NovelToon NovelToon
Sistem Harapan

Sistem Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi Pengusaha / Anak Genius / Bepergian untuk menjadi kaya / Bullying di Tempat Kerja / Sistem
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Siska menghentikan gerakannya yang hendak kembali ke sofa. Ia segera berlutut kembali di depan Arlan. Wajahnya yang semula tenang kini menunjukkan ketegangan yang tertata. Siska memeriksa pupil mata Arlan menggunakan lampu kilat kecil dari ponselnya yang disembunyikan di balik telapak tangan.

"Apa yang kamu rasakan, Arlan?" tanya Siska dengan suara yang sangat rendah.

"Aku merasa mual yang tidak wajar. Gejala ini merujuk pada gangguan saraf pusat akibat paparan zat kimia beracun," kata Arlan sambil menahan napas untuk meredam rasa mual.

Arlan tidak menyebutkan bahwa informasi tersebut berasal dari baris data yang berkedip di sudut matanya. Ia hanya memejamkan mata sejenak sambil mengatur ritme pernapasan yang mulai terasa berat.

"Bagaimana kamu bisa seyakin itu?" tanya Siska dengan nada sangsi.

"Aku pernah mempelajari dasar-dasar toksikologi saat masih di universitas. Rasa pahit di teh tadi dan reaksi otot wajahku sekarang sudah cukup menjadi bukti," jawab Arlan dengan tenang.

Siska mematikan lampu ponselnya. Ia berdiri dan berjalan menuju meja kerja Pak Pratama dengan langkah yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara di lantai marmer. Ia membuka laci paling bawah yang terkunci secara elektronik menggunakan sebuah kartu kecil yang ia keluarkan dari balik jam tangannya.

"Pak Pratama selalu menyimpan kotak medis darurat di sini. Dia adalah pria yang sangat paranoid dengan kesehatannya sendiri," ucap Siska sambil mencari sesuatu di dalam laci tersebut.

"Mbak Siska bisa menemukan penawarnya di sana?" tanya Arlan sambil memperhatikan gerakan Siska dari kursinya.

"Ada beberapa botol kecil di sini. Tapi aku tidak tahu mana yang merupakan penawar racun saraf," jawab Siska dengan nada yang sedikit putus asa.

Arlan memfokuskan pandangannya ke arah botol-botol yang dipegang Siska. Cahaya biru dari sistem di matanya bekerja secara otomatis untuk memindai setiap label obat yang ada di tangan wanita itu. Arlan segera membaca label yang paling sesuai dengan rekomendasi sistemnya.

"Botol kecil dengan tutup berwarna merah, Mbak. Labelnya tertulis Atropin Sulfat. Itu penawarnya," kata Arlan dengan cepat.

Siska segera mengambil botol tersebut. Ia kembali ke arah Arlan dan mengeluarkan sebuah alat suntik otomatis kecil. Tanpa ragu, ia menyuntikkan cairan itu ke lengan Arlan yang masih terikat di kursi. Arlan merasakan sensasi dingin menjalar dari titik suntikan yang perlahan-lahan meredakan rasa mual yang tadi menyiksanya.

"Ini hanya akan menunda efeknya, Arlan. Kamu tetap harus mendapatkan perawatan medis lengkap setelah kita keluar dari gedung ini," ucap Siska sambil menyembunyikan kembali botol dan alat suntik itu.

"Terima kasih, Mbak. Sekarang beri tahu saya, bagaimana cara kita melewati penjagaan di lantai dasar besok pagi?" tanya Arlan sambil mencoba menggerakkan bahunya yang sudah tidak terlalu kaku.

"Kita akan mengikuti skenario Pak Pratama. Kamu akan menandatangani kontrak akuisisi Arlan Corp. Saat itulah kamu harus mengaktifkan protokol perlindungan data yang kamu siapkan," jawab Siska sambil kembali duduk di sofa untuk menjaga jarak.

"Protokol itu membutuhkan akses ke jaringan server utama di ruangan ini. Saya harus menyentuh sensor biometrik secara langsung untuk mengirimkan kodenya," kata Arlan dengan jujur.

Siska menunjuk ke arah komputer utama yang ada di meja Pak Pratama. Komputer itu memiliki sistem keamanan biometrik dan pemindai retina mata yang sangat canggih.

"Hanya Pak Pratama yang bisa menyalakan komputer itu. Tapi besok pagi, dia akan membukanya di depanmu untuk proses verifikasi kontrak," ucap Siska sambil menatap jendela besar di ruangan itu.

"Berarti saya hanya punya satu kesempatan saat proses penandatanganan berlangsung," kata Arlan sambil merapikan pikirannya.

Fajar mulai menyingsing di ufuk timur kota Jakarta. Cahaya kemerahan mulai menyelinap masuk ke dalam ruangan kantor yang mewah itu. Pintu ruangan terbuka dengan suara desis udara yang halus. Pak Pratama melangkah masuk dengan setelan jas baru berwarna abu-abu yang sangat rapi.

"Bagaimana malammu, Arlan? Apa kamu sudah memutuskan untuk menjadi orang kaya yang cerdas atau orang idealis yang mati?" tanya Pak Pratama sambil duduk di kursi kebesarannya.

"Saya sudah memutuskan untuk menandatangani kontrak itu, Pak. Asalkan Ibu saya di desa benar-benar mendapatkan apa yang Bapak janjikan," jawab Arlan dengan ekspresi wajah yang datar.

Pak Pratama tertawa kecil yang terdengar sangat puas. Ia menyalakan komputer utamanya menggunakan pemindai retina mata. Layar besar di dinding ruangan menampilkan draf kontrak kerja sama antara Pratama Holdings dan Arlan Corp.

"Pilihan yang sangat bijak. Siska, siapkan perangkat pemindai biometrik untuk Arlan," perintah Pak Pratama tanpa menoleh ke arah asistennya.

Siska mendekat ke arah Arlan dan melepaskan ikatan di tangannya secara perlahan. Ia meletakkan sebuah perangkat pemindai kecil di atas meja di depan Arlan. Arlan bangkit dari kursinya dengan kaki yang sedikit lemas karena sisa reaksi kimia di dalam tubuhnya.

"Silakan, Arlan. Tempelkan ibu jarimu di sini, dan masa depanmu akan berubah dalam hitungan detik," ucap Pak Pratama sambil menunjukkan titik pemindaian di layar.

Arlan menatap jari jempolnya sendiri. Ia teringat instruksi sistem yang muncul di benaknya mengenai manipulasi akses server. Ia tidak perlu menjelaskan teknisnya pada siapa pun. Arlan hanya perlu memberikan tekanan yang berbeda di setiap sisi sensor sesuai dengan instruksi sistem yang tersembunyi.

"Proses verifikasi sedang berjalan, Pak," kata Siska sambil memperhatikan layar monitor.

Pak Pratama mengamati pergerakan data di layarnya dengan senyum yang semakin lebar. Namun senyum itu perlahan menghilang saat layar monitornya mendadak berubah menjadi warna merah menyala dengan logo peringatan dari departemen keamanan siber pusat.

"Apa ini? Siska, kenapa sistemnya malah memblokir aksesku sendiri?" tanya Pak Pratama dengan nada suara yang mulai meninggi.

"Saya tidak tahu, Pak. Sepertinya ada serangan dari luar yang masuk melalui jalur verifikasi biometrik Arlan," jawab Siska sambil berpura-pura panik di depan komputer.

Arlan menarik tangannya dari sensor. Ia menatap Pak Pratama dengan tatapan yang sangat tenang meskipun tubuhnya mulai bergetar karena adrenalin yang memuncak.

"Ini bukan serangan dari luar, Pak. Ini adalah surat pengunduran diri saya yang paling resmi," ucap Arlan dengan nada suara yang sangat dingin.

"Arlan! Apa yang sudah kamu lakukan pada server saya?" teriak Pak Pratama sambil mencoba mematikan paksa komputernya.

Tiba-tiba suara sirine dari kendaraan polisi terdengar sangat nyaring dari arah bawah gedung. Beberapa helikopter dengan lambang otoritas keuangan mulai terbang rendah di sekitar jendela kaca ruangan kantor tersebut.

"Bapak lupa satu hal. Kejujuran saya bukan hanya soal angka, tapi juga soal siapa yang lebih dulu mengirimkan bukti ke tangan hukum," kata Arlan sambil menunjuk ke arah pintu ruangan.

Pintu ruangan itu didobrak dari luar oleh sekelompok pria berseragam lengkap dengan senjata yang diarahkan langsung ke arah meja Pak Pratama. Kapten Bramanto masuk ke dalam ruangan dengan surat perintah penangkapan yang terlihat sangat resmi di tangannya.

"Pratama, Anda ditahan atas dugaan pencucian uang dan percobaan pembunuhan terhadap warga sipil," ucap Kapten Bramanto dengan suara yang menggelegar.

Pak Pratama tertegun di kursinya dengan wajah yang tampak sangat rapuh dan pucat. Ia menatap Arlan dan Siska secara bergantian dengan tatapan yang penuh dengan dendam yang sangat dalam.

"Kalian berdua tidak akan pernah bisa keluar dari gedung ini dengan selamat," desis Pak Pratama sebelum akhirnya tangannya diborgol oleh petugas.

Saat Pak Pratama digiring keluar, Siska mendekati Arlan yang kini harus bersandar pada meja karena tenaganya sudah benar-benar habis.

"Arlan, ambulans sudah menunggu di bawah. Kita harus segera pergi dari sini sebelum efek obatnya habis," ucap Siska sambil merangkul pundak Arlan.

"Mbak Siska, bagaimana dengan data tentang ayah Mbak?" tanya Arlan dengan suara yang semakin melemah.

"Datanya sudah terkirim bersama dengan laporanmu tadi, Arlan. Terima kasih sudah membantuku menyelesaikan ini," jawab Siska sambil menuntun Arlan menuju lift.

Namun saat pintu lift hampir tertutup, seorang pria dengan pakaian petugas kebersihan berdiri di depan mereka. Pria itu menodongkan sebuah pistol kecil yang dilengkapi dengan peredam suara ke arah jantung Arlan.

"Pak Pratama selalu memiliki rencana cadangan untuk orang-orang seperti kalian," ucap pria itu dengan suara yang sangat dingin.

Arlan menatap lubang hitam di ujung pistol tersebut. Di sudut matanya, baris peringatan sistem memberikan tanda bahaya terakhir yang membuat jantungnya berdetak kencang sekali lagi.

[Peringatan Darurat: Ancaman Mematikan Terdeteksi] [Status: Energi Sistem di Bawah 1%] [Tindakan: Gunakan sisa impuls listrik untuk mengganggu mekanisme penembak]

1
boy
sistem gk guna,udh di tampar,kluar darah,tpi bacot doang,goblok
boy
Arlan pengecut,udh bner tpi masih pengecut,goblok lu Arlan,
Was pray
langkahmu terlalu cepat pingin sukses Arlan, pingin kaya secara instan , sukses instan, ntar kamu jadi mie instan lama lama Arlan, lalui proses dengan sabar, pertajam kemampuan bisnismu , perkuat koneksi bisnismu, baru punya ilmu analisis data secuil udah mendirikan perusahaan ... 🤣🤣🤣
Was pray
terlalu awal Arlan terjun ke dunia bisnis, kerja di megantara grup baru nenapak, asah dulu otak bisnismu dengan menimba ilmu di megantara, setelah kakimu kokoh berdiri baru terjun ke dunia korporat
Pakde
up thor 🙏🙏🙏
Pakde
lanjut thor 🙏🙏🙏
Pakde
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!