NovelToon NovelToon
Azalea : Aku Menjadi Karakter Teman Tokoh Utama Perempuan Yang Mati Di Ending Novel

Azalea : Aku Menjadi Karakter Teman Tokoh Utama Perempuan Yang Mati Di Ending Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mengubah Takdir / Fantasi Isekai / Masuk ke dalam novel / Menjadi NPC / Fantasi Wanita
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Azalea Rhododendron

Aku mengalami kecelakaan saat menyelamatkan anak dari kakak laki-lakiku. Aku yang saat itu melihat Keponakanku nyaris ditabrak oleh mobil yang melaju kencang di jalanan, refleks mendorong dia menjauh sehingga aku yang ditabrak mobil. Secara samar-samar aku melihat kakak laki-lakiku datang dan meneriakkan namaku. Akan tetapi, pandanganku sudah gelap. 'Apakah aku akan bertemu Papa dan Mama sekarang?'

Begitu membuka mata, aku berada di sebuah tempat yang hanya ada satu cahaya terang tepat di atas kepalaku tetapi di sekelilingku gelap. Sebuah suara mengatakan bahwa aku bisa kembali, asalkan aku harus bisa melaksanakan misi kehidupan dari diriku yang dulu.

Ini kan tubuh Azalea Lorienfield, teman pemeran utama perempuan dalam novel favoriteku yang mati di ending novel! Apakah maksud suara misterius itu aku harus menyelamatkan diriku agar tidak mati seperti dalam novel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azalea Rhododendron, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17 : Melihat Bulan & Bintang

...Happy Reading^^...

...💮...

Malam harinya, aku kembali diberikan pengobatan oleh Bibi Edelweiss.

"Maaf, aku harus merepotkanmu Bibi dan terima kasih^^" ucapku sambil berterima kasih. Bibi tersenyum untuk membalas senyumanku, namun sedetik kemudian dia berubah galak.

"Jangan berkata seperti itu, nak! Ini sudah kewajiban dan tugasmu memastikanmu sembuh, karena aku adalah Biarawati penyembuh serta Bibimu. Kamu mengerti?" untuk kesekian kalinya aku mendengar ceramah itu tapi yang aku bisa lakukan hanya tersenyum.

"Kalau begitu, Bibi harus pergi dulu ya. Mamamu Daisy akan segera datang untuk membantumu tidur." setelah mengatakan itu, Bibi mengusap rambutku dengan lembut lalu segera keluar dari kamarku.

Aku menoleh ke jendela dan terlihat langit gelap, dengan hanya diterangi cahaya bulan dan ada beberapa bintang.

Pemandangan itu membuatku ingin sekali keluar dan melihatnya langsung, bukan hanya dari jendela saja. Tapi mau gimana lagi, tubuhku sendiri pun tidak bisa digerakan dengan leluasa.

Aku ingin sekali bisa keluar dari kamar ini dan melihat pemandangan di luar jendela entah siang atau malam. Sudah lama sekali aku terbaring di kamar ini dan hanya bisa melihat dunia luar dari balik jendela.

Ya, aku setidaknya ingin pergi ke Balkon dan melihat bulan serta bintang hari ini.

"Ternyata kamu bosan ya?"

"Ya, begitulah." aku sudah berpikir untuk membalas suara itu dalam batin saja supaya aman tidak didengar orang lain.

"Ya, itu rencana yang bagus."

Aku masih menatap jendela yang menampilkan malam hari dengan sendu. Kapan aku bisa berjalan lagi?

Lalu aku mendengar pintu terbuka dan aku menoleh siapa yang datang ke kamarku.

Dan ternyata itu Mama.

Senyumanku pun tiba-tiba muncul ketika melihat Mama.

"Sayang! Bibi Edelweiss tadi bilang kalau pengobatanmu sudah selesai." ucap Mama.

"Iya, Ma. Bibi bilang akan mengobatiku besok lagi,"

"Baiklah, kamu ingin Mama bacakan dongeng yang mana lagi?" tanya Mama sambil melihat-lihat beberapa cerita dongen yang ada di salah rak di kamar tidurku.

"Apa saja Mama," jawabku lalu menoleh ke jendela yang menampilkan pemandangan malam hari yang disinari rembulan dan ditaburi bintang-bintang.

"Ini dia!" seru Mama yang terdengar di telingaku, namun aku sama sekali tidak menolehkan kepalaku dari jendela. Aku bisa mendengar langkah kaki milik Mama yang mendekati kasurku.

"Sayang," panggilan Mama membuatku menoleh.

"Kamu mau lihat ke luar?" tanya Mama dengan sorot mata yang lembut.

"Iya, Mama. Aku ingin lihat dunia luar walau ya dari jendela saja, bukan dari kasur ini." aku bisa melihat sorot sendu dari wanita cantik tersebut.

"Kalau begitu, tunggu sebentar ya?!" ucap Mama lalu meletakkan buku cerita yang telah dia pilihkan, sebelum akhirnya berjalan keluar dari kamarku.

Aku hanya memandangi pintu di mana Mama terakhir terlihat.

"Mama mau ke mana? Apa dia tidak jadi membacakanku cerita?"

Daripada bertanya-tanya terus, aku memilih melihat dunia luar dari jendela besar yang ada di kamarku.

Selang beberapa menit, aku menoleh ke arah pintu di mana terbuka dan memperlihatkan dua orang. Papa dan Mama yang masuk ke kamarku membuatku terkejut.

"Papa?! Kenapa Papa ada di sini?!" aku terkejut menatap Papa yang berjalan mendekati kasurku bersama Mama. Lalu aku menoleh pada wanita yang melahirkanku ini.

"Mama?"

"Kamu tadi bilang ingin melihat dunia luar lewat jendela, bukan?" aku mengangguk dengan ragu.

"Dan tidak hanya diam di kasurmu ini?" sekali lagi aku mengangguk walau ragu.

"Apakah aku akan dimarahi karena menginginkan hal seperti itu?" batinku

"Kurasa tidak." jawaban tiba-tiba dari suara itu membuatku sedikit terkejut.

Dan tampaknya reaksi kecilku ini dibaca oleh Papa.

"Kenapa, nak?" tanya Papa padaku, sementara Mama tampak tidak menyadari adanya yang janggal.

Ya, tidak heran sih. Papa adalah seorang Lorienfield yang mana salah satu pembisnis yang pastinya selalu memantau dan membaca mimik wajah dan ekspresi setiap lawan bicaranya, bahkan anaknya sendiri yaitu aku dan Kak Asher.

Tapi aku tahu cara untuk mengecoh Papa, yaitu kasih sayangnya padaku. Aku tersenyum super lembut agar Papa bisa luluh.

"Aku tidak apa-apa Papa!"

Aku menoleh pada Mama. "Lalu kenapa Papa ada di sini, Mama?"

"Papa di sini untuk mengangkat tubuhmu dan kita akan bersama-sama menikmati pemandangan malam di atas Balkonmu ini!" seru Mama membuatku syok dengan mata melebar.

"Jadi, aku bisa menikmati pemandangan malam tanpa harus terbaring di atas kasur ini?" Mama mengangguk cepat berkali-kali dan Papa tersenyum tulus padaku.

Hal itu membuat terharu sambil sambil meneteskan air mata, namun langsung hapus dengan tanganku yang bisa digerakkan tanpa merasakan sakit lagi.

"Oh! Jangan menangis sayang! Ya sudah, Papamu akan mengangkatmu."

Papa pun segera berjalan ke dekat kasurku, kedua tangannya berada di bawah punggung belakangku dan di bawah kedua lututku. Dan aku sendiri reflek mengalungkan kedua lenganku pada Papa.

"Siap?" aku mengangguk dengan senyuman, lalu Papa membawaku membawaku menuju Balkon. Mama lebih dulu berjalan untuk membuka balkon kamarku.

"Wah!" adalah kata yang pertama kali keluar ketika aku melihat pemandangan di luar. Ternyata bukan hanya cahaya bulan yang menyorot di malam hari, namun juga lentera yang menyala seperti lampu di dunia nyata yang juga menyinari Kastil Lorienfield.

Papa membawaku hingga dekat dengan pembatas Balkon. Lalu Mama menyusul dan berdiri berdampingan dengan Papa.

Aku menoleh ke seluruh Balkon di kamarku ini, aku tidak menyangka punya Balkon seluas ini. Ya tidak heran sih, kamarku aja seluas apa.

"Oh! Adik?!" seruan itu membuatku menoleh dan mendapati dari arah kanan Papa berdiri ada Kak Asher yang juga tengah berdiri di Balkon sebuah kamar dengan kedua tangan memegang penyangga Balkon.

"Kakak?"

"Sedang apa di sini?" tanya Kak Asher yang melihatku keheranan bersama Papa dan Mama.

"Adikmu ingin melihat pemandangan dari luar kamar. Dia juga bosan kalau tertidur di atas kasur terus!" Mama yang mewakiliku untuk menjawab pertanyaan Kak Asher.

"Ouh begitu."

Balkon Kak Asher dan Balkon ku tampaknya berbeda tiga kamar.

Pantas saja dia yang lebih sering bolak balik menemuiku ketimbang Papa dan Mama. Ternyata jarak kamarku dan dia tidak jauh, hanya berbeda tiga kamar saja. Tapi kenapa dia tidak menempati kamar yang bertepatan dengan sebelah kamarku saja?

Ini aneh!

Ah, tunggu! Kalau lantai ini adalah kamarku dan Kak Asher. Di mana kamar Papa dan Mama?

"Di mana kamar Papa dan Mama?" tanyaku sambil menatap wajah keduanya.

Mereka saling menatap, lalu tersenyum bersama dan Mama menjawab pertanyaanku. "Lihat ke atas, sayang."

Aku pun menoleh ke atas dan terlihat Balkon yang kulihat jauh lebih luas dan lebar serta sangat panjang dari Balkonku.

"Wah! Lebih besar dan luas ketimbang Balkonku!"

Mama tertawa. "Benar, sayang!"

Aku pun tersenyum lalu menoleh ke depan, mantap sekeliling Kastil Lorienfield. Ternyata kastil ini sangat luas ya, tapi beberapa bulan lagi Kastil bisa saja runtuh jika aku tidak menjalankan rencanaku dengan baik. Lalu aku menoleh ke atas di mana terlihat langit malam ditaburi bintang-bintang dan bulan yang menyinari kami di bawahnya.

"Aku ingin melihat Bintang dan Bulan tiap hari seperti ini," ucapku sambil menatap Bintang dan Bulan di langit, tanpa menoleh pada Papa dan Mama.

"Jangan khawatir, sayang. Kami akan membawamu tiap malam ke Balkon ini," ucap Papa berjanji membuatku menoleh pada Papa.

"Papa janji?"

"Tentu saja, Papa akan datang menggendongmu dan kita bertiga akan memandangi langit malam bersama." ucap Papa menyakinkanku membuat menganggukkan kepalaku.

"Hei! Jangan lupakan aku!" seruan Kak Asher membuyarkan kehangatan kami bertiga sebagai keluarga. Aku dan Mama sontak tertawa bersama, sementara Papa menjawab Kak Asher.

"Kau tidak perlu diajak!"

"Heh! Papa jahat sekali! Aku juga anggota keluarga Lorienfield! Jangan dilupakan juga! Tunggu! Aku akan ke sana!"

"Tidak usah! Kau tidak perlu ke sini, lebih baik kau tetap berada di Balkon kamarmu tiap malam. Sementara kami di sini akan memandangi langit malam bertiga saja, kau tidak usah ikut!"

"Astaga! Jahat sekali!"

Perdebatan Papa dan Kak Asher membuatku dan Mama tertawa.

"Kau tahu, nak. Sebelum kamu lahir, Papa dan Kakakmu suka sekali bertengkar hanya demi berebut kasih sayang Mama." jelas Mama sambil menatap Papa dan Kak Asher bergantian dengan eskpresi geli.

"Wah! Manis banget!" seperti alur novel yang sering kubaca. Male Lead dan Female Lead yang sudah menikah dan hidup bahagia, akan diisi alur Male Lead yang bermusuhan atau berdebat dengan anak laki-lakinya hanya untuk berebut kasih sayang Female Lead.

"Manis apa! Kakak dijadikan musuh oleh Papa, Aza!" mendengar seruan Kak Asher itu membuatku tertawa.

Lalu aku memegang tangan Mama dan menatap langit yang ditaburi Bulan dan Bintang malam ini.

...💮...

...Bersambung....

...Thanks For Reading My Story...

...Dipublikasikan pada tanggal 25 Januari 2026....

1
Alishe
masi kaku dia wkwk menanti gebrakannya deh😘
Azalea Rhododendron: oke siap^^
total 1 replies
Alishe
w demen nih kluarga bucin bontot gini🤣🤣🤣
Azalea Rhododendron: iya, nantikan terus keluarga cemara ini ya^^
total 1 replies
Alishe
mampirrr
Azalea Rhododendron: Terima kasih sudah menyempatkan ke cerita ini😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!