Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.
Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.
Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**
Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.
Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Kia yang Terluka Diam-Diam
Ada luka yang tidak pernah berdarah.
Tidak terlihat.
Tidak bersuara.
Tidak menuntut siapa pun untuk meminta maaf.
Luka itu tinggal lama—di dada seorang ibu bernama Sari.
Ibu Kia.
Setiap pagi, Sari bangun sebelum matahari benar-benar naik. Bukan karena kebiasaan lama semata, tapi karena diam-diam ia takut pada sunyi.
Sunyi memberinya terlalu banyak ruang untuk mengingat.
Tentang masa lalu yang tak pernah benar-benar selesai.
Tentang nama yang jarang ia ucap, tapi sering muncul di kepalanya.
Tentang pandangan merendahkan, pintu yang ditutup, dan kalimat yang pernah membuangnya dari hidup seseorang.
Namun pagi ini berbeda.
Ada langkah kaki lain di rumah kecil itu.
Langkah yang masih canggung, berhati-hati, seolah takut membuat suara.
Sari tersenyum tipis saat mendengar pintu kamar belakang terbuka.
Tara keluar.
Masih dengan seragam sekolah, rambut belum rapi sepenuhnya.
“Selamat pagi, Tante,” ucapnya pelan.
“Pagi,” jawab Sari lembut. “Sarapan dulu. Ibu bikin telur dadar.”
Tara mengangguk.
Tidak ada ketegangan. Tidak ada kecanggungan berlebihan.
Hanya dua orang yang sama-sama belajar berdiri di posisi yang tidak pernah mereka pilih.
Sari memperhatikan Tara dari sudut matanya.
Anak itu terlihat lebih kurus dari terakhir kali ia melihatnya di sekolah—waktu orang-orang menuding, mencibir, dan berbisik di belakang.
Sekarang Tara tidak lagi tampak seperti anak yang dibesarkan oleh keyakinan bahwa dunia selalu berpihak padanya.
Ia terlihat… rapuh.
Dan itu membuat dada Sari terasa nyeri.
Karena ia mengenali tatapan itu.
Tatapan anak yang kehilangan tempat berpijak.
Tatapan yang dulu sering ia lihat di cermin—bertahun-tahun lalu.
Kia keluar kamar dengan tas di pundaknya.
Ia berhenti saat melihat Tara duduk di meja makan.
Tidak ada pertengkaran pagi ini.
Hanya tatapan singkat. Netral.
“Gue berangkat duluan,” kata Kia sambil mengambil sepotong roti.
“Jangan lupa jas hujan,” sahut Sari. “Cuaca nggak jelas.”
Kia mengangguk.
Tara memperhatikan punggung Kia yang pergi.
Ia menoleh ke Sari. “Tante… Tante nggak capek?”
Sari tersenyum sambil menuang teh. “Capek itu wajar.”
“Dengan semua ini,” lanjut Tara pelan. “Aku… aku bikin repot.”
Sari berhenti sejenak. Lalu duduk di seberang Tara.
“Kamu bukan beban,” katanya mantap. “Kamu anak.”
Tara menelan ludah.
Kalimat itu sederhana.
Tapi bagi Tara, itu seperti sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia dengar sebelumnya—tanpa syarat.
Sari tidak pernah menceritakan masa lalunya pada Tara.
Ia tidak pernah berkata bahwa dulu, ia juga pernah dituduh sebagai perebut.
Ia tidak pernah berkata bahwa ia juga pernah diusir, disalahkan, dan dipaksa menghilang demi kenyamanan orang lain.
Ia memilih diam.
Bukan karena takut.
Tapi karena ia tidak ingin luka itu berpindah tangan.
Siang itu, Sari pergi bekerja lebih awal.
Ia bekerja sebagai penjahit di rumah seorang pelanggan tetap—pekerjaan yang ia lakukan sejak Kia kecil.
Saat pulang, ia melihat sesuatu yang membuat langkahnya melambat.
Tara sedang menyapu halaman.
Keringat membasahi pelipisnya. Gerakannya canggung, tapi ia berusaha.
“Kamu ngapain?” tanya Sari.
Tara terkejut. “Oh… aku lihat halaman kotor.”
Sari tersenyum. “Terima kasih.”
Tara ragu. “Tante… aku boleh tanya sesuatu?”
“Tanya saja.”
“Kenapa Tante nggak pernah marah ke Mama aku?”
Pertanyaan itu datang begitu saja.
Sari terdiam cukup lama.
Angin sore bergerak pelan.
“Ada marah yang kalau dipelihara, hanya bikin kita lelah,” jawab Sari akhirnya. “Ibu pernah marah. Dulu. Tapi sekarang… ibu lebih capek menjaga kebencian daripada menjaga anak.”
Tara menunduk.
“Aku sering lihat Mama… benci,” katanya lirih. “Dan aku ikut.”
Sari tidak menyangkal.
Ia hanya berkata, “Belajar itu tidak pernah terlambat.”
Malam itu, Kia pulang dengan wajah lelah.
Ia melihat ibunya duduk di ruang tengah, memijat pergelangan tangannya.
“Kecapekan?” tanya Kia.
“Sedikit,” jawab Sari.
Kia mengambil minyak kayu putih dan memijat tangan ibunya tanpa berkata apa-apa.
Dari ambang pintu, Tara melihat pemandangan itu.
Ada kehangatan yang tidak ribut.
Ada kasih yang tidak diumumkan.
Dan untuk pertama kalinya, Tara memahami—
bahwa perempuan yang selama ini ia benci
adalah perempuan yang memilih bertahan tanpa menyakiti siapa pun.
Beberapa hari kemudian, sekolah mengadakan pertemuan orang tua.
Sari datang sendiri.
Tanpa ayah.
Tanpa pasangan.
Ia duduk tegak, sederhana.
Di sisi lain ruangan, ibu-ibu berbisik.
Tatapan-tatapan lama itu masih ada.
Tara melihatnya.
Dan dadanya sesak.
Saat guru memanggil nama Tara, Sari berdiri.
“Saya wali Tara sementara,” katanya tenang.
Tidak ada rasa malu.
Tidak ada pembelaan berlebihan.
Hanya fakta.
Setelah pertemuan, seorang ibu berkomentar pelan, cukup keras untuk didengar.
“Kasihan ya… hidup numpang.”
Tara menoleh tajam.
Sari menahan lengannya.
“Tidak apa-apa,” katanya pelan. “Kita tidak bisa mengontrol lidah orang.”
Tara mengepalkan tangan.
“Tapi mereka salah.”
Sari tersenyum kecil. “Yang salah tidak selalu perlu diluruskan dengan kemarahan.”
Malam itu, Tara menulis pesan panjang untuk mamanya.
Ia tidak langsung mengirim.
Ia menatap layar lama.
Lalu menghapus setengahnya.
Yang tersisa hanya satu kalimat:
Ma, aku belajar banyak di sini. Tentang diam yang tidak kejam.
Ia menekan kirim.
Dan menangis.
Sari duduk di dapur, membersihkan piring.
Tara mendekat.
“Tante,” katanya pelan. “Kalau… Tante benci aku, wajar.”
Sari menoleh. “Ibu tidak benci kamu.”
“Tapi aku pernah jahat.”
Sari tersenyum lembut. “Ibu juga pernah disakiti. Tapi itu tidak membuat ibu ingin menyakiti balik.”
Tara terdiam.
Air mata jatuh.
Dan Sari memeluknya.
Tidak erat.
Tidak lama.
Cukup untuk mengatakan: kamu aman.
Di kamarnya, Kia mendengar suara tangis yang teredam.
Ia tidak keluar.
Ia tahu ibunya sedang melakukan sesuatu yang tidak bisa ia lakukan.
Memaafkan tanpa syarat.
Dan malam itu, Kia sadar—
bahwa kekuatan ibunya
bukan pada teriakan,
bukan pada pembuktian,
tapi pada kemampuannya tetap baik
meski dunia berkali-kali tidak adil.
Ibu Kia tidak pernah menuntut pengakuan.
Ia hanya ingin anaknya tumbuh tanpa membenci dirinya sendiri.
Dan mungkin…
tanpa membenci darah yang sama
yang selama ini terasa seperti kutukan.
...****************...
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
blm bisa komen bnyk..
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya