NovelToon NovelToon
Terjerat Sumpah Tuan Muda

Terjerat Sumpah Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Murni
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hazard111

Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.

Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.

Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.

Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.

"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Iblis di Ujung Altar

​Hari pernikahan itu tiba bukan dengan sorak sorai kebahagiaan, melainkan dengan kebisuan yang mematikan.

​Nala duduk di depan cermin rias kamarnya. Wajahnya yang biasanya polos kini tertutup lapisan dempul tebal. Seorang perias panggilan, yang dibayar mahal untuk menutup mulut, sedang memulas bibir Nala dengan lipstik berwarna merah darah.

​Nala menatap pantulan dirinya sendiri, namun ia tidak mengenali sosok di cermin itu. Gadis itu cantik, sangat cantik, tapi matanya kosong seperti boneka porselen yang retak. Rambut hitamnya disanggul tinggi dengan hiasan tiara kecil, menyisakan beberapa helai rambut ikal yang jatuh membingkai leher jenjangnya.

​"Sempurna," gumam Nyonya Siska yang berdiri di belakangnya, mengawasi seperti sipir penjara. "Dengan makeup setebal ini dan rambut ditata begini, kau terlihat persis seperti Bella. Asal kau tidak banyak bicara, tidak ada yang akan curiga."

​Nala tidak menjawab. Lehernya terasa kaku. Gaun pengantin yang semalam ia jahit dengan susah payah kini membalut tubuhnya dengan pas. Jahitannya rapi, tidak terlihat bekas perbaikan sama sekali. Namun, korset di balik gaun itu terasa mencekik, seolah meremas tulang rusuknya perlahan-lahan, mengingatkan Nala bahwa kebebasannya sudah habis.

​"Ingat, Nala," bisik Siska tepat di telinganya, nadanya dingin menusuk. "Saat kau keluar dari pintu ini, kau bukan lagi Nala si anak haram. Kau adalah Nyonya Muda Adhitama. Jaga sikapmu. Jika kau membuat kesalahan sekecil apa pun yang membuat keluarga Adhitama membatalkan pelunasan hutang, aku pastikan kau tidak akan punya tempat untuk pulang. Bahkan neraka pun akan menolakmu."

​Ancaman itu sudah tidak lagi membuat Nala takut. Hatinya sudah kebas. Ia bangkit berdiri, mengangkat dagunya sedikit, sebuah kebiasaan baru yang ia pelajari dari Bella. Jika ia harus berperan sebagai putri bangsawan, maka ia akan memainkannya dengan sempurna.

​"Ayo berangkat," kata Nala datar.

​Perjalanan menuju kediaman Adhitama terasa seperti iring-iringan menuju pemakaman.

​Nala duduk di kursi belakang mobil sedan hitam mewah milik ayahnya. Tuan Bramantyo duduk di sampingnya, membisu seribu bahasa. Pria itu terus-menerus menyeka keringat di dahinya dengan sapu tangan, meski pendingin udara mobil sudah menyala maksimal.

​Hujan rintik-rintik masih setia menemani, membasahi jalanan aspal Jakarta yang licin. Roda mobil berputar, membawa Nala semakin jauh dari satu-satunya kehidupan yang ia kenal.

​Satu jam kemudian, mobil berbelok memasuki sebuah kawasan hutan lindung di pinggiran kota. Di sanalah letak Adhitama Estate.

​Nala menempelkan wajahnya ke kaca jendela yang dingin. Jantungnya berdesir hebat saat melihat gerbang besi raksasa setinggi lima meter menjulang di hadapannya. Gerbang itu berwarna hitam pekat, dihiasi ukiran gargoyle dan tanaman rambat berduri yang terbuat dari besi tempa.

​Gerbang terbuka perlahan dengan suara decit logam yang menyayat telinga.

​Mobil melaju masuk, menyusuri jalanan berbatu yang diapit oleh pohon-pohon pinus tua yang menjulang tinggi. Cabang-cabang pohon itu saling bertautan di atas, menghalangi cahaya matahari, menciptakan lorong gelap yang seolah tak berujung.

​"Ayah..." panggil Nala pelan, suaranya sedikit bergetar. "Apa benar dia tinggal di sini sendirian?"

​Bramantyo tersentak dari lamunannya. Ia menoleh, menatap Nala dengan pandangan bersalah yang cepat-cepat ia sembunyikan. "Dia tinggal dengan para pelayannya. Nala, dengar... apa pun yang kau lihat di sana nanti, jangan menjerit. Jangan tunjukkan rasa jijik. Raga... dia sensitif soal penampilannya."

​Nala menelan ludah. "Seburuk itukah?"

​Bramantyo tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah ke jendela.

​Di ujung jalan, sebuah bangunan megah mulai terlihat. Itu bukan sekadar rumah, itu adalah sebuah kastil modern bergaya Gothic Revival. Dindingnya terbuat dari batu alam berwarna abu-abu gelap, dengan menara-menara runcing dan jendela-jendela tinggi yang sempit. Tidak ada bunga-bunga cerah di tamannya, hanya semak-semak hijau gelap dan patung-patung batu yang tampak muram.

​Suasananya begitu sunyi. Begitu mati. Seolah waktu berhenti berputar di tempat ini sejak bertahun-tahun yang lalu.

​Mobil berhenti tepat di depan sebuah kapel kecil yang terletak di samping bangunan utama. Kapel itu tua, terbuat dari bata merah yang sudah berlumut, namun memiliki aura sakral yang mengintimidasi.

​Tidak ada tamu undangan. Tidak ada karangan bunga ucapan selamat. Tidak ada fotografer.

​Hanya ada beberapa pria berjas hitam dengan earpiece di telinga mereka, berdiri tegak seperti patung penjaga di depan pintu kapel.

​Pintu mobil dibuka oleh salah satu penjaga itu. Nala turun, gaun putihnya menyapu tanah yang basah. Udara di sini jauh lebih dingin daripada di kota, menusuk menembus kain satin tipis gaunnya.

​"Lewat sini, Nona," ucap penjaga itu tanpa ekspresi.

​Bramantyo turun dengan kaki gemetar. Ia mengulurkan tangannya, dan Nala menyambutnya. Tangan ayahnya dingin dan basah oleh keringat. Untuk sesaat, Nala ingin menggenggam tangan itu erat, memohon untuk dibawa pulang. Tapi ia tahu itu percuma.

​Mereka berjalan masuk ke dalam kapel.

​Interior kapel itu remang-remang, hanya diterangi oleh puluhan lilin yang menyala di sepanjang lorong dan cahaya suram yang menembus kaca patri berwarna-warni. Aroma lilin terbakar dan kayu tua menyeruak masuk ke hidung Nala, aroma yang menenangkan sekaligus menyesakkan.

​Di ujung altar, di bawah salib kayu besar yang menggantung, seorang pendeta tua berdiri dengan wajah tegang. Ia memegang alkitab dengan tangan gemetar, seolah ia sedang memimpin ritual pengusiran setan, bukan pernikahan.

​Dan di sana... di depan altar itu... ada dia.

​Mempelai pria.

​Dia duduk di sebuah kursi roda canggih berwarna hitam matte. Nala hanya bisa melihat punggungnya. Punggung yang lebar dan tegap, terbalut jas hitam tuxedo yang dipotong sempurna mengikuti bentuk tubuhnya. Bahunya bidang, menunjukkan kekuatan fisik yang tersembunyi.

​Rambutnya hitam pekat, dipotong rapi namun sedikit panjang di bagian belakang, menyentuh kerah kemejanya.

​Nala melangkah maju. Suara hak sepatunya menggema di lantai batu, tap... tap... tap..., seperti hitungan mundur menuju kiamat.

​Musik organ pipa mulai mengalun pelan, namun nadanya rendah dan melankolis, jauh dari kesan romantis.

​Semakin dekat Nala melangkah, semakin kencang jantungnya memacu. Ia bisa melihat tangan pria itu bertumpu di sandaran kursi roda. Tangan kanannya terbungkus sarung tangan kulit hitam. Tangan kirinya telanjang, memperlihatkan jari-jari panjang yang pucat, mengetuk-ngetuk sandaran kursi dengan ritme yang tidak sabar.

​Bramantyo berhenti dua langkah sebelum mencapai altar. Ia melepaskan tangan Nala seolah melepaskan bara api.

​"Tuan Muda," sapa Bramantyo dengan suara tercekat. "Pengantinnya... sudah siap."

​Hening.

​Pria di kursi roda itu tidak menoleh. Ia tidak bergerak. Ia hanya diam, memancarkan aura dominasi yang membuat udara di sekitar mereka terasa berat, seolah oksigen tiba-tiba menipis.

​"Mulai saja," perintah suara itu.

​Nala tersentak. Suara itu begitu rendah, berat, dan serak seperti suara gesekan batu di dasar jurang. Ada nada otoritas mutlak di sana yang tidak bisa dibantah.

​Pendeta berdeham, mencoba menetralkan suaranya. "B-baiklah. Kita mulai pemberkatan ini."

​Nala melangkah maju, berdiri di samping kursi roda itu. Ia memberanikan diri melirik ke bawah, ke arah calon suaminya.

​Dan napasnya tertahan.

​Dari sudut ini, Nala bisa melihat profil samping wajahnya. Separuh wajah kanan pria itu... sangat tampan. Hidung mancung yang sempurna, rahang tegas yang maskulin, dan kulit pucat yang bersih.

​Namun, separuh wajah kirinya tertutup oleh topeng perak yang menutupi mulai dari dahi, mata kiri, hingga pipi. Topeng itu diukir dengan motif abstrak yang rumit, berkilau dingin tertimpa cahaya lilin.

​Apa yang ada di balik topeng itu?

​Tiba-tiba, seolah merasakan tatapan Nala, pria itu mendongak sedikit. Mata kanannya yang tidak tertutup topeng menatap lurus ke depan, ke arah salib, tapi Nala bisa merasakan pria itu sedang mengamatinya melalui sudut mata.

​"Apakah kau akan terus melamun, atau kita bisa selesaikan lelucon ini?" desis pria itu dingin.

​Nala tersadar, wajahnya memanas. Ia buru-buru menghadap ke depan.

​Upacara itu berlangsung cepat dan tanpa perasaan. Pendeta membacakan ayat-ayat suci dengan terburu-buru, seolah ingin segera pergi dari tempat itu.

​"Raga Adhitama," ucap pendeta, "apakah engkau bersedia menerima wanita ini sebagai istrimu yang sah, dalam suka maupun duka, dalam sakit maupun sehat, hingga maut memisahkan?"

​Ada jeda yang panjang. Sangat panjang hingga Nala mengira pria itu akan berubah pikiran.

​"Saya bersedia," jawab Raga datar, tanpa emosi sedikit pun.

​"Dan engkau... Bella Aristha," lanjut pendeta, menatap Nala.

​Nala merasakan lidahnya kelu. Ia harus berbohong di depan Tuhan. Ia harus mencuri nama kakaknya di altar suci ini.

​"Sa... saya bersedia," bisik Nala.

​"Cincin," pinta pendeta.

​Seorang pria berjas hitam maju, membawa nampan beludru berisi dua cincin platinum polos. Tanpa berlian. Tanpa ukiran. Hanya lingkaran logam dingin.

​Raga mengambil cincin yang lebih kecil. Ia tidak meminta tangan Nala. Nala-lah yang harus mengulurkan tangannya sendiri dengan gemetar ke hadapan pria itu.

​Tangan Raga yang terbungkus sarung tangan kulit menyentuh ujung jari Nala. Dingin. Kulit sarung tangan itu terasa asing di kulit Nala. Dengan gerakan cepat dan efisien, Raga menyematkan cincin itu di jari manis Nala. Cincin itu pas, melingkar dingin seperti borgol.

​Nala mengambil cincin yang lebih besar. Tangannya gemetar hebat saat mencoba memasangkannya ke jari manis Raga. Jari pria itu panjang dan kokoh. Kulitnya terasa hangat, kontras dengan sikapnya yang dingin.

​Selesai.

​"Dengan ini, saya nyatakan kalian sebagai suami istri," pendeta menutup kitabnya dengan lega. "Mempelai pria... Anda boleh mencium mempelai wanita."

​Suasana membeku.

​Nala mematung. Jantungnya berdegup kencang. Apakah Raga akan menciumnya? Di sini? Di depan ayahnya?

​Raga mendengus pelan, suara tawa yang sinis.

​"Tidak perlu," ucapnya tajam.

​Pria itu menekan tombol di sandaran tangan kursi rodanya. Mesin elektrik berdengung halus. Kursi roda itu berputar, membelakangi altar, membelakangi Nala.

​"Bawa dia ke kamar utama. Jangan biarkan dia keluar sampai aku datang," perintah Raga kepada para penjaga.

​Tanpa menoleh lagi pada istri yang baru lima menit dinikahinya, Raga meluncur pergi menyusuri lorong kapel, rodanya berputar di atas lantai batu, meninggalkan gema suara yang kesepian.

​Nala berdiri terpaku di altar, sendirian.

​Tuan Bramantyo bahkan tidak berpamitan. Begitu Raga pergi, ayahnya bergegas menyalami pendeta, lalu berjalan cepat keluar kapel tanpa menoleh sedikit pun pada Nala. Tugasnya sudah selesai. Barangnya sudah diserahkan. Uangnya sudah aman.

​Air mata yang sejak tadi ditahan Nala mendesak keluar, tapi ia menahannya sekuat tenaga. Jangan menangis, batinnya. Jangan menangis di depan mereka.

​"Nyonya Muda," seorang pria tua berseragam pelayan formal muncul di sampingnya. Wajahnya ramah namun kaku, tipikal pelayan bangsawan Inggris. "Saya Pak Hadi, kepala pelayan di sini. Mari saya antar ke kamar Anda."

​Nala mengangguk kaku. Ia mengangkat gaunnya yang berat, lalu mengikuti langkah Pak Hadi keluar dari kapel yang menyesakkan itu, menuju bangunan kastil utama yang menjulang di tengah hujan.

​Kastil itu ternyata lebih besar dari yang terlihat dari luar. Lorong-lorongnya panjang dan lebar, lantainya terbuat dari marmer hitam yang mengilap seperti cermin. Lukisan-lukisan potret leluhur keluarga Adhitama tergantung di dinding, menatap Nala dengan pandangan menghakimi.

​Lampu-lampu dinding berbentuk obor memberikan penerangan yang temaram. Sunyi sekali. Tidak ada suara televisi, tidak ada suara musik, tidak ada tanda-tanda kehidupan modern. Rumah ini seperti mausoleum indah, megah, tapi dibangun untuk orang mati.

​"Tuan Muda tidak suka kebisingan," jelas Pak Hadi seolah bisa membaca pikiran Nala. "Jadi dimohon Nyonya tidak membuat suara gaduh. Tuan Muda juga memiliki area pribadi di sayap barat. Nyonya dilarang keras ke sana tanpa izin."

​"Baik, Pak Hadi," jawab Nala pelan.

​Mereka berhenti di depan sebuah pintu ganda yang terbuat dari kayu mahoni hitam, diukir dengan detail naga yang rumit.

​"Ini kamar utama," kata Pak Hadi sambil membuka pintu itu. "Barang-barang Nyonya sudah kami letakkan di dalam. Makan malam akan diantar satu jam lagi."

​Nala melangkah masuk.

​Kamar itu sangat luas, mungkin tiga kali lipat ukuran ruang tamu rumah ayahnya. Lantainya tertutup karpet tebal berwarna abu-abu. Sebuah tempat tidur king size dengan tiang empat dan kelambu hitam berdiri megah di tengah ruangan. Ada perapian yang menyala di sudut, memberikan sedikit kehangatan di ruangan yang bernuansa maskulin dan dingin itu.

​Satu sisi dindingnya adalah jendela kaca besar yang menghadap langsung ke hutan pinus yang gelap.

​"Istirahatlah, Nyonya," ucap Pak Hadi, lalu menutup pintu dari luar.

​KLIK.

​Suara kunci diputar terdengar jelas.

​Nala terlonjak. Ia berlari ke arah pintu, mencoba memutar gagangnya. Terkunci.

​Ia dikurung.

​Nala mundur perlahan, punggungnya menabrak dinding dingin. Napasnya mulai memburu. Rasa panik yang sejak pagi ia tekan kini mulai merayap naik ke permukaan.

​Dia sendirian di kamar asing, di rumah asing, terkunci bersama ketakutan akan sosok suami yang misterius.

​Nala berjalan menuju cermin besar di sudut ruangan. Ia menatap dirinya sendiri. Gaun pengantin yang indah ini kini terasa seperti kostum badut yang mengejek nasibnya.

​Dengan gerakan kasar, Nala mencabut tiara di rambutnya, membiarkan rambut hitamnya tergerai jatuh. Ia mengambil tisu di meja rias, lalu menggosok bibirnya kuat-kuat, menghapus lipstik merah darah itu hingga bibirnya perih.

​Ia ingin menghapus jejak Bella. Ia ingin menjadi Nala lagi.

​Tiba-tiba, matanya menangkap sesuatu di atas meja kecil di samping tempat tidur.

​Sebuah amplop hitam dengan stempel lilin merah berlogo keluarga Adhitama.

​Dengan tangan gemetar, Nala membuka amplop itu. Di dalamnya hanya ada secarik kertas tebal dengan tulisan tangan yang rapi namun tajam, ditulis dengan tinta hitam pekat.

​KONTRAK PERNIKAHAN:

Jangan bertanya.

Jangan menyentuh.

Jangan jatuh cinta.

Pelanggaran terhadap poin di atas akan dibayar dengan nyawa.

​Nala meremas kertas itu. Pesan itu bukan sambutan selamat datang. Itu adalah peringatan perang.

​Suara guntur menggelegar di luar, membuat lampu kamar berkedip sekali.

​Dari balik pintu kamar mandi di dalam ruangan itu, terdengar suara air keran dinyalakan.

​Jantung Nala berhenti berdetak.

​Dia tidak sendirian di kamar ini.

​Pintu kamar mandi terbuka perlahan. Uap panas mengepul keluar. Dan dari balik uap itu, suara roda kursi berputar di atas karpet terdengar mendekat.

​Sosok itu muncul dari balik kabut. Raga Adhitama, kini tanpa jas tuxedo-nya, hanya mengenakan kemeja putih yang dua kancing atasnya terbuka, memperlihatkan kulit dadanya yang bidang. Topeng peraknya masih terpasang, berkilau mengerikan dalam keremangan kamar.

​Raga menatap Nala yang mematung di dekat tempat tidur. Tatapan matanya gelap, dalam, dan lapar.

​"Kau pikir kau bisa menghapus riasan itu dan bersembunyi dariku?" suara Raga rendah, bergema di ruangan yang sunyi.

​Kursi rodanya bergerak maju perlahan, memojokkan Nala.

​"Mari kita lihat," bisik Raga, "apakah pengantin bayaran ini berharga senilai uang yang kuberikan."

1
ren_iren
bagus ceritanya 🤗
Almahara Ara
keren bgt cerita nya... ga bertele tele... best thor
Risma Hye Chan
kalimatnya sngat indah perpaduan mkna kiasan dan sesungguhnya ak suka baca novel yg sprti ini kalimat ny tidak membosankan mksih kak
Bunga
lanjut Thor
ceritanya bagu😍
Hazard: bagus mbak bunga🤭
total 1 replies
Ayu Rahayu
lajuttt kak .Hem suka bgettt crityaa😢
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjut thor
𝐈𝐬𝐭𝐲
Luar biasa
Bunga
semangat Thor
Bunga
salam kenal thor😍
Hazard: salam kenal🙏
total 1 replies
moon
karyanya menarik, suka dengan cerita yang taak bertele-tele
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!