NovelToon NovelToon
Kronik Dewa Asura: Jalur Penentang Takdir

Kronik Dewa Asura: Jalur Penentang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

Langit ingin aku mati, tapi aku menolak untuk berlutut!"
Di Benua Awan Merah, kekuatan adalah satu-satunya hukum. Ye Chen, Tuan Muda Klan Ye yang jenius, kehilangan segalanya dalam satu malam. Keluarganya dibantai oleh Sekte Pedang Darah, Dantian-nya dihancurkan, dan harga dirinya diinjak-injak.
Tiga tahun lamanya, ia hidup lebih rendah dari anjing sebagai budak penambang Nomor 734 di Lembah Kabut Hitam. Tanpa masa depan, tanpa harapan.
Namun, takdir berubah ketika sebuah reruntuhan gua tambang mengungkap benda terlarang dari era purba: Mutiara Penelan Surga. Benda pusaka yang mampu melahap segala bentuk energi—batu roh, senjata pusaka, darah iblis, hingga esensi kehidupan musuh—dan mengubahnya menjadi kekuatan murni.Dengan Sutra Hati Asura di tangannya dan kebencian membara di hatinya, Ye Chen bangkit dari neraka. Dia bukan lagi budak. Dia adalah sang Penakluk.
Satu per satu, mereka yang menghinanya akan membayar dengan darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Tarian Iblis di Rawa Darah

Darah segar dari pembunuh pertama yang tewas masih hangat di wajah Ye Chen, namun ia tidak berkedip. Matanya terkunci pada pemimpin kelompok Bayangan Hitam yang kini berdiri lima langkah di depannya.

"Kau..." Pemimpin itu, seorang pria paruh baya dengan bekas luka goresan di dagu, menatap mayat anak buahnya dengan tak percaya. "Seorang Pemadatan Qi Tingkat 1 membunuh Tingkat 3 dalam satu jurus? Kau pasti menggunakan teknik terlarang yang membakar nyawamu!"

Ye Chen memancarkan, menampilkan gigi putihnya yang kontras dengan cipratan darah. "Pikirkan sesukamu saat kau bertemu raja neraka."

"Bunuh dia! Serang bersamaan!" teriakan pemimpin itu kepada satu anak buahnya yang tersisa di sisi Ye Chen.

Anak buah itu, seorang pria pendek yang memegang pisau belati ganda, ragu-ragu sejenak. Namun, rasa takut pada hukuman sekte mengalahkan rasa takutnya pada Ye Chen.

"Mati kau, Bocah Iblis!"

Pria pendek itu melesat, tubuhnya seolah menyatu dengan bayangan pohon raksasa.Teknik Langkah Bayangan Dia cukup lumayan untuk ukuran penjahat kelas dua. Pisau beracunnya mengincar ginjal Ye Chen dari belakang

Di saat yang sama, pemimpin kelompok itu menerjang dari depan. Pedang panjangnya bersinar ungu keruh—tanda Qi Racun.

"Teknik Pedang: Tusukan Ular Berbisa!"

Serangan pincer (jepit) dari depan dan belakang. Bagi penculik pemula, ini adalah situasi skakmat

Namun, Ye Chen bukan pemula. Di dalam pemahamannya,Sutra Hati Asura memproyeksikan lintasan serangan musuh sejelas siang hari.

"Lambat," desis Ye Chen

Alih-alih menghindar ke samping, Ye Chen melakukan hal gila. Ia menjatuhkan tubuhnya ke belakang, punggungnya hampir menyentuh lumpur rawa.

Wush!

Pedang pemimpin itu menusuk udara kosong di tempat dada Ye Chen seharusnya berada.

Dalam posisi kayang yang mustahil itu, Ye Chen menancapkan Dao beratnya ke tanah sebagai tumpuan, lalu menggunakan momentum itu untuk menendang ke atas dengan kedua kakinya.

BAM!

Tendangan itu, yang memperkuat tenaga fisik Asura setara dengan dua banteng, memegang dagu si pemimpin. Terdengar suara rahang retak yang mengerikan. Pemimpin itu dikepung ke udara, matanya memutih

Tapi Ye Chen belum selesai. Serangan dari belakang masih datang.

Pria pendek dengan pisau belati itu terkejut melihat targetnya menghilang ke bawah, tapi ia sudah terlalu dekat untuk berhenti. Ia mencoba mengarahkan tikamannya ke bawah.

Terlambat.

Ye Chen memutar tubuhnya di atas tanah becek seperti gasing,Dao-nya menyapu horizontal

Tebasan Api Neraka!

mata kaki

Srrrt!

"AAAAKH!"

Pria pendek itu berteriak histeris saat kedua kaki terputus di bagian tulang kering. Ia jatuh tersungkur ke dalam lumpur hitam, darah mengalir deras dari potongan kaki

Ye Chen melompat bangkit. Tanpa belas kasihan, ia menyentuh dada pria pendek itu, meremukkan tulang rusuknya untuk menghentikan teriakan, lalu menusukkan pedangnya ke jantung. Satu lagi terbunuh.

Hanya tersisa si pemimpin.

Pria paruh baya itu baru saja mendarat dengan punggung menghantam akar pohon. Rahangnya hancur, darah mengucur dari mulut. Ia mencoba bangkit dengan mata terbelalak ketakutan. Bocah ini... bocah ini bukan manusia! Dia seperti pertarungan binatang buas yang dilatih!

"Tunggu... aku bisa memberi... harta..." gumam pemimpin itu dengan suara tak jelas.Ye Chen berjalan mendekat. Langkah kakinya menyeret di lumpur, menciptakan suara sret, sret

yang meneror mental lawannya.

"Aku tidak butuh pemberianmu," kata Ye Chen dingin. "Aku bisa memilih sendiri setelah kau mati."

Dalam keputusasaan, pemimpin itu meledakkan seluruh sisa Qi-nya. Ia melemparkan tiga jarum hitam dari lengan bajunya. Jarum Pembeku Darah!

Jarak mereka hanya tiga meter. Mustahil menghindar.

Namun, Ye Chen tidak menghindar. Ia mengangkat tangan kirinya—tangan yang baru sembuh—dan melapisi telapaknya dengan Qi merah darah yang padat.

Tang! Tang! Tang!

Jarum-jarum itu menabrak telapak tangan Ye Chen tetapi tidak menembus kulitnya. Qi Asura yang bersifat korosif langsung melelehkan jarum besi itu sebelum bisa menyentuh daging.

"Apa?!" Harapan terakhir pemimpin itu sirna.

Slash!

Ye Chen mengayunkan Dao-nya. Kepala pemimpin kelompok Bayangan Hitam itu menggelinding jatuh ke dalam rawa, matanya masih terbuka lebar membawa penyesalan abadi.

Pertarungan di sisi Ye Chen berakhir dalam waktu kurang dari sepuluh napas.

Di sisi lain rawa, Nona Mu juga mencapai batasnya.

Melihat pemimpin mereka tewas dengan begitu brutal di tangan seorang pemuda Tingkat 1, mental dua pembunuh yang melawannya runtuh seketika.

"Lari! Dia iblis!" teriak salah satu dari mereka.

Mereka berbalik hendak kabur.

"Kalian pikir bisa pergi setelah melukaiku?" Mata Nona Mu berkilat dingin, semerah darah yang menodai jubah putihnya.

Dia memaksakan sisa Qi terakhir di Dantian-nya. Udara di sekitarnya membeku.

Teknik Teratai Es: Mekar Pembekuan Jiwa!

Dua bunga teratai es transparan terbentuk di udara dan melesat ke punggung kedua pembunuh itu.

Crass!

Teratai itu menembus punggung mereka, lalu meledak menjadi ribuan jarum es dari dalam tubuh. Kedua pembunuh itu jatuh kaku, tubuh mereka diselimuti lapisan embun beku, mati seketika.

Hutan kembali sunyi. Hanya suara napas berat dan rintik hujan yang tersisa.

Nona Mu berdiri terhuyung-huyung. Wajahnya seputih kertas. Racun Ular Tiga Langkah di bahunya telah menyebar ke leher, menciptakan garis-garis hitam yang mengerikan di kulit halusnya. Pedang di tangannya terlepas, jatuh berdenting ke tanah.

Pandangannya kabur. Hal terakhir yang ia lihat adalah sosok pemuda berlumuran darah dan lumpur yang berjalan ke arahnya sambil menyeret pedang besar.

"Apakah dia... akan membunuhku juga?" batin Nona Mu sebelum kesadarannya hilang. Tubuhnya limbung ke depan.

Namun, ia tidak jatuh ke lumpur. Sebuah tangan yang kasar tapi kokoh menangkap bahunya.

Ye Chen menatap wanita yang pingsan di lengannya itu dengan ekspresi datar.

"Merepotkan," keluhnya.

Ye Chen membaringkan Nona Mu di atas akar pohon yang lebih tinggi dan kering. Kemudian, ia melakukan hal yang paling penting baginya: menjarah mayat.

Ia bergerak cepat dari satu mayat ke mayat lain. Kelima pembunuh dari Sekte Bayangan Hitam ini cukup miskin dibanding Kapten Tie, tapi gabungan harta mereka lumayan.

"Total 300 Batu Roh, beberapa racun, dan senjata tingkat rendah," hitung Ye Chen. Ia memasukkan semuanya ke dalam Kantong Penyimpanan miliknya yang kini mulai penuh.

Setelah selesai "bersih-bersih", Ye Chen kembali ke sisi Nona Mu. Ia menatap wajah cantik itu. Meskipun pucat dan kotor, aura bangsawan dan keanggunannya tidak bisa disembunyikan.

Tatapan Ye Chen jatuh pada luka di bahu kiri wanita itu. Darah hitam berbau amis mengalir dari sana.

"Racun Ular Tiga Langkah," gumam Ye Chen. "Racun yang cukup ganas. Tanpa penawar, dia akan mati dalam satu jam."

Ye Chen mengangkat tangannya, Dao di genggamannya terangkat sedikit.

Jika dia membunuh wanita ini sekarang, dia bisa mendapatkan Kantong Penyimpanan milik murid inti sekte besar. Isinya pasti jauh lebih berharga daripada sampah-sampah Bayangan Hitam ini. Di hutan ini, tidak ada hukum. Tidak ada yang akan tahu.

Mutiara Penelan Surga di perutnya bergetar, seolah setuju dengan ide jahat itu. Telan dia! Telan bakatnya!

Ye Chen terdiam sesaat, matanya berkedip antara merah dan hitam.

Lalu, dia menurunkan pedangnya.

"Tidak," katanya pada dirinya sendiri. "Membunuh musuh adalah keharusan. Membunuh orang yang tidak bersalah demi harta adalah jalan iblis rendahan. Aku adalah Asura, dewa perang, bukan perampok murahan."

Dan lagi, menyelamatkan murid inti Sekte Teratai Es mungkin bisa memberinya keuntungan jangka panjang. Koneksi. Informasi. Atau setidaknya, hutang budi.

"Lagipula... racun ini..."

Ye Chen menyentuh luka di bahu Nona Mu.

"Racun adalah bentuk lain dari energi yang terkonsentrasi. Bagi orang lain, ini mematikan. Bagiku..."

Ye Chen mengaktifkan Mutiara Penelan Surga.

Wush!

Sebuah gaya hisap lembut muncul di ujung jarinya. Darah hitam dan racun yang menyebar di pembuluh darah Nona Mu mulai bergerak, ditarik keluar seperti benang hitam halus menuju jari Ye Chen.

Racun itu masuk ke tubuh Ye Chen.

Sakit! Rasanya seperti api cair mengalir di nadinya. Tapi hanya sesaat. Mutiara hitam di Dantian-nya langsung melahap racun itu, memecah struktur kimianya, dan mengubahnya menjadi tetesan Qi murni berwarna ungu.

"Qi beracun... menarik," mata Ye Chen berbinar. Energinya sedikit bertambah.

Setelah lima menit, garis-garis hitam di leher Nona Mu memudar. Warna kulitnya kembali normal, meski masih pucat karena kehilangan darah. Napasnya menjadi teratur.

Ye Chen menarik tangannya. Ia kemudian mengambil Pil Pengental Darah sisa miliknya, menghancurkannya, dan menaburkannya ke luka wanita itu.

"Selesai."

Ye Chen duduk bersandar di pohon di seberang wanita itu, memejamkan mata untuk memulihkan energinya sendiri sambil tetap waspada.

Satu jam kemudian.

Bulu mata lentik Nona Mu bergetar. Dia membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa sakit di bahunya telah berkurang drastis menjadi rasa perih biasa.

Dia langsung duduk tegak, tangannya meraba mencari pedangnya dengan panik.

"Sudah bangun?"

Suara datar itu membuatnya menoleh.

Di seberang sana, pemuda berambut panjang itu sedang duduk santai, mengunyah sepotong daging dendeng kering. Pedang besarnya tergeletak di sampingnya, masih berkerak darah kering.

Nona Mu memeriksa tubuhnya. Pakaiannya masih utuh (kecuali bagian bahu yang robek). Racunnya telah hilang.

"Kau... kau menyelamatkanku?" suaranya serak namun terdengar merdu.

Ye Chen menelan dendengnya. "Aku membunuh orang-orang yang berisik. Menyelamatkanmu hanya kebetulan."

Nona Mu terdiam. Dia adalah Mu Xue, jenius nomor satu Sekte Teratai Es. Ke mana pun dia pergi, pria akan berlutut dan memujanya. Tapi pemuda ini menatapnya seolah dia adalah karung beras.

"Aku Mu Xue, dari Sekte Teratai Es," katanya, mencoba bersikap sopan. "Terima kasih atas bantuanmu, Tuan Muda...?"

"Ye Chen."

"Tuan Muda Ye," Mu Xue mengangguk. "Kau tidak hanya mengalahkan mereka, tapi juga mengeluarkan racun dari tubuhku. Budi ini tidak akan kulupakan."

Ye Chen menatapnya tajam.

"Bagus kalau kau sadar. Aku tidak bekerja gratis."

Ye Chen mengulurkan tangannya yang terbuka ke arah Mu Xue.

"Bayar."

Mu Xue tertegun. "A-apa?"

"Aku menyelamatkan nyawamu. Aku mengobatimu. Dan aku membunuh musuhmu. Waktu dan tenagaku mahal," kata Ye Chen tanpa malu-malu. "Serahkan 500 Batu Roh sebagai biaya jasa. Atau berikan benda berharga yang setara."

Wajah Mu Xue memerah, campuran antara rasa malu dan jengkel. Dia baru saja selamat dari maut, dan hal pertama yang dipikirkan pria ini adalah uang?

"Aku... Kantong Penyimpanan-ku hilang saat dikejar gerombolan itu sebelum sampai di sini," kata Mu Xue jujur, menggigit bibirnya. "Tapi aku punya ini."

Dia merogoh balik jubahnya dan mengeluarkan sebuah kotak giok kecil yang memancarkan hawa dingin luar biasa.

"Ini adalah Teratai Jantung Es berusia lima puluh tahun. Harganya di pelelangan bisa mencapai 2000 Batu Roh. Ini jauh lebih berharga dari yang kau minta."

Mata Ye Chen menyipit. Dia bisa merasakan energi murni dari kotak itu. Benda ini sangat berguna untuk menstabilkan pondasi kultivasinya atau dijual dengan harga fantastis.

Mu Xue menyodorkan kotak itu dengan ragu. "Tapi... aku butuh separuh kelopaknya untuk mengobati guruku yang sakit. Bisakah... bisakah kita membaginya?"

Ye Chen menatap mata Mu Xue. Ada kejujuran dan keputusasaan di sana.

Ye Chen berdiri, mengambil kotak itu dari tangan Mu Xue. Dia membukanya. Bunga teratai biru kristal itu bersinar indah.

Krak.

Tanpa basa-basi, Ye Chen mematahkan teratai itu menjadi dua bagian yang presisi.

Dia menyimpan separuh bagian (yang ada inti sarinya) ke dalam kantongnya sendiri, dan melemparkan separuh sisanya (kelopak luar) kembali ke pangkuan Mu Xue.

"Sepakat," kata Ye Chen.

Mu Xue menangkap potongan bunga itu dengan bengong. Pria ini... benar-benar pragmatis. Dia mengambil bagian terbaik (inti sari) dan menyisakan kelopak. Tapi kelopak itu memang cukup untuk obat gurunya.

"Sekarang, kita impas," kata Ye Chen sambil memanggul pedangnya di bahu. "Saran dariku, Nona Mu. Jangan berkeliaran di hutan ini sendirian dengan wajah cantikmu itu. Tidak semua orang sebaik aku."

"Sebaik kau?" Mu Xue hampir tersedak. Pria yang baru saja memerasnya dan membunuh orang tanpa berkedip ini menyebut dirinya baik?

"Tunggu!" panggil Mu Xue saat Ye Chen berbalik hendak pergi.

"Apa lagi?"

"Tujuanmu... kau mau ke mana?" tanya Mu Xue.

"Kota Angin."

Mata Mu Xue berbinar. "Kebetulan sekali. Aku juga harus kembali ke arah sana. Dan... dengan kondisiku sekarang, aku tidak bisa keluar dari Hutan Kematian sendirian. Jika kau bersedia mengawalku sampai ke perbatasan kota, aku akan memberimu hadiah tambahan dari Sekte Teratai Es."

Ye Chen berhenti melangkah. Dia menoleh, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang penuh perhitungan.

"Hadiah tambahan, ya? Seberapa kaya sektemu itu?"

Mu Xue tersenyum untuk pertama kalinya, senyuman yang bisa mencairkan gletser. "Cukup kaya untuk membuatmu puas, Tuan Muda Ye."

"Baiklah," Ye Chen mengangguk. "Jadilah tameng—maksudku, klienku. Tapi jika ada bahaya yang tidak bisa kutangani, aku akan lari duluan."

"Dasar bajingan jujur," batin Mu Xue, tapi hatinya merasa lega. Dengan monster muda ini di sampingnya, jalan pulang terasa jauh lebih aman.

Dua sosok—satu berpakaian compang-camping seperti pengemis, satu berpakaian putih seperti dewi yang jatuh ke lumpur—berjalan beriringan menembus kabut Hutan Kematian.

(Akhir Bab 8)

1
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos mantab Thor lanjut terus semangat semangat semangat
Aman Wijaya
mantab ye Chen semangat membara
Aman Wijaya
jooooz pooolll Ye Chen semangat bersama tim
Aman Wijaya
mantab ye Chen bantai tie Shan dan kroni kroninya.bikin kabut darah
Ip 14 PRO MAX
ok bntai,suka mcx kejam sadis
sembarang channel
ok siap
BoimZ ButoN
lanjutkan thhooor semangat 💪🙏
Aman Wijaya
jooooz pooolll Thor
sembarang channel
ok siap,mkasih masukannya🙏🙏🙏🙏
selenophile
bahasa tolong di perbaiki min..
Aman Wijaya
lanjut
Aman Wijaya
makin seru Thor 💪💪💪 terus
Aman Wijaya
bagus ye Chen semangat semangat
Aman Wijaya
jooooz jooooz pooolll lanjut
Aman Wijaya
joooooss joooooss pooolll lanjut
Aman Wijaya
makin seru ceritanya Thor lanjut terus semangat semangat semangat
sembarang channel: mksh untuk semuanya yang suka dengan ceritanya,jangan lupa kasih bintang 5 y🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Aman Wijaya
mantab ye Chen lanjut terus
Aman Wijaya
top top markotop lanjut Thor
Aman Wijaya
mantab ye Chen babat semua anggota sekte pedang darah
Aman Wijaya
mantab ye Chen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!