Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjodohan dan Prosedur Pembatalan
Sesampainya di rumah, Aruna tidak menemukan naga yang menyerang atau Bapak yang sakit. Sebaliknya, rumahnya sudah rapi seperti mau ada hajatan sunatan massal. Ibunya memakai daster terbaik, daster yang hanya keluar saat lebaran atau saat menagih utang ke tetangga dan Bapaknya sudah rapi mengenakan kemeja batik soga lengkap dengan minyak rambut yang baunya tercium sampai radius tiga kilometer.
"Lho, Bu? Siapa yang sakit?" tanya Aruna bingung sambil meletakkan tasnya yang berat berisi maket.
"Kenapa rumah wangi bunga tujuh rupa begini? Ada yang mau pesugihan?"
"Nggak ada yang sakit, Ar. Mandi sana! Pak Kades sebentar lagi datang sama anaknya, si Bambang. Katanya baru pulang kuliah ternak lele modern di Australia. Ganteng lho, Ar, badannya tegap kayak binaragawan kolam!" sahut Ibunya sambil sibuk menata toples berisi rengginang.
Aruna mematung.
"Tunggu... jadi darurat keluarga itu... PERJODOHAN?!"
"Sst! Bukan perjodohan, cuma perkenalan berencana!" Bapaknya menimpal sambil asyik memoles batu akik di jarinya.
"Bambang itu anak berprestasi. Dia punya visi masa depan. Bayangkan, Ar, dia bisa bikin lele-lelenya punya perut six-pack karena saking sehatnya protein yang dia kasih."
"Pak! Aku ini mahasiswa DKV! Aku nggak mau masa depanku dihabiskan buat desain logo kolam lele atau bikin filter Instagram buat kumis lele!" protes Aruna, suaranya naik satu oktav.
"Halah, DKV-DKV itu apa? Desain Kolam Variasi? Pas banget toh sama Bambang!" sahut Ibunya tanpa dosa.
"Sudah, jangan banyak protes. Itu si Bambang sudah di depan gang. Tadi Ibu liat dia bawa motor kopling sambil bawa ember isi bibit unggul buat oleh-oleh kita. Romantis kan?"
Aruna ingin pingsan. Di kepalanya, dia membayangkan Bambang yang berotot tapi licin seperti lele, bersaing dengan bayangan Javier yang wangi parfum mahal tapi otaknya miring.
"Pokoknya Aruna nggak mau!"
"Nggak boleh nolak! Bapak sudah kadung pamer kalau punya anak mahasiswi Jakarta yang pinter nggambar. Katanya kamu bisa nggambar wajah lele jadi mirip artis Korea. Pak Kades seneng banget dengernya!"
Tepat saat Aruna hendak membanting tas maketnya ke lantai sebagai tanda protes, terdengar suara klakson motor yang bunyinya cempreng khas motor modifikasi.
"Nah, itu dia sang Pangeran Air Tawar datang!" seru Bapaknya girang, melompat dari kursi rotan seolah-olah baru saja melihat idola panggung, padahal yang datang cuma juragan lele lokal.
Aruna hanya bisa memijat pelipisnya.
Ujang... Javier... siapa pun kamu, tolong kirimkan sinyal bantuan sekarang juga sebelum aku dipaksa tunangan pake cincin dari tulang ikan!
Suasana ruang tamu rumah Aruna mendadak berubah menjadi medan pertempuran diplomasi tingkat desa. Pak Kades datang dengan gagahnya, memakai kemeja safari yang sakunya penuh dengan pulpen dan sisir saku, sementara di sampingnya, si Bambang berdiri dengan tegap. Bambang mengenakan kemeja ketat motif naga yang kancing dadanya hampir menyerah menahan otot-otot hasil angkat ember lele setiap pagi.
"Wah, ini ya Aruna? Di foto kok kelihatan kayak mahasiswa stres, aslinya kok... ya, tetap kelihatan stres tapi manis," puji Pak Kades tanpa filter, membuat Aruna ingin menenggelamkan diri di dalam toples rengginang.
"Ah, Pak Kades bisa saja. Ini efek begadang ngerjain maket, Pak. Bukan stres, cuma jiwanya saja yang sedikit tercerai-berai," sahut Aruna sambil berusaha duduk setegak mungkin meski punggungnya sudah minta dipijat.
Bambang maju satu langkah, memberikan sebuah bungkusan plastik besar yang masih meneteskan air tepat di atas taplak meja renda kesayangan Ibu Aruna.
"Ini untukmu, Aruna. Bibit lele albino pilihan. Saya kasih nama Bambang Junior. Dia punya ketahanan tubuh yang luar biasa terhadap guncangan perasaan," ucap Bambang dengan suara berat yang sengaja dibuat-buat berwibawa.
"Makasih, Mas Bambang. Tapi saya biasanya lebih suka pelihara kucing, bukan ikan yang punya kumis lebih tebal dari Bapak saya," sahut Aruna sambil tersenyum kecut, menatap lele albino yang tampak depresi di dalam plastik itu.
"Jangan salah, Aruna,"
Bambang melanjutkan sambil membusungkan dada hingga kancing kemeja naganya berteriak minta tolong.
"Lele ini adalah simbol kesuksesan. Di Australia, saya belajar bahwa kunci kebahagiaan adalah sirkulasi air yang lancar. Kalau kita menikah nanti, saya pastikan sirkulasi kasih sayang kita tidak akan pernah mampet oleh lumut-lumut kecurigaan."
"Waduh, analoginya sangat... perikanan sekali ya, Mas," gumam Aruna, matanya melirik ke arah pintu depan, berharap ada meteor jatuh membakar kemeja motif naga yang sangat menganggu pemandangan Aruna.
Pak Kades tertawa terbahak-bahak sampai perutnya berguncang.
"Hahaha! Bambang ini memang romantisnya beda, Pak! Dia kalau ngerayu cewek memang pakai istilah budidaya. Tapi tenang, Aruna, kolamnya sudah bersertifikat internasional. Kamu nggak bakal kekurangan gizi kalau sama dia!"
"Betul itu!" Ibu Aruna ikut nimbrung dengan semangat.
"Apalagi Mas Bambang ini baru pulang dari Australia. Pasti lelenya sudah bisa bahasa Inggris, toh?"
"Oh, tentu, Bu," sahut Bambang bangga.
"Lele saya kalau dikasih makan nggak bilang nyam nyam, tapi bilang delicious mate!"
Aruna hampir saja tersedak udara sendiri.
"Mas Bambang, maaf... tapi saya ini kuliah DKV. Saya biasa gambar manusia, bukan gambar desain kolam lele berkelanjutan."
"Nggak masalah!" Bambang memotong cepat.
"Kamu bisa gambar logo di jidat lele-lele saya supaya harganya naik di pasar ekspor. Kita adalah kombinasi maut, Aruna. Estetika bertemu dengan lendir... eh, maksud saya, bertemu dengan hasil bumi!"
Tepat saat Bambang hendak menjelaskan strategi breeding lele menggunakan musik klasik, sebuah bunyi klakson yang sangat mewah mirip suara terompet kapal pesiar yang berdentum di depan rumah.
Sebuah van hitam mewah berhenti tepat di depan pagar. Pintu terbuka dengan suara Sreeet yang sangat halus, dan muncullah sosok pria yang membuat seisi ruangan terdiam seribu bahasa.
Javier melangkah masuk dengan aura yang sanggup membuat bunga kamboja di halaman langsung mekar seketika. Dia mengenakan kemeja sutra berwarna perak yang kancing atasnya sengaja dibuka satu, sarung sutra yang diselempangkan di bahu, caping petani berlapis glitter, dan tentu saja kacamata renang biru yang kini menutupi matanya.
"PROSEDUR SINKRONISASI ILEGAL TERDETEKSI!" teriak Javier sambil melangkah masuk dengan gaya catwalk.
Bapak Aruna melongo, tangannya yang sedang memegang batu akik sampai gemetar.
"Siapa ini, Ar? Artis karnaval nyasar? Atau tukang pestisida modern?"
Aruna melompat dari kursinya.
"U-ujang?! Kamu ngapain di sini?!"
Javier mengabaikan Aruna. Dia langsung berjalan lurus ke arah Bapak Aruna, membungkuk 90 derajat dengan sangat elegan.
"Hormat saya kepada Pusat Kendali Utama Majikan Aruna. Nama saya adalah Javier. Saya adalah satu-satunya unit sistem yang memiliki hak akses penuh atas hati putri Bapak."
"Pusat kendali? Unit sistem?" Bapak Aruna berbisik pada Ibunya.
"Bu, ini anak siapa? Kok ganteng-ganteng otaknya korslet?"
Javier berdiri tegak, melepaskan kacamata renangnya dengan gerakan lambat yang sangat dramatis. Wajah tampannya terekspos sempurna, membuat Ibu Aruna mendadak lupa caranya bernapas.
"Maaf, Bapak dan Ibu yang terhormat," ucap Javier dengan suara bariton yang dalam.
"Saya datang ke sini karena sensor rindu saya mengalami overheat. Saya tidak bisa membiarkan Aruna dipaksa bergabung dengan dinasti perikanan ini. Karena kenyataannya, Aruna adalah pacar sah saya di Jakarta."
"PACAR?!"
Teriak Bapak, Ibu, Pak Kades, dan Bambang secara kooperatif.
Aruna wajahnya sudah merah padam.
"Javi! Kamu ngomong apa sih?!"
Javier meraih tangan Aruna, menatapnya dengan pandangan Ice Prince yang mematikan.
"Jangan menyangkal, Aruna. Apakah Anda lupa saat kita melakukan sinkronisasi bibir di studio desain? Apakah daster pink Anda tidak menceritakan segalanya pada saya?"
Aruna segera membungkam mulut Javier agar tidak mengatakan semuanya di hadapan orang tuanya.
Pak Kades mengernyitkan dahi.
"Pak, ini beneran pacar Aruna? Kok dandanannya lebih mahal dari harga seluruh kolam lele saya?"
Bapak Aruna masih bingung.
"Le, kamu beneran pacar anak saya? Kerja apa kamu? Kok rambutnya warna uban begitu padahal masih muda?"
"Saya adalah seorang penjelajah frekuensi visual, Pak," jawab Javier asal karena dia dilarang bilang dia idol.
"Dan sebagai tanda keseriusan, saya tidak membawa lele. Saya membawa ini."
Javier mengeluarkan sebuah kotak beludru. Isinya bukan cincin, melainkan sebuah Gayung Merah Berlapis Emas.
"Ini adalah simbol kesetiaan saya. Seperti gayung yang selalu siap menampung air, hati saya siap menampung seluruh revisi desain Aruna sampai akhir hayat," ucap Javier mantap.
Bambang yang merasa harga dirinya terinjak oleh gayung emas, langsung berdiri.
"Pak! Saya tidak bisa bersaing dengan pria yang bawa gayung emas! Ini persaingan yang tidak sehat!"
Bambang mengambil kembali plastik lele albinonya dengan sedih.
"Ayo Pak Kades, kita pulang. Lele saya mendadak mogok makan liat ketampanan pria ini."
Setelah rombongan Pak Kades pergi dengan kebingungan massal, suasana rumah menjadi sunyi. Ibu Aruna mendekati Javier, mencoba menyentuh rambut peraknya.
"Le... ini rambut asli? Kok kayak senar pancing tapi halus?"
"Bu! Jangan dipegang-pegang!"
Aruna menarik Javier menjauh.
"Pak, Bu, maafin temen Aruna ya. Dia emang... emang lagi ada gangguan sistem komunikasi."
Bapak Aruna menatap gayung emas di atas meja dengan penuh minat.
"Ar, kalau pacarmu ini sanggup beli gayung emas, berarti dia bisa dong beliin Bapak mesin pemotong rumput otomatis?"
Javier mengacungkan jempol dengan gaya cool.
"Bukan hanya mesin rumput, Bapak. Saya akan kirimkan robot pemangkas rumput yang bisa menari Supernova di halaman Bapak!"
Aruna hanya bisa memijat dahi. Mudik yang harusnya tenang malah menjadi debut penyamaran Javier yang paling hancur sekaligus paling sukses sepanjang sejarah.