NovelToon NovelToon
DIINJAK UNTUK BERSINAR

DIINJAK UNTUK BERSINAR

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
​Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
​Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: AYAH YANG SEKARAT

#

Aku lari.

Lari sekencang-kencangnya.

Vanya, Adrian, Arjuna ikut lari di belakang aku.

Lima kilometer. Dari sekolah ke rumah sakit. Kami lari hampir semua.

Napas tersengal-sengal. Dada sakit. Kaki pegel. Tapi aku terus lari.

Ayah. Ayah di rumah sakit. Kondisinya kritis.

Kata-kata Pak Hadi terus bergema di kepala.

"JANTUNGNYA! JANTUNGNYA LEMAH! DIA KEJANG-KEJANG!"

Gak. Gak boleh. Ayah gak boleh kenapa-kenapa.

Aku baru menang. Aku baru bisa bikin ayah bangga. Ayah gak boleh pergi sekarang.

"YA ALLAH KUMOHON... KUMOHON SELAMATKAN AYAH... KUMOHON..."

Doaku tercampur napas yang tersengal.

***

Sampai di rumah sakit, aku langsung lari ke UGD.

Pintu otomatis terbuka. Aku masuk. Ruangan dingin. Bau obat menyengat. Lampu putih terang menyilaukan.

Aku liat ibu.

Ibu duduk di bangku ruang tunggu. Tubuhnya membungkuk. Tangan nutup muka. Nangis.

"IBU!"

Aku lari ke ibu. Aku peluk ibu dari samping.

"Bu... ayah gimana? Ayah di mana?"

Ibu angkat kepala. Mukanya basah air mata. Mata merah bengkak. Bibir gemetar.

"Satria... ayahmu... ayahmu di dalam... dokter lagi periksa... jantungnya... jantungnya lemah sekali..."

Ibu nangis lagi. Keras. Badannya bergetar.

Aku peluk ibu erat. Aku juga nangis.

"Gak papa, Bu... ayah bakal baik-baik aja... ayah kuat... ayah pasti sembuh..."

Tapi suaraku gak yakin. Aku cuma coba nenengin ibu. Padahal dalem hati aku juga ketakutan setengah mati.

Pak Hadi duduk di sebelah ibu. Mukanya sedih. Dia tepuk pundak aku pelan.

"Satria... kamu kuat ya, Nak. Ibumu butuh kamu sekarang."

Aku ngangguk. Meskipun air mata masih jatuh.

***

Setengah jam kemudian, dokter keluar dari ruang UGD.

Dokter laki-laki. Tua. Berkacamata. Mukanya serius.

"Keluarga Pak Budi Aksara?"

Aku langsung berdiri. Ibu juga. Kami jalan cepat ke dokter.

"Iya, Dok. Saya anaknya. Ini ibu saya. Ayah saya gimana, Dok?"

Dokter liat clipboard di tangannya. Dia ngehela napas panjang.

"Kondisi ayahmu sangat kritis. Jantungnya sangat lemah. Ada penyumbatan di arteri koroner. Ditambah kondisi tubuhnya yang buruk karena lumpuh selama lima tahun... tekanan darah tinggi... gula darah gak stabil... ini semua memperburuk kondisinya."

Jantungku berdetak cepat. Tangan gemetar.

"Terus... terus gimana, Dok? Ayah bisa sembuh kan?"

Dokter diem sebentar. Mukanya semakin serius.

"Ayahmu butuh operasi bypass jantung. Segera. Ini operasi besar. Kami harus buka dada, pasang ring di jantung, bersihkan penyumbatan. Tanpa operasi ini... ayahmu hanya punya waktu dua sampai tiga minggu lagi."

Dunia aku runtuh.

Dua sampai tiga minggu.

Ayah... ayah cuma punya waktu segitu?

Ibu jatuh berlutut. Nangis keras. "YA ALLAH... YA ALLAH KENAPA..."

Aku pegangin ibu. Tapi tanganku juga gemetar. Kakiku lemas.

"Dok... dok operasinya... biayanya berapa?"

Dokter liat aku dengan tatapan iba.

"Dua ratus lima puluh juta rupiah. Termasuk biaya operasi, perawatan intensif, obat-obatan, dan pemulihan."

Dua ratus lima puluh juta.

Angka yang gak pernah aku bayangin.

Angka yang... yang mustahil buat kami.

"Dok... kami... kami gak punya uang segitu... kami... kami miskin... kami gak punya apa-apa..."

Suaraku patah. Gemetar.

Dokter tepuk pundak aku. "Nak... maaf. Tapi ini rumah sakit swasta. Kami gak bisa gratisin sepenuhnya. Mungkin bisa pakai BPJS? Atau cari bantuan dana sosial?"

Aku geleng. "Ayah gak punya BPJS, Dok... kami... kami gak pernah daftar..."

Dokter ngehela napas lagi. "Kalau begitu... kalian harus cari pinjaman. Atau galang dana. Atau apapun. Tapi harus cepat. Waktu ayahmu gak banyak."

Dokter jalan pergi. Ninggalin aku sama ibu yang terduduk lemas di lantai.

Aku duduk di sebelah ibu. Tangan nutup muka.

"Dari mana... dari mana aku dapet uang sebanyak itu..."

Bisikku pelan. Putus asa.

***

"Satria... boleh masuk?"

Suara perawat dari pintu UGD.

Aku angkat kepala. "Boleh... boleh aku liat ayah?"

Perawat ngangguk. "Boleh. Tapi jangan lama. Beliau butuh istirahat."

Aku masuk ke ruang UGD. Ibu ikut di belakang.

Di dalam, ayah terbaring di kasur. Tubuhnya kurus kering. Kulitnya pucat. Banyak selang nempel di tubuhnya. Selang oksigen di hidung. Selang infus di tangan. Kabel-kabel monitor jantung di dada.

Bunyi mesin monitor berbunyi pelan. Pip. Pip. Pip.

Aku jalan pelan ke kasur. Aku pegang tangan ayah yang dingin.

"Yah..."

Ayah buka mata pelan. Matanya sayu. Gak ada tenaga.

"Sat... kamu... kamu datang..."

Suaranya lemah. Nyaris bisikan.

Aku ngangguk. Air mata jatuh. "Iya, Yah. Aku datang. Ayah gimana? Sakit?"

Ayah senyum tipis. Senyum yang lemah banget.

"Gak... gak sakit... cuma... cuma capek, Nak..."

Ibu pegang tangan ayah dari sebelah lain. Nangis. "Bang... kumohon bertahan... kumohon jangan tinggalin kami..."

Ayah liat ibu. Dia angkat tangannya yang gemetar. Dia belai pipi ibu.

"Maafkan... abang... Min... abang... abang gak bisa jadi suami yang baik... abang cuma... cuma jadi beban..."

Ibu geleng keras. "Abang bukan beban! Abang suami terbaik! Abang ayah terbaik! Kumohon jangan bicara begitu!"

Ayah liat aku. Matanya berkaca-kaca.

"Sat... ayah... ayah bangga sama kamu... kamu... kamu anak hebat... kamu berhasil... bongkar kejahatan itu... ayah... ayah sangat bangga..."

Aku geleng sambil nangis. "Ayah... ayah harus sembuh, Yah. Ayah harus liat Satria jadi dokter. Ayah harus liat Satria wisuda. Ayah harus..."

Ayah geleng pelan. "Sat... gak apa-apa... ayah sudah... cukup bahagia... lihat kamu... jadi anak hebat... ayah... ayah gak nyesel punya anak kayak kamu..."

"JANGAN BICARA BEGITU, YAH!"

Aku teriak. Suaraku keras. Gemetar.

"SATRIA AKAN CARI UANG! SATRIA AKAN KUMPULIN UANG BUAT OPERASI AYAH! AYAH HARUS SEMBUH! AYAH HARUS HIDUP! AYAH GAK BOLEH NINGGALIN SATRIA DAN IBU!"

Ayah senyum. Senyum yang sedih.

"Sat... uangnya... banyak... kamu... kamu gak akan bisa..."

"AKU BISA! AKU PASTI BISA! AKU AKAN CARI DARI MANA PUN! KUMOHON AYAH... KUMOHON BERTAHAN..."

Aku jatuh berlutut di samping kasur. Aku pegang tangan ayah erat. Aku nangis sejadi-jadinya.

Ibu juga nangis. Dia peluk ayah dari sebelah lain.

Kami bertiga nangis di ruang UGD yang dingin.

Bunyi monitor jantung terus berbunyi. Pip. Pip. Pip.

Lemah. Pelan. Kayak bisa berhenti kapan aja.

***

Aku keluar dari ruang UGD dengan mata merah bengkak.

Di ruang tunggu, Vanya, Adrian, Arjuna udah nunggu. Mukanya khawatir semua.

Begitu liat aku, mereka langsung berdiri.

"Sat... ayahmu gimana?" tanya Vanya pelan.

Aku jatuh duduk di bangku. Tangan nutup muka.

"Ayah... ayah butuh operasi. Biayanya dua ratus lima puluh juta. Tanpa operasi... ayah cuma punya waktu dua sampai tiga minggu..."

Mereka semua shock. Diem.

Vanya duduk di sebelah aku. Dia pegang pundak aku. "Sat... kita... kita akan bantuin. Kita akan cari cara."

Adrian duduk di sebelah lain. "Iya, Sat. Kita gak akan biarkan lu sendirian. Kita akan kumpulin uang itu. Apapun caranya."

Arjuna berdiri di depan aku. "Sat... gue punya sedikit tabungan. Sekitar lima juta. Gue kasih semua buat ayah lu."

Aku angkat kepala. Liat mereka. "Tapi... tapi itu gak cukup... lima juta... itu gak ada apa-apanya dibanding dua ratus lima puluh juta..."

Vanya geleng. "Kita mulai dari yang kecil, Sat. Lima juta dari Arjuna. Terus kita galang dana. Kita minta bantuan orang-orang. Kita viral di media sosial. Kita... kita pasti bisa."

Adrian ngangguk. "Gue juga bakal bantuin. Gue akan jualan apa aja. Gue akan kerja apa aja. Yang penting ayah lu sembuh."

Pintu ruang tunggu terbuka. Nareswari masuk. Tangannya masih digips. Mukanya masih lebam. Tapi dia dateng.

"Sat... gue denger dari Vanya. Ayahmu sakit. Gue... gue akan bantuin juga. Gue punya kamera yang lumayan mahal. Gue jual. Hasilnya buat ayahmu."

Aku liat mereka semua. Teman-teman yang... yang udah jadi keluarga.

"Kalian... kalian serius?"

Mereka semua ngangguk. Serentak.

"Kita keluarga, Sat. Kita bantuin satu sama lain. Apapun yang terjadi."

Aku nangis lagi. Tapi kali ini... kali ini gak sepenuhnya sedih.

Ada secercah harapan. Secercah cahaya di tengah kegelapan.

"Terima kasih... terima kasih kalian semua..."

Kami berlima pelukan. Di ruang tunggu rumah sakit yang dingin.

Ibu keluar dari ruang UGD. Liat kami. Dia senyum tipis meskipun matanya masih basah.

"Kalian... kalian anak-anak yang baik. Terima kasih... terima kasih sudah jadi teman Satria."

Vanya peluk ibu. "Tante... kami akan bantuin. Kami akan kumpulin uang buat operasi Paman. Kami janji."

Ibu nangis di pelukan Vanya. Nangis lega. Nangis terharu.

***

*Andri: "Saat kau berdiri di tepi jurang kehilangan, lihatlah siapa yang menggenggam tanganmu. Mereka adalah malaikat tanpa sayap yang Allah kirimkan untukmu. Pegang erat. Jangan lepas."*

1
Was pray
satria terlalu ambisius
✮⃝🍌 ᷢ ͩ 𝐁𝐋𝐔𝐄¹²²💙nury
memang kadang harapan gak sesuai dengan kenyataan
aa ge _ Andri Author Geje: good💪 benar ituh
total 1 replies
✮⃝🍌 ᷢ ͩ 𝐁𝐋𝐔𝐄¹²²💙nury
keren untuk Bagas ,tetap semangat dengan segala keterbatasannya
yuningsih titin: lanjut kak👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!