek lehernya menggunakan tangan kiriku. Cairan hitam menyembur ke wajahku, namun aku tidak merasa jijik. Aku justru merasa sangat lapar.

"Berhenti memakan esensiku!" raung si Mimic sembari memukul dadaku berkali-kali.

[20 detik.]

Setiap pukulan yang ia daratkan justru membuat aliran energiku semakin stabil. Aku menarik napas panjang, membiarkan energi kegelapan dari si Mimic mengalir masuk ke dalam meridianku yang hancur.

"Sistem, batalkan penghancuran diri," perintahku di dalam hati.

[Kesalahan: Otoritas ditolak. Memulai fase akhir penghancuran diri.]

[10 detik.]

Aku memejamkan mata, memusatkan seluruh kesadaranku pada titik di mana sistem itu berada di dalam otakku. Aku membayangkan tanganku sedang mencengkeram inti cahaya tersebut.

"Jika kau ingin hancur, maka hancurlah sendiri," desisku dengan penuh kebencian.

[5 detik.]

[4 detik.]

Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar di dalam kepalaku. Pandanganku mendadak menjadi sangat jernih. Notifikasi merah yang tadinya menutupi penglihatanku kini retak dan hancur berkeping-keping seperti kaca.

"Kau benar-benar gila, Han Wol," ucap pria misterius itu sembari menatapku dengan takjub.

Aku berdiri tegak di atas jasad si Mimic yang kini sudah mengering menjadi debu. Aku tidak lagi merasakan kehadiran sistem di dalam kepalaku. Suara ribuan jiwa yang tadinya berteriak kini juga sudah sunyi.

"Apakah ini artinya aku sudah bebas?" tanyaku sembari melihat tanganku yang kini memiliki pola guratan hitam yang rumit.

Pria itu tidak menjawab. Ia justru menatap ke arah tangga yang menuju lebih dalam ke jantung makam.

"Ujian yang sebenarnya baru saja dimulai," sahut pria itu sembari menunjuk ke arah kegelapan.

Dari balik kegelapan itu, muncul suara derap langkah kaki kuda yang sangat banyak. Aku bisa merasakan getaran tanah yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.

"Aliansi Murim tidak akan membiarkanmu keluar hidup-hidup dari sini," bisik pria itu sembari mulai menghilang menjadi butiran cahaya.

Aku menoleh ke arah tangga dan melihat barisan prajurit dengan zirah perak yang sangat berkilau. Di depan mereka, berdiri seorang pria tua yang memegang tombak panjang.

"Vanguard yang memberontak," ucap pria tua itu dengan suara yang menggelegar.

Aku menyeringai, merasakan kekuatan yang murni tanpa gangguan sistem mengalir di setiap inci tubuhku.

"Datanglah," tantangku sembari merendahkan posisi tubuh.

Tepat saat prajurit pertama melompat ke arahku, dinding makam di sebelah kiri kami meledak, memperlihatkan sosok He Ran yang asli dengan tubuh yang penuh luka.

"Han Wol! Jangan lawan mereka!" teriak He Ran sembari terengah-engah.

Aku tertegun melihatnya. Jika He Ran ada di sini, lalu siapa yang memimpin prajurit zirah perak itu?

Pria tua bertombak itu tiba-tiba tertawa. Ia membuka helm zirahnya, memperlihatkan wajah yang sangat mirip dengan wajahku, namun dengan usia yang jauh lebih tua.

"Halo, Cucu," sapa pria tua itu sembari mengarahkan tombaknya ke arah jantungku.

1
johanes ronald
ceritanya agak bingung, kl rantai hitamnya diserap, trs wkt penjaga masuk, apa gak liat rantainya sdh gak ada?
johanes ronald
hidup jang mi ulat sekali ya?
johanes ronald
bingung + excited mo smp dimna ceritanya berakhir
johanes ronald
politiknya bnyk skali
KanzaCyr_ 🐼🌻
❤️🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!