"Sentuhan kakak-kakakku adalah napasku, tapi sentuhannya... adalah hidupku."
Shine terlahir dengan mata yang bisa melihat melampaui waktu. Namun, setiap penglihatan tentang masa lalu yang kelam dan masa depan yang berdarah menuntut bayaran mahal: energi hidupnya. Ia rapuh, tersiksa, dan bergantung pada pelukan dua kakak laki-lakinya yang posesif, Jin dan Suga.
Hingga ia melangkah masuk ke restoran Euphoria.
Jeon Jungkook adalah koki jenius yang selalu memimpikan gadis yang sama selama bertahun-tahun. Saat mereka bersentuhan, Shine menyadari satu hal: Jungkook bukan sekadar manusia, dia adalah 'baterai' abadi yang bisa memulihkan kekuatannya secara instan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 The First Kiss
Hujan menderu di luar SMA Cheong-A, seolah-olah langit ikut meratapi rahasia busuk yang baru saja terungkap dari balik gerbang sekolah elit itu. Aroma tanah basah bercampur dengan hawa dingin yang menusuk tulang, namun di dalam gedung sekolah, suasananya jauh lebih mencekam.
Operasi penjatuhan Pejabat Min telah dimulai di balik layar oleh keluarga Kim, namun Shine tidak bisa hanya duduk diam di rumah mewah yang terasa seperti sangkar emas. Ia nekat menyusup ke sekolah bersama Jungkook untuk menemui Min-hee secara pribadi. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri, apakah masih ada sisa kemanusiaan di balik mata gadis yang terbiasa disiksa ayahnya itu.
Namun, kekuatan Oracle memiliki harganya sendiri. Saat Shine berdiri di koridor sepi dekat area gudang olahraga, ia berpapasan dengan Tuan Min—ayah Min-hee—yang sedang berkunjung ke sekolah untuk menutupi skandal anaknya dengan uang.
Sentuhan tidak sengaja pada jas pria itu memicu ledakan penglihatan yang paling mengerikan yang pernah Shine alami.
Zapp!
Ia tidak hanya melihat KDRT. Ia melihat korupsi, penghilangan nyawa saksi mata, dan kegelapan murni yang menyelimuti jiwa Tuan Min. Rasanya seperti ribuan jarum es ditusukkan ke otak Shine secara bersamaan.
"Argh!" Shine menjerit pelan, tangannya mencengkeram kepalanya sendiri. Tubuhnya limbung. Cahaya di matanya meredup cepat, digantikan oleh kekosongan yang menakutkan.
"Shine!" Jungkook, yang sejak tadi mengawasi dari bayangan, bergerak secepat kilat. Ia menangkap tubuh Shine sebelum gadis itu menghantam lantai semen yang dingin.
"J-Jungkook... dingin... gelap sekali..." suara Shine nyaris hilang, hanya berupa bisikan yang bergetar.
Jungkook menatap sekeliling dengan waspada. Ia mendengar suara langkah kaki pengawal Tuan Min di kejauhan. Ia tidak bisa membawa Shine keluar sekarang; mereka akan tertangkap. Tanpa pikir panjang, ia menendang pintu gudang olahraga yang tidak terkunci dan membawa Shine masuk ke dalam.
Gudang itu berbau karet bola basket dan debu. Cahaya hanya berasal dari celah kecil di langit-langit, memberikan suasana remang yang mencekam. Jungkook membaringkan Shine di atas tumpukan matras senam yang empuk.
"Shine, bertahanlah. Jangan tutup matamu," bisik Jungkook. Ia memeriksa denyut nadi Shine. Sangat lemah. Tubuh gadis itu sedingin es, dan bibirnya mulai membiru.
Ini adalah krisis energi tingkat tinggi. Efek dari melihat kegelapan murni seorang sosiopat seperti Tuan Min telah menyedot seluruh cadangan nyawa Shine. Pelukan saja tidak akan cukup kali ini. Suga pernah memperingatkan Jungkook dalam sebuah percakapan rahasia di lab: 'Jika dia berada di titik nol, kau harus menemukan cara untuk melakukan transfer energi secara langsung melalui selaput lendir. Itu adalah jalur tercepat menuju saraf pusatnya.'
Jungkook menatap wajah Shine yang terpejam. Rasa takut kehilangan gadis ini menghancurkan seluruh benteng pertahanannya.
"Maafkan aku, Shine. Aku harus melakukan ini," gumam Jungkook parau.
Jungkook mendekat, menangkup wajah Shine dengan kedua tangannya yang gemetar. Ia tidak lagi memikirkan kontrak dengan Jin Oppa atau ancaman Suga Oppa. Yang ada di pikirannya hanya satu: Shine harus hidup.
Ia menundukkan kepalanya, perlahan menyatukan bibirnya dengan bibir Shine yang dingin.
Dunia seolah meledak dalam keheningan.
Pada detik pertama, Jungkook bisa merasakan rasa pahit dari residu penglihatan gelap Shine. Namun pada detik berikutnya, ia menyalurkan seluruh sisa panas tubuhnya, seluruh energi matahari yang ia miliki, langsung ke dalam napas Shine.
Sentuhan itu bukan sekadar kontak fisik. Itu adalah jembatan jiwa.
Shine tersentak di bawah kungkungan Jungkook. Di dalam kegelapan benaknya, ia melihat sebuah cahaya emas yang sangat terang membelah kabut hitam milik Tuan Min. Cahaya itu beraroma kayu cendana dan mentega—aroma Jungkook. Rasa hangat yang luar biasa mulai mengalir dari bibirnya, menjalar ke tenggorokan, hingga meledak di jantungnya.
Jungkook tidak melepaskannya. Ia memperdalam ciuman itu, tangannya berpindah ke belakang tengkuk Shine, memastikan tidak ada satu tetes pun energi yang terbuang sia-sia. Ia bisa merasakan nyawa Shine kembali berdenyut. Perlahan, bibir Shine yang tadinya mati rasa mulai membalas sentuhannya secara naluriah.
"Mm..." Shine melenguh kecil. Tangannya yang lemah perlahan terangkat, mencengkeram kerah jaket Jungkook seolah takut pria itu akan menghilang.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti keabadian, Jungkook menarik diri. Napasnya memburu, matanya berkilat penuh emosi yang campur aduk—keinginan, perlindungan, dan rasa sayang yang meluap.
Shine membuka matanya. Warna biru kristalnya kembali, bahkan lebih terang dari sebelumnya. Ada rona merah muda di pipinya yang membuat Jungkook hampir kehilangan kendali lagi.
"J-Jungkook..." Shine menyentuh bibirnya sendiri, matanya membelalak kaget. "Tadi itu..."
"Itu adalah pengisian energi instan," jawab Jungkook dengan suara serak, mencoba mencari alasan logis meski hatinya berteriak bahwa itu adalah ciuman yang tulus. "Suga-Hyung bilang itu jalur tercepat. Kau hampir pergi tadi, Shine. Aku tidak punya pilihan lain."
Shine menatap Jungkook dalam-dalam. Ia bisa merasakan energi Jungkook yang kini bersemayam di dalam darahnya. Itu terasa jauh lebih kuat daripada pelukan mana pun. Rasanya seperti ia baru saja menelan matahari.
"Terima kasih," bisik Shine. Ia tidak marah. Justru, ia merasa sebuah ikatan tak terlihat kini telah terkunci selamanya di antara mereka.
Tiba-tiba, pintu gudang terbuka. Cahaya lampu senter menyinari mereka.
"Siapa di sana?!" sebuah suara berat membentak.
Jungkook segera berdiri, menarik Shine ke belakang tubuhnya, melindungi gadis itu dengan aura predatornya yang kembali bangkit. Di ambang pintu, RM berdiri dengan wajah tegang, diikuti oleh Jin yang tampak sangat murka.
"Apa yang kalian lakukan di sini?!" Jin berteriak, matanya menatap Shine yang duduk di atas matras dengan bibir yang tampak sedikit bengkak dan wajah yang merona.
Jin berjalan mendekat, ia mencium aroma Jungkook yang sangat kuat melekat pada Shine. Sebagai seorang kakak, ia tidak butuh penjelasan medis untuk tahu apa yang baru saja terjadi.
"Jeon Jungkook..." Jin mencengkeram kerah baju Jungkook, mengangkatnya hingga kaki koki itu hampir terangkat dari lantai. "Aku memberimu izin untuk menjaganya, bukan untuk menodainya di gudang sekolah!"
"Aku menyelamatkan nyawanya, Jin-Hyung!" balas Jungkook, matanya menatap lurus ke arah Jin tanpa rasa takut. "Tanyakan pada Suga-Hyung. Jika aku tidak melakukannya, kau mungkin hanya akan membawa pulang mayat seorang Oracle malam ini!"
Jin hendak melayangkan pukulan, namun Shine berteriak.
"Oppa, berhenti!" Shine berdiri, ia menahan lengan Jin. "Dia benar. Aku melihat kegelapan Tuan Min... rasanya mematikan. Jungkook menyelamatkanku."
Jin menatap adiknya, lalu menatap Jungkook. Ia melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Keheningan di gudang itu terasa sangat berat. RM hanya bisa memijat pelipisnya di belakang, tahu bahwa perang saudara dalam keluarga Kim baru saja memasuki babak paling panas.
"Kita pulang sekarang," ucap Jin dingin. "Dan kau, Jungkook... kau akan menjelaskan setiap detik kejadian ini pada Suga di rumah. Jika kau berbohong sedikit saja, aku sendiri yang akan menghancurkan tanganmu agar kau tidak bisa memasak lagi."
Jungkook tidak gentar. Ia berjalan di samping Shine, memastikan jari-jari mereka bersentuhan samar di balik kegelapan lorong sekolah. Ia tahu, mulai hari ini, statusnya bukan lagi sekadar koki atau baterai.
Ia adalah pria pertama yang menyentuh jiwa Shine sedalam itu. Dan ciuman di gudang berdebu itu bukan hanya penyelamat nyawa, tapi adalah sumpah bahwa ia tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk kakak-kakak Shine, memisahkan mereka lagi.
...****************...