NovelToon NovelToon
Sebelah Mata

Sebelah Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dunia Masa Depan / Keluarga / Karir / Persahabatan / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: joekris

Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.

Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.

Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: RIUH YANG MENYAKITKAN

Gedung SMA Negeri 1 di kota kabupaten itu berdiri dengan angkuh. Bagi sebagian besar siswa, bangunan dua lantai dengan cat putih yang mulai mengusam itu hanyalah tempat membosankan untuk menghabiskan pagi. Namun bagi Jonatan, setiap jengkal koridornya adalah tanah suci. Untuk sampai ke sini, ia harus menempuh perjalanan dua jam setiap hari; satu jam berjalan kaki menembus jalan setapak berdebu dari desanya, dan satu jam lagi menumpang truk pengangkut hasil bumi yang seringkali membuatnya tiba di sekolah dengan bau menyengat bawang merah atau kotoran ternak yang menempel di baju.

Pagi itu, Jonatan melangkah melewati gerbang sekolah dengan kepala sedikit menunduk. Ia mencoba menjadi sediam mungkin, seolah-olah dengan tidak bersuara, ia bisa menjadi tidak kasat mata. Namun, di sekolah ini, kemiskinan adalah sebuah warna yang mencolok, dan Jonatan memakainya seperti sebuah jubah yang tak bisa dilepaskan.

"Woi, lihat! Truk pengangkut babi sudah datang!"

Suara tawa meledak di dekat lapangan basket. Sekelompok siswa laki-laki dengan seragam yang pas di badan dan sepatu kets bermerek sedang berkumpul. Di tengah mereka ada Rendy, anak seorang pengusaha sukses di kota kabupaten yang selalu merasa sekolah adalah miliknya.

Jonatan mempercepat langkahnya. Ia bisa merasakan tatapan mata mereka seperti ribuan jarum yang menusuk punggungnya. Ia merapatkan pegangannya pada tali tas kain lusuhnya—tas yang dijahit tangan oleh ibunya dari kain bekas karung terigu. Di dalamnya, buku-bukunya beradu pelan, satu-satunya harta karun yang ia miliki.

"Heh, Anak Tanah! Berhenti dulu!" Rendy berteriak lebih keras.

Jonatan terpaksa berhenti. Jika ia lari, mereka akan semakin mengejarnya. Ia berbalik perlahan, mencoba memasang wajah datar meskipun jantungnya berdegup kencang seperti tabuhan genderang.

"Ada apa, Rendy?" suara Jonatan keluar dengan tenang, meski sedikit serak.

Rendy berjalan mendekat dengan gaya angkuh, diikuti oleh dua temannya yang selalu mengekor seperti bayangan. Ia menutup hidungnya dengan drama yang berlebihan. "Baumu hari ini luar biasa, Jon. Apa kau tadi malam tidur di dalam kandang sapi atau memang orang Oetimu punya parfum khas dari kotoran?"

Ledakan tawa kembali terdengar dari siswa-siswa lain yang mulai berkerumun. Beberapa siswi yang lewat hanya melirik dengan tatapan kasihan, namun tak satu pun yang berani membela.

"Aku bekerja di ladang sebelum ke sini," jawab Jonatan singkat. Ia tidak ingin memberi mereka kepuasan dengan terlihat marah.

"Ladang? Oh, maksudmu tanah kering yang sebentar lagi bakal disita bank itu?" Rendy menyeringai, matanya tertuju pada sandal jepit Jonatan. "Lihat itu, sandalnya sudah hampir menyatu dengan aspal. Hei teman-teman, mari kita donasi. Mungkin kita bisa membelikannya sandal yang ada alasnya, supaya kakinya yang pecah-pecah itu tidak mengotori lantai sekolah kita yang bersih."

Rendy mengeluarkan lembaran uang sepuluh ribu dari sakunya dan melemparkannya ke tanah, tepat di depan kaki Jonatan. "Ambil itu, Jon. Anggap saja upah karena sudah membuat kami tertawa pagi ini."

Jonatan menatap lembaran uang di atas debu itu. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah mendidih di dalam dadanya, sebuah api yang sangat panas hingga ia merasa bisa membakar seluruh lapangan sekolah itu. Ia ingin sekali melayangkan tinjunya ke wajah Rendy yang bersih dan sombong itu. Namun, ia teringat wajah ibunya. Ia teringat Bu Maria yang bangun pukul empat pagi untuk menumbuk jagung agar Jonatan punya tenaga untuk belajar. Jika ia berkelahi, ia akan dikeluarkan, dan pengorbanan ibunya akan menjadi sia-sia.

Dengan gerakan perlahan yang penuh martabat, Jonatan melangkahi uang itu. Ia tidak mengambilnya. Ia bahkan tidak meliriknya.

"Uangmu lebih butuh untuk membeli sopan santun, Rendy. Di desaku, bahkan anjing sekalipun tahu cara menghargai sesama makhluk hidup," ucap Jonatan dingin sebelum berbalik dan melanjutkan perjalanannya menuju kelas.

Suasana mendadak hening. Senyum di wajah Rendy menghilang, digantikan oleh rona merah karena malu sekaligus marah. Ia tidak menyangka "Anak Tanah" itu berani menjawabnya dengan kalimat setajam itu.

Di dalam kelas, Jonatan duduk di bangku paling depan, pojok kiri. Itu adalah benteng pertahanannya. Di sana, ia hanya perlu berhadapan dengan papan tulis dan buku-buku. Ia mengeluarkan sebuah buku tulis yang sampulnya sudah mengelupas. Di halaman pertama, ia menuliskan sebuah rumus fisika tentang tekanan. Ia membatin, Tekanan adalah gaya dibagi luas permukaan. Semakin kecil luas permukaannya, semakin besar tekanannya. Ia merasa dunianya saat ini sedang menyempit, menekannya dari segala arah, mencoba menghancurkannya.

Pelajaran pertama adalah Matematika, pelajaran yang paling dicintai sekaligus dibenci oleh teman-temannya. Pak Guru Simon masuk dengan wajah yang kaku. Ia segera menuliskan sebuah soal kalkulus yang sangat rumit di papan tulis.

"Siapa yang bisa menyelesaikan soal ini di depan? Jika benar, saya beri nilai tambahan untuk ujian tengah semester nanti," ujar Pak Simon sambil menatap ke sekeliling kelas.

Kelas mendadak menjadi seperti kuburan. Rendy dan kawan-kawannya yang tadi begitu vokal di luar, kini menunduk dalam-dalam, pura-pura sibuk mencari sesuatu di dalam laci meja mereka. Mereka tidak punya keberanian di hadapan angka-angka.

Jonatan menarik napas panjang. Ia tahu ini adalah kesempatannya untuk menunjukkan bahwa ia bukan sekadar debu yang bisa diinjak. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

"Saya, Pak."

Bisik-bisik mulai terdengar. "Cari mati dia," gumam seseorang di barisan belakang.

Jonatan berjalan ke depan kelas. Ia mengambil sebatang kapur yang terasa kasar di jarinya. Selama beberapa detik, ia hanya menatap soal itu. Di pikirannya, angka-angka itu mulai menari, membentuk pola, menciptakan jalan keluar. Dengan gerakan yang pasti dan tanpa ragu, ia mulai menuliskan langkah-langkah penyelesaiannya. Suara kapur yang beradu dengan papan tulis menjadi satu-satunya suara di ruangan itu.

Selesai. Jonatan meletakkan kapur dan kembali ke tempat duduknya tanpa sepatah kata pun.

Pak Simon menatap papan tulis dengan seksama, menyesuaikan letak kacamatanya, lalu menoleh ke arah Jonatan. "Langkah yang kamu gunakan sangat tidak umum, Jonatan. Kamu menggunakan metode singkat yang biasanya hanya diajarkan di tingkat universitas. Dari mana kamu belajar?"

"Saya membacanya di buku perpustakaan yang sudah lama dibuang, Pak," jawab Jonatan jujur.

Pak Simon mengangguk, ada binar kekaguman yang jarang terlihat di matanya. "Jawabanmu sempurna. Seratus untukmu."

Untuk sesaat, Jonatan merasakan sebuah kemenangan kecil. Ia melirik ke arah Rendy yang wajahnya terlihat semakin masam. Namun, kebanggaan itu tidak bertahan lama. Saat jam istirahat tiba, ia kembali ke realita yang pahit. Di saat teman-temannya pergi ke kantin dengan uang saku yang melimpah, Jonatan tetap di kursinya.

Ia membuka tasnya, mengeluarkan sebuah botol plastik berisi air putih dan satu buah ubi rebus yang sudah dingin. Ia memakannya dengan perlahan, berusaha menikmati setiap seratnya sebagai bahan bakar untuk otaknya yang terus bekerja. Ia tahu, rasa kenyang ini bersifat sementara, begitu juga dengan kemenangan di papan tulis tadi.

Dunia tetap akan memandangnya sebelah mata karena sepatunya yang rusak dan baunya yang kering. Namun, di dalam hati Jonatan, sebuah api baru telah menyala. Jika kecerdasan adalah satu-satunya senjata yang ia miliki untuk melawan dunia yang tidak adil ini, maka ia akan mengasahnya sampai menjadi pedang yang paling tajam.

1
Kustri
terharu qu😳
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
Kustri
pa johan, smoga kebaikanmu membuat jon smakin bersemangat
Kustri
ya Allah... sepatu pinjaman, itu tetangga baik hati'a
Kustri
penasaran bawa sepatu gk dr oetimu
Kustri
sumpah, setiap baca sedih bgt😭
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
joekris: Amin kak
total 1 replies
Kustri
💪💪💪jon
Kustri
merinding baca'a
kasian
Kustri: insya Allah, thor
total 2 replies
Prabu Hangku
Gila gila asoy bener cerita nya
sendi syam
Keren
🦊 Ara Aurora 🦊
thor gue mampir nih 😅 maaf terlambat mampir yah baru sekarang bisa 🙏
Rizky Rahmat
Alur cerita nya dari kisah nyata kah?
Tarno Hangku
Keren
sendi syam
Semoga bisa bawa nama ntt ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!