{Area khusus dewasa}
"Saya mohon tolong lepaskan saya, saya mohon." Permintaan wanita itu dengan suara lirih memohon pada pria itu.
"Tidak bisa,hanya kamu yang bisa melakukannya, sampai kapanpun kamu tak akan bisa pergi."ucap pria itu dengan nada serius.
"Tapi kenapa harus saya, masih banyak wanita lain yang mau dengan Anda."
Wanita itu semakin ketakutan, setelah Apa yang dilakukan oleh pria itu.Berharap mampu bisa menghindarinya, tapi tetap saja tak bisa dia hindari ketika ambisi dari pria itu begitu besar terhadap dirinya.
Apakah nantinya dirinya akan menerima kehadiran pria itu atau dirinya lebih memilih untuk pergi dari kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArsyaNendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebutan Sayang ~
Malia bergegas memakai jaket dan langsung pergi ke minimarket hanya untuk membeli makanan yang bisa dia makan.
Saat akan keluar dari kost, yang tidak dia sadari ada seseorang pria yang duduk dipinggir jalan mengikuti langkah kaki Malia berjalan dari belakang.
Malia sudah sampai di minimarket, mulailah dia mencari beberapa makanan dan minuman yang dia butuhkan ."Sepertinya sudah cukup."Batin Malia yang langsung pergi ke meja kasir.
"Maaf kak, untuk semua belanjaan kakak sudah lunas semuanya." Ucap pelayan kasir itu.
"Sudah lunas bagaimana?" Tanya Malia yang terlihat bingung.
"Semua barang belanjaan kakak sudah dibayar oleh seseorang." Jawab pelayan kasir itu.
"Seseorang siapa,saya kesini sendirian." Malia masih mengelak dan bingung apa yang sebenarnya yang terjadi.
"Tapi tadi ada seseorang yang sengaja sudah membayar semua belanjaan kakak."Malia makin kebingungan dengan apa yang terjadi.
"Seseorang siapa lagi."Batin Malia yang makin bertambah bingung dengan apa yang terjadi.
Malia akhirnya keluar dari Minimarket dengan ekspresi bingung.
"Siapa orang yang sengaja melakukan itu semuanya,apa mungkin ini kaitannya dengan kejadian tadi sore yang dimana ada barang aneh didepan kamarku."Batin Malia diliputi rasa penasaran dengan siapa orang yang sengaja berbuat hal itu.
Malia tak ingin pusing dengan masalahnya,dan langsung saja dirinya bergegas kembali ke kost mengingat waktu sudah malam.
Pagi hari
Seperti biasa Malia di sibukkan dengan pekerjaan di pagi ,apalagi lagi hari ini dia harus masuk kampus pagi.Setelah semuanya sudah siap,Malia segera berangkat dengan sepeda motor bututnya yang merupakan hadiah dari ibu angkat saat dia ulangtahun.
Posisi Malia sudah masuk area kampus yang langsung disambut oleh temannya yang tak lain Nita.
"Kamu sudah bawa buku yang aku minta?"Tanya Nita pada Malia.
"Sudah,bukunya sudah ada di tasku."Jawab Malia, tidak sengaja dari arah samping terlihat sosok pria yang berlari kearah mereka berdua.
"Robi."Batin Malia yang langsung saja lari menghindari Robi.
Nita pun kaget setelah tangannya ditarik oleh Malia yang mau tidak mau dirinya ikut lari.
"Kenapa kamu tarik tanganku?"tanya Nita yang ikut lari sampai mereka masuk kedalam kelas mereka.
"Ada dia lagi,aku tak mau urusan dengan dia lagi."Ucap Malia yang merasa risih dengan kehadiran Robi.
"Maksudmu siapa?"tanya lagi Nita yang sedikit emosi yang tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh Malia.
"Siapa lagi jika bukan Robi."Jawab Malia yang langsung direspon Nita menepuk dahinya sendiri.
"Ya ampun Mil,jadi itu yang membuat kamu ketakutan."Ucap Nita yang langsung dibalas dengan anggukkan kepala dari Malia.
"Memang kamu benar-benar tidak mau menerimanya?" Tanya lagi Nita yang mencoba memastikan.
"Tidak akan, jawabanku akan tetap sama." Jawab Malia yang sudah memutuskan dirinya tak akan lagi menerima Robi.
Mereka pun langsung duduk di tempat duduk mereka.Hari ini adalah jadwal pelajaran dari pak dosen yang tentunya dosen Pak Dio.
Selama dikelas Malia merasa diawasi bahkan sesekali Pak Dio memperhatikan Malia dari kejauhan.
Malia sebenarnya merasa hal itu,yang dimana dirinya terus dipandang oleh dosennya sendiri."Malia." Mendengar namanya yang disebut spontan Malia Ia berdiri dari tempat duduknya.
"Nanti kamu keruang kerja saya mengambil beberapa lembaran yang nantinya kamu bagikan pada temanmu." Perintah Pak Dio yang langsung membuat Malia lemas.
"Apa lagi ini."Gumam Malia yang merasa sial kenapa harus dirinya yang selalu disuruh oleh dosennya.
Setelah Pak Dio sudah keluar dari kelas mereka,Malia bergegas keluar menuju ruang kerja Pak dosennya.
"Tok... tok..."
"Masuk."Malia masuk dan berhadapan dengan Pak dosennya.
"Ini tugas yang harus kamu lakukan." Dio memberikan semuanya pada Malia.
"Iya Pak."jawab Malia yang secara langsung tangan Malia ditarik oleh Dio.
"Jangan pergi."Dio langsung berdiri dari tempat duduknya,hingga posisi Dio sudah ada didekat Malia.
"Kamu belum makan siang ,kan?" Tanya Dio pada Malia.
"Belum Pak,ini saya mau ke kantin." Tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh Dio untuk duduk di sofa dekat meja kerjanya.
"Jangan makan di kantin, lebih baik kamu makan disini bersama denganku." Dio menggenggam tangan Malia.
"Tolong lepaskan tangan saya Pak." Malia mulai merasa risih sedari tadi tangannya terus digenggam olehnya.
"Memang kenapa,apa salah aku menggenggam tangan calon istri sendiri." Perkataan itu langsung membuat Malia terkejut.
"Calon istri?"
"Iya,memang salah aku memanggilmu sebagai sebutan calon istri." Pernyataan itu semakin membuat Malia frustasi dengan anggapan dosennya itu.
"Saya ingatkan sekali lagi, jangan terlalu dekat dengan pria lain.Saya tak ingin jika ada orang lain menyentuhmu." Dio secara langsung memperingati Malia untuk menjaga jarak dengan pria lain.
"Kenapa Bapak mengatur hidup saya?" Tanya Malia yang begitu kesal dengan mudahnya dia mengatur hidupnya.
"Jangan panggil Bapak, panggil aku dengan nama sayang."
"Sayang ?" Tanya Malia yang sudah jengkel dengan sifat dosennya itu.
Dio berjalan mendekati Malia, dengan langkah cepat Dio menarik tangan Malia hingga posisi keduanya saling berpelukan.
"Secepatnya aku akan menikahimu,tidak ada alasan lain. Aku dan keluarga akan segera menemui keluargamu."Malia spontan mendorong dosennya,tapi sayangnya kekuatannya tak sebesar dengan kekuatan pria itu.
"Apa Bapak bilang!" Teriak Malia yang spontan kaget dengan rencana Dosennya itu.
"Mau menolak, jangan harap kamu bisa menolak.Apalagi kita sudah melakukan hal itu, yang pastinya aku akan bertanggung jawab dengan apa yang aku lakukan." Malia makin frustasi dengan ancaman itu dan lebih gila lagi dirinya akan dijadikan istri dari Dosennya sendiri.
"Saya mohon tolong lepaskan saya, saya mohon." Permintaan wanita itu dengan suara lirih memohon pada dosennya.
"Tidak bisa,hanya kamu yang bisa melakukannya, sampai kapanpun kamu tak akan bisa pergi."ucap Dio dengan nada serius.
"Tapi kenapa harus saya, masih banyak wanita lain yang mau dengan Bapak."
Wanita itu semakin ketakutan, setelah Apa yang dilakukan oleh pria itu.Berharap mampu bisa menghindarinya, tapi tetap saja tak bisa dia hindari ketika ambisi dari pria itu begitu besar terhadap dirinya.
"Aku hanya menginginkanmu, bukan orang lain." Dio mantap dengan pilihannya bahkan dia tak akan main-main dengan keputusannya.
"T-tapi..."
"Aku tak ingin ada penolakan, secepatnya aku akan bilang pada kedua orangtuaku untuk segera melamarmu."Malia hanya terdiam sembari memegang pelipis seperti sedang merasakan sakit pusing karena ulah dosennya itu.
Sore hari
Terlihat Malia berjalan lemas seperti ada sesuatu yang membuat tubuhnya tak berdaya untuk melangkah.
"Ya tuhan,kenapa nasibku seperti ini." Batin Malia yang syok dengan apa yang akan dilakukan Pak dosennya dengan dirinya.