Mereka datang ke desa untuk KKN dengan niat mengabdi.
Yang tak mereka sangka, kepulangan mereka justru membawa trauma.
Setiap suara malam dianggap teror, setiap bayangan jadi horor, padahal tak satu pun hantu benar-benar ada. Semua kekacauan terjadi karena ketakutan, kepanikan, dan imajinasi para mahasiswa itu sendiri.
Sebuah kisah horor komedi tentang KKN yang gagal menakutkan hantu,
karena manusianya sudah panik duluan.
Datang untuk mengabdi, pulangnya trauma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.17
Jam kini menunjukkan pukul 22.59. Detik terakhir sebelum jadwal ronda dimulai terasa lebih panjang dari yang seharusnya. Jam dinding berdetak pelan, seakan ikut menahan waktu. Jarumnya bergerak seperti ragu. Setiap detik jatuh dengan jarak yang tidak wajar, memberi cukup ruang bagi pikiran untuk mengisinya dengan kemungkinan-kemungkinan yang tidak diperlukan. Udara condong terasa lebih berat dari siang. Angin berhembus pelan menggoyangkan dedaunan pohon tua. Lampu pos ronda di depan posko menyala redup, lebih seperti lampu yang pasrah daripada lampu penerang. Cahaya kuningnya jatuh setengah hati, menciptakan bayangan-bayangan aneh di tanah.
Bayangan tiang pos ronda tampak lebih panjang dari seharusnya. Bayangan motor tua di samping posko tampak seperti sesuatu yang sedang duduk. Bayangan sepatu-sepatu mereka saling tumpang tindih, tidak jelas mana milik siapa. Kelompok shift pertama berdiri di luar. Tidak ada yang benar-benar berdiri santai. Masing-masing orang memegang sesuatu seperti senter, kamera, tas, jaket seolah benda-benda itu bisa menjadi alasan logis untuk tidak terlihat gugup.
Udin memegang senter seperti memegang tongkat komando, walau telapak tangannya basah oleh keringat. Ia mengusap celananya sekali, lalu menggenggam lagi. Paijo tersenyum pada kegelapan, senyum yang terlalu lebar untuk situasi seperti ini, seperti orang yang percaya kalau tersenyum duluan bisa mengalahkan rasa takut. Juned sudah siap dengan kamera, mode malam aktif, meski wajahnya sendiri tampak tegang di layar, matanya sedikit terlalu terbuka dan rahangnya mengeras. Juleha membaca doa dengan suara lirih, nyaris seperti gumaman, bibirnya bergerak cepat tanpa jeda. Ithay mengatur kamera depan ponselnya. Ia berdiri sedikit ke samping, mencari sudut cahaya terbaik, padahal cahaya di sana jelas tidak berniat bekerja sama.
"Oke, ronda night vlog," katanya ceria. "Kalau aku hilang, tolong upload ini."
"JANGAN NGOMONG GITU," bentak Udin dan Juleha bersamaan.
Keduanya saling menoleh sebentar, sama-sama kaget karena suara mereka terdengar terlalu keras di malam yang sunyi.
"Justru biar aman." Ithay terkekeh.
Bagi para penakut, tidak ada yang merasa ucapan itu lucu. Bahkan Paijo berhenti tersenyum sepersekian detik sebelum senyumnya kembali dipasang.
Jam dinding di posko berdentang kecil setelah jarumnya menunjuk pukul 23.00. Mereka pun mulai langkah untuk berjalan menyusuri jalan desa. Langkah pertama selalu yang paling berat. Bukan karena jalannya sulit, tapi karena setelah melangkah, tidak ada alasan lagi untuk kembali tanpa alasan yang jelas. Langkah kaki mereka terdengar terlalu keras di tanah berbatu. Setiap krek kecil terdengar seperti peringatan. Setiap gesekan daun seperti bisikan. Senter Udin bergerak ke kiri dan kanan, cahayanya memantul pada batang pohon, pagar bambu, dan dinding rumah warga yang tertutup rapat. Tidak ada suara televisi yang menyala atau warga yang sedang ngobrol. Bahkan tidak ada anjing menggonggong yang terdengar. Yang ada hanya suara jangkrik yang berteriak keras meramaikan malam.
"Ini desa apa set sound effect horor?" bisik Juned.
"Tenang," kata Udin otomatis. "Itu cuma jangkrik."
Suara jangkrik terdengar terlalu teratur seolah sedang latihan paduan suara. Bunyi krik-krik muncul serentak, lalu berhenti hampir bersamaan. Polanya terlalu rapi untuk sesuatu yang katanya alami.
Paijo melambaikan tangan dan menunjuk ke salah satu rumah warga yang lampunya masih menyala. Lampu itu satu-satunya yang terlihat hidup di deretan rumah gelap.
"Permisiii," sapanya ramah.
Namun tidak ada jawaban yang terdengar dari rumah tersebut. Sapaan itu hanya menguap di udara, jatuh di tanah, dan hilangn tanpa gema.
"Mungkin lagi nonton TV," katanya optimistis.
Padahal dari balik jendela, tidak terlihat bayangan orang. Hanya pantulan cahaya dan tirai yang bergerak sedikit, atau mungkin sebenarnya tidak bergerak sama sekali.
Juned memperbesar zoom kameranya. Tirai itu tampak diam. Tapi ketika ia menurunkannya lagi, ia tidak yakin apakah sebelumnya tirai itu benar-benar bergerak atau hanya pikirannya yang bergerak terlalu cepat.
...🍃🍃🍃...
Mereka berjalan lagi melanjutkan langkah untuk meneruskan ronda. QJalan desa berbelok kecil, melewati rumpun bambu dan beberapa pohon pisang yang berdiri rapat. Daunnya lebar, basah, dan sesekali bergesek pelan tertiup angin. Di tengah ronda, terdengar bunyi tok… tok… tok…, Bukan suara yang keras tapi terdengar cukup jelas. Bunyi itu teratur dengan jarak antar ketukannya sama. Seperti seseorang yang tahu persis kapan harus mengeluarkan suara agar didengar tapi tidak langsung dikenali. Semuanya langsung berhenti, langkah kaki seakan tertahan di tempat. Nafas menderu naik turun, lampu senter di tangan Udin pun ikut berhenti bergerak seakan membeku. Jantung mereka serentak berdetak naik satu tingkat dari detak normalnya.
"Apa itu?" bisik Ithay, kali ini tanpa senyum.
Juned langsung mengangkat kamera. Gerakannya refleks, terlalu cepat untuk orang yang mengaku santai.
"Dapet, dapet." Ia mendekat. "Kayaknya dari arah pohon pisang."
Senter Udin otomatis mengarah ke sana. Cahaya menyapu batang pisang, daun lebar, dan bayangan yang saling tumpang tindih.
"Jangan ke sana," kata Juleha cepat, refleks.
"Justru harus," sahut Juned. "Konten langka."
Paijo ragu sebentar, lalu ikut melangkah. Udin menghela napas, lalu berjalan paling depan, bukan karena berani, tapi karena kalau tidak di depan, ia akan lebih takut. Mereka mendekat perlahan. Langkah kaki kini lebih berhati-hati dengan nafas ditahan setengah. Bunyi tok itu tidak terdengar lagi. Justru itu yang membuatnya lebih buruk.
Dan tiba-tiba sebuah pelepah pisang jatuh, menghantam tanah dengan bunyi lembek.
Plak.
Udin menghela napas panjang, hampir berlebihan. Itu adalah napas yang terlalu keras untuk disebut lega.
"Tuh kan. Alam."
"Alam kenapa bunyinya kayak manggil nama gue?" gumam Ithay.
Juned menurunkan kameranya perlahan. Juleha memejamkan mata sebentar, lalu kembali membaca doa dengan volume sedikit dinaikkan dan Paijo tertawa kecil. Mereka semua kini saling pandang. Tidak ada yang mengatakan apa pun, tapi semua sepakat bunyi itu terlalu pas waktunya untuk sekadar pelepah jatuh. Udin melirik jam tangannya, sudah pukul 23.18. Tengah malam, Masih butuh beberapa lagi untuk menyelesaikan shift ronda mereka.
"Jalan lagi," katanya akhirnya.
Dan mereka pun melanjutkan ronda, meninggalkan pohon pisang itu di belakang.
Namun dari mereka tidak ada satupun yang melihat ke atas. Padahal, salah satu daun pisang masih bergoyang pelan bukan karena angin.
...🍃🍃🍃...
Bersambung....