NovelToon NovelToon
Blood Of Sin - Tsumi No Chi

Blood Of Sin - Tsumi No Chi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: samSara

罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5 - Yamaguchi part I

...**...

...罠の中の血...

...-Wana no Naka no Chi-...

...'Darah dalam perangkap'...

...⛩️🏮⛩️...

Keesokan harinya.

Hari itu, Noa tidak pergi bekerja. Walaupun ia bersikeras tetap ingin bekerja, namun Tuan Nishikawa memaksanya untuk libur begitu mengetahui kabar duka yang menimpa Noa dan memberinya tiga hari berduka. Waktu luang yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menenangkan diri. Meski di hatinya, Noa tahu duka itu takkan hilang begitu saja. Ia menghabiskan siang dengan diam, menata rumah, dan menatap halaman yang kini terasa sunyi.

Ada keheningan baru yang melekat—keheningan setelah seseorang benar-benar pergi. Tidak ada batuk. Tidak ada suara mangkuk. Tidak ada napas berat. Rumah itu... benar-benar miliknya sekarang. Dan karena itu, terasa asing.

Malam itu, rumah tak lagi menjadi rumah. Lebih mirip cangkang yang ditinggal pemiliknya. Noa hanyalah bayang terakhir yang tertinggal di dalamnya. Ia tertidur di beranda, atau mencoba tidur.

Pilihannya tidur di luar karena di dalam rumah masih selalu terbayang ibunya. Matanya terbuka, tubuh meringkuk, tetap menggigil walaupun dengan selimut berlapis di udara malam yang menusuk tulang. Tidak ada lampu, tidak ada suara kecuali desir angin dan derak bambu yang beradu seperti bisikan arwah yang sibuk berbicara.

Ia menoleh ke samping, sejenak merasa diawasi dari balik pohon. Namun ketika ia menatap ke sana, hanya gelap dan ranting. Tidak ada siapa-siapa.

"Apa sekarang aku mulai berhalusinasi," gumamnya pelan.

Dan itulah saatnya.

Saat dunia menjadi begitu hening, biasanya tanda awal bahwa ada yang tidak beres.

Seekor burung gagak terbang rendah di atas rumah, lalu menghilang ke dalam kabut. Seekor anjing menyalak jauh di ujung desa, kemudian terdiam, seolah diperintah untuk bungkam.

Noa mulai merasa dadanya sesak. Tapi tak tahu kenapa.

Ia mencoba bangkit ketika mendengar bunyi langkah tidak berat, tapi terlalu berat untuk penduduk desa. Ia menoleh.

Tidak ada siapa-siapa di jalan tanah depan rumah. Tapi ketika ia kembali melihat ke pintu rumah... pintu itu sudah terbuka sedikit.

Noa mematung.

Tubuhnya kaku. Ia merasa seperti mimpi. Tapi suara derit lantai tatami yang diinjak perlahan dari dalam rumah... itu nyata.

Satu detik. Dua detik. Napasnya tertahan, dan...

Seseorang keluar dari balik pintu. Tinggi. Tubuhnya berbalut mantel gelap. Wajahnya tak terlihat. Hanya dua mata menyala samar oleh pantulan cahaya dari senter kecil di tangannya.

"Nakamura Noa...," suara itu tenang.

Lembut seperti seseorang yang sedang membacakan nama di kelas.

Tetapi ada aura kematian di balik intonasinya.

Noa tak menjawab. Tubuhnya membeku.

"... Oretachi to issho ni koi."

(... Ikutlah dengan kami)

Noa seketika menegang. Nada bicara mereka berbeda—bukan suara yang biasa ia dengar dari warga desa. Ada sesuatu yang aneh, asing. Mereka berbicara dengan dialek Tokyo, bukan dialek Shugitani yang familiar. Otak Noa langsung menangkap bahwa ini orang luar, dari kota besar—Tokyo.

Meski begitu, rasa takut dan kewaspadaan membuatnya tetap menempel pada kebiasaannya. Ia menanggapi dan berbicara dalam dialek asli Shugitani, suara dan intonasinya alami, tapi setiap kata disampaikan dengan kalimat tertekan.

"Waté... waté... antara, dare dosu...?"

(Aku... Aku... siapa kalian... ?)

Pria itu tidak menjawab. Dari balik pohon di sisi rumah, dua sosok lagi muncul.

Mereka semua bergerak tenang. Tidak tergesa. Tidak kasar. Seperti mereka tahu gadis ini takkan ke mana-mana.

Dan mereka benar.

Satu tangan menepuk bahunya.

Yang lain menaruh sesuatu ke wajahnya, bau logam dan bunga kering menyergap hidungnya.

Gas.

Noa menjerit atau pikirnya ia menjerit. Tapi suara itu tak sempat keluar. Tubuhnya roboh ke tanah, ringan, perlahan... seperti daun yang gugur tanpa suara.

...⛩️🏮⛩️...

...Minato – Tokyo...

...Esok hari, Menjelang Petang...

Markas Utama Klan Yamaguchi-gumi.

Semburat cahaya jingga masih menyorot rendah di pelataran batu ketika deretan mobil hitam berhenti tanpa suara. Bayangan-bayangan bersenjata turun lebih dulu, mengamankan perimeter dengan gerakan yang terlalu terlatih untuk disebut manusia biasa.

Lalu, dari kursi belakang mobil tengah, tubuh mungil itu ditarik keluar.

Nakamura Noa.

Tertidur setengah sadar, rambut menutupi sebagian wajah, pipi pucat, bibir retak. Kakinya terseret. Tangan terikat di belakang. Sehelai piyama lusuh menempel di kulitnya seperti kain kafan.

Ia seperti bukan manusia.

Seperti barang yang baru saja dijemput dari gudang.

Mikami Torao berdiri tegak menyambut mereka di depan pintu utama, aura wibawanya tak terbantahkan. Saat rombongan penjemput Noa tiba, mereka segera membungkuk dalam-dalam, sikap tunduk penuh hormat pada sosok orang ketiga setelah Oyabun. Torao hanya membalas dengan sedikit tundukan kepala.

Dan dari sisi koridor utama yang menghadap halaman depan, Kuroda membeku.

Tubuhnya kaku. Mata tidak berkedip. Wajahnya perlahan berubah.

Rin.

Nama itu melintas seperti kilat.

Begitu cepat, begitu menyakitkan.

Gadis itu tampak seperti Rin.

Bukan wajahnya, tapi caranya berdiri atau lebih tepatnya, cara tubuh itu mencoba bertahan dalam ketidakberdayaan.

Dan... garis halus di bawah matanya.

Persis seperti milik Nakamura Misao alias Rin.

Tunggu... apa itu anaknya?

Kuroda melangkah setengah maju, tapi langkah itu kehilangan tenaga.

Gadis itu harusnya tersembunyi. Dan sekarang sudah tumbuh remaja.

Kini ia ada di sini.

Di jantung sarang.

Di bawah kaki Oyabun.

Kuroda menggertakkan gigi. Tangannya mengepal tanpa sadar. Matanya tidak bisa lepas dari tubuh gadis yang kini dibawa masuk oleh dua pria bersarung tangan hitam. Ia merasa kecolongan. Tak berdaya. Tak bisa berbuat apa-apa.

Gadis itu bukan ditangkap. Ia seolah dijemput.

Dan Kuroda bahkan tidak tahu.

Sementara itu, dari balkon atas, seorang pria muda—Akiro memperhatikan dengan dahi sedikit berkerut.

Tidak ada ekspresi di wajahnya—seperti biasa. Tapi matanya mengamati dengan teliti, seperti mencoba menyusun potongan puzzle yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Ano onna no ko wa dare?" (Siapa gadis itu?) gumamnya.

Tidak ada yang menjawab.

Wajahnya tenang, tapi pikirannya berputar.

Ia mengingat semua laporan, semua daftar nama, semua instruksi. Tapi tidak pernah ada tentang gadis muda dalam agenda klan.

"Dōshite kanojo o honbu ni tsurete kita no?"

(Kenapa dia dibawa ke markas utama?)

Tak ada yang menjelaskan.

Akiro turun perlahan dari balkon, menyusul Kuroda di halaman batu. Keduanya berdiri tanpa kata, menatap pintu yang kini menelan Noa ke dalam rahasia.

Kuroda akhirnya bicara, suaranya rendah dan penuh tekanan.

"Ano musume wa..."

(Gadis itu....)

Akiro meliriknya. "Ojii-san*, kanojo no koto o gozonji desu ka?" (Kau mengenalnya, Paman?)

Kuroda tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap kosong ke arah pintu, seperti melihat hantu masa lalu.

Kalau itu memang anaknya Rin... berarti rahasia yang seharusnya tak pernah ada, kini muncul kembali.

Dan itu berarti ia gagal.

...⛩️🏮⛩️...

Di ruangan kayu dengan lampu kertas yang redup, Oyabun duduk bersila menghadap altar kecil. Asap dupa melayang lambat di antara bayangan dinding.

"Mō tsuita no ka?" (Sudah tiba?) tanyanya, tanpa menoleh.

"Hai!, Oyabun," jawab suara di belakang.

"Bagus."

Suara itu pelan. Tapi terasa seperti pisau dingin yang menyentuh kulit.

Ia menoleh ke arah pintu geser yang sedikit terbuka, seolah berbicara pada kegelapan itu.

"Sono chi ga hontō ni isan nara, karada ga kataru hazu da."

(Jika darahnya memang warisan, maka tubuhnya akan bicara)

Ada jeda sejenak. Kemudian sambil menghembuskan napas, ia melanjutkan,

"Zen'in o hondō ni atsumero."

(Kumpulkan semua orang di aula utama)

...—つづく—...

*panggilan paman dengan hormat

1
Faeyza Al-Farizi
kamu seneng, kok aku justru ketar ketir Noa 😭😭😭
Faeyza Al-Farizi
makanya jangan disakitin 🫵
Faeyza Al-Farizi
aaaah.... sama 😌😌, ini di sini kamu kelihatan baik, nggak cuma kelihatan kan? emang asli baik?
Faeyza Al-Farizi
Kimura sama Hane sama?
Faeyza Al-Farizi
itulah tantangan jadi pedagang, yang di stok bukan cuma barang tapi sabar dan senyuman, kalau enggak pelanggan bakal 😌
Faeyza Al-Farizi
Tetap aja Nak... bocil macam kamu tuh justru banyak di titeni
Faeyza Al-Farizi
Hadeh akang Hane... tolong ya Kak Author perjelas statusnya, biar aku bisa jelass harus dukung atau demo ke si akang Hane ini
Faeyza Al-Farizi
aku harap seenggaknya kamu simpati lah 🥴
Faeyza Al-Farizi
lebih manfaat kalau hidupmu bikin orang lain nyaman, tentram, sehat 🥲
Faeyza Al-Farizi
Halah Hane... milikilah hati sedikit, atasanmu gak bakal tau kalau kamu kasih dia soklat barang sebatang... apalagi kalau coklatnya cuma bungkusnya dalemnya emas 😌😌, tapi ini kayaknya cuma hayalan pembaca yang kepalanya udah berat sama rasa kasihan sama Noa.
Faeyza Al-Farizi
ini pak Tadashi siapanya Noa? ayahnya ? ngapain ngawasin dari jauh kalau emang kau ayahnya. datengin kek. minimal kalau gak mau ngakuin santunin, berobatin ibunya, jangan cuma kirim mata-mata, gak guna
Faeyza Al-Farizi
Udah capek, mana pake ada bau kejahatan pula ini, heran masih ada yang doyan nambahin deritanya 🥴
Faeyza Al-Farizi
NAK... kamu juga harus bantu dirimu 😭😭😭, ish kenapa takdirnya timpang banget begini
Faeyza Al-Farizi
😭😭😭😭 semudah itu harus banting tulang, tolong yang bikin dia lahir dengan nitipin benih ke ibu Noa, tanggung jawab woy 🫵
Bis Mika
Ceritanya keren sekali, aku suka ritme yang diatur author
Selens ana
🔥🔥🔥🔥
Bis Mika
Keren banget thor gimana km segitu niatnya bikin cerita yg atmosferik kayak gini🥹🔥
Bis Mika
huhuuu kasihan sekali baby merah itu, kenapa teganya ada manusia yang mau memalsukan kondisinya saat lahir 😔
Een Nuraeni
Kisah perempuan yang bahkan harus menyembunyikan kelahiran bayinya, mengganti identitas dan pergi sejauh mungkin untuk melindungi si bayi.

Dia bukan istri, bukan selir, cuma perempuan yang di takdirkan untuk melahirkan seorang bayi yang mungkin bisa saja menjadi ancaman untuk klan di masa depan.

prolog aja udah di suguhi cerita yang wah banget, penasaran sama kehidupan Rin dan bayinya nanti.
Een Nuraeni
Sesuatu yang di tutupi pada akhirnya emang bakal ketauan juga, tapi... tapi.... kalau sampai Rin dan bayinya ketemu, kira-kira apa yang bakal terjadi ya?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!