NovelToon NovelToon
Lingkaran Cahaya Yang Terlupakan

Lingkaran Cahaya Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor / TKP / Iblis
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

*"Di dalam kedalaman tanah yang menyelimuti kota Manado, ada sebuah ruang bawah tanah yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang telah 'dipanggil'. Lima belas wanita berjubah hitam berdiri melingkari lingkaran cahaya emas yang bersinar seperti darah yang baru saja mengering. Setiap malam, mereka menyanyikan doa yang tak dikenal manusia, memanggil sesuatu yang seharusnya tetap tertidur di dalam kegelapan.

Sevira, seorang dokter muda yang baru saja pindah ke Manado untuk mengobati warga miskin, tidak menyadari bahwa rumah yang dia sewa dulunya adalah bagian dari kompleks gereja kuno itu. Saat dia mulai menemukan jejak-jejak aneh – kain hitam yang tersangkut di pagar, suara nyanyian yang terdengar di malam hari, dan wajah-wajah menyakitkan yang muncul di cermin saat malam hujan – dia terjerumus ke dalam rahasia yang telah menyiksa keluarga keluarganya selama berabad-abad.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BUKU SEJARAH YANG HILANG

Matahari sudah mulai muncul ketika kami sampai di rumah. Tapi kegelapan seolah masih mengelilingi tempat itu awan gelap terus menggumpal di atas atap, dan angin membawa suara bisikan yang tidak jelas dari arah halaman belakang. Kapten Hasan membantu aku masuk ke dalam, matanya terus mengamati setiap sudut ruangan seolah ada yang bersembunyi di sana.

“Aku akan bersiapin kopi,” katanya dengan lembut. “Kamu butuh istirahat sebelum kita merencanakan apa yang harus dilakukan malam esok.”

Aku mengangguk tapi tidak bisa duduk diam. Buku catatan nenekku masih berada di tanganku, jadi aku membawa itu ke meja kerja di ruangan tamu dan mulai membacanya dengan cermat. Setiap halaman memberiku lebih banyak pemahaman tentang keluarga ku dan peran yang harus kujalankan tapi juga membuatku merasa semakin tertekan dengan beban yang harus kukanggung.

Saat aku membuka halaman terakhir buku itu, sebuah lembaran kertas terlepas dan jatuh ke lantai. Aku membungkuk untuk mengambilnya dan melihat bahwa itu adalah peta yang lebih rinci dari lokasi gua yang disebutkan dalam surat ibu ku. Di sisi belakang peta, ada tulisan tangan nenekku yang belum kubaca sebelumnya:

“Untuk membuka pintu kedamaian, kamu harus menemukan buku sejarah desa yang hilang. Ia tersembunyi di perpustakaan lama dekat pasar tua. Jangan biarkan orang lain membacanya sebelum kamu selesai ada kekuatan di dalamnya yang bisa menyelamatkan atau menghancurkan.”

Aku langsung berdiri. Jam enam pagi perpustakaan akan buka jam delapan. Aku harus pergi sekarang sebelum ada yang lain mengambilnya.

 

Saat aku sampai di perpustakaan lama, pintunya sudah terbuka sedikit meskipun belum waktunya buka. Bau kertas tua dan kayu lapuk keluar dari dalam dengan kuat, dan dari dalam terdengar suara halus seperti buku yang sedang dibuka dan ditutup sendiri-sendiri.

“Ada orang di sana?” tanyaku dengan suara yang sedikit gemetar, mendekati pintu dengan hati-hati.

Tidak ada jawaban, tapi pintu terbuka lebar dengan sendirinya. Aku masuk ke dalam dan melihat ruangan yang luas dengan rak-rak buku yang menjulang tinggi ke langit-langit. Cahaya dari jendela-jendela kecil menerangi debu yang berterbangan di udara, membuat bayangan aneh yang bergoyang-goyang di dinding.

“Aku mencari buku sejarah desa Manado lama,” kataku kepada seorang petugas yang sedang duduk di belakang meja resepsionis. Wanitanya sudah tua dengan rambut abu-abu yang kusut, dan matanya melihat ke arahku dengan tatapan yang kosong.

“Buku itu sudah tidak ada lagi, Nona,” jawabnya dengan suara yang pelan. “Sudah hilang selama bertahun-tahun. Banyak orang yang mencari itu tapi tidak pernah menemukan apa-apa.”

Aku merasa kecewa tapi tidak menyerah. Aku pergi ke bagian sejarah dan mulai mencari rak demi rak. Setiap buku yang kubuka berisi tentang sejarah kota yang berbeda, tapi tidak ada yang berbicara tentang desa kuno yang kudengar di mimpiku. Saat aku mencapai rak paling dalam, aku merasakan getaran dari kain hitam yang kubawa di kantong sama seperti saat aku dekat dengan sesuatu yang penting.

Di sudut paling belakang rak itu, ada celah kecil yang tersembunyi di balik beberapa buku besar. Aku menarik buku-buku itu dengan hati-hati dan melihat sebuah kotak kayu kecil yang sudah lapuk tersembunyi di sana. Di atas kotak itu ada simbol lingkaran yang sama seperti yang selalu kukenal.

Aku membuka kotak dengan teliti. Di dalamnya ada buku kulit tebal dengan tulisan “Sejarah Desa Wungu Merah” di sampulnya. Saat aku membukanya, bau darah dan bunga kamboja muncul lagi dengan kuat, dan aku merasa seperti ada tangan yang menyentuh pundakku dari belakang.

Aku berbalik dan melihat wanita tua yang kudengar di resepsionis berdiri di sana dengan wajah yang sudah berubah wajahnya sekarang penuh dengan bekas luka dan mata yang hitam pekat. “Kamu tidak boleh mengambilnya,” katanya dengan suara yang tidak seperti miliknya. “Buku itu milik kita. Kamu tidak punya hak untuk membukanya.”

Saat dia mendekat, aku melihat bayangan banyak orang yang muncul di baliknya semua dengan wajah yang sama dan mata yang hitam pekat. Mereka mulai bergerak ke arahku perlahan, dan aku bisa mendengar suara mereka menyanyi lagu yang sama dengan yang selalu kudengar di malam hari.

Aku cepat-cepat menutup buku dan menyimpannya ke dalam tas. Aku berlari menuju pintu keluar tapi pintu sudah tertutup rapat dan terkunci dengan sendirinya. Dari arah belakang terdengar suara kayu yang retak, dan aku melihat bahwa rak-rak buku mulai bergeser sendiri-sendiri, menyumbat jalan keluar.

“Satu-satunya cara untuk keluar dari sini adalah menyerahkan buku itu,” ujar wanita tua yang sekarang sudah berdiri di depan pintu. “Kamu tidak bisa mengubah apa yang sudah ditentukan. Semua harus berjalan seperti yang sudah direncanakan.”

Aku merasa takut tapi juga merasa tekad yang kuat di dalam diriku. Aku mengambil kain hitam dari kantong dan membentangkannya di hadapanku. Cahaya emas yang keluar dari kain itu membuat semua bayangan mundur dengan cepat, dan pintu mulai terbuka perlahan.

Saat aku berlari keluar dari perpustakaan, aku melihat Kapten Hasan sedang menunggu di luar dengan wajah yang khawatir. “Aku merasa ada yang salah,” katanya segera mendekat. “Aku melihat banyak bayangan masuk ke dalam perpustakaan tapi tidak ada yang keluar.”

Aku menunjukkan padanya buku yang kudapatkan. “Ini adalah buku yang kita butuhkan,” kataku dengan napas tersengal-sengal. “Sekarang aku tahu mengapa mereka ingin menyembunyikannya dari kita.”

 

Kita pergi ke kedai kecil dekat pasar tua untuk minum teh dan membuka buku itu dengan hati-hati. Di dalamnya, ada cerita yang lebih rinci tentang desa kuno yang bernama Wungu Merah bagaimana desa itu pernah menjadi tempat yang damai dan makmur sebelum datang bencana besar yang hampir menghancurkannya.

“Lihat ini,” kataku menunjuk ke salah satu halaman yang menggambarkan ritual yang sama seperti yang kita lakukan sekarang. Tapi di bawah gambar itu ada catatan kecil yang tidak ada di buku catatan nenekku: “Ritual bisa dihentikan jika seseorang bersedia menjadi ‘Pembawa Cahaya’ menyerahkan diri untuk menjadi jembatan antara dunia ini dan dunia bawah tanah, sehingga kedua dunia bisa hidup berdampingan tanpa perlu pengorbanan.”

Kapten Hasan membaca catatan itu dengan cermat. “Jadi bukan berarti kamu harus mati,” katanya dengan suara yang penuh harapan. “Hanya menjadi penghubung antara dua dunia.”

Saat kita berbicara, aku merasakan getaran dari buku itu. Halaman mulai bergulir sendiri-sendiri sampai berhenti di halaman yang menggambarkan wajah seorang wanita muda aku mengenalnya sebagai nenekku yang muda, tapi di sisinya ada wajah seorang pria yang juga aku kenal leluhur Kapten Hasan yang sama seperti yang ada di foto buku catatan nenekku.

“Mereka saling mencintai,” bisikku dengan mata yang penuh air mata. “Mereka bukan hanya sekadar pasangan yang ditentukan untuk menjalankan ritual mereka benar-benar mencintai satu sama lain.”

Di bagian bawah halaman itu ada surat yang ditulis oleh nenekku muda:

“Aku mencintainya lebih dari hidupku sendiri. Tapi aku harus memilih antara dia dan desa. Aku memilih desa, dan itu adalah pilihan terberat yang pernah kulakukan. Semoga kelak cucuku bisa menemukan cara untuk memilih cinta tanpa harus meninggalkan orang yang dicintai.”

Saat aku selesai membaca, pintu kedai kecil itu terbuka dengan sendirinya. Di pintu berdiri seorang pria yang mengenakan baju tua dengan wajah yang mirip dengan Kapten Hasan. Dia melihat kita dengan mata yang penuh kesedihan dan mengambil langkah ke arah kita.

“Saya adalah kakekmu, Hasan,” katanya dengan suara yang lembut. “Aku sudah menunggu kamu berdua lama sekali. Ada sesuatu yang harus kutunjukkan padamu sebelum malam esok tiba sesuatu yang akan mengubah semua yang kamu pikirkan tentang ritual dan pengorbanan.”

Aku melihat ke arah Kapten Hasan yang sudah membeku dengan wajah yang penuh kekaguman. Kita tahu bahwa pria ini adalah salah satu orang yang sudah hilang dalam daftar kasus yang diselidiki oleh kepolisian. Tapi sekarang dia berdiri di depan kita dengan jelas, seperti orang biasa yang hanya ingin berbicara.

“Kita harus pergi sekarang,” katanya lagi, menunjuk ke arah luar. “Tempatnya tidak jauh dari sini, dan kita tidak punya banyak waktu lagi. Malam esok akan datang lebih cepat dari yang kamu pikirkan, dan pilihan yang harus kamu buat akan menentukan masa depan bagi kita semua.”

1
grandi
bau yang gak enak
grandi
cepat
grandi
aku suka tentang sejarah 👍
grandi
hujan 👍
Dewi Kartika
mantap thor
christian Defit Karamoy: trimakasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!