Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.
Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.
Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Dominasi Tanpa Batas
Tenaga Amara seolah telah terkuras habis hingga ke sumsum tulangnya. Kakinya yang gemetar hebat tak lagi mampu menopang berat tubuhnya sendiri di depan dinding kaca itu.
Namun, bagi Arlan Aditama, kata "berhenti" tidak ada dalam kamusnya malam ini. Melihat Amara yang hampir luruh ke lantai, Arlan justru tersenyum puas.
Dengan satu gerakan kuat dan protektif, Arlan menyusupkan lengannya di bawah lipatan paha Amara dan mengangkat tubuh gadis itu ke dalam gendongannya. Posisi mereka kini saling berhadapan, dengan kaki Amara yang melingkar erat di pinggang kokoh Arlan.
Yang membuat Amara terengah adalah Arlan sama sekali tidak berniat melepaskan dekapan intim mereka; kehangatan yang menyatu di antara mereka masih terasa begitu dalam dan mengikat.
"T-Tuan... hhh... lemas... saya sudah tidak kuat..." rintih Amara, menyandarkan kepalanya yang terkulai di ceruk leher Arlan. Napasnya yang panas menerpa kulit Arlan, sementara tangannya mencengkeram bahu pria itu dengan sisa tenaga yang ada.
"Kau tidak butuh kaki untuk merasakan semua ini, Amara," bisik Arlan serak.
Sambil berjalan perlahan meninggalkan ruang tengah menuju kamar utama, Arlan terus membawa Amara dalam buaian gerakannya. Setiap langkah yang diambil Arlan memberikan sensasi ritme yang intens dan tak terduga akibat gaya gravitasi.
Dekapan yang bergerak itu menciptakan getaran yang sangat berbeda—lebih liar dan menguasai. Amara hanya bisa merintih, merasakan setiap kehangatan Arlan memenuhi seluruh kediriannya.
Setibanya di dalam kamar utama yang temaram, Arlan tidak langsung membaringkan Amara. Ia menjatuhkan dirinya di atas ranjang berukuran raksasa dengan posisi duduk bersandar pada headboard, sementara Amara tetap berada di atas pangkuannya, terikat erat dalam kuasa pria itu.
"Sekarang, kendalikan ini untukku," perintah Arlan, suaranya berat dan penuh wibawa.
Tangannya mencengkeram pinggul Amara, memberikan dorongan awal. "Tunjukkan padaku betapa kau menginginkan ini."
Amara, dalam kondisi setengah sadar karena pesona gairah yang memabukkan, mulai menggerakkan pinggugnya mengikuti naluri.
Arlan sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya yang tajam dan gelap menatap lurus ke arah penyatuan mereka.
Ini adalah pemandangan paling memikat yang selalu membuat darah Arlan mendidih. Ia memperhatikan dengan detail bagaimana seluruh eksistensinya diterima dengan begitu pas dan erat oleh tubuh Amara yang sensitif. Setiap gerakan naik dan turun itu menciptakan
gesekan intim yang mendalam, seolah mengikat mereka berdua dalam ritme yang tak terputus.
"Nngghhh... Tuan... ahh... lihatlah..." Amara ikut menunduk, menyaksikan bagaimana tubuh mereka saling bertaut dan mengunci satu sama lain.
"Bagus, Amara... peluk aku lebih erat," geram Arlan. Ia membawa tangannya untuk menyentuh tubuh Amara, meraba lekuknya dengan intensitas tinggi saat merasakan bagaimana gadis itu berusaha keras mengimbangi kekuatannya.
Arlan mulai membantu gerakan Amara dengan sentakan-sentakan pinggul dari bawah, mempercepat ritme hingga suasana di kesunyian kamar terasa kian panas dan mendesak. Amara mendongak, punggungnya melengkung indah saat ia merasakan Arlan kembali memacu kecepatannya hingga ke titik puncak, menghancurkan sisa-sisa kesadaran Amara di tengah dinginnya malam London yang kian membeku di luar sana.
***
Cahaya matahari musim dingin yang pucat menyelinap masuk melalui celah gorden penthouse, menerangi debu-debu halus yang menari di udara kamar utama. Amara mengerjapkan matanya perlahan, merasakan berat yang luar biasa pada kelopak matanya. Hal pertama yang ia rasakan saat kesadarannya pulih adalah aroma maskulin yang kuat—campuran antara wangi kayu cendana, tembakau mahal, dan sisa-sisa keringat jantan yang sangat ia kenali.
Ia menoleh ke samping, namun ranjang luas itu sudah kosong. Hanya ada bekas lekukan tubuh di atas sprei sutra yang sudah sangat berantakan. Amara tersentak kecil saat menyadari di mana ia berada. Ini bukan kamar pelayan, bukan pula kamar bayi. Ia tidur di ranjang utama milik Arlan Aditama, di jantung kekuasaan pria itu di London.
Perlahan, Amara mencoba menyibakkan selimut tebal yang menutupi †µßµh polosnya. Ia tersedak napasnya sendiri saat melihat pantulan dirinya di cermin besar di seberang ranjang. Kulit putihnya kini penuh dengan "tanda kepemilikan" yang ditinggalkan Arlan semalam. Leher, tulang selangka, hingga þåɏµÐåråñɏå dipenuhi bercak kemerahan dan keunguan. Bahkan di þåhå bagian dalamnya, terdapat bekas cengkeraman tangan Arlan yang masih membekas jelas.
"A-akh..." Amara meringis saat mencoba menggeser kakinya.
Rasa nyeri yang tajam menyerang pusat tubuhnya. Rasa perih dan berdenyut itu seolah mengingatkan saraf-sarafnya tentang bagaimana Arlan mêñghµjåmñɏå berjam-jam tanpa ampun, berpindah-pindah posisi dari jendela hingga ke ranjang ini. Dengan memaksakan diri, Amara turun dari ranjang. Namun, baru saja telapak kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin, lututnya langsung lemas.
Bruk!
Amara jatuh terduduk di lantai, kedua kakinya benar-benar kehilangan kekuatan untuk menopang tubuhnya. Ia mencoba bangkit dengan berpegangan pada pinggiran ranjang, namun rasa ngilu di pangkal pahanya membuatnya kembali merosot. Air mata frustrasi mulai menggenang di sudut matanya; ia merasa benar-benar lumpuh oleh ñ壧µ tuannya.
Tepat saat itu, pintu kamar terbuka. Langkah sepatu pantofel yang tegas bergema di lantai. Arlan muncul dengan penampilan yang sangat kontras. Pria itu sudah rapi mengenakan setelan jas tweed tiga lapis yang elegan, rambutnya tersisir rapi ke belakang, memancarkan aura otoritas yang dingin. Di lengannya, ia menggendong Kenzo yang nampak sangat segar, sudah dimandikan, dan mengenakan baju monyet wol yang hangat.
Melihat Amara yang terduduk mengenaskan di lantai hanya dengan lilitan selimut, Arlan segera melangkah mendekat. Ia meletakkan Kenzo dengan hati-hati di tengah ranjang yang empuk, lalu berlutut di depan Amara.
Tanpa sepatah kata pun, Arlan menyusupkan lengannya di bawah ketiak dan lutut Amara, mengangkat tubuh gadis itu seolah ia seringan kapas. Ia mendudukkan Amara kembali di tepi kasur dengan gerakan yang sangat lembut, jauh berbeda dengan kekasaran yang ia tunjukkan semalam.
"Masih belum bisa berdiri?" tanya Arlan rendah. Suaranya sedikit serak, namun ada nada kepuasan yang tersembunyi di sana. Ia mengulurkan tangan, mengelus pipi Amara yang masih sembap dengan ibu jarinya.
Amara hanya bisa menunduk malu, tak berani menatap mata elang pria itu. "S-saya... maaf Tuan, saya lemas sekali."
"Aku tahu. Aku yang melakukannya padamu," ucap Arlan tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ia mengecup kening Amara lama, lalu beralih menatap matanya. "Aku ada pertemuan penting dengan investor hari ini. Kau jangan ke mana-mana. Tetaplah di ranjang ini."
Amara mendongak bingung. "Tapi... kekacauan di luar... piring kotor dan..."
"Diam dan dengarkan," potong Arlan tegas namun tidak membentak. "Orang suruhanku akan datang sebentar lagi. Dia yang akan membersihkan seluruh kekacauan di penthouse ini, termasuk membawa pakaianmu. Dia juga akan membawakan makanan bergizi untuk memulihkan tenagamu. Kau hanya perlu beristirahat lebih lama di sini dan menyusui putraku. Mengerti?"
Amara menganggukkan kepalanya pelan. Ia merasa sangat lelah hingga untuk memprotes pun ia tak sanggup. Perhatian Arlan pagi ini terasa seperti obat penawar bagi luka-luka gairah semalam.
"Good. Kalau begitu aku pergi," Arlan berdiri, merapikan jasnya sejenak. Sebelum melangkah keluar, ia menoleh ke arah Kenzo.
Bayi gembul itu sedang berbaring telentang di atas kasur, menatap langit-langit kamar dengan mata bulatnya yang jernih. Kenzo nampak sangat tenang, ia memasukkan jempol kecilnya ke dalam mulut dan menghisapnya dengan bunyi cup-cup yang lucu—seolah-olah ia juga sedang menunggu giliran untuk mendapatkan "asupan" dari pengasuh nya.
Arlan menyeringai tipis melihat pemandangan itu. "Dia sudah lapar, Amara. Berikan dia susunya. Aku akan kembali sebelum makan malam."
Pintu tertutup rapat, menyisakan Amara yang kini menatap Kenzo. Dengan sisa tenaga, Amara menarik Kenzo ke dalam pelukannya, membuka selimutnya sedikit, dan membiarkan tuan mudanya menemukan kenyamanan yang sama seperti yang tuan besarnya cari semalam.