Di mata dunia, Banyu hanyalah seorang pemuda desa putus sekolah yang tidak memiliki masa depan. Kehilangan kakeknya dan divonis memiliki penyakit bawaan membuat hidupnya seolah menemui jalan buntu. Namun, roda nasib berputar 180 derajat ketika Banyu secara tak sengaja mewariskan sebuah artefak kuno Kendi Penyuling Jiwa milik sang kakek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Air Sakti atau Air Got?
Bisnis sawi Banyu semakin lancar. Pasokan Cairan Ajaib yang meningkat membuatnya bisa menyiram seluruh kebun belakang tanpa irit-irit lagi. Rutinitasnya kini mapan: setiap tiga hari, dia menyiram tanaman, menenggak dua tetes untuk "doping" pribadinya, dan sesekali menyelinap ke Dimensi Kendi untuk mengecek proyek rahasianya: Ginseng.
Di dalam dimensi itu, waktu seolah dibengkokkan. Ginseng-ginseng yang baru ditanam kurang dari sebulan lalu kini sudah rimbun, daunnya hijau tua, dan akarnya... ah, Banyu belum berani mencabutnya. Tapi insting petaninya mengatakan, Ginseng ini kualitasnya setara dengan Ginseng liar berusia puluhan tahun. Dia berencana membiarkannya lebih lama lagi. Semakin tua umurnya, semakin gila harganya.
Sementara itu, efek "doping" Cairan Ajaib pada tubuh Banyu makin terasa signifikan.
Banyu, yang dulunya ngangkat galon air aja gemeteran, sekarang bisa memanggul dua karung beras sekaligus sambil lari kecil. Stamina badaknya membuat dia bisa mencangkul seharian tanpa ngos-ngosan. Refleksnya juga tajam; nyamuk yang terbang lewat bisa dia tangkap dengan dua jari layaknya pendekar kungfu.
Tapi, kekuatan besar tanpa kendali kadang membawa petaka.
Siang itu, Banyu sedang membabat semak belukar liar di pojok kebun. Tanaman liar ini bandel, batangnya keras. Banyu mengayunkan sabitnya dengan tenaga penuh, lupa kalau ototnya sekarang sekeras baja.
Sreeet!
Sabit itu membelah batang semak seperti memotong tahu, tapi ayunannya terlalu kencang hingga tak terkendali. Mata sabit yang tajam meluncur menghantam lengan kiri Banyu.
Crasss!
Darah segar muncrat. Lukanya dalam, menganga lebar hingga tulang putihnya terlihat samar.
"Anjrit!"
Rasa sakit baru datang belakangan. Banyu meringis, menekan lukanya kuat-kuat. Keringat dingin mengucur di dahi. Sebagai orang awam, dia tahu luka sedalam ini butuh jahitan. Minimal sepuluh jahitan di IGD.
"Sial, duit lagi... duit lagi..." rutuk Banyu sambil berlari ke kamar mandi untuk mencuci luka. Dia membayangkan biaya rumah sakit yang bakal menguras tabungannya. Mending duitnya buat beli batu akik daripada bayar dokter.
Tapi saat dia membasuh darah di bawah keran, Banyu ternganga.
Pendarahannya berhenti mendadak.
Di depan matanya sendiri, jaringan daging yang robek itu bergerak merapat. Sel-sel kulit baru tumbuh dengan kecepatan yang tak masuk akal, membentuk lapisan scab (koreng) tipis yang menutup luka. Dalam hitungan menit, luka menganga itu tinggal goresan merah panjang.
"Gila... Gue jadi Wolverine?"
Banyu menyentuh bekas luka itu. Sakitnya sudah hilang, tinggal rasa gatal proses penyembuhan.
"Kalau gini caranya, gue bisa jadi stuntman film action. Gak perlu asuransi kesehatan lagi!"
Banyu tertawa sendiri, membalut lukanya dengan perban alakadarnya lalu kembali bekerja.
Sore harinya, Banyu baru saja selesai menyiram kebun dengan air campuran khusus (air sumur + 1 tetes Cairan Ajaib) ketika dia melihat Laras pulang.
Laras terlihat kacau. Wajah cantiknya pucat pasi seperti mayat hidup. Kantung matanya hitam. Sebulan ini dia memang lembur gila-gilaan mengejar target proyek kantor. Ditambah lagi, hari ini adalah hari pertama periode bulanannya, membuat badannya lemas bukan main.
Dia berjalan gontai menaiki tangga menuju kamarnya.
"Eh, Laras. Baru balik?" sapa Banyu dari bawah tangga, masih memegang gayung.
Laras menoleh, tersenyum lemah. "Iya, Mas. Capek banget."
Suaranya lirih, nyaris tak terdengar.
"Sakit? Muka kamu pucet banget," tanya Banyu khawatir.
"Pusing dikit... mau istirahat dulu..."
Laras berbalik melanjutkan langkahnya. Tapi baru satu anak tangga, tubuhnya limbung. Pandangannya gelap. Kakinya lemas tak bertenaga.
Tubuh Laras oleng ke belakang, jatuh bebas dari tangga.
"Laras!!"
Mata Banyu membelalak. Jarak mereka sekitar tiga meter. Orang normal butuh waktu dua detik untuk bereaksi. Tapi Banyu bukan orang normal lagi.
Otot kakinya meledakkan tenaga. Dia melesat seperti peluru.
Dalam sekejap mata, sebelum punggung Laras menghantam lantai beton, sepasang lengan kekar sudah menyambarnya.
Hap!
Banyu menangkap tubuh Laras dengan posisi bridal style yang sempurna. Dampak benturan itu membuat luka di lengan kiri Banyu sedikit nyeri, tapi dia tidak peduli.
Laras membuka mata perlahan, mendapati wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Banyu yang cemas. Aroma keringat Banyu bercampur wangi tanah basah menusuk hidungnya anehnya, baunya maskulin dan menenangkan.
"Ka-kamu... nangkep aku?" Laras tergagap, wajah pucatnya mendadak merona.
"Untung gue gercep. Kalau enggak, bisa gegar otak kamu," kata Banyu sambil menurunkan Laras pelan-pelan ke kursi teras. "Duduk dulu. Jangan gerak."
"Makasih ya, Mas... Aduh, kepalaku muter..." Laras memijat pelipisnya.
Banyu melihat kondisi Laras yang drop parah. Instingnya langsung bekerja. Dia butuh booster energi instan.
"Tunggu bentar. Jangan kemana-mana."
Banyu berlari ke ember penyiramannya. Di sana masih ada sisa air campuran Cairan Ajaib yang belum disiramkan. Dia menyambar gelas bersih di meja teras, menciduk air dari ember itu.
Itu air sumur mentah. Tapi sudah dicampur Cairan Ajaib. Bagi Banyu, ini lebih ampuh dari obat dokter manapun.
Dari balik jendela kamarnya, Rudi mengintip dengan mata menyala. Dia melihat semuanya. Dia melihat Banyu menangkap Laras, dan sekarang dia melihat Banyu mengambil air mentah dari ember kotor bekas nyiram tanaman.
"Nah! Kena lu!" batin Rudi girang. "Kesempatan emas buat malu-maluin si Banyu depan Laras."
Rudi menahan diri, menunggu momen yang tepat untuk melabrak.
Di teras, Banyu menyodorkan gelas berisi air itu ke Laras.
"Minum ini, Ras. Dikit aja. Ini 'jamu' rahasia keluarga gue. Dijamin langsung seger."
Laras menatap air bening di gelas itu ragu. "Ini... air apa, Mas? Kok dingin?"
Laras tahu pantangan minum air dingin saat haid. Tapi melihat ketulusan di mata Banyu, dan rasa hausnya yang mencekik, dia tidak enak menolak.
"Percaya sama aku. Ini bukan air biasa. Ini obat paling manjur yang bikin aku sembuh total dari sakit jantung."
Kata-kata "sembuh total" itu punya daya magis. Laras akhirnya menurut. Dia menyesap sedikit.
Glek.
Aneh. Airnya dingin, tapi begitu masuk tenggorokan, rasanya berubah hangat. Sensasi hangat itu mengalir ke perutnya, meredakan kram yang menyiksa, lalu naik ke kepala, mengusir rasa pening. Energinya yang terkuras seolah diisi ulang dengan cepat.
Laras terkejut. Dia meneguk lagi, kali ini lebih banyak. Sampai habis.
Wajah pucatnya perlahan kembali berwarna. Matanya kembali bersinar.
"Mas... ini air apa sih? Kok enak banget? Badanku langsung enteng," tanya Laras takjub.
Banyu tersenyum misterius. "Udah dibilang, rahasia perusah-"
BRAKK!
Pintu kamar Rudi terbanting keras. Rudi melompat keluar dengan gaya sok pahlawan kesiangan, telunjuknya menuding muka Banyu.
"JANGAN PERCAYA DIA, LARAS!!" teriak Rudi dramatis.
Laras dan Banyu kaget setengah mati.
"Mas Rudi? Kenapa teriak-teriak?" tanya Laras bingung.
Rudi menatap Banyu dengan jijik yang dibuat-buat. "Laras, kamu tau gak air apa yang barusan kamu minum? Itu AIR MENTAH DARI EMBER BEKAS NYIRAM TANAMAN! Air kotor! Air comberan!"
Rudi beralih menatap Banyu dengan senyum kemenangan. "Gila lu ya, Nyu! Laras lagi sakit malah dikasih air kotor! Lu mau ngeracunin dia? Apa lu mau nyantet dia pake air jampi-jampi?!"
Suasana hening sejenak. Banyu menatap Rudi dengan tatapan datar, sementara Laras melihat gelas kosong di tangannya dengan bingung.