NovelToon NovelToon
Kultivator Sistem

Kultivator Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Perperangan / Fantasi Timur / Transmigrasi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Reinkarnasi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fandi Pradana

Tio tidak pernah meminta untuk mati—apalagi tereinkarnasi dan bangun di dunia kultivasi brutal sebagai Ci Lung di Benua Tianlong.

Dengan tekad sederhana untuk hidup tenang di Lembah Sunyi, ia mencoba menjauh dari sekte, perang, dan orang-orang yang bisa membelah gunung hanya dengan bersin. Sayangnya, sebuah sistem misterius muncul, memberinya kekuatan… sekaligus hutang yang terus bertambah.

Lebih sial lagi, dunia mulai salah paham dan menganggapnya sebagai ahli tersembunyi yang menakutkan—padahal tingkat kultivasinya sebenarnya masih pas-pasan.

Di belakangnya berdiri Gu Shentian, guru di puncak Void Realm yang terlalu kuat untuk dijelaskan. Di sampingnya ada Yan Yu, murid kecil yang terlalu percaya bahwa gurunya adalah legenda hidup.

Ci Lung hanya ingin hidup normal.

Masalahnya…

Setiap kali ia mencoba, langit justru retak duluan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemunculan Empat Bencana

“P-permisi… tuan-tuan. Kami hanya lewat—”

Kalimatnya terpotong oleh tatapan Zhao Ming.

Aura dingin mengalir seperti air es. Kuda-kuda meringkik gelisah. Para pedagang merasakan dada mereka ditekan oleh sesuatu yang tak terlihat.

“Pergi,” kata Zhao Ming datar. “Atau mati di sini.”

Tidak ada teriakan kedua.

Para pedagang langsung panik. Mereka memutar kereta secepat mungkin, roda-roda menghantam batu saat rombongan itu kabur tanpa berani menoleh.

Begitu suara mereka menghilang, Mo Cil tersenyum tipis.

“Kamu menakuti mereka.”

Zhao Ming membalas dengan dingin. “Kamu terlalu banyak bicara.”

Tanah di bawah kaki mereka retak bersamaan.

Pertarungan meledak tanpa aba-aba.

Mo Cil mengangkat tangannya. Benang-benang cahaya tipis menyebar dari ujung jarinya, menari di udara seperti jaring tak kasat mata. Zhao Ming melangkah maju, setiap pijakannya menghancurkan tanah, auranya meledak seperti badai yang dipadatkan.

Benturan pertama mengirim gelombang kejut yang merobohkan pepohonan di sekeliling. Hutan berguncang. Burung-burung beterbangan panik.

Serangan Mo Cil halus namun mematikan, memotong ruang dengan presisi. Zhao Ming membalas dengan kekuatan mentah, setiap pukulan membawa tekanan yang bisa meremukkan gunung.

Langit bergetar.

Getaran itu merambat jauh, melintasi hutan dan bukit, sampai mencapai penginapan tempat Yi Sheng dan Han Zir duduk berhadapan di aula istana kota.

Cangkir di tangan Yi Sheng bergetar halus.

Han Zir mengangkat alis. “Kamu merasakannya.”

Yi Sheng meletakkan cangkirnya. “Mereka mulai.”

Tanpa kata lagi, keduanya menghilang dari tempat duduk mereka.

Penguasa kota hanya merasakan hembusan angin sebelum menyadari kursi tamunya kosong.

Yi Sheng dan Han Zir tiba di tepi medan pertempuran saat Zhao Ming dan Mo Cil bertabrakan lagi. Tanah di sekitar mereka telah berubah menjadi kawah luas.

“Aku kira kita sepakat untuk tidak saling mengganggu sebelum mencapai tujuan,” kata Yi Sheng keras.

Mo Cil meliriknya. “Kamu terlambat.”

Han Zir melangkah maju. “Hentikan. Energi kalian akan menarik perhatian seluruh benua.”

Zhao Ming tertawa pendek. “Bukankah itu yang kita inginkan?”

Tekanan aura keempatnya saling bertabrakan. Udara menjerit.

Yi Sheng menghela napas. “Kita tidak datang untuk bertarung satu sama lain.”

Mo Cil menyipitkan mata. “Lalu untuk apa? Berbagi mangsa?”

Kata itu menggantung seperti percikan api.

Han Zir tersenyum dingin. “Kalau kamu menganggapnya mangsa… buktikan kamu pantas mendapatkannya.”

Itu cukup.

Aura meledak serempak.

Empat kekuatan tingkat puncak bertabrakan, menciptakan pusaran energi yang membuat langit menggelap. Petir menari di awan. Tanah retak semakin luas, membentuk jurang-jurang kecil.

Benturan mereka bukan sekadar pertarungan fisik. Itu adalah tabrakan kehendak. Setiap serangan membawa prinsip kultivasi yang berbeda, saling mengikis dan menelan.

Getaran pertempuran itu menyebar seperti gelombang di air.

Jauh di Lembah Sunyi, Ci Lung yang sedang bermeditasi membuka mata.

Sistem berbunyi keras.

[Ancaman Eksternal Meningkat]

Bonus darurat: terobosan tambahan +3 langkah.

Target: Meridian Opening Layer Kedua.

Qi di sekeliling lembah tersedot masuk ke tubuhnya. Udara berputar membentuk pusaran raksasa di atas pondok.

Yan Yu yang sedang berlatih di dekat sungai ikut terseret dalam arus energi itu. Tubuhnya bersinar saat meridiannya terbuka lebih lebar.

Ci Lung memfokuskan pikirannya. Terobosan kali ini lebih stabil, namun tekanannya jauh lebih besar. Dia merasakan setiap meridian di tubuhnya terbuka seperti gerbang yang dipaksa terbuka oleh banjir cahaya.

Saat dia mencapai Meridian Opening Layer Kedua, gelombang energi menyapu seluruh lembah.

Yan Yu terjatuh berlutut, napasnya terengah, tapi matanya bersinar. Kultivasinya ikut melonjak, didorong oleh resonansi dengan gurunya.

Di kejauhan, empat sosok yang sedang bertarung membeku hampir bersamaan.

Mereka semua merasakan ledakan itu.

Yi Sheng menoleh ke arah benua Tianlong, matanya menyipit. “Dia naik lagi.”

Han Zir mengklik lidahnya pelan. “Cepat sekali.”

Mo Cil menurunkan tangannya. Senyum tipis muncul di wajahnya. “Menarik.”

Zhao Ming tertawa rendah. “Jadi mangsanya tumbuh taring.”

Keempatnya saling memandang. Pertarungan mereka mereda, bukan karena lelah, tapi karena perhatian mereka kini tertarik ke arah lain.

“Sepertinya kita membuang waktu,” kata Yi Sheng.

Han Zir mengangguk. “Kita pergi sendiri-sendiri.”

Mo Cil berbalik tanpa protes. “Siapa yang tiba lebih dulu… memiliki hak pertama.”

Zhao Ming menyeringai. “Cobalah.”

Dalam sekejap, mereka berpisah ke empat arah berbeda, meninggalkan medan perang yang hancur.

Namun sebelum benar-benar pergi, aura mereka saling bersentuhan sekali lagi—sebuah tantangan tanpa kata.

Perlombaan telah dimulai.

Dan di pusat badai itu, Ci Lung berdiri di lembahnya, merasakan dunia bergerak mendekat.

Di dalam pondok kayu yang sudah setengah diperbaiki, Ci Lung duduk bersila dengan wajah serius seperti seorang jenderal yang sedang merencanakan perang besar.

Padahal yang dia pikirkan cuma satu.

“Aku mau ngutang lagi.”

Sistem langsung muncul.

[Peringatan: Hutang pengguna telah mencapai tingkat mengkhawatirkan.]

“Aku belum mati, berarti masih aman,” jawab Ci Lung santai.

[Logika ditolak.]

“Aku butuh naik tingkat. Mereka makin dekat.”

Hening beberapa detik.

[Permintaan pinjaman: 100 poin. Bunga: 50%. Konfirmasi?]

Ci Lung meringis. “Bunganya lebih kejam dari lintah darat.”

[Lintah darat tersinggung.]

“…Konfirmasi!”

Energi langsung mengalir. Kultivasinya terdorong naik, menembus hambatan dan stabil di Qi Refining Layer Keempat. Tubuhnya terasa lebih ringan, tapi pikirannya langsung kembali ke masalah berikutnya.

“Aku butuh senjata,” gumamnya. “Masa aku ngelawan monster tingkat dunia pakai alat pancing?”

Seolah menunggu kata itu, layar cahaya baru terbuka.

[Fitur baru terbuka: TOKO SISTEM]

Mata Ci Lung membelalak.

“Akhirnya! Dari dulu ke mana saja kamu?”

[Terkunci karena pengguna miskin.]

“…Sakit juga kamu kalau jujur.”

Dia menelusuri daftar barang dengan mata berbinar sampai berhenti pada satu nama.

Pedang: Malam Tanpa Fajar

Deskripsinya singkat: Pedang yang ditempa dari bayangan terdalam. Memotong bukan hanya tubuh, tapi niat.

“Harganya?”

[100 poin.]

Ci Lung menatap kosong.

“Aku baru saja ngutang 100…”

[Benar.]

“…Pinjam lagi.”

[Hutang total meningkat. Pengguna berada di jalur hidup penuh penyesalan.]

“Beli!”

Pedang itu muncul di tangannya—bilah hitam pekat yang seolah menyerap cahaya. Bahkan udara di sekitarnya terasa lebih dingin.

Ci Lung mengayunkannya pelan.

Pedang itu… tidak bereaksi.

Dia mengerutkan kening. Mengayun lagi. Tetap sama.

“Kenapa rasanya kayak aku megang kayu bakar mahal?”

[Pemberitahuan: Pedang Malam Tanpa Fajar terkunci.]

“Apa?”

[Teknik kompatibel diperlukan untuk aktivasi.]

Ci Lung menatap pedang, lalu layar sistem.

“Kamu jual barang yang gak bisa dipakai?”

[Syarat dan ketentuan berlaku.]

“Mana aku baca!”

[Itu bukan masalah sistem.]

Ci Lung menarik napas panjang. “Berapa harga tekniknya.”

[Teknik: Tebasan Senja Abadi — 50 poin.]

Dia menutup mata.

“Aku benci kamu.”

[Diterima.]

“…Ngutang lagi.”

Setelah transaksi selesai, informasi teknik langsung membanjiri pikirannya. Tubuhnya bergerak refleks, mengikuti aliran qi baru yang selaras dengan pedang.

“Cuma coba sedikit,” gumamnya.

Dia mengayunkan pedang dengan santai.

Dunia terbelah.

Sebuah garis hitam tipis melesat keluar dari lembah tanpa suara. Tidak ada ledakan. Tidak ada kilatan dramatis. Hanya satu potongan sunyi yang membelah jarak tak terhingga.

Ci Lung berkedip.

“…Itu tadi apa?”

[Tebasan Senja Abadi: 3% daya.]

“TIGA PERSEN?!”

Jauh di empat arah berbeda, empat sosok berhenti bersamaan.

Yi Sheng merasakan sesuatu melintas di sampingnya—dingin, sunyi, dan mematikan. Dia memiringkan tubuh sepersekian detik sebelum garis hitam itu memotong gunung di belakangnya seperti kertas.

Gunung itu terbelah rapi.

Han Zir mengangkat pedangnya secara refleks. Garis hitam menghantam bilahnya dan memantul ke langit, membelah awan menjadi dua.

Mo Cil melompat mundur, matanya menyipit saat tanah di depannya teriris tanpa suara.

Zhao Ming menahan napas saat potongan itu melewati rambutnya, meninggalkan kehampaan yang membuat kulitnya merinding.

Keempatnya menoleh ke arah yang sama.

Lembah.

Yi Sheng tersenyum tipis. “Dia menantang kita.”

Han Zir menyeringai. “Atau memperingatkan.”

Mo Cil berbisik pelan, “Menarik…”

Zhao Ming tertawa rendah. “Aku suka ini.”

Tanpa perlu kata tambahan, mereka mempercepat langkah.

Di lembah, Ci Lung masih menatap pedangnya dengan wajah pucat.

“Aku hampir bunuh seseorang tanpa sengaja.”

[Koreksi: Hampir membunuh empat entitas tingkat puncak.]

“…APA?!”

Dia langsung menyimpan pedang itu seperti orang menyimpan ular berbisa.

“Aku cuma mau tes!”

[Tes berhasil.]

Ci Lung berjalan mondar-mandir dengan panik. “Kalau mereka pikir aku nyerang duluan gimana?”

[Kemungkinan besar demikian.]

Dia berhenti. Menatap langit.

“Aku mau refund.”

[Tidak tersedia.]

“Aku mau hidup tenang…”

[Permintaan tidak dapat diproses.]

Ci Lung menjatuhkan diri ke kursi kayu dengan ekspresi kosong.

Di luar, Yan Yu berteriak gembira karena berhasil menangkap ikan kecil.

Di dalam, gurunya baru saja secara tidak sengaja menantang empat monster terkuat di benua.

Dan sistem, tanpa sedikit pun rasa bersalah, menambahkan satu baris terakhir:

[Status pengguna: Sangat bermasalah.]

1
Arifinnur12
Udah aku kasih kopi tor updet yang banyak dong😄
Tio Da Vinci: Wah makasih yaaa😄
total 1 replies
Arifinnur12
Thor author up thorr up up upp tanggung banget ah, aku kasih kopi nanti biar semangat🤣👍💪
Tio Da Vinci: sabar sabar saya juga manusia😭
total 1 replies
Shelia_:3
Sumpah si ini bagus menurut aku, novelnya murim tentang ritme, tentang ketenangan yang lebih nakutin daripada perang, kebanyakan salah paham juga😭, terus buat kalian yang baca tapi kesannya monoton, tunggu sampe kalian masuk ke bab 20 an seru banget disitu Ci lung jadi op anjay😭
Dan kalo boleh jujur,
Kalau authornya konsisten pakai gaya ini, ini bisa jadi ciri khas yang beda dari pasar murim mainstream, aku bakal lanjut baca.
Inget thor aku bakal jadi salah satu pembaca yang marah kalo Yan yuu kenapa-kenapa😠
Tio Da Vinci: Makasih yahh😊🕊
total 1 replies
Arifinnur12
Mungkin authornya lagi pusing🤣, saya udah baca yang bab 13 atau berapa tadi yan yu udah naik kultivasinya ke layer 3, terus pas baca bab 15 ini tetep di layer ke 2 atau keberapa gitu, semangat thor ceritanya bagus😄👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!