NovelToon NovelToon
Putri Yang Terlupakan Telah Kembali

Putri Yang Terlupakan Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Romansa / Fantasi Wanita
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Riichann

Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat Di Ujung Anak Panah

"Baginda.." Garrick berkata pelan.

Raja berhenti berteriak pada Theo. Lalu kembali menatapnya, "Kau. Jadilah penerusku." Sambil melirik ke arah Maerin. Raja kembali berkata, "Dan menikahlah dengan Sylvaine. Ini perintah."

"Ayah! Saya telah memiliki seorang istri. Orang yang saya cintai. Bagaimana bisa anda mengatakan hal seperti itu padaku? Saya menolak. Ayo Maerin, kita pergi dari sini." Theo menggandeng tangan Maerin untuk mengajaknya keluar kamar Raja.

"Kau pikir aku menginginkanmu untuk naik tahta? Pergilah! Sebelum kau pergi, keluarkan darahku dan darah istriku yang mengalir di tubuhmu itu." Teriak Raja pada Theo. Mendengar hal itu, Theo berhenti seketika. Air mata menetes dari matanya. Ia berbalik, "Ayah menginginkanku mengambil nyawaku sendiri. Baiklah jika itu yang Ayah inginkan. Saya akan melakukannya."

"Jadi hanya sebesar itu cinta yang baru saja kau banggakan pada istri yang kau bawa kehadapanku yang tak jelas asal-usulnya itu? Kau bersedia mati dan meninggalkannya sendirian. Atau kau pun juga akan mengajaknya mati?" Ucap Raja dengan tajam dan meremehkan.

Theo terdiam dan terhanyut memikirkan ucapan ayahnya, hingga genggaman erat tangan Maerin menyadarkannya. Dia menoleh menatap Maerin dengan air mata yang mengalir dari matanya. Maerin menyentuh wajahnya sambil tersenyum, "Aku akan selalu mengikutimu kemanapun kau pergi, bahkan jika harus mengakhiri hidup." Tatapan Maerin berubah menjadi dingin dan kosong. Theo menyentuh lembut pipi Maerin, setelahnya melepas gandengan tangannya dan berjalan mendekati Raja, "Saya menerima perintah Ayah untuk menggantikan Ayah, namun saya menolak untuk menikah dengan Sylvaine. Saya akan memilih cara saya sendiri untuk naik tahta."

"Picik sekali, kau pikir kau punya pendukung? Bahkan kau tak memiliki pengaruh politik sedikitpun. Beraninya membual hal mustahil! Kau tak sadar keberadaanmu saja sudah menjadi kelemahan? Apalagi sekarang kau membawa kelemahan baru." Raja melirik ke arah Maerin. Maerin yang menyadarinya hanya menundukkan kepala.

"Buka lebar mata dan pikiranmu. Sadari posisimu! Kau sendirian dan tak ada seorangpun dipihakmu! Pikirkan itu dengan seksama. Kau bisa kembali ke kediamanmu sekarang. Pergilah." Kata Raja.

Theo berjalan keluar diikuti Maerin dari belakangnya, ia tak memikirkan hal lain. Hanya ucapan-ucapan Raja yang masih terngiang di dalam pikirannya. Lalu Maerin menarik tangan Theo dan menyadarkannya dari lamunan. Theo menoleh ke belakang ke arah Maerin. "Ah maaf, aku..." Theo menyadari bahwa Maerin melihat ke arah lain. Saat Theo melihat ke arah yang dilihat Maerin, dia sedikit terkejut sebab melihat Sylvaine yang sedang berdiri tak jauh seolah menunggu Theo.

"Pasti ada yang ingin kau bicarakan denganku." Ucap Theo dingin.

"Ya. Ikuti aku." Jawab Sylvaine singkat.

Theo mengikuti Sylvaine dari belakang dan Maerin juga. Namun Sylvaine tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang ke arah Theo, "Aku hanya ingin bicara empat mata saja." Dia melirik tajam ke arah Maerin.

"Apa maksudmu?" Tanya Theo. Namun Maerin menarik baju Theo bagian belakang. Lalu Theo berkata, "Baiklah."

"Ikut aku." Ucap Sylvaine.

Theo mengikuti Sylvaine dari belakangnya, lalu berhenti di sebuah ruangan kosong. Sylvaine pun memasukinya dan diikuti Theo. Pintu pun tertutup. Maerin hanya terdiam, kemudian menatap sekelilingnya. Ada beberapa lukisan tergantung di dinding lorong. Lalu mulai mondar-mandir di dekat pintu ruangan yang dimasuki Theo dan Sylvaine.

Di dalam ruangan Sylvaine tanpa basa-basi berkata, " Aku akan langsung ke intinya. Kau tak punya pilihan lain selain menikah denganku untuk naik tahta."

"Aku sudah memiliki seorang istri, dan aku tak berencana untuk menikah denganmu." Jawab Theo tegas.

"Kau tak memiliki pilihan." Tegas Sylvaine.

"Aku akan mencari pilihan." Jawab Theo.

"Pilihan apa? Pilihan yang membahayakanmu dan wanita yang sedang menunggumu di balik pintu itu?" Kata Sylvaine.

"Wanita itu memiliki nama, dan dia istriku." Tegas Theo.

"Kutegaskan sekali lagi. Kau harus menikahiku." Ucap Sylvaine.

"Aku tak berencana merubah keputusanku." Theo tetap pada pendiriannya.

"Aku bukannya mengancam, dan aku tak perlu untuk campur tangan. Yang jelas tanpa dukunganku di belakangmu. Cepat atau lambat kau dan istrimu itu akan tersingkirkan. Saat itu tiba, kerajaan ini pasti kacau. Kerajaan-kerajaan tetangga pun takkan tinggal diam, mereka pasti memanfaatkan kekacauan di dalam kerajaan ini. Dan akhirnya apa? Semua rakyat kerajaan ini menderita. Hanya karena keegoisanmu itu." Kata Sylvaine.

"Kau kan bisa mencegah hal itu terjadi. Kau bisa membantuku dan mendukungku." Ucap Theo.

"Aku terlahir menjadi Ratu, jelas aku akan menolak posisi lain. Bukan aku yang membutuhkanmu, tapi kau yang membutuhkanku. Jadi bersikaplah layaknya orang yang meminta bantuan. Pikirkanlah baik-baik, aku memberikanmu waktu untuk berpikir sampai besok pagi. Lebih dari itu, kau tanggung sendiri risikonya." Tegas Sylvaine. Setelah mengatakan itu, ia berjalan dan keluar dari ruangan. Saat berpapasan dengan Maerin, Sylvaine hanya meliriknya sebentar dan pergi. Maerin pun menunggu Theo keluar dari ruangan itu, namun Theo tak kunjung keluar. Hingga akhirnya Maerin mencoba mengintip Theo. Ia menemukan Theo hanya terdiam berdiri dan seolah tenggelam dalam pikirannya. Maerin mendekatinya dan menggenggam lembut tangan Theo. Theo pun tersadar karena terkejut. Ia memandangi wajah istrinya itu, satu-satunya orang yang paling berharga dalam hidupnya. Kemudian memeluknya erat dan berkata, "Aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan? Semua pilihan yang kupunya memiliki resiko yang sama beratnya."

"Coba ceritakan pelan-pelan. Tapi sebelum itu, sebaiknya kita segera keluar dari ruangan ini. Ada banyak barang berharga dan terlihat sangat mahal. Jangan sampai kita dituduh ingin mencurinya." Kata Maerin.

"Kau lupa siapa aku? Mana mungkin aku dituduh mencuri di rumahku sendiri. Apa kau sedang melucu?" Gerutu Theo pada Maerin. "Kau ada benarnya juga, kita sebaiknya kembali dulu ke kediamanku." Ajak Theo.

***

Sesampainya di kediaman milik Theo, Kepala pelayan menyambutnya hangat. Wajah-wajah pelayan yang familiar pun juga menyambut Theo. Mereka terlihat senang karena Theo telah kembali. Theo pun memperkenalkan Maerin. Setelah cukup lama saling memperkenalkan diri, Theo mengajak Maerin ke kamarnya. Theo berpikir Maerin pasti terkejut mendapati kamarnya yang luas. Namun kenyataannya Maerin tampak biasa saja dan seolah familiar dengan kehidupan istana. Theo ingin menanyakannya pada Maerin, namun Maerin terlebih dulu berbicara, "Jadi kita bisa melanjutkan obrolan kita sebelumnya."

"Ah kau benar, Wanita yang sebelumnya mengajakku bicara hanya berdua bernama Sylvaine. Hingga saat ini, ia adalah putri Mahkota dan tunangan mendiang kakakku. Pembicaraan kami kurang lebih sama seperti yang dikatakan Ayah." Theo menjelaskan.

"Jadi putri Mahkota memintamu untuk menikahinya?" Tanya Maerin.

"Benar. Tapi aku menolaknya." Jawab Theo.

"Seperti yang dikatakan tuan Silas sebelumnya, dan bahkan yang mulia Raja. Mereka benar, seharusnya anda menikahi Putri Mahkota Sylvaine." Maerin mengatakan ini dengan berat hati.

"Aku tidak bisa melakukannya. Aku tak ingin menyakitimu. Kaulah satu-satunya yang paling berharga dalam hidupku." Tegas Theo.

"Tapi aku tak bisa membantumu sama sekali di sini. Aku hanyalah beban serta kelemahanmu. Aku.." Maerin tak bisa menahan tangisannya lagi.

"Cukup. Kau segalanya bagiku." Ucap Theo dengan lantang.

Tiba-tiba sekilas ada bayangan yang melewati jendela kamar Theo. Theopun segera mendekati jendela untuk mencari tahu. Saat ia membuka jendela, tiba-tiba sebuah anak panah melesat melewati dan menggores pelipis Theo. Maerin pun berteriak. Kepala pelayan serta beberapa pelayan berdatangan dan terkejut. Theo pun menenangkan mereka, "Aku baik-baik saja, hanya sedikit tergores." Sambil memegang pelipisnya yang sedikit mengeluarkan darah. Maerin pun segera mendekatinya untuk memastikan. Kepala pelayan memerintahkan pelayan untuk memanggil dokter istana. Saat Theo melihat ke anak panah tadi, sepertinya terdapat sesuatu. "Kepala pelayan, sepertinya ada sesuatu di anak panah itu. Tolong ambilkan."

Kepala pelayan mengambil dan memberikan pada Theo. "Oh sepucuk surat."

"Apa isinya?" Tanya Maerin.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!