NovelToon NovelToon
Doll Controller

Doll Controller

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Summon / Spiritual
Popularitas:531
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

kekuatannya menyebabkan dia bisa mengendalikan boneka tapi semakin sering ia menggunakannya ia pun mulai di Kendalikan oleh kekuatan sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Badai Politik dan Bisikan Keraguan

Beberapa tahun telah berlalu sejak kekalahan Kresna dan pengikatan Mulut Jurang. Aethelgard telah bangkit dari abu kehancuran, jauh lebih kuat dan bijaksana dari sebelumnya. Ordo Penjaga Benang, di bawah kepemimpinan Ryo dan Lyra, telah berkembang pesat, menyebar ke seluruh pelosok kerajaan, membantu penyembuhan jiwa dan memperkuat ikatan komunitas. Ryo, sang Dalang Jiwa, telah menjadi simbol harapan dan keseimbangan. Ia masih sering meluangkan waktu di menaranya, mengamati anyaman eterik Aethelgard, memastikan simpul yang telah ia buat tetap stabil, dan merasakan denyutan setiap benang.

Namun, kedamaian adalah komoditas langka di dunia ini. Kekuatan dan kebijaksanaan Ryo, yang dulunya menyatukan Aethelgard, kini mulai menarik perhatian—dan kecurigaan—dari kerajaan-kerajaan tetangga. Desas-desus tentang "Dalang Pengendali Pikiran" dari Aethelgard mulai menyebar, memicu ketakutan lama akan kekuatan yang tidak dapat mereka pahami atau kendalikan.

Dewan Tetua dari kerajaan Valoria, sebuah kerajaan tetangga yang dikenal karena tradisi sihir rune kuno dan militerisme yang kuat, mengirim utusan ke Aethelgard. Mereka menuntut penjelasan tentang kekuatan Ryo, dan bahkan secara tersirat meminta agar Ryo menyerahkan dirinya untuk "studi lebih lanjut," atau menghadapi konsekuensi.

Raja Aethelgard, kini telah menua namun kebijaksanaannya semakin matang, merasa tertekan. Ancaman perang baru, tepat setelah mereka baru pulih dari Kekosongan, adalah sesuatu yang tidak dapat ia bayangkan.

"Mereka takut," kata Ryo kepada Lyra suatu sore, saat mereka berjalan di taman istana, di antara bunga-bunga lavender yang dulu mengingatkannya pada Elara. "Aku merasakan benang ketakutan mereka, teranyam dengan benang keserakahan dan keinginan untuk mengendalikan apa yang mereka tidak pahami."

Lyra menghela napas. "Valoria selalu menjadi kerajaan yang curiga. Mereka melihat sihir sebagai alat kekuatan dan kontrol. Konsep Dalang Jiwa yang menjaga keseimbangan, yang membebaskan, itu asing bagi mereka."

"Mereka tidak akan mengerti hanya dengan penjelasan," Ryo melanjutkan, matanya menatap tajam ke kejauhan. "Mereka perlu melihat. Mereka perlu merasakan."

Raja memutuskan untuk memanggil konferensi antar-kerajaan, sebuah pertemuan puncak diplomatik yang akan diadakan di ibu kota Aethelgard. Ia berharap Ryo dapat menjelaskan kekuatannya, dan membuktikan niat baiknya. Ini adalah taruhan besar. Jika Ryo gagal, perang mungkin tak terhindarkan.

Ryo, meskipun tidak suka dengan intrik politik, setuju. Ia tahu ini adalah bagian dari takdirnya, untuk memastikan keseimbangan tidak hanya di level eterik, tetapi juga di level dunia fana.

Lyra adalah salah satu penasihat utama Ryo dalam persiapan konferensi ini. Ia membaca setiap gulungan tentang sejarah Valoria, memahami budaya dan ketakutan mereka. Ia membantu Ryo menyusun argumen, bukan untuk meyakinkan secara paksa, tetapi untuk menumbuhkan pemahaman.

"Anda tidak perlu menyembunyikan kekuatan Anda, Ryo," Lyra menjelaskan. "Justru, Anda harus menunjukkannya. Tapi tunjukkanlah esensinya. Tunjukkan bagaimana Anda menggunakannya untuk menjaga, bukan untuk mendominasi. Biarkan mereka merasakan benang harapan yang telah Anda tenun di Aethelgard."

Pada hari konferensi, aula singgasana istana Aethelgard dipenuhi oleh perwakilan dari berbagai kerajaan. Wajah-wajah tegang, mata-mata curiga, dan bisikan-bisikan ketakutan memenuhi ruangan. Raja Valoria, seorang pria tua dengan jenggot perak yang panjang dan mata yang tajam, duduk di kursi kehormatan, memancarkan aura otoritas yang dingin.

Ryo, dengan jubah Dalang yang kini berwarna biru gelap, berdiri di tengah ruangan, ditemani oleh Lyra. Ia merasakan gelombang benang eterik yang saling bertabrakan: ketakutan, kecurigaan, ambisi, dan bahkan beberapa benang harapan yang samar.

"Dalang Jiwa," Raja Valoria memulai, suaranya berat. "Kami telah mendengar cerita-cerita yang mengganggu tentang kekuatan Anda. Kekuatan untuk memanipulasi jiwa, mengendalikan kehendak. Ceritakan kepada kami, Pangeran, bagaimana kami bisa memercayai seorang yang memiliki kekuatan sedemikian rupa?"

Ryo menatap langsung ke mata Raja Valoria. "Yang Mulia," ia memulai, suaranya tenang dan jelas. "Saya mengerti ketakutan Anda. Kekuatan ini memang besar. Namun, seperti pedang, ia dapat digunakan untuk membunuh atau melindungi. Pilihan ada pada penggunanya."

Ia menghela napas, lalu melanjutkan. "Saya tidak akan menyembunyikan apa pun. Saya adalah Dalang Jiwa. Saya dapat merasakan setiap benang kehidupan yang membentuk realitas ini. Saya dapat mengikat, mengurai, bahkan memutus."

Ruangan itu hening, para delegasi menahan napas. Lyra merasakan benang-benang ketakutan menegang.

"Namun," Ryo melanjutkan, "saya telah belajar bahwa kekuatan sejati bukan pada dominasi. Setiap benang memiliki kehendaknya sendiri, esensinya sendiri. Untuk memaksa benang itu melayani kehendak lain adalah kejahatan. Saya belajar itu dengan harga yang sangat mahal."

Ryo kemudian menceritakan kisah Elara, tentang kesalahannya di masa lalu, tentang bagaimana ia mencoba mengendalikan benang kehidupan Elara, dan bagaimana hal itu justru menyebabkan kehancuran. Ia berbicara tentang penyesalannya, tentang pengasingannya, dan bagaimana ia akhirnya menemukan kembali tujuan kekuatannya melalui Mulut Jurang dan Kresna.

"Kekosongan itu mengajarkan saya tentang batas penghancuran," Ryo menjelaskan. "Dan Kresna mengajarkan saya tentang batas manipulasi. Kekuatan Dalang Jiwa bukanlah untuk mendominasi, melainkan untuk menjaga keseimbangan. Untuk memastikan setiap benang memiliki kesempatan untuk menenun takdirnya sendiri."

"Bagaimana kami tahu Anda mengatakan yang sebenarnya?" salah satu delegasi bertanya, skeptis. "Bagaimana kami tahu Anda tidak memanipulasi kami sekarang, membuat kami percaya pada omong kosong ini?"

Ryo menghela napas. Ini adalah inti masalahnya. Bagaimana Dalang Jiwa bisa membuktikan kejujurannya ketika ia bisa memanipulasi kebenaran itu sendiri?

"Saya tidak akan memanipulasi Anda," Ryo membalas. "Melainkan saya akan menunjukkan kepada Anda. Saya akan membuat Anda merasakan. Saya akan menenun sebuah 'Anyaman Pemahaman'."

Ia mengulurkan tangannya, dan perlahan, aura eterik merah samar menyebar dari dirinya. Lyra, yang berada di sampingnya, merasakan benang-benang yang teranyam, bukan untuk mengendalikan, melainkan untuk menghubungkan. Ryo tidak mencoba mengubah pikiran mereka, melainkan mencoba membuka mereka, membuat mereka merasakan benang-benang Aethelgard yang telah ia pulihkan.

Para delegasi mulai merasakan. Mereka merasakan benang harapan dan kebahagiaan yang samar dari rakyat Aethelgard. Mereka merasakan benang ketahanan dan tekad dari Ksatria Templar. Mereka merasakan benang kedamaian yang baru saja ditemukan di Mulut Jurang. Mereka merasakan benang persahabatan dan kepercayaan antara Ryo dan Lyra.

Raja Valoria menutup matanya, merasakan gelombang emosi dan kebenaran yang membanjiri dirinya. Ia merasakan benang penyesalan Ryo yang tulus, benang tekadnya yang murni. Ia tidak lagi merasakan ancaman, melainkan sebuah janji.

Ketika Ryo menarik kembali Anyaman Pemahamannya, ruangan itu hening. Wajah-wajah yang tadinya tegang kini terlihat lebih tenang, mata yang dulunya curiga kini memancarkan pemahaman yang baru.

Raja Valoria membuka matanya. Ia menatap Ryo dengan tatapan yang berbeda. "Pangeran Ryo," katanya, suaranya kini dipenuhi rasa hormat. "Saya... saya salah menilai. Aethelgard beruntung memiliki Dalang seperti Anda."

Ryo mengangguk. "Dan Aethelgard berharap dapat menjalin benang persahabatan yang kuat dengan semua kerajaan tetangga."

Krisis diplomatik telah terhindarkan. Ryo telah membuktikan bahwa kekuatan sejati seorang Dalang Jiwa bukanlah pada manipulasi, melainkan pada pemahaman, keseimbangan, dan kemampuan untuk menenun benang-benang persatuan, bahkan di tengah badai keraguan.

Ini adalah awal dari era baru, bukan hanya untuk Aethelgard, tetapi untuk seluruh wilayah. Ryo, Dalang Jiwa, telah menemukan takdirnya sebagai penjaga keseimbangan, dan dengan Lyra di sisinya, ia siap menghadapi setiap benang kusut yang mungkin muncul di anyaman takdir dunia.

1
anggita
like👍 iklan. moga novelnya lancar.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!