Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.
Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Abu yang Berbisik dan Perjalanan ke Alam Roh
Lautan Kematian yang biasanya bergejolak oleh amukan arwah penasaran, kini mendadak hening seolah alam semesta sendiri sedang menahan napas.
Sisa-sisa Pulau Tulang yang tadinya merupakan monumen kengerian, kini telah rata dengan permukaan air yang hitam legam.
Ledakan cahaya dari pengorbanan Ranu Wara telah menghapus segala bentuk materi dan kutukan di radius beberapa mil, menyisakan kabut putih tipis yang berbau harum melati, kontras dengan bau amis kematian yang sebelumnya mendominasi.
Di atas puing-puing kapal Jati Langit yang masih bertahan, Ki Garna dan Nyai Sumi terduduk lemas. Nyai Sumi memeluk syal kain biru tua milik anaknya yang ditemukan mengapung di permukaan air.
Air matanya telah mengering, menyisakan tatapan kosong yang menghujam ke arah pusat ledakan tadi. Ki Garna hanya bisa merangkul bahu istrinya, tangannya gemetar hebat.
Ia adalah seorang ayah yang melihat anaknya meledakkan diri demi keselamatannya, sebuah kenyataan yang jauh lebih tajam daripada pedang mana pun.
Pangeran Lingga dan Nara berdiri di tepi dek yang hancur. Zirah Lingga retak di banyak tempat, dan busur Nara patah menjadi dua, namun luka fisik itu tidak sebanding dengan kehampaan yang mereka rasakan.
Nara, yang biasanya selalu tenang dan tanpa emosi, kini menggigit bibirnya hingga berdarah. Mata hijaunya terus menyisir permukaan laut, berharap melihat seberkas cahaya perak atau sosok remaja yang muncul sambil mengeluh lapar.
"Dia... dia tidak mungkin mati begitu saja," bisik Lingga dengan suara serak. "Seorang dewa yang mampu menenangkan naga bumi tidak akan berakhir menjadi abu di laut terkutuk ini."
"Dia bukan hanya dewa, Lingga," sahut Nara pelan.
"Dia menggunakan teknik Bom Sukma. Dia membakar seluruh silsilah keberadaannya, baik dewa maupun manusia, untuk memastikan Sang Prahara tidak akan pernah bangkit lagi. Secara hukum alam, Ranu Wara telah terhapus dari siklus reinkarnasi."
Namun, di tengah keputusasaan itu, kabut putih di atas laut mulai berperilaku aneh. Kabut itu tidak tertiup angin, melainkan mulai berputar membentuk pusaran kecil di tempat Ranu terakhir kali berdiri.
Dari dalam pusaran itu, terdengar suara bisikan yang sangat halus, seperti gesekan daun jati yang kering.
"Jangan... lepaskan... harapan..."
Nyai Sumi tersentak. "Itu suara Ranu! Aku mengenalnya! Itu suara anakku!"
Ki Garna mendengarkan dengan saksama. "Bukan hanya suara Ranu, Sumi. Itu adalah suara ribuan arwah yang selama ini terperangkap di Pulau Tulang. Sepertinya, ledakan Ranu tidak hanya menghancurkan musuh, tapi juga membebaskan mereka."
Tiba-tiba, dari dasar laut yang hitam, muncul titik-titik cahaya kecil yang tak terhitung jumlahnya.
Cahaya-cahaya itu adalah sisa-sisa sukma yang murni. Mereka berkumpul menjadi satu, membentuk sebuah gerbang cahaya berbentuk oval yang berdiri tegak di atas air.
Gerbang itu tidak memancarkan panas, melainkan hawa tenang yang sangat dalam. Inilah Gerbang Alam Roh Terlupakan, sebuah dimensi antara yang jarang bisa diakses oleh dewa sekalipun.
Nara menyipitkan matanya. "Sukma Ranu tidak hancur sepenuhnya. Karena ia memiliki Bintang Kedelapan, bintang yang lahir dari cinta manusia, esensinya tidak bisa dihapus oleh hukum langit biasa. Sukmanya terlempar ke dalam Alam Roh. Jika kita bisa menjemputnya sebelum ia melintasi Sungai Keheningan, ia bisa kembali."
"Bagaimana cara masuk ke sana?" tanya Lingga dengan tegas. "Aku akan pergi, meskipun aku harus mengorbankan nyawaku."
"Alam Roh tidak menerima tubuh fisik," jawab Nara. "Hanya mereka yang memiliki ikatan batin paling kuat yang bisa memproyeksikan sukmanya ke sana. Dan perjalanan itu satu arah jika kau tidak memiliki pemandu."
Nara menatap Ki Garna dan Nyai Sumi. "Bapak, Ibu, ikatan darah kalian adalah jangkar terkuat bagi Ranu. Tapi kalian terlalu lemah untuk menahan tekanan alam roh. Lingga, kau memiliki otoritas pedang yang diberikan Ranu, kau akan menjadi pelindungnya. Dan aku... aku akan menjadi pemandu jalan menggunakan sisa kekuatan Suku Penjaga Hening."
Tanpa membuang waktu, mereka membentuk lingkaran di atas dek kapal. Nyai Sumi memegang erat syal biru Ranu, menjadikannya sebagai medium pemanggil. Nara merapal mantra kuno yang membuat udara di sekitar mereka bergetar. Cahaya hijau merambat dari tangan Nara, menghubungkan sukmanya dengan sukma Lingga.
"Ingat," peringat Nara saat pandangan mereka mulai kabur. "Di Alam Roh, waktu berjalan berbeda. Jangan bicara pada arwah yang kau temui, dan jangan pernah menoleh ke belakang jika kau mendengar suara orang yang kau cintai memanggil. Kita hanya punya satu tujuan: menemukan percikan perak Bintang Kedelapan."
ZLAP!
Kesadaran Lingga dan Nara tersedot masuk ke dalam gerbang cahaya. Saat mereka membuka mata, mereka tidak lagi berada di laut. Mereka berada di sebuah padang luas yang ditumbuhi bunga-bunga berwarna abu-abu.
Langitnya berwarna perak pucat tanpa matahari maupun bulan. Di kejauhan, terlihat barisan panjang sosok-sosok transparan yang berjalan menuju sebuah sungai raksasa yang airnya tidak mengalir, melainkan diam membeku.
"Tempat ini... sangat sepi," bisik Lingga. Suaranya bergema aneh, seolah-olah ia berbicara di dalam gua bawah tanah.
"Ini adalah tempat di mana ingatan datang untuk mati," sahut Nara. "Lihat ke sana!"
Nara menunjuk ke arah tepi sungai. Di sana, duduk seorang pemuda dengan pakaian yang compang-camping. Rambutnya yang biasanya perak kini tampak kusam.
Ia sedang menatap air sungai dengan pandangan kosong. Itu adalah Ranu, namun ia tampak seperti kehilangan seluruh "warna" hidupnya. Ia tidak menyadari kehadiran Nara dan Lingga.
Saat mereka mendekat, sesosok bayangan raksasa muncul dari balik kabut sungai. Sosok itu mengenakan jubah hitam panjang dengan wajah yang tertutup topeng kayu berbentuk tengkorak. Ia adalah Penjaga Sungai Keheningan.
"Berhenti, pengembara hidup," suara Penjaga itu berat dan dingin. "Jiwa ini telah menyerahkan segalanya untuk menyelamatkan dunianya. Ia telah membayar hutang keberadaannya. Biarkan ia menyeberang dan beristirahat dalam ketiadaan."
"Dia belum selesai!" teriak Lingga, ia mencoba menghunus pedangnya, namun ia menyadari pedangnya tidak ada Di sana—hanya ada kehendaknya. "Dia memiliki janji yang belum ditepati! Janji untuk makan nasi jagung bersama orang tuanya!"
Penjaga itu tertawa pelan. "Janji manusia adalah debu di hadapan keabadian. Lihatlah dia, ia bahkan tidak ingat namanya sendiri. Energi dewa dan manusianya telah saling menghancurkan saat ledakan itu terjadi. Ia sekarang hanyalah wadah kosong."
Nara melangkah maju, ia berlutut di depan Ranu. Ia tidak menyentuhnya, karena sentuhan di alam roh bisa berakibat fatal.
"Ranu... dengarkan aku. Kau ingat Sastro? Dia sedang menunggu hadiah darimu. Kau ingat Pangeran Lingga? Dia baru saja belajar cara tersenyum karena kau. Dan orang tuamu... mereka sedang memegang syal birumu sambil menangis."
Ranu tetap diam. Matanya yang kosong hanya menatap riak air sungai yang statis.
"Ranu!" Lingga berteriak. "Kau bilang menjadi dewa itu membosankan! Kau bilang menjadi manusia itu melelahkan tapi lidahmu bisa menari! Jika kau menyeberangi sungai ini, kau tidak akan pernah merasakan sambal terasi lagi!"
Mendengar kata "sambal terasi", jari tangan Ranu sedikit bergerak. Sebuah kilatan kecil berwarna perak muncul di dadanya. Itu adalah benih dari Bintang Kedelapan yang mulai berdenyut.
Penjaga Sungai marah. Ia mengangkat sabit raksasanya. "Cukup! Kalian mengganggu ketenangan abadi! Jika jiwa ini tidak mau menyeberang, maka kalianlah yang akan menggantikannya!"
Sabit itu diayunkan, membelah udara kelabu dengan kekuatan yang mampu menghancurkan sukma.
Lingga melompat, menggunakan seluruh tekad sucinya untuk menahan sabit itu dengan tangan kosong. "Nara! Bangunkan dia sekarang! Aku tidak bisa menahan ini lama-lama!"
Nara mengambil napas dalam-dalam. Ia mulai menyanyikan sebuah lagu tanpa lirik, sebuah nyanyian kuno dari Suku Penjaga Hening yang digunakan untuk memanggil sukma yang tersesat di hutan.
Suaranya merambat seperti akar pohon yang mencari air, masuk ke dalam telinga Ranu dan membangkitkan ingatan-ingatan tersembunyinya.
Dalam benak Ranu, kegelapan mulai tersapu oleh bayangan-bayangan hangat. Ia melihat dirinya sedang dikejar-kejar warga desa karena mencuri mangga.
Ia melihat dirinya sedang tertidur di pangkuan Nyai Sumi. Dan ia melihat dirinya sendiri berdiri di puncak langit, menatap dunia fana dengan rasa rindu yang luar biasa.
"Aku... aku adalah Ranu Wara," gumam Ranu. Suaranya kecil namun mulai berisi kekuatan. "Dan aku... aku benar-benar lapar."
Seketika, cahaya perak meledak dari tubuh Ranu. Rambutnya kembali bersinar terang, dan mata peraknya kini memiliki titik emas yang lebih besar dari sebelumnya. Bintang Kedelapan telah bangkit sepenuhnya—Bintang Kemanusiaan Tertinggi.
Ranu berdiri. Ia menatap Penjaga Sungai dengan tatapan yang tajam. "Maaf, Tuan Penjaga. Sepertinya aku belum bisa menggunakan fasilitas istirahatmu hari ini. Tagihan makanku di dunia fana masih terlalu banyak."
Ranu memegang sabit penjaga tersebut dan dengan satu sentakan ringan, sabit itu hancur menjadi serpihan cahaya. Penjaga Sungai mundur, tertegun melihat sukma yang memiliki otoritas lebih tinggi dari kematian itu sendiri.
"Pergilah," ucap Penjaga itu dengan nada hormat yang mendalam. "Jiwa yang membawa cinta di atas kematian tidak memiliki tempat di sungaiku."
Ranu berbalik ke arah Nara dan Lingga. Ia tersenyum nakal, senyuman lama yang sangat mereka rindukan. "Ayo pulang. Kapal kita sepertinya butuh banyak perbaikan, dan aku yakin Sastro pasti sedang panik setengah mati di desa."
Dengan lambaian tangan Ranu, ruang di Alam Roh terbelah. Cahaya putih menelan mereka bertiga, membawa mereka kembali melewati gerbang menuju dunia nyata.
Di atas dek kapal Jati Langit, Ki Garna dan Nyai Sumi tersentak saat melihat tubuh Lingga dan Nara bergerak kembali. Di tengah-tengah mereka, sebuah gumpalan cahaya emas dan perak mulai memadat. Perlahan namun pasti, sosok Ranu Wara muncul kembali secara utuh. Ia tidak lagi tampak terluka; sebaliknya, kulitnya kini memancarkan aura murni yang sangat menenangkan.
Ranu membuka matanya, menatap orang tuanya yang menangis bahagia. Ia segera memeluk mereka berdua. "Ibu, Bapak... Ranu pulang."
"Kau hidup, Nak... kau benar-benar hidup," isak Nyai Sumi.
Ranu melepaskan pelukannya dan menatap ke arah laut yang kini mulai tenang. Namun, matanya tidak lagi melihat ke arah fisik semata. Dengan bangkitnya Bintang Kedelapan, ia kini bisa merasakan seluruh jaring kehidupan di lima benua. Dan apa yang ia rasakan membuatnya mengernyitkan dahi.
"Lingga, Nara," panggil Ranu.
"Iya, Gusti?" jawab Lingga secara refleks, kali ini dengan pengakuan mutlak akan status Ranu.
"Kekalahan Sang Prahara di sini bukan akhir. Dia hanyalah pengalih perhatian. Amangkrat telah menggunakan kesempatan saat aku di Alam Roh untuk membuka gerbang besar di Kerajaan Pusat, Kerajaan Galuh Pakuan. Di sana, ribuan dewa jatuh dari langit dalam keadaan terinfeksi. Perang yang sebenarnya... baru saja dimulai."
Ranu mengambil syal birunya dari tangan ibunya dan melilitkannya kembali ke lehernya. "Kita tidak punya waktu untuk merayakan kemenangan kecil ini. Kita harus segera menuju Galuh Pakuan. Tapi sebelum itu..."
Ranu menoleh ke arah tumpukan kayu di pojok kapal. "Sastro baru saja mengirim pesan lewat getaran sukma. Dia bilang dia berhasil menangkap seekor ikan raksasa yang mencoba menyerang desa, dan dia sudah menyimpannya untuk kita bakar. Jadi, kita punya waktu satu jam untuk makan sebelum kita pergi menyelamatkan dunia (lagi)."
Pangeran Lingga tertawa lega, sementara Nara hanya bisa menggelengkan kepala. Meskipun telah melewati kematian dan kembali dari alam roh, Ranu tetaplah Ranu—sang penguasa langit yang hatinya tertambat pada kenikmatan sederhana di bumi.
Kapal Jati Langit pun berputar haluan, membelah air laut yang kini telah murni kembali, menuju daratan utama di mana takdir dunia akan ditentukan dalam pertempuran yang melibatkan dewa, manusia, dan kegelapan yang tak berujung.
......................
Perjalanan Ranu kini memasuki babak baru yang lebih luas. Dengan Bintang Kedelapan yang aktif, ia bukan lagi sekadar pelayan atau dewa, melainkan jembatan antara dua alam. Namun, di Galuh Pakuan, musuh yang lebih kuat dari Sang Prahara telah menunggu. Siapakah "Dewa-Dewa Jatuh" yang dimaksud Ranu? Dan rahasia apa yang disembunyikan oleh Kerajaan Pusat tentang asal-usul tujuh bintang tersebut?
......................