Berabad-abad setelah perang yang menghancurkan dunia Avalon, perdamaian tidak lebih dari sebuah tirai rapuh yang menyembunyikan ambisi-ambisi kuno dan rahasia-rahasia yang telah lama terkubur. Kael Ashvern, seorang remaja dari desa Ashfall, menjalani kehidupan yang tenang—hingga sebuah tragedi mendadak memaksanya melangkah jauh melampaui batas segala yang pernah ia kenal, dan mengungkapkan bahwa kalung warisan orang tuanya adalah salah satu dari dua puluh Philosopher Stones, artefak paling kuat yang lahir dari sisa-sisa The Great War.
Diburu oleh faksi-faksi yang saling bersaing dan dibayangi oleh kekuatan gelap yang mulai menggeliat kembali, Kael perlahan memahami bahwa dirinya bukan sekadar korban takdir. Untuk bertahan hidup, ia harus menghadapi dunia di mana kekuatan besar tidak pernah datang tanpa pengorbanan.
Mampukah Kael melewati ujian-ujian yang menantinya dan mengungkap kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon celvinworks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Void Magic Tier 3
Kami bergerak seperti bayangan—teknik Lyra, dikombinasikan dengan persepsi yang ditingkatkan Azure Codex.
Kamp iblis dalam kekacauan total—hampir semua kombatan berlari menuju serangan pengalihan Arcturus dan Drian, suara pertempuran menggelegar dari sisi utara.
Kami masuk dari selatan—area yang paling sepi, penjaga minimal, perhatian teralihkan sempurna.
"Struktur komando sentral, dua ratus meter," Lyra berbisik, hampir tidak terdengar. "Jalur aman—pergi."
Kami berlari membungkuk, menggunakan tenda-tenda sebagai penutup. Sesekali ada iblis yang tertinggal terlihat—dibunuh dalam diam, belati ke titik vital, tubuh diseret ke dalam bayangan.
Menganalisis tanda-tanda sihir... ritual jangkar terdeteksi. Ruang tengah, lantai dasar. Tiga penyihir iblis—klasifikasi Tier 3, spesialisasi sihir belum diketahui. Dijaga oleh... menghitung... dua belas petarung Tier 2.
"Lima belas musuh total," aku melaporkan pelan. "Tiga penyihir di tengah, dua belas penjaga mengelilingi mereka. Semuanya tier tinggi."
"Bisa ditangani," Lyra menilai—tidak menjelaskan bagaimana dua operatif melawan lima belas iblis dianggap 'bisa ditangani', tapi kepercayaan dirinya sangat tinggi.
Kami mencapai struktur komando—dinding obsidian, rune-rune bercahaya, pintu berat yang sedikit terbuka.
Di dalam—suara-suara. Bahasa iblis, kasar dan keras, tapi Azure Codex menerjemahkannya secara real-time, "—jangkar stabil. Teleportasi Material Plane tertekan, radius sepuluh kilometer. Operatif Covenant terjebak, pasukan pengejaran mengeliminasi—"
"Bagaimana dengan Keystone? Terdeteksi sebelumnya—"
"Dikonfirmasi pemilik Azure Codex hadir. Target prioritas. Komandan memerintahkan tangkap hidup jika memungkinkan, eliminasi jika perlu—"
Mereka tahu. Secara aktif memburu aku secara spesifik.
Lyra mengisyaratkan sinyal tangan yang rumit—taktik militer,
Masuk eksplosif. Aku ambil penjaga kiri. Kamu ambil kanan. Konvergi ke tengah, eliminasi penyihir secara bersamaan. Tanpa ragu, kekerasan maksimum, presisi bedah.
Aku mengangguk mengerti.
Ia mengeluarkan bola kecil—muatan penerobos, bahan peledak magis yang dirancang untuk pintu.
Dipasang dengan hati-hati. Difungsikan. Sumbu lima detik.
Kami mundur. Menghunus senjata—pedang untukku, belati ganda untuk Lyra.
Tiga.
Dua.
Satu.
DETONASI.
Pintu itu meledak ke dalam—serpihan batu, asap, kekacauan instan.
Kami menerobos masuk—
Dua belas pejuang iblis di dalam, persis seperti yang Azure prediksi. Terkejut tapi mereka sangat terlatih—pulih cepat.
Lyra bergerak ke kiri—kabur dalam gerakan, belati berkelebat, tenggorokan iblis terbuka, pembunuhan presisi yang beruntun.
Aku ke kanan—
Bentuk Moonblade ke-Delapan, Typhoon Advance.
Tebasan berputar, bilah berlapis void, serangan area—
Tiga iblis di jalurku terbelah dua sekaligus, pemotongan dimensi menembus zirah, daging, tulang seolah tidak ada apa pun di sana.
Tiga iblis tersisa di sisi kanan menyerang—terkoordinasi, profesional, berbahaya.
Iblis pertama menusuk dengan tombak—
Bentuk ke-Empat, Deflecting Stream.
Tangkis, alihkan momentum, tebasan balik memutus gagang tombak sekaligus lengan iblis.
Iblis kedua—cakar menyapu—
Dimensional Step.
Mikro-teleportasi, dua meter ke kiri, iblis itu menyerang udara kosong.
Aku muncul di belakangnya—Bentuk ke-Lima Belas, Execution Strike—bilah menembus tulang belakangnya.
Iblis ketiga—pedang fragmen, benar-benar terampil—
Aku meladeninya dengan serius.
Benturan bilah—percikan beterbangan, realitas merintih di bawah tekanan sihir yang tidak kompatibel.
Iblis itu kuat. Berpengalaman. Bukan pion—ini level pejuang, mungkin puluhan tahun bertempur.
Ia mendorongku mundur—serangan kombinasi, tidak ada celah, tekanan tanpa henti.
"Analisis, Iblis menggunakan fragmen Crimson Judgment—Stone yang spesialisasi ofensif, meningkatkan kekuatan serangan 300%. Bentrokan langsung merugikan. Rekomendasi untuk memanipulasi void, gangguan spasial, pendekatan tidak langsung."
"Void Field."
Area di sekitarku—radius tiga meter—menjadi zona negasi. Penekanan sihir, stabilisasi realitas, peningkatan senjata fragmen dinihilkan.
Bilah iblis tiba-tiba menjadi biasa—masih tajam, masih berbahaya, tapi tanpa peningkatan signifikan.
Keunggulan sekarang ada di tanganku.
Bentuk ke-Tujuh Belas, Wind Cutter.
Tebasan berlapis void mana—bilah itu tidak hanya memotong senjata iblis.
Ia menghapusnya. Pedang itu seolah tidak pernah ada, penghapusan dimensi bersifat absolut.
Iblis itu menatap dalam keterkejutan—senjata lenyap, ketidakpercayaan terlihat bahkan di wajahnya yang tidak manusiawi—
Bentuk ke-Tiga, Flowing River.
Pemenggalan dua belas penjaga—dieliminasi. Mungkin dua puluh detik total.
Di pusat ruangan—tiga penyihir iblis tersusun dalam formasi segitiga, tangan terangkat,—membacakan ritual yang tersinkronisasi.
Mantra jangkar aktif, distorsi dimensional yang masif terlihat, ruang itu sendiri terkunci.
Dan mereka sudah memperhatikan kami sekarang—nyanyian tidak pernah berhenti, tapi mata mereka mengikuti kami, kesadaran hadir.
Satu penyihir—yang terbesar, tanduk paling rumit—berbicara tanpa memutus ritual,
"Pembawa Philosopher Stone. Pemilik Azure Codex. Komandan Azathor akan sangat membalas kami atas penangkapanmu. Menyerahlah, hidup sebagai tawanan. Melawan, mati dengan menyakitkan."
"Opsi ketiga," aku membalas. "Aku hanya perlu menghancurkan kalian semua sampai tidak ada bukti yang tersisa."
Penyihir itu tertawa—suara seperti batu yang digiling. "Bodoh. Kami adalah Penyihir Tier 3—masing-masing seorang diri setara dengan selusin pejuang. Bertiga bersama, dalam ritual jangkar kami? Kamu tidak bisa menang. Kamu tidak bisa—"
Lyra melempar pisau—akurasi sempurna, mengincar tenggorokan pembicara—
Pisau itu berhenti di udara. Membeku dalam stasis di udara.
"—kamu mengganggu."
Sialan.
Mereka tidak menggertak. Spesialis magic Tier 3 di elemen mereka—praktis tidak bisa disentuh selama ritual berlangsung. Serangan standar tidak efektif. Kita perlu...
"Ganggu ritual secara langsung," aku menyelesaikan pikiran itu keras-keras. "Azure—bisakah kamu berinteraksi dengan mantra jangkar? Ritual balasan, pengacak magis, apa saja?"
Mungkin. Jangkar menggunakan manipulasi frekuensi dimensional—aku bisa menghasilkan frekuensi berlawanan, menciptakan pola interferensi, mendestabilisasi strukturnya. Tapi memerlukan konsentrasi penuh, membuatmu rentan, butuh waktu minimum tiga puluh detik.
"Tiga puluh detik?"
Minimum. Bisa lebih lama kalau mereka melawan—dan mereka akan melawan.
Aku menatap Lyra—ia sudah mendengar melalui kedekatannya, Azure Codex memproyeksikan percakapan.
"Bisakah kamu menahan tiga penyihir Tier 3 selama tiga puluh detik?" tanyaku.
Ia mempertimbangkan—wajah tanpa ekspresi, menghitung peluang secara objektif.
"Tidak," ia menjawab jujur. "Tapi aku bisa sangat menjengkelkan selama tiga puluh detik. Mengulur waktu, tarik perhatian, menciptakan celah. Kamu lakukan bagianmu—hancurkan ritual. Aku tangani agar tidak mati."
"Kalau ini gagal—"
"Maka kita mati sudah mencoba. Lebih baik daripada tidak mencoba dan mati juga. Lakukan."
Tanpa ragu. Kepercayaan yang penuh.
"Drian, Arcturus," aku berbicara ke dalam kristal komunikasi. "Tim infiltrasi sedang menghadapi gangguan ritual jangkar. Butuh minimum tiga puluh detik. Bisakah kalian memperpanjang pengalihan?"
Suara Arcturus—tegang, terengah-engah, tapi terdengar, "Afirmatif—bertahan kuat—ratusan sudah mati—bisa bertahan—enam puluh detik mudah—"
Sebuah ledakan terdengar bahkan melalui kristal. "—MUNGKIN!"
"Cukup. Eksekusi sekarang."
"Berinteraksi lah dengan ritual. Ganggu mereka sekarang."
Ia menyeringai—buas, berbahaya. "Perhatikan."
Azure Codex aktif.
INTEGRASI PENUH.
Kesadaranku menyatu dengan Philosopher Stone—melihat melalui keahlian Pemilik Scholar, mengakses pengetahuan manipulasi dimensi, menjadi ritual balasan yang hidup.
Aku mengangkat tangan—energi void mengalir keluar, bukan menyerang iblis-iblis itu, tapi menyerang struktur ritual itu sendiri.
Frekuensi dimensional berbenturan—pola stabilisasi mantra jangkar versus medan gangguan yang kacau.
Seperti dua magnet berlawanan yang dipaksa bersama—resistensinya masif, energi yang dibutuhkan sangat besar.
Tahan... harus tahan... menganalisis matriks ritual... mengidentifikasi titik lemah... menghitung frekuensi interferensi optimal...
Sementara itu—
Lyra menyerang.
Melawan tiga Penyihir Dimensional Tier 3.
Sendirian.
Ia menari.
Tidak ada kata lain untuk itu.
Gerakan murni—kabur di antara ruang, muncul-menghilang, belati menyerang lalu mundur, tidak pernah diam, mustahil untuk ditarget.
Penyihir pertama mencoba membekukannya— seperti yang mereka lemparkan ke pisau tadi—
Ia sudah pergi sebelum mantra selesai, muncul kembali di belakang penyihir kedua, belati menggores sihir yang sudah dipasang yang memblok serangannya, tapi cukup sebagai gangguan.
Penyihir kedua mencoba himpitan spasial—gaya dari segala arah, normalnya pembunuhan instan—
Ia entah bagaimana meliuk melalui titik kompresi, momentum membawanya ke samping, tidak tersentuh.
Penyihir ketiga mencoba pengusiran—berusaha mengeluarkannya dari Material Plane sepenuhnya—
Ia melempar belati berlapis racun anti-sihir—tidak membunuh, tidak menembus sihirnya, tapi mengganggu penggunaan sihir, pengusiran itu gagal.
Ia tidak membunuh mereka. Tidak bisa—pertahanan mereka terlalu kuat, ward terlalu berlapis.
Tapi membuat mereka frustrasi. Menarik perhatian. Membuat mereka fokus padanya alih-alih padaku.
Mengulur waktu.
Persis seperti yang dijanjikan.
Lima belas detik berlalu.
Struktur ritual terpetakan—titik lemah teridentifikasi—destabilisasi simpul inti memungkinkan—butuh lonjakan output—SEKARANG!
Aku menyalurkan segalanya—cadangan mana terkuras secara cepat, 50%... 40%... 30%...
Energi void meledak—interferensi dimensional dimaksimalkan, pola kekacauan terkalibrasi sempurna—ritual itu gagal.
Sebuah retakan dalam struktur mantra jangkar, ketidakstabilan yang merambat.
Para penyihir iblis menyadarinya—nyanyian mereka terhenti sejenak, alarm terlihat.
Penyihir pemimpin meraung, "HENTIKAN DIA! BUNUH PEMBAWANYA!"
Ketiganya mengarahkan fokus ke arahku—Lyra terlupakan sejenak, kesalahan fatal—
Ia memanfaatkannya seketika.
Muncul di belakang penyihir pertama—belati berlapis racun void hasil kolaborasi pelatihan kami bersama—mengenai sihir—
Sihir itu dilemahkan oleh gangguan ritual, sifat void itu bersinergis—
Belati itu menembus.
Tidak dalam. Mungkin satu sentimeter ke bahu iblis.
Tapi cukup.
Racun masuk ke aliran darahnya—merusak dari dalam, sihir iblis itu sendiri berbalik melawannya, struktur internalnya terdestabilisasi.
Penyihir itu menjerit—memisahkan diri dari formasi, nyanyian berhenti—
Ritual itu sepenuhnya terhenti.
Mantra jangkar hancur berkeping—kunci dimensional terlepas, teleportasi memungkinkan kembali.
Berhasil!
Tapi dua penyihir yang tersisa—berang.
"KAMU BERANI—"
Penyihir pemimpin mengisyaratkan—retakan spasial terbuka, menarik aku menuju dimensi iblis, Neraka itu sendiri—
Lawan sekarang! Lonjakan Void Penuh!
Tidak ada yang ditahan lagi. Tidak ada pengekangan.
VOID MAGIC TIER 3—UNRESTRICTED.
Semua yang sudah kusembunyikan. Semua yang sudah kusupres dengan hati-hati untuk menghindari perhatian.
DILEPASKAN.
VOID DOMAIN.
Bukan medan tiga meter ataupun bola sepuluh meter.
Seluruh area komando.
Radius lima puluh meter—void murni, negasi absolut, stabilitas dimensional yang dipaksakan.
Semua yang ada di dalam—sihir berhenti berfungsi. Sihir runtuh, mantra luruh, dan senjata fragmen dipadamkan. Realitas itu sendiri menjadi netral.
Iblis-iblis yang terjebak di dalam—makhluk yang bergantung pada sihir—tiba-tiba melemah.
Bukan tidak berdaya. Masih berbahaya secara fisik. Tapi kekuatannya berkurang dengan signifikan.
Dan aku—dalam Void Domain milikku sendiri—diperkuat.
Seperti ikan dalam air. Burung dalam udara. Elemen naturalku.
Pempimpin mereka mencoba mengucapkan mantra—tidak ada yang terjadi. Gerakan yang sia-sia, mantra yang mati, kekuatan yang dinihilkan.
"MUSTAHIL! PENGUASAAN VOID TIER 3?! KAMU TAHUN PERTAMA—BAGAIMANA—"
Aku tidak menjawab.
Dimensional Step—muncul langsung di hadapannya.
Bentuk Moonblade ke-Dua Puluh—Saint Slash Technique.
Ya. Bentuk Dua Puluh. Diajarkan Ayah dua minggu lalu—eksperimental, dan berbahaya, belum seharusnya digunakan.
Tapi aku akhirnya menggunakannya juga.
"Eclipse Severance."
Bilahku dilapisi energi void yang begitu padat hingga tampak hitam—bukan ketiadaan cahaya, melainkan mengkonsumsi entitas cahaya itu sendiri.
Tebasan.
Tidak memotong iblis itu.
Memotong ruang yang iblis itu tempati.
Realitas itu sendiri terputus—iblis itu ada, lalu tidak ada, koordinat dimensional terhapus, keberadaannya menghilang secara absolut.
Tidak ada tubuh, tidak ada darah, bahkan tidak ada sisa.
Lenyap.
Penyihir kedua—mulai panik—mencoba melarikan diri—
Void Domain mencegah pelarian dimensional. Terjebak.
Lyra muncul—belati berkelebat—satu di tenggorokan, satu di jantung, keduanya dalam, keduanya mematikan.
Iblis itu ambruk. Dua sudah dieliminasi.
Penyihir terakhir—yang diracuni Lyra sebelumnya—merangkak menjauh, membacakan mantra penyembuhan yang putus asa, hampir tidak berfungsi.
Aku mendekat perlahan. Pedang terangkat.
Ia mendongak—mata melebar, sungguh-sungguh ketakutan.
"Ampun—tolong—aku menyerah—informasi—aku bisa memberikan informasi—rencana Shadow Syndicate, pergerakan Demon King, lokasi Stone—apa saja—tolong—"
Aku terdiam sejenak.
Iblis pertama yang memohon ampun. Penawaran menyerah yang sungguh-sungguh pertama.
Bunuh atau biarkan hidup?
Lyra di sampingku, suaranya dingin. "Pengetahuan itu berharga. Tapi mempercayai iblis? Berisiko. Terserah kamu."
Ia benar-benar ketakutan—nyata. Tidak berpura-pura. Bisa memberikan informasi tapi juga potensi jebakan, mata-mata, risiko informasi yang menyesatkan. Secara strategis—
"Bunuh dia," aku memutuskan.
"Kita tidak bisa mengamankan tawanan, tidak bisa memverifikasi informasi yang diberikan, tidak bisa mengambil risiko dia memperingatkan yang lain."
Mata penyihir itu melebar—pengkhianatan, kemarahan, keputusasaan—
Moonblade Sword Technique, bentuk ke-Lima Belas.
Eksekusi selesai.
Void Domain runtuh—kelelahan memaksanya dilepaskan, mana terkuras 90%, hampir tidak bisa berdiri.
Tapi—
Ritual dihancurkan. Jangkar pecah. Teleportasi memungkinkan.
"Arcturus, Drian—jangkar dieliminasi! Ekstrak sekarang!"
Balasan Arcturus segera, "Diterima—konvergen ke posisimu—"
Sebuah ledakan mengguncang seluruh struktur.
"—DIKEJAR DUA RATUS IBLIS—LARI!"
Tentu saja.
Lyra meraih lenganku—menopang bobotku, aku hampir tidak bisa berjalan, kelelahan mana sangat parah.
Di luar struktur komando—kekuatan iblis sedang kembali, ratusan dari mereka, berang oleh kerusakan yang dilakukan tim pengalihan.
Dan Arcturus serta Drian—berlari ke arah kami, puluhan iblis langsung di belakang mereka, lebih banyak yang konvergen dari sisi-sisi lain.
"DRIAN—TRANSIT SEKARANG!" Arcturus berteriak.
"MENGHITUNG—KOORDINAT TERKUNCI—TAHAN DUA DETIK!"
Dua detik.
Melawan dua ratus iblis.
Arcturus menancapkan kakinya—kapak perang bersinar dengan aura yang membuatku merinding, tingkat kekuatan melonjak terlihat bahkan oleh persepsiku yang sudah kelelahan.
"PENGHAKIMAN ILAHI!"
Gelombang kejut—cahaya keemasan, energi pemurnian, iblis dalam radius sepuluh meter diuapkan, puluhan lainnya terlempar mundur, serangan terhenti sejenak.
Satu detik.
Iblis-iblis itu pulih—menyerbu lagi, jumlah yang luar biasa banyak, tanpa henti—
Drian menyelesaikan perhitungan—retakan dimensional terbuka, portal berputar, pelarian terlihat—
"LEWATI SEKARANG! PERGI PERGI PERGI!"
Lyra melemparku ke arah portal—aku tersandung masuk—
Realitas melintir—
Arcturus menyelam masuk—
Drian terakhir—portal menutup saat puluhan cakar iblis meraih—
SNAP.
Portal tertutup.
Teleportasi.
Kami terwujud—lokasi yang sepenuhnya berbeda.
Ruang batu kecil. Rumah aman darurat. Masih di wilayah utara, tapi empat puluh kilometer dari kamp iblis.
Aku langsung ambruk—kelelahan mana, kelelahan fisik, kelelahan mental—semuanya menghantam bersamaan.
Ketidaksadaran menimpaku.
Aku sadar perlahan—tubuh pegal, kepala berdenyut, mulut kering seperti gurun.
Lyra duduk di dekatnya, membersihkan belati-belatinya secara metodis. Ia memperhatikan aku bergerak.
"Air," ia menawarkan, menyerahkan tempat air minum.
Aku minum dengan rakus. "Yang lain?"
"Hidup. Arcturus dan Drian di luar, membangun perimeter, mengirim laporan. Kita aman—untuk sementara."
"Misinya?"
"Berhasil. Informasi dikumpulkan, ritual dihancurkan, tujuan sabotase tercapai. Korban nihil, yang cedera sedikit, masih bisa ditangani. Berdasarkan ukuran objektif—eksekusi yang sempurna."
Ia condong ke depan, ekspresi serius.
"Tapi Kael. Hal yang kamu lakukan tadi. Void Domain lima puluh meter. Teknik bentuk ke-dua puluh. Pengungkapan void magic penuh. Ratusan iblis menyaksikannya. Para penyihir iblis secara khusus menyaksikannya. Informasi itu akan mencapai komando Demon King. Kemampuanmu—tidak lagi rahasia. Tidak lagi tersembunyi. Kamu sudah ditandai sekarang, secara resmi."
Ia benar, Azure Codex berdenyut lemah. Kita mengungkap terlalu banyak—perlu untuk bertahan hidup, tapi konsekuensinya tidak terelakkan. Pasukan Demon King sekarang tahu, pemilik Azure Codex ada, memiliki penguasaan void Tier 3, menggunakan teknik berpedang Moonblade, adalah ancaman besar. Mereka akan berburu lebih keras. Mengalokasikan lebih banyak sumber daya. Mengirim kekuatan yang lebih besar.
"Apakah ada pilihan?" tanyaku pelan. "Sembunyikan kekuatan kita dan mati di sana? Atau ungkap semuanya, bertahan, dan hadapi konsekuensinya nanti?"
"Tidak ada pilihan," Lyra mengonfirmasi. "Kamu membuat keputusan yang benar. Keselamatan dulu. Tapi pahami—konsekuensinya sudah dalam perjalanan. Perang semakin meningkat. Dan kamu—" Ia menunjuk Azure Codex. "—kamu adalah katalisnya. Pusat dari segalanya sekarang. Prioritas target satu untuk setiap faksi yang memusuhi."
Arcturus masuk, sudah mendengar percakapan itu.
"Ia benar. Misi berhasil, tapi situasi strategis sudah berubah. Pasukan Demon King terkonfirmasi sedang berkoordinasi, memburu Philosopher Stones secara sistematis, secara spesifik menarget Celestial Aegis. Dan sekarang—mereka tahu pemilik Azure Codex beroperasi, kuat, level ancaman yang ekstrem."
Ia duduk, kelelahan tapi tenang. "Laporan sudah dikirim ke Dewan Covenant. Rekomendasi untuk penguatan vault segera, mobilisasi militer yang dipercepat, persiapan defensif yang diprioritaskan. Karena berdasarkan apa yang kita lihat—"
Ia menatap mataku dengan serius.
"—perang tidak akan datang."
"Perang sudah ada di sini."
"Iblis sedang mengumpulkan kekuatan ribuan orang. Senjata fragmen terus berkembang biak. Jangkar dimensional sedang dikerahkan. Operasi skrying sedang aktif. Serangan sudah sangat dekat—paling lambat berminggu-minggu, mungkin berhari-hari."
"Dan Philosopher Stones—persis seperti yang orang tuamu temukan—adalah katalis dari segalanya. Demon King membutuhkan Stones dihancurkan atau ditangkap untuk membuka Dimensi Neraka sepenuhnya. Kita membutuhkan Stones dipertahankan untuk menjaga penghalang realitas. Konflik tidak terelakkan. Taruhannya absolut."
Ia berdiri. "Selamat datang di perang, Pembawa Philosopher Stone. Semoga pelatihanmu sudah memadai. Karena keterlibatan berikutnya—ini bukan misi pengintaian."
"Ini akan menjadi pertempuran yang sesungguhnya."
"Dan dalam pertempuran yang sesungguhnya? Orang mati. Bahkan orang yang terampil. Bahkan orang yang siap. Bahkan orang yang beruntung."
Ia pergi—penilaiannya yang suram menggantung di udara.
Lyra selesai membersihkan belati-belatinya dan berdiri.
"Istirahat selagi bisa. Besok—kembali ke Shattered Plains, debriefing, perencanaan, persiapan. Lalu—" Ia mengangkat bahu. "—perang. Perang yang nyata. Perang yang penuh."
"Kamu akan ikut bertarung?" tanyaku.
"Tentu saja. Apa lagi yang bisa dilakukan? Bersembunyi dan menunggu iblis? Mati juga ketika penghalang runtuh? Tidak. Aku akan bertarung. Mungkin mati dalam pertarungan, tapi tetap bertarung."
Ia pergi.
Aku sendirian—kecuali Azure Codex.
Misi berhasil, Stone itu berkata pelan. Kita selamat. Mendapat intelijen. Mengganggu operasi musuh.
Juga mengungkap diri sepenuhnya. Melukis target. Menjadi ancaman prioritas.
"Penyesalan?" tanyaku.
Tidak. Keselamatan membutuhkan kekuatan penuh. Kita membuat keputusan yang benar. Hanya... sadar akan biayanya. Visibilitasnya. Eskalasi bahayanya.
"Apa selanjutnya?"
Sekarang? Kita siapkan diri. Berlatih lebih keras. Menjadi lebih kuat. Karena Lyra benar—perang sudah di sini. Dan kita ada di pusatnya. Mau atau tidak mau, Azure Codex—kamu—adalah kunci dari hasilnya.
Tujuh Sword Saint mengakhiri perang pertama.
Mungkin... satu memulai yang kedua?
"Aku bukan orang itu."
Belum. Tapi potensinya ada. Kekuatan yang kamu tunjukkan malam ini—penguasaan Tier 3, pemikiran strategis. Dengan waktu yang cukup...
Yah. Mari bertahan hidup dulu. Baru setelah itu khawatir soal status legendaris.
Aku berbaring dan menatap langit-langit.
Misi pertama. Selesai.
Selamat. Dengan susah payah.
Mengungkap terlalu banyak. Dengan terpaksa.
Perang dikonfirmasi. Sudah sangat dekat.
Dan aku—tujuh belas tahun, baru sedikit terlatih, sudah kelelahan—
Entah bagaimana ada di pusat segalanya.
"Kakek," aku berbisik ke arah ingatannya, "semoga kamu sudah cukup mempersiapkanku untuk ini."
Tidak ada jawaban. Tidak akan pernah ada.
Hanya kehadiran Azure. Stabil. Bisa diandalkan. Mitra.
Bersama, Stone itu mengingatkanku. Selalu bersama. Kita hadapi apa pun yang datang.
"Bersama," aku setuju.
Dan meski segalanya—rasa takut, kelelahan, kemungkinan yang menghimpit—
Aku merasa... siap.
Untuk bertarung. Untuk bertahan, dan berjuang.
Perang sudah di sini.
Dan aku tidak akan tinggal diam, aku akan melawan balik.