Zhang Liu gadis malang yang di paksa menikahi seorang raja aneh, demi menolak pernikahan dan menjaga kesucian Zhang Liu bunuh diri dengan menenggelamkan diri di dalam danau, namun siapa yang menyangka setelah kepergian Zhang Liu dari tubuhnya, seorang gadis dari dimensi lain terjebak di dalam tubuhnya, apakah yang akan di lakukan gadis itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auliya Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belum sampai pada gilirannya
Kakaknya berjuang begitu keras di militer, meski memiliki reputasi dan kemapuan sendiri harta keluarga Zhang juga tak bisa jatuh pada orang lain, harta keluarga Zhang hanya bisa di miliki oleh kakak laki lakinya saja
"Adik, ayah sudah memperlakukan mu seperti ini, ayah sudah keterlaluan"
"Kakak, kakak jangan mengatakan hal buruk di belakang punggung ayah ini tidak baik"
"Adik kau begitu baik hati, ayah sudah memperlakukan mu dengan sangat tidak adil, dan kau masih ingin berbicara untuknya" Zang Zhicen semakin merasa bersalah, meski Liu Yan telah di ganggu ia masih begitu menyayangi ayahnya
"Kakak, ibu kita sudah tiada, ayah adalah satu satunya penopang dan pendukung kita, ayah membenci ku, ini bukan masalah, semua memang salah ku, aku lah bintang kesialan, salah ku yang tidak di lahirkan untuk menerima keberuntungan dari langit, jika saat itu aku tidak lahir ibu tak akan meninggal dan ayah tak akan seperti ini, jika ada yang di salahkan maka salahkan saja aku, aku telah merusak kebahagiaan ayah, kelahiran ku yang telah membunuh ibu, dan membuat kakak kehilangan kasih sayang ibu di usia muda, itu salah ku, dan memang salah ku, aku tau, aku memang seperti yang selalu di sebut selir Ming" Liu Yan menghela nafas pelan
Selain mengadukan ketidak adilan yang ia lami di kediaman Zhang, ia juga menyeret nama selir Ming, tentu saja akan membuat Zhang Zhicen semakin tak senang
"Hanya seorang selir berani menganggu adik dan mengatakan omong kosong" Zhang Zhicen semakin kesal,
Hanya seorang selir, ibu mereka adalah putri tunggal sang putri agung, bagaimana mungkin adiknya di tindas oleh wanita yang bahkan hanya berlatar belakang seorang pelayan.
"Kakak, selir Ming bukan orang yang bisa kita komentari, kakak jangan membuat masalah dengan selir Ming, bagaimanapun nasib pernikahan mu masih di tanganya" Liu Yan memperingatkan dengan wajah serius
"Dia hanya seorang pelayan rendahan, apakah layak mengatur pernikahan ku, adik kau telah di rugikan oleh mereka" Masalah pernikahan memang harus melalui pengaturan orang tua dan Mak comblang, tapi apakah selir Ming layak menjadi orang tuanya,
Apakah nama besar putri agung hanya pajangan hingga membiarkan selir mengatur pernikahan untuk cucunya?, ini lelucon
"Kakak, adik sepupu, kita sudah lama tidak bertemu, mengapa harus membicarakan hal yang tak menyenangkan seperti ini" Hu Jian memecahkan suasana sedih yang terbangun
Liu Yan mengangguk dan berdehem pelan, ia sudah selesai mengeluh, lihat bagaimana ayah bajingan itu menghadapi kakak laki lakinya, ia mengadukan semuanya, meski tak ingin membuat masalah untuk kakak laki lakinya ia ingin ayah bajingan itu tau bagaimana rasanya di salahkan atas hal yang bahkan tak dilakukan.
Liu Yan anak yang sangat malang dan di besarkan dengan cara tidak adil, meski kelahiran Liu Yan menyebabkan kematian ibunya, namun orang yang paling menderita adalah Liu Yan, ia bahkan tak sempat merasakan pelukan dari sosok ibu, saat anak lain hidup bergantung pada asi ibunya ia malah meminum air susu dari ibu susu yang di berikan oleh nenek mereka, ia sudah begitu menderita dan tak dinginkan oleh semua orang, Liu Yan ini sangat sedih
"Benar, masakan adik sangat lezat, adik di masa depan apakah kami masih bisa merasakan makanan ini?" Hu Jian tanpa tau malu, hal ini membuat Liu Yan tersenyum kecil, kedua kakak sepupunya ini memiliki beberapa karakter berbeda namun, keduanya sama sama paling menyayanginya
"Kakak sepupu, jika kau suka dan ingin memakannya katakan saja, aku akan membuatnya untuk kakak sepupu"
"Tak tau malu, adik bukan pelayan yang harus memasak" Hu Lian berdengus,
Liu Yan sangat di sayang di kediaman, memasak bukan hal yang akan di lakukan oleh seorang wanita bangsawan, setiap kediaman memiliki pelayan bahkan koki terbaik yang akan memasak semua hidangan lezat
"Masakan adik sangat lezat hanya adik yang bisa membuat hidangan sehebat ini"
"Apakah kau lupa dengan yang kau katakan pada nenek?, apakah kau ingin di pukul tongkat?" Hu Lian menatap adiknya dengan tatapan tajam, Liu Yan selalu menjadi kesayangan seluruh kediaman, jika neneknya tau Liu Yan memasak begitu banyak makanan untuk mereka maka nenek tak akan senang
"Kakak, ini tugas mu, bujuk nenek, kakak, ayolah, nenek sangat mendengarkan mu, aku yakin kakak pasti sangat menyukai masakan adik" Hu Jian memohon dengan begitu manja, masakan adik sepupu mereka benar benar lezat, mengapa ia tak bisa menikmatinya sekali lagi
"Dasar tak tau malu" Hu Guan menatap adiknya malas dan mendengus, tawa pecah di dalam ruangan, semua saudara sibuk berbincang dan mengatakan hal hal yang menyenangkan
Zhang Zhicen juga menyerahkan hadiah yang telah ia belikan di perbatasan, saat itu adiknya sangat menyukai bulu bulu lembut, ia membawa bulu rubah putih nan lembut,
Tanpa terasa waktu berjalan dengan cepat dan saat ini Liu Yan dan kedua sepupunya sudah berdiri di depan gerbang, mengantar Zhang Zhicen kembali.
"Kakak, jaga diri mu dengan baik di sana, dan ingat jangan mengatakan hal yang menyakitkan hati ayah" Liu Yan nampak lembut dan rapuh,
Hal ini membuat Zhang Zhicen semakin merasa bersalah, ia marah pada dirinya sendiri dan marah pada sifat acuh sang ayah, adiknya begitu baik namun malah mendapat perlakukan buruk seperti ini.
"Adik kau sangat perduli padanya, sedangkan dia, sangat tak layak untuk di sebut" Ia mendengus tak bahagia, ayahnya sangat tak berguna dan mengecewakan, ia tau dengan jelas jika Zhang Zhicen paling menyayangi Liu Yan namun ayahnya?, membiarkan Liu Yan di ganggu dan di tindas di rumahnya sendiri, ia bertekad untuk menjadi lebih cemerlang, dengan demikian ia bisa melindungi adiknya
"Kakak itu ayah kita, aku akan selalu menyayanginya dan kakak juga harus demikian"
"Adik" Zhang Zhicen merasa semakin tak puas, adiknya sudah dianiaya sedemikian rupa, tapi mengapa?, mengapa adiknya selalu memikirkan pria itu.
"Akhir akhir ini angin cukup kencang, jangan membuat ayah marah dan merusak kesehatannya" Liu Yan berucap dengan penuh tekat, namun hanya dia yang tau betapa jijiknya dirinya saat mengatakan ini, kakak laki lakinya ini tak terbiasa dengan trik, trik kecil seperti ini pun tak ia sadari, Liu Yan jelas sedang bermain kata, membuat Zhang Lan merasakan rasanya di acuhkan oleh orang yang paling ia sayangi.
"Kakak maafkan aku memanfaatkan mu, di dua kehidupan kita bertemu dan ini adalah takdir yang di tulis dewa" Liu Yan membatin sembari menatap kakak laki lakinya dalam
Sejak awal ia tak berharap banyak pada kehidupan ini, di sini tak ada seorang pun yang bisa membuatnya bertahan, meski nenek dan kedua sepupu, dan beberapa paman dan bibi sangat memanjakan dirinya, tapi perasaan mereka begitu singkat
Ia tak ingin membangun ekspektasi terlalu tinggi, dan akhirnya?, ia di sakiti dan di kecewakan lagi, di kehidupan itu ia di khianati dua pria yang sangat ia percayai
Yang satu ayah kandungnya, dan yang lain kekasih hati yang ia fikir akan menemaninya hingga tua.
"Adik jaga dirimu dengan baik" Istana putri agung ini memanjakan adiknya, tapi ia masih saja merasa khawatir, adiknya begitu baik dan lembut, ia tak ingin adiknya di ganggu oleh siapapun
"Kakak kau juga" Liu Yan tersenyum kecil dan melihat kuda yang sudah menjauh,
Liu Yan masih berdiri di tempatnya, kakak laki lakinya, setelah melihatnya ia merasa jika dunia masa ini juga tak terlalu berat, ia akan bertahan sebisa mungkin dan memberikan semua hal terbaik untuk kakak laki laki yang sangat ia sayangi
"Adik sepupu, di masa depan ada banyak waktu untuk bertemu, jangan terlalu sedih, kedua kakak sepupu mu ini akan selalu memanjakan dirimu" Hu Guan berucap lembut,
Keduanya melihat dengan jelas betapa Liu Yan tak rela akan kepergian sang kakak, namun Zhang Zhicen seorang jendral, saat kembali tentu saja harus ke istana untuk memberikan laporan pada sang kaisar
"Kakak sepupu benar" Ketiganya menghela nafas bersamaan dan setelahnya masuk ke kediaman