Utang Rp500 juta dan biaya pengobatan adik yang sakit ginjal menjadi paksa bagi Putri Aulia untuk menerima tawaran perjodohan dari keluarga Adinata—salah satu sindikat mafia terkuat di kota.
Dia berpikir ini adalah jalan keluar terbaik, sampai saatnya dia menemukan kaset rahasia yang membuktikan Pak Hidayat, ayah calon suaminya, adalah dalang kematian orang tuanya untuk mengambil alih bisnis keluarga.
Tanpa pilihan lain, Putri menyembunyikan niat balas dendam dalam diri dan hidup sebagai istri yang patuh. Dia mulai menyusup ke dalam sistem mafia keluarga itu, mengumpulkan bukti dan merusak rencana kejahatan mereka secara tersembunyi.
Namun, semakin dekat dia dengan Rizky Adinata—putra Pak Hidayat yang tidak suka dengan dunia kekerasan dan menyembunyikan usaha untuk membantu anak-anak korban konflik mafia—semakin besar kebingungannya. Cinta mulai tumbuh di hati yang penuh dendam, sementara rival mafia Pak Darmawan mencoba memanfaatkannya untuk menggulingkan Pak Hidayat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: PENYERGAPAN DI VILA TUA
Mobil-mobil polisi melaju kencang membelah kabut tebal yang menyelimuti jalanan berkelok menuju Puncak. Di dalam mobil kepolisian, Detektif Rian sedang membagikan instruksi terakhir melalui radio kepada tim penyergapan. Sementara itu, di mobil pribadi Rizky yang melaju di belakang rombongan, suasana hening namun penuh dengan ketegangan yang mencekam.
Putri duduk di kursi penumpang, matanya tak lepas dari gambar krayon buatan Rara yang dia genggam erat-erat di tangan. Kertas itu seolah menjadi jimat yang memberinya kekuatan. Rizky menyetir dengan fokus tajam, sesekali melirik ke arah istrinya, mencoba memberinya kekuatan lewat tatapan meski mulutnya sibuk mengemudi.
"Kita hampir sampai, Putri," kata Rizky pelan, memecah keheningan. "Tahan sebentar lagi. Kita akan segera bertemu Rara."
Putri mengangguk pelan, menelan ludah yang terasa pahit. "Aku takut, Rizky. Bagaimana kalau mereka sudah menyakitinya? Bagaimana kalau kita terlambat?"
"Tidak, Putri. Rara anak yang kuat. Dan dia sudah membuktikannya dengan meninggalkan petunjuk itu," jawab Rizky tegas. "Kita tidak akan terlambat. Aku janji."
Sekitar tiga puluh menit kemudian, rombongan sampai di area yang ditunjukkan oleh Bang Rio. Di kejauhan, tersembunyi di balik pepohonan rimbun dan kabut malam, terlihat sebuah bangunan tua yang besar dan megah namun terlihat terbengkalai. Itu adalah vila milik Pak Joko. Sesuai dengan gambar Rara, sebuah pohon beringin raksasa berdiri gagah di halaman depan, dan di sebelahnya terlihat sumur tua yang sudah kering dan tertutup rumput liar.
Rombongan berhenti di jarak yang cukup aman agar tidak terdengar. Detektif Rian segera memberi isyarat agar semua orang turun dan berkumpul.
"Dengar, tim," bisik Detektif Rian dengan suara tegas namun rendah. "Vila ini memiliki dua pintu masuk: depan dan belakang. Ada juga jendela di lantai dua yang kemungkinan besar tidak terkunci. Karena ada sandera, kita tidak bisa menyerang secara frontal dan gegabah. Kita harus diam-diam."
Dia menunjuk peta sederhana yang dia buat di atas kap mesin mobil. "Tim Alpha akan mengepung pintu belakang. Tim Bravo akan menempati posisi di sekitar pohon beringin dan menunggu isyarat. Saya sendiri akan masuk lewat jendela samping dengan dua orang anggota terbaik. Kita harus memastikan lokasi pasti Rara sebelum bergerak."
"Detektif, izinkan saya ikut masuk," tiba-tiba suara Rizky terdengar. "Saya tahu tata letak rumah-rumah tua seperti ini. Ayah saya punya beberapa properti serupa. Dan saya harus memastikan keselamatan adik ipar saya."
Detektif Rian tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Baiklah. Tapi kamu harus mengikuti instruksi saya sepenuhnya. Jangan bertindak nekat. Dan Putri..." Detektif Rian menatap Putri. "Kamu harus menunggu di sini bersama Bang Rio dan Nina. Ini terlalu berbahaya."
"Tidak! Aku tidak mau menunggu di sini!" bantah Putri segera, suaranya tegas meski bergetar. "Itu adikku di dalam sana! Aku yang mengenali tato dan jam tangan Pak Joko! Aku yang tahu petunjuknya! Aku harus ikut! Aku bisa membantu! Aku tidak akan menjadi beban, Detektif, aku janji!"
Rizky menatap istrinya, lalu mengangguk setuju pada Detektif Rian. "Biarkan dia ikut, Detektif. Aku akan menjaganya. Putri punya hak untuk ada di sana saat kami menyelamatkan Rara."
Detektif Rian menghela napas, melihat tekad yang membara di mata Putri. "Baiklah. Tapi kalian berdua harus berjalan di belakang kami, tetap rendah, dan jangan membuat suara. Paham?"
"Paham!" jawab Putri dan Rizky serempak.
Operasi penyergapan dimulai. Dengan langkah pelan dan hati-hati, tim polisi menyusup ke area halaman vila. Kabut tebal menjadi penyamar yang baik, namun juga membuat jarak pandang sangat terbatas. Mereka berjalan melewati rumput tinggi yang basah oleh embun malam, menuju ke sisi kanan bangunan di mana ada jendela besar yang kacanya sedikit retak dan terbuka sebagian.
Dengan sigap, salah satu anggota polisi membuka jendela itu lebar-lebar tanpa mengeluarkan suara. Detektif Rian masuk lebih dulu, diikuti oleh dua anggotanya, lalu Rizky dan Putri.
Mereka mendarat di sebuah ruang tamu yang besar namun berdebu dan gelap. Hanya ada sedikit cahaya bulan yang masuk lewat celah gorden tipis, menerangi debu-debu yang beterbangan di udara. Suasana di sana sunyi, terlalu sunyi, membuat bulu kuduk Putri meremang.
Detektif Rian memberi isyarat tangan agar semua orang tetap diam dan waspada. Mereka berjalan perlahan menyusuri lorong panjang yang beraroma apek dan kayu tua. Tiba-tiba, dari arah ujung lorong, terdengar suara percakapan laki-laki yang rendah.
"Bos bilang kalau dalam 24 jam Pak Darmawan tidak keluar, kita harus buang anak kecil itu. Tapi bagaimana caranya? Polisi pasti sudah mencari di mana-mana," suara satu pria terdengar cemas.
"Bodo amat! Kita ikut perintah saja. Yang penting kita dapat uangnya. Toh anak itu cuma beban. Kalau perlu, kita kubur saja di dekat sumur tua itu, siapa yang tahu?" jawab suara lain, dingin dan kejam.
Jantung Putri seakan berhenti berdetak mendengar itu. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tidak berteriak. Air matanya mengalir deras, tapi dia menahannya agar tidak mengeluarkan suara. Rizky merasakan tubuh istrinya gemetar hebat, dia segera memeluk bahu Putri erat-erat, memberikan kekuatan sambil menahan amarahnya yang meluap mendengar rencana jahat itu.
Detektif Rian memberi isyarat maju. Mereka semakin dekat dengan sumber suara. Ternyata suara itu berasal dari sebuah ruang kerja di ujung lorong yang pintunya sedikit terbuka.
Detektif Rian mengintip sedikit lewat celah pintu. Di dalam ruangan itu, ada tiga orang pria. Dua orang sedang duduk di tepi meja sambil merokok, dan satu orang lagi—yang dikenali Putri sebagai Pak Joko—sedang berdiri di dekat jendela sambil memegang ponsel, tampak sedang gelisah. Dan di sudut ruangan, di atas sofa tua, terlihat Rara yang sedang tidur dengan mata tertutup, tangannya terikat lembut di pergelangan tangan, dan mulutnya ditempel plester medis.
Putri ingin sekali saja berlari masuk dan memeluk adiknya, tapi dia tahu itu akan membahayakan nyawa Rara. Dia menahan diri sekuat tenaga, matanya tak lepas dari sosok kecil adiknya.
Detektif Rian berbisik pelan ke telinga anggota di sebelahnya, lalu memberi isyarat. Tiba-tiba, dia dan timnya menerobos pintu ruangan itu dengan keras.
"POLISI! JANGAN BERGERAK! TARUH SENJATA!" teriak Detektif Rian lantang.
Ketiga pria di dalam ruangan itu terkejut setengah mati. Pak Joko menjatuhkan ponselnya dari tangan, wajahnya pucat pasi. Dua pria lainnya langsung bangkit dan mencoba meraih senjata yang terselip di pinggang.
"JANGAN BODOH! KALIAN SUDAH DIKEPUNG!" teriak Rizky yang ikut masuk di belakang polisi, suaranya menggema di ruangan itu.
Salah satu pria yang panik malah berniat lari ke arah sofa dan menarik Rara sebagai perisai. "JANGAN MAJU! ATAU ANAK INI YANG MATI!" teriaknya sambil mencengkeram leher Rara dan menodongkan pistol ke kepala anak itu.
Rara terbangun karena kaget, matanya terbelalak ketakutan, dan dia mulai menangis tersedu-sedu di balik plester di mulutnya.
"RARA!" teriak Putri tak kuasa menahan diri lagi, dia ingin maju tapi Rizky menahannya.
"Jangan sentuh adikku! Lepaskan dia!" teriak Putri, suaranya pecah.
Pria itu semakin panik, jarinya mulai menekan pelatuk pistolnya. Situasi menjadi sangat genting.
"Hei! Lihat aku!" tiba-tiba suara Rizky terdengar tenang namun berwibawa. Dia perlahan maju selangkah, mengangkat tangannya menunjukkan dia tidak bersenjata. "Kau mau apa? Uang? Aku bisa memberimu uang. Banyak. Lebih banyak dari yang Pak Darmawan berikan padamu. Lepaskan anak itu. Dia tidak bersalah. Dia cuma anak kecil."
Pria itu menatap Rizky dengan ragu, matanya berkilat greed (keserakahan). "Diam! Kau pikir aku bodoh? Kalau aku melepaskan dia, kalian akan menembakku!"
"Tidak, aku janji. Kalau kau melepaskan dia, aku akan membiarkanmu lari. Polisi di sini akan fokus padaku. Kau punya kesempatan," bujuk Rizky, matanya tajam menatap mata pria itu, mencoba memanipulasi psikologisnya.
Saat pria itu sedikit teralihkan perhatiannya dan lengah karena tawaran uang, Detektif Rian yang sudah mengambil posisi di samping memberikan isyarat cepat pada anggotanya. Dalam sekejap mata, seorang penembak jitu polisi yang sudah bersiap di luar jendela melepaskan tembakan tepat ke tangan pria yang memegang pistol itu.
DOR!
"AAAAAAHHHH!" jerit pria itu kesakitan, pistolnya terjatuh ke lantai.
Saat itu juga, Rizky berlari secepat kilat, menubruk pria itu hingga terjatuh ke lantai. Anggota polisi lainnya segera melompat masuk, memborgol ketiga pria itu termasuk Pak Joko yang sudah pasrah dan gemetar ketakutan.
Putri langsung berlari menghampiri sofa di sudut ruangan. "Rara! Rara!"
Rara yang melihat kakaknya langsung menangis lebih keras, berusaha merentangkan tangannya yang terikat. Putri segera berlutut, melepaskan ikatan di tangan Rara dan plester di mulut adiknya dengan tangan gemetar.
"Kakak... Kakak Putri..." isak Rara, lalu langsung memeluk leher kakaknya erat-erat. "Rara takut, Kak. Rara mau pulang. Rara mau sama Kakak."
"Ada Kakak di sini, Sayang. Ada Kakak. Maafkan Kakak... maafkan Kakak sudah terlambat," bisik Putri sambil menangis, memeluk tubuh kecil adiknya yang hangat dan bergetar itu seerat mungkin. Dia mencium kepala Rara berkali-kali, merasa bersalah luar biasa karena membiarkan adiknya mengalami ketakutan seperti ini.
Rizky yang sudah memastikan ketiga penculik diamankan oleh polisi, segera mendekati mereka dan berlutut di samping Putri dan Rara. Wajahnya penuh luka dan keringat, tapi matanya penuh kasih sayang.
"Rara, Paman Rizky di sini," ucap Rizky lembut. Rara menoleh, lalu melepaskan pelukannya dari Putri dan memeluk Rizky juga. "Terima kasih, Paman. Terima kasih sudah datang."
Rizky membelai rambut Rara, lalu menatap Putri. Mata mereka bertemu, dan di sana, di tengah ruangan tua yang berantakan itu, ada rasa lega yang luar biasa, cinta yang mendalam, dan rasa syukur karena mereka berhasil melewati bahaya itu bersama-sama.
Detektif Rian mendekati mereka, napasnya juga terengah-engah. "Selamat, kalian. Kita berhasil menyelamatkan Rara. Dan berkat ini, kita punya bukti kuat untuk menuntut mereka semua, termasuk Pak Joko yang ternyata dalang di balik penculikan ini."
Pak Joko yang sudah diborgol, digiring melewati mereka. Dia menatap Putri dan Rizky dengan tatapan penuh penyesalan dan ketakutan. "Maafkan saya, Tuan Muda... Nona Putri... Saya terpaksa... Pak Darmawan mengancam akan membunuh keluarga saya kalau saya tidak menurut..."
"Tindakanmu tidak bisa dibenarkan, Pak Joko," kata Rizky dingin. "Kau menculik anak kecil. Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu."
Pak Joko menunduk lesu saat digiring keluar oleh polisi.
Malam itu, mereka kembali ke kota dengan selamat. Rara dibawa langsung ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut, meski dokter memastikan Rara hanya mengalami sedikit syok dan kelelahan, tidak ada luka fisik yang serius berkat ketenangan dan kecerdikan Rara sendiri.
Putri duduk di samping ranjang rumah sakit, memegang tangan Rara yang sudah tertidur lelap dan tenang. Rizky berdiri di pintu kamar, mengamati mereka berdua dengan perasaan yang campur aduk.
Bagian kedua dari perjalanan mereka, "Permainan Bayangan", telah berakhir. Pak Darmawan sudah tertangkap, Pak Hidayat sudah menyerah, dan sisa-sisa ancaman kini mulai terurai. Namun, Putri tahu, perang belum sepenuhnya usai. Masih ada proses hukum yang panjang, masih ada bayang-bayang masa lalu yang belum sepenuhnya hilang. Tapi untuk malam ini, dia bersyukur. Dia memiliki Rizky, dia memiliki Rara, dan mereka semua aman.
Putri menatap Rizky yang tersenyum tipis padanya dari kejauhan. Dia tahu, apa pun yang akan terjadi di depan, mereka akan menghadapinya bersama-sama. Keadilan sudah di depan mata, dan cinta mereka telah terbukti lebih kuat dari segala kejahatan.
[PERTANYAAN UNTUK PEMBACA]: Penculikan Rara akhirnya berakhir dengan selamat berkat kerja sama tim yang solid dan keberanian Rizky serta Putri. Pak Joko dan anak buahnya tertangkap, dan Rara kembali dalam pelukan keluarga. Namun, Pak Hidayat masih dalam tahanan dan Pak Darmawan belum diadili. Jika kamu menjadi Putri, bagaimana perasaanmu saat ini setelah semua bahaya berlalu? Apakah kamu sudah siap memaafkan masa lalu dan melangkah maju, atau masih ada rasa dendam yang tersisa di hatimu?