Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, wanita itu berniat memberi kejutan untuk Gilang, suaminya.
Namun, Gilang justru pulang membawa kejutan yang menghancurkan segalanya. Seorang wanita bernama Lila diperkenalkan sebagai istri keduanya. Dan lebih menyakitkan, Lila juga tengah mengandung.
Saat itu Almira sadar, pernikahannya selama ini hanyalah sandiwara.
Dengan air mata yang diseka dan senyum yang terbit perlahan, Almira mulai menyusun langkah. Bukan untuk meratap, melainkan untuk membalas.
Karena ketika seorang wanita berhenti menangis, sesungguhnya ia sedang bersiap melakukan sesuatu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Nikahi Saya
.
Malam telah larut ketika Gilang terjaga dari tidurnya dan merasa kehausan. Tangannya meraba nakas di samping tempat tidur, namun tak menemukan apa pun. Ia perlahan mengangkat punggungnya, menarik diri untuk duduk bersandar pada sandaran ranjang. Mengucek matanya agar terbuka, lalu melirik ke atas nakas. Dan benar saja, tidak ada botol air minum yang biasanya disiapkan oleh Rini.
“Lila, ambilkan aku air minum!" Gilang menggoyangkan tubuh Lila, menyuruhnya bangun.
Namun…
"Apa sih, Mas? Aku ngantuk. Jangan ganggu!” Wanita itu malah membalikkan badan memunggunginya dan menarik selimut sampai ke dada.
Gilang mendengus kesal dan akhirnya terpaksa turun sendiri dari ranjang dan berjalan menuju dapur.
Matanya memicing ketika ia hendak meraih botol air minum yang ternyata berada di atas meja makan.
Rini berada di depan kulkas dengan baju tidur satin tipis tanpa lengan. Di bawah temaram lampu, kain itu bagaikan kabut lembut yang menutupi tubuhnya, menampilkan lekuk tubuhnya yang menggoda dengan begitu jelas, seolah mengundang setiap pandangan untuk jatuh dan terpaku. Gilang menelan ludahnya berkali-kali.
Perlahan, Gilang melangkah mendekat. Jantungnya berdegup kencang. Semakin dekat, aroma parfum Rini yang lembut dan segar semakin terasa memabukkannya. Gilang mengangkat tangannya, lalu menepuk pundak gadis itu dari belakang.
“Rini?"
Gadis itu terlonjak kaget.
"Bapak?" Rini mengurut dadanya, seolah dirinya benar-benar kaget. "Bapak ngagetin saya aja,” ucapnya dengan suara yang begitu lembut. Bak simfoni indah di telinga Gilang.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Gilang, mencoba menetralkan suaranya yang tercekat.
"Saya ingin mengambil air minum," ucap Rini. "Dan Bapak?" gadis itu balik bertanya.
"Aku juga ingin mengambil air minum. Kenapa kamu tidak menyiapkan air minum di kamarku?" tanya Gilang.
Rini kaget dan menatap Gilang dengan raut bersalah. "Maaf, Pak. Saya lupa. Tadi sore saya kurang enak badan, jadi langsung tidur."
Gilang mengangguk, berusaha menahan diri untuk tidak menatap terlalu lama pada Rini. "Ya sudah, tidak apa-apa," ucap Gilang. Matanya memindai setiap inci wajah Rini. Bibirnya yang merona tanpa pemerah buatan, seolah melambai minta dilumat. Rambutnya yang ikal jatuh di atas bahunya yang putih mulus. Jakun pria itu terlihat naik turun.
“Kalau begitu saya kembali ke kamar dulu, ya, Pak?” pamit Rini.
Gilang mengangguk tanpa kata. Hanya matanya yang mengikuti gerakan gadis itu.
Rini menunduk sebentar lalu berbalik dan melangkah menuju kamarnya. Namun, tiba-tiba kakinya tersandung entah oleh apa. Gadis itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh dengan keras di lantai.
"Aduh!" pekik Rini, memegangi kakinya.
Gilang kaget dan buru-buru mendekatinya "Kamu tidak apa-apa?" tanya Gilang, panik.
Rini meringis kesakitan. "Aduh, Pak... kaki saya sakit sekali," jawab Rini yang meringis kesakitan.
Gilang menatap Rini khawatir. Pria itu berjongkok di hadapan Rini dan memeriksa kakinya. "Sepertinya kaki kamu terkilir. Apa kamu masih bisa berjalan sendiri?"
Rini mengangguk lalu bangkit perlahan, namun tubuhnya kembali oleng dan hampir kembali terjatuh jika Gilang tidak segera menangkapnya.
“Biar aku antar kamu ke kamar," ucap Gilang, akhirnya.
Rini terkejut dan menatap Gilang merasa tak enak hati. "Tidak usah, Pak. Nanti merepotkan Bapak."
"Tidak apa-apa," balas Gilang, dengan senyum tipis. Bagai kucing garong yang melihat ikan asin. "Aku tidak keberatan. Ayo, pegangan yang erat."
Gilang menggendong Rini ala bridal style menuju kamar pembantu. Aroma tubuh Rini kembali menyeruak, membuat jantungnya berdebar tak karuan. Pria itu kembali menelan ludah berkali-kali.
Sesampainya di kamar Rini, Gilang menurunkan gadis itu perlahan ke atas tempat tidur. Posisi mereka yang begitu dekat membuat jantung Gilang berdebar semakin kencang. Ia bisa merasakan hembusan napas Rini di wajahnya, aroma tubuhnya yang lembut seolah memanggilnya untuk mendekat. Gilang menelan ludahnya kasar, jiwa buayanya kembali meronta.
"Terima kasih banyak, Pak," ucap Rini, dengan nada lirih. "Saya benar-benar merepotkan Bapak.”
Gilang tidak menjawab. Mungkin juga tidak mendengar. Matanya terpaku menatap wajah Rini. Tanpa sadar, Gilang mendekatkan wajahnya ke wajah Rini.
Rini tidak bergerak, seolah terhipnotis oleh tatapan Gilang. Matanya terpejam perlahan, dan bibirnya sedikit terbuka.
Gilang semakin mendekat, hingga bibirnya menyentuh bibir Rini. Sentuhan itu begitu lembut dan ringan, namun mampu membangkitkan gelombang gairah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia mencium Rini dengan lembut, memberikan seluruh perasaannya dalam ciuman itu.
Namun, saat ciuman semakin dalam dan Gilang mulai kehilangan kendali, Rini mendorong tubuh Gilang dengan kedua tangannya, membuat ciuman itu terlepas.
“Shit!" makinya dalam hati.
"Maaf, Pak!" ucap Rini, seolah terkejut dan ketakutan. "Tidak seharusnya kita melakukan ini."
Rini menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Gilang terdiam, terpaku di tempatnya dengan rahang mengeras. Marah tapi berusaha menahan diri. "Maafkan aku, Rini," ucap Gilang, dengan suara bergetar. "Aku tidak seharusnya melakukan ini. Aku... aku khilaf.”
Padahal dalam hatinya ia ingin memakai. " “Dasar sial!" Kesal karena gairah diputus begitu saja.
"Tidak apa-apa, Pak. Kita lupakan saja apa yang baru saja terjadi,” ucap Rini lirih masih menutup wajahnya.
"Rini," ucap Gilang lirih. Mengambil kedua tangan Rini dan menggenggamnya erat. Terlihat olehnya mata gadis itu terpejam dan wajahnya basah. "Sebenarnya… ini karena... aku menyukaimu."
Rini membuka matanya lebar, menatap Gilang dengan raut terkejut. Bibirnya sedikit terbuka seakan tak menyangka akan mendengar kata-kata Gilang.
"Bapak…? Apa yang Bapak katakan?"
Gilang menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian. "Aku mengatakan yang sebenarnya," ucap Gilang. "Aku menyukaimu. Aku tidak bisa membohongi perasaanku. Aku... aku benar-benar menyukaimu, Rini."
Rini bergerak duduk dan menundukkan kepalanya. Kedua tangannya meremas ujung baju tidurnya. "Saya..." ucap Rini, dengan nada terbata-bata. "Sebenarnya... saya juga menyukai Bapak."
Gilang menatap Rini dengan tatapan tidak percaya. "Benarkah?" tanya Gilang terkejut.
Rini mengangguk pelan, menundukkan kepalanya kembali. "Tapi... Saya tidak berani mengakuinya," ucap Rini, dengan suara lirih. "Bapak adalah majikan saya.”
"Kenapa tidak berani?” Gilang mengambil kedua tangan Rini dan menggenggamnya semakin berat. Wajah pria itu berbinar. "Aku juga menyukaimu. Kita sama-sama saling menyukai.”
"Tapi... bagaimana dengan istri Bapak?" tanya Rini. Wajahnya terlihat khawatir. "Mereka pasti marah jika tahu tentang kita?"
Gilang terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang tepat untuk Rini.
"Kita bisa berhubungan diam-diam. Tidak ada yang perlu tahu tentang hubungan kita ini. Kita akan merahasiakannya dari semua orang."
Rini menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Tidak, Pak! Saya tidak mau seperti itu!" ucap Rini seraya menarik kedua tangannya dari genggaman Gilang. "Saya tidak mau menjadi selingkuhan. Nanti kalau ketahuan, mereka pasti memberikan cap PELAKOR kepada saya."
Gilang menggaruk kepalanya frustasi. Ingin rasanya mengamuk karena penolakan Rini. "Lalu bagaimana? Sedangkan aku benar-benar mencintaimu?”
Rini menatap Gilang penuh simpati. "Jika Bapak memang benar-benar menyukai saya…" Rini menjeda ucapannya untuk menarik napas dalam-dalam, seolah sedang mengumpulkan keberanian. "Nikahi saya!"
Gilang tertegun mendengar permintaan Rini. Matanya membulat sempurna, dan mulutnya sedikit terbuka.
"Menikahimu?" tanya Gilang. Suaranya nyaris tidak terdengar.
Bongko langsung Gilang 😀
Rosidah langsung stroke
Lila langsung brojol bayine
Riana langsung semaput, ternyata pas diperiksa semaput mergo meteng
Wis paket komplit arep riyoyo siap dinikmati 😀😀
Gagal maning gagal maning... Kagak jadi belah duren lagi si gilang🤣🤣🤣
Sambil berdiri semua pengang perutnya... ini gimana konsepnyaa/Facepalm//Facepalm/
"kali ini aku akan membiarkan pria lain...." kata tidak nya mana🧐🧐