Oskar Biru Arkais sorang pemuda yang berusaha mencari arti cinta Sejati,
Dan Si Mahira Elona Luis si Gadis Tomboy yang Tak Pernah Percaya akan Adanya cinta Sejati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Tidak tau apa apa,tidak mau apa apa,tidak punya apa apa,Hanya tau hanya mau dan hanya ingin kekuatan untuk setiap pengabdian dan kesabaran disetiap cobaan"
DI CAFETERIA
Malam sudah larut, namun cafeteria masih ramai dengan orang orang yang sedang menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Luna duduk di sudut ruangan dengan wajah yang penuh kemarahan dan keputusasaan. Dia melihat ke arah luar jendela dengan ekspresi yang semakin menyakitkan.
“Bagaimana bisa mereka melakukan ini padaku?” gumamnya dengan suara yang hampir tidak terdengar. “Aku sudah mencintainya selama bertahun-tahun, tapi dia hanya melihat pada Elona saja!”
Narumi dan Anindya mendekat dengan ekspresi yang penuh kekhawatiran. Mereka melihat ke arah Luna dengan wajah yang campuran antara kesusahan dan kekhawatiran.
“Kamu tidak perlu khawatir, Kak Luna,” ujar Narumi dengan suara lembut. “Kita akan melakukan apa saja untuk membantumu mendapatkan apa yang kamu inginkan.”
Luna hanya mengangguk dengan ekspresi yang semakin menyakitkan. Dia merasa sangat kecewa dengan sikap Biru yang selalu membela Elona tanpa mengetahui benar-benar tentang siapa dirinya. “Aku tidak akan pernah menyerah,” gumamnya dengan suara penuh tekad. “Aku akan menunjukkan pada dia bahwa aku lebih layak untuknya daripada siapa pun!”
Setelah itu, mereka berencana untuk mengambil uang kas pramuka dan alat pramuka yang penting. Mereka ingin membuat Elona merasa bertanggung jawab atas kehilangan tersebut dan membuatnya merasa malu di depan teman-temannya.
“Kita akan melakukan ini dengan cara yang cerdas,” ujar Luna dengan suara yang semakin tegas. “Aku tidak ingin ada orang lain yang terluka lagi. Hanya Elona yang harus merasakan akibat dari apa yang dia lakukan!”
Narumi dan Anindya hanya bisa mengangguk dengan rasa puas dan tetap setia pada Luna. Mereka tidak ingin menyakiti siapa pun, namun mereka merasa harus membantu teman mereka yang sedang mengalami kesusahan besar.
DI RUANGAN PRAMUKA
Pada malam hari yang sama, Luna beserta kedua temannya memasuki ruangan pramuka dengan hati-hati. Mereka melihat sekeliling ruangan dan menemukan beberapa kotak yang berisi uang kas pramuka serta alat-alat penting pramuka.
“Baiklah, kita harus bergerak cepat,” ujar Luna dengan suara rendah. “Ambil uang kas dan alat-alat penting itu kemudian kita bisa pergi dari sini.”
Mereka mulai mengambil barang-barang tersebut dengan hati-hati dan menyembunyikannya di dalam tas mereka. Namun, sebelum mereka bisa pergi, suara langkah kaki terdengar dari luar ruangan. Mereka segera bersembunyi di balik rak buku dengan ekspresi yang penuh ketakutan.
Setelah suara langkah kaki itu hilang, mereka segera keluar dari tempat persembunyian dan berlari keluar dari ruangan dengan cepat. Mereka merasa lega bisa lolos tanpa ketahuan, namun juga merasa bersalah karena melakukan hal yang tidak benar.
DI RUANGAN BK KEESOKAN HARI
Keesokan harinya, saat matahari mulai bersinar terang, Ibu Rita yang menjadi guru BK sekolah masuk ke ruangan pramuka untuk memeriksa kondisi ruangan. Namun, ketika dia membuka pintu, dia terkejut melihat bahwa beberapa barang penting hilang dari tempatnya.
“Astaga apa ini?” gumamnya dengan suara penuh kekhawatiran. Dia segera memeriksa setiap sudut ruangan dan menemukan bahwa uang kas pramuka serta beberapa alat penting pramuka telah hilang tanpa jejak.
Tanpa berlama-lama, dia segera menghubungi kepala sekolah dan memberitahukan apa yang terjadi. Kepala sekolah merasa sangat marah dan meminta agar segera dicari tahu siapa yang telah mengambil barang-barang tersebut.
Saat berita ini menyebar ke seluruh sekolah, Elona merasa sangat terkejut dan khawatir. Dia tahu bahwa sebagai ketua kelompok pramuka, dia akan menjadi orang pertama yang disalahkan oleh banyak orang. Namun, dia juga tahu bahwa dia tidak melakukan apa-apa yang salah dan akan melakukan segala cara untuk membuktikan kebenarannya.
Luna melihat semua ini dengan senyum yang menyakitkan. Dia merasa bahwa akhirnya dia telah mendapatkan apa yang dia inginkan – membuat Elona merasa malu dan sadar bahwa dia tidak pantas berada di sisi Biru. Namun, dalam hati yang dalam, dia juga merasa sedikit bersalah karena melakukan hal yang tidak benar. Namun, dia memutuskan untuk terus maju dan tidak melihat kembali pada apa yang telah dia lakukan.Ini Salah Elona,Elona lah yang membuatnya sampai sejauh ini.Ini bukan Salahnya.