SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Romi VS Preman Bedil dan Jabrik
"Persetan loe bocah tengik! Anak bauk kencur kecil-kecil dah berani bersilat lidah dan menentang gue seperti ini!" marah Sadeli dengan suara yang sangat keras dan kasar, sambil segera mengangkat tinjunya yang besar dan penuh dengan otot ke arah wajah Romi, berusaha untuk memukulnya dengan sangat kuat agar bisa membuat Romi terjatuh dan tidak bisa lagi melawan. Namun ketika tinjunya yang penuh dengan kekuatan tersebut menyentuh tubuh Romi dengan cukup keras, yang terjadi justru sebaliknya – Sadeli merasa seperti sedang memukul tembok beton yang sangat kuat dan kokoh, membuat tubuhnya terpental mundur beberapa langkah ke belakang. Ia dengan susah payah bisa menyeimbangkan diri menggunakan kaki-kakinya yang masih cukup kokoh, sehingga tidak sampai terjatuh di atas tanah yang kotor tersebut.
Melihat temannya Sadeli hampir terjatuh dan tidak mampu mengalahkan Romi dengan mudah, Toha langsung mengambil keputusan untuk menyerang dengan menggunakan senjatanya. Ia dengan cepat mencabut golok besar dari sabuk pinggangnya yang sudah siap untuk digunakan, mata nya yang penuh dengan kemarahan terfokus dengan sangat kuat pada targetnya yaitu Romi yang berdiri dengan tegak di depannya. "HEEEAAAAT!" teriaknya dengan suara yang sangat nyaring dan keras hingga terdengar jelas ke seluruh penjuru pasar, mengayunkan golok yang berkilat kilat di bawah sinar matahari pagi ke arah leher Romi yang tidak terlindungi sama sekali.
Tapi tepat pada saat yang sangat krusial sebelum bilah tajam dari golok tersebut bisa menyentuh dan melukai leher Romi, seolah ada kekuatan tak terlihat yang sangat besar dan kuat menghempaskan tubuh Toha dengan sangat keras ke arah belakang. Tubuhnya melayang di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya jatuh dan membentur dengan sangat keras ke dinding beton yang membatasi area parkir pasar – dinding tersebut sudah cukup tua dan mulai retak akibat usia serta beberapa kali terkena benturan dari kendaraan yang lewat. Suara benturan yang sangat keras terdengar jelas di sekitar area pasar, "BUG BRAAAK!" – tubuh Toha bergulingan di atas tanah yang penuh dengan pasir dan kerikil sebelum akhirnya berhenti di dekat sebuah tong sampah yang terletak di sudut area parkir. Ia kemudian pingsan dengan dahinya yang membekas darah akibat benturan yang sangat kuat tersebut, membuat beberapa pedagang yang melihatnya merasa sedikit prihatin meskipun mereka tahu bahwa Toha adalah orang yang telah melakukan kesalahan dan membuat kerusuhan di dalam pasar.
Sadeli yang menyaksikan seluruh kejadian tersebut dengan mata kepala sendiri langsung merasa takut dan panik secara tiba-tiba. Ia tidak berpikir dua kali lagi dan segera memutuskan untuk berlari tunggang langgang menyelamatkan diri dari lokasi kejadian tersebut, tidak peduli lagi dengan temannya Toha yang sudah pingsan di atas tanah atau dengan tujuan awal mereka datang ke pasar yaitu untuk mengumpulkan uang jatah preman. Teriakan dan caci maki dari para ibu-ibu pedagang yang sudah tidak tahan lagi dengan perilaku mereka menjadi semakin keras dan meriah, menyusul setiap langkah yang ditempuh oleh Sadeli saat ia berlari menjauh dari pasar:
"Tampang doang dibuat-buat sangar dan tangguh, suara kayak gledek yang menyakitkan telinga, tapi ternyata nyali kecil seperti tikus yang ketakutan saat melihat kucing!" ucap seorang pedagang wanita yang berjualan sayuran hijau seperti bayam dan kangkung di lapak dekat pintu masuk pasar, dengan suara yang penuh dengan rasa tidak suka terhadap Sadeli yang sedang berlari menyelamatkan diri tersebut.
"Mampus saja loe preman pasar tengik dan tidak berguna ini! Kerjanya cuma bisa minta jatah dan uang dari orang lain dengan cara yang tidak benar saja!" tambah seorang pedagang wanita lainnya yang berjualan buah-buahan segar seperti pisang dan mangga, dengan suara yang sama sekali tidak ada rasa kasihan terhadap mereka yang telah membuat kerusuhan di pasar.
"Semoga para preman lain yang sering membuat kerusuhan dan mengganggu ketertiban di pasar juga bisa melihat kejadian ini dan menjadi kapok untuk melakukan hal yang sama lagi!" seru seorang pembeli pria yang baru saja datang ke pasar untuk membeli sayuran untuk diolah menjadi makanan makan siang di rumahnya, dengan suara yang penuh dengan semangat dan harapan bahwa pasar akan kembali menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk berjualan serta berbelanja.
Namun tidak semua orang yang ada di pasar merasa senang dan riang dengan kejadian yang terjadi tersebut. Salah seorang pedagang pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan wajah yang penuh dengan kekhawatiran mengucapkan kata-kata yang membuat suasana menjadi sedikit suram kembali: "Pasti bang Bedil dan juga bang Jabrik akan merasa sangat marah dan tersinggung ketika tahu bahwa anak buah mereka yaitu Toha dan Sadeli telah dikalahkan dengan mudah oleh seorang anak muda seperti Romi ini! Mereka pasti akan datang kembali ke pasar dengan pasukan yang lebih banyak dan melakukan pembalasan yang sangat kejam terhadap kita semua – mereka bahkan mungkin akan menghancurkan seluruh dagangan kita yang sudah susah payah kita dapatkan hari ini karena marah besar!"
Sementara itu, beberapa pedagang sayuran yang sudah tidak bisa menahan diri lagi melihat kondisi Bang Rokib yang masih terjatuh di atas tanah segera bergerak untuk membantunya berdiri kembali. Mereka dengan lembut membantu Bang Rokib untuk duduk terlebih dahulu di atas sebuah bangku kayu yang mereka bawa dari lapak terdekat, memberikan air putih untuk diminum serta membersihkan bagian tubuhnya yang terluka akibat serangan dari Toha dan Sadeli tersebut. Setelah merasa bahwa kondisinya sudah cukup stabil dan tubuhnya tidak lagi merasa pusing atau sakit secara berlebihan, Bang Rokib dengan susah payah berdiri kembali dan berjalan dengan langkah yang masih sedikit goyah ke arah Romi yang sedang berdiri dengan tegak tidak jauh dari lokasi kejadian tersebut.
"Sebaiknya kamu segera pulang kembali ke kontrakan atau rumah kamu ya Rom, jangan sampai kamu tetap berada di pasar ini karena sangat berbahaya bagi keselamatanmu," ucap Bang Rokib dengan suara yang masih sedikit lemah akibat kesalahan yang ia alami, namun tetap penuh dengan perhatian dan rasa khawatir terhadap keselamatan Romi, "Aku sendiri sangat berterima kasih kepada kamu karena sudah membantu dan menyelamatkan nyawaku dari serangan yang sangat kejam dari Toha dan Sadeli tersebut – tanpa bantuanmu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku dan mungkin saja aku sudah tidak bisa berdiri lagi seperti sekarang ini."
"Biasa saja kalee bang, tidak perlu merasa terlalu berterima kasih karena itu adalah hal yang wajar untuk dilakukan," jawab Romi dengan wajah yang polos dan penuh dengan kesederhanaan, matanya yang cerah menunjukkan bahwa ia benar-benar tidak merasa telah melakukan hal yang luar biasa atau patut dipuji, "Kita semua sama-sama bekerja dan mencari nafkah di dalam Pasar Sewon ini, jadi sudah menjadi kewajiban kita untuk saling membantu dan melindungi satu sama lain ketika ada masalah atau kesusahan yang terjadi."
Dari arah kejauhan di dekat pintu masuk pasar, terlihat dua orang wanita sedang berlari dengan sangat cepat ke arah lokasi kejadian tersebut – mereka adalah Emak Susi yang merupakan ibu kandung dari Romi, serta Mpok Wati yang merupakan teman dekat dari Emak Susi dan juga pedagang sayuran yang berjualan di lapak sebelah mereka. Wajah kedua wanita tersebut terlihat sangat khawatir dan penuh dengan rasa cemas terhadap kondisi Romi yang mereka dengar telah terlibat dalam suatu kejadian kekerasan di dalam pasar.
"Romiii! Sayangku anakku! Kamu baik-baik saja kan tidak ada yang terluka atau mengalami sesuatu yang tidak diinginkan kan?!" suara Emak Susi penuh dengan rasa cemas dan kekhawatiran terdengar jelas ketika ia akhirnya sampai di dekat Romi dan langsung memeluknya dengan sangat erat, seperti takut akan kehilangan anak satu-satunya yang dimilikinya tersebut.
"Rom... sayang anakku... Mpok Wati hampir saja pingsan atau mengalami serangan jantung ketika mendengar kabar bahwa kamu akan di bacok atau diserang oleh anak buah dari Bang Bedil dan Jabrik tersebut!" ucap Mpok Wati dengan suara yang sedikit bergetar akibat emosi yang luar biasa yang ia rasakan, sambil segera mengecek seluruh tubuh Romi dengan tangan yang sedikit gemetar dan bergetar – mulai dari wajah, leher, badan, perut hingga kaki-kakinya – dengan sangat cermat untuk memastikan bahwa tidak ada bagian tubuhnya yang terluka atau mengalami cedera akibat perkelahian yang baru saja terjadi.
"Aneh sekali ya... kenapa seluruh badan kamu tidak ada satu bagian pun yang terluka atau bahkan sedikit saja mengalami memar padahal kamu baru saja berkelahi dengan Toha dan Sadeli yang wajahnya sangat seram dan menyeramkan seperti dedemit yang keluar dari neraka?!" tanya Mpok Wati dengan suara yang penuh dengan rasa heran dan kebingungan, melihat tubuh Romi yang tetap terlihat segar dan tidak ada tanda-tanda cedera sedikit pun padahal ia baru saja melalui perkelahian yang cukup sengit tersebut.
"Kagak ada yang bisa membuat badan si Romi terluka atau cedera mpok, karena badan dia itu KEBAL seperti baja yang sangat kuat dan kokoh!" ucap pedagang ayam potong yang berjualan di sudut kanan area pasar dengan suara yang penuh dengan kegembiraan dan semangat, sambil tertawa terbahak-bahak karena melihat ekspresi heran dan kebingungan yang muncul di wajah Mpok Wati tersebut.