NovelToon NovelToon
SLEEP WITH MY UNCLE

SLEEP WITH MY UNCLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cinta Terlarang / Dark Romance / Romansa
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.

Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 SWMU

Mansion Mahendra tampak berbeda di bawah cahaya matahari pagi yang cerah. Namun, bagi Nadia Clarissa, keindahan arsitektur klasik dan taman yang tertata rapi itu hanyalah topeng yang menutupi kebusukan di dalamnya. Di dalam mobil menuju pusat kota, Nadia duduk dalam diam, sementara Bramantya sibuk dengan beberapa panggilan telepon bisnis.

Nadia menatap ke luar jendela, memperhatikan deretan pohon yang melesat cepat. Ia meraba tanda merah di lehernya yang sengaja ia tutup dengan sedikit foundation dan syal sutra tipis. Pikirannya tidak fokus pada pemandangan, melainkan pada rencana yang harus ia susun. Ia butuh sekutu. Ia butuh seseorang yang tidak berada di bawah pengaruh Bramantya.

"Kau sangat diam, Nadia," suara berat Bramantya memecah keheningan setelah ia menutup ponselnya. "Apa yang sedang kau pikirkan?"

Nadia menoleh, memaksakan wajah yang datar. "Hanya memikirkan dokumen yang harus kutandatangani, Paman. Aku merasa aneh menjadi 'tanggung jawab' seseorang secara hukum."

Bramantya tertawa kecil, suara yang terdengar sangat berkuasa. "Itu hanya formalitas agar bank dan pengacara ayahmu tidak bisa mengganggumu lagi. Setelah ini, kau bebas melakukan apa pun di dalam mansion."

Di dalam mansion. Nadia mencatat penekanan itu. Kebebasannya memang hanya sebatas pagar besi tinggi itu.

Setelah berjam-jam berkutat dengan tumpukan kertas di kantor hukum yang dingin, mereka kembali ke mansion saat senja mulai memudar. Bramantya tampak puas, sementara Nadia merasa energinya terkuras habis. Ia segera pamit ke kamarnya dengan alasan pusing, sebuah alasan yang sebenarnya tidak sepenuhnya bohong.

Sesampainya di kamar, Nadia langsung mengunci pintu. Ia menyalakan lampu utama yang terang benderang, berusaha mengusir suasana mencekam yang selalu hadir saat malam tiba. Ia berdiri di depan meja riasnya yang besar, cermin oval dengan bingkai emas itu memantulkan wajahnya yang tampak pucat dan lelah.

Nadia mulai menghapus riasannya perlahan. Saat syal sutranya terlepas, tanda merah itu kembali terlihat. Napasnya tercekat. Rasa jijik dan marah kembali bergejolak. Ia mengambil kapas dan pembersih wajah, namun gerakannya tiba-tiba terhenti.

Di dalam cermin, ia melihat sesuatu.

Bukan pantulan dirinya, melainkan sesuatu di belakangnya. Di sudut kamar yang agak gelap, dekat lemari pakaian besar yang terbuat dari kayu jati, ia merasa melihat sebuah bayangan. Bayangan itu tinggi, berdiri diam, seolah sedang memperhatikannya.

Nadia memutar tubuhnya dengan cepat. "Siapa di sana?!" serunya.

Kosong. Tidak ada siapa-siapa. Pintu lemari tertutup rapat. Gorden jendela tidak bergerak sedikit pun. Nadia memegang dadanya yang naik-turun dengan cepat. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit.

"Tenang, Nadia... itu hanya imajinasimu," bisiknya pada diri sendiri.

Ia kembali menghadap cermin. Namun, sensasi itu tidak hilang. Sensasi ditonton, sensasi diperhatikan oleh sepasang mata yang tak terlihat, justru semakin kuat. Ia menatap pantulan matanya sendiri di cermin, mencoba mencari ketenangan, namun matanya justru menangkap detail lain.

Di permukaan cermin yang bersih itu, terdapat bekas uap tipis yang membentuk pola aneh. Seperti bekas telapak tangan seseorang yang baru saja menyentuh kaca tersebut. Nadia mendekatkan wajahnya, menyentuh bekas itu dengan jarinya. Dingin.

Tiba-tiba, lampu di kamarnya berkedip. Zzzzt... zzzzt...

Dalam satu detik kegelapan saat lampu padam, Nadia melihat pantulan di cermin itu lagi. Kali ini lebih jelas. Ada sosok pria berdiri tepat di belakang bahunya. Sosok itu tidak memiliki wajah yang jelas dalam gelap, namun postur tubuhnya sangat ia kenali. Bramantya.

Lampu kembali menyala terang. Nadia berteriak dan jatuh terduduk di lantai, menjauh dari meja rias. Kamar itu kembali kosong. Ia merangkak mundur hingga punggungnya membentur pintu.

"Paman! Bram! Aku tahu kau di sini!" teriaknya dengan suara parau.

Hening. Tidak ada jawaban. Nadia bangkit dengan kaki gemetar. Ia mengambil lampu meja yang cukup berat sebagai senjata. Dengan keberanian yang dipaksakan, ia mendekati meja riasnya lagi. Ia memeriksa kolong meja, belakang gorden, hingga ke dalam lemari pakaian. Semuanya kosong. Hanya ada deretan gaun mahalnya yang tergantung kaku seperti mayat.

Nadia kembali menatap cermin. Bekas telapak tangan itu masih ada di sana.

"Ini tidak mungkin... pintunya terkunci," gumamnya. Ia memeriksa gagang pintu, masih terkunci rapat dari dalam. Ia memeriksa jendela, terkunci dari dalam dan berada di lantai dua yang curam.

Nadia merasa kewarasannya mulai terkikis. Apakah ini efek samping dari susu yang ia minum setiap malam? Apakah obat itu mulai memberikan halusinasi permanen? Ataukah Bramantya benar-benar memiliki cara untuk masuk ke kamarnya tanpa melalui pintu utama?

Ia teringat pada denah rumah yang pernah ia lihat sekilas di perpustakaan. Mansion tua seperti ini biasanya memiliki lorong-lorong rahasia untuk para pelayan atau jalan keluar darurat bagi pemiliknya.

Nadia kembali berdiri di depan cermin. Ia menyentuh bingkai emas yang rumit itu. Ia mencoba mendorongnya, menariknya, namun cermin itu tidak bergerak. Ia mulai mengetuk dinding di sekitar meja rias.

Tok. Tok. Tok. Suara padat. Tok. Tok. Tuk.

Suara di bagian tengah dinding, tepat di belakang cermin, terdengar sedikit berbeda. Lebih nyaring. Lebih kosong.

Nadia memejamkan mata, mencoba mengingat bayangan di cermin tadi. Sosok itu tidak berdiri di belakangnya secara fisik, tapi pantulannya muncul seolah-olah pria itu berada di dalam ruangan.

Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk dari luar.

Tok. Tok. Tok.

Nadia terlonjak kaget, lampu mejanya hampir terjatuh. "Siapa?!"

"Nadia? Ini aku. Kau berteriak tadi. Apa kau baik-baik saja?" Suara Bramantya terdengar khawatir dari balik pintu.

Nadia ragu sejenak. Ia meletakkan lampu meja dan berjalan perlahan menuju pintu. Ia membuka kuncinya dan menarik pintu sedikit saja. Bramantya berdiri di sana, masih mengenakan kemeja kerjanya, namun wajahnya tampak lelah dan cemas.

"Aku... aku hanya melihat kecoa besar," bohong Nadia, suaranya masih bergetar.

Bramantya menatap Nadia dengan intens, matanya menyapu seluruh ruangan di belakang Nadia sebelum kembali menatap mata gadis itu. "Kau yakin? Kau pucat sekali."

"Hanya lelah, Paman. Terlalu banyak dokumen tadi."

Bramantya mengulurkan tangannya, bermaksud menyentuh dahi Nadia untuk memeriksa suhunya, namun Nadia refleks menghindar. Gerakan itu membuat suasana menjadi kaku sesaat. Bramantya menarik kembali tangannya, matanya sedikit menyipit.

"Tidurlah. Bi Inah akan membawakan susumu sebentar lagi," ucap Bramantya dingin.

"Aku tidak ingin minum susu malam ini, Bram," tantang Nadia.

Bramantya terdiam. Ia menatap Nadia dengan tatapan yang sulit dibaca—campuran antara kekuasaan dan sesuatu yang menyerupai kasih sayang yang menyimpang. "Kau butuh susu itu agar bisa tidur tenang tanpa teriakan, Nadia. Minumlah. Untuk kebaikanmu sendiri."

Setelah Bramantya pergi, Nadia menutup pintu dan menguncinya kembali. Ia menyadari satu hal: Bramantya tidak terkejut saat ia berteriak. Pria itu seolah sudah tahu apa yang terjadi di dalam kamar ini.

Nadia kembali ke meja rias. Bekas telapak tangan di cermin itu kini sudah menghilang, menguap tertelan udara kamar yang dingin. Ia menatap bayangannya sendiri di cermin dengan tatapan tajam.

"Kau memperhatikanku, bukan?" bisik Nadia pada cermin itu. "Kau ada di balik dinding ini."

Nadia tidak lagi merasa takut. Rasa takutnya kini telah berubah menjadi kemarahan yang dingin. Jika Bramantya ingin memperlakukannya seperti tontonan, maka ia akan memberikan pertunjukan yang tidak akan pernah dilupakan pria itu.

Malam itu, saat Bi Inah datang membawa susu, Nadia meminumnya di depan pelayan itu tanpa protes. Namun, sesaat setelah Bi Inah keluar, Nadia segera berlari ke kamar mandi, bukan untuk memuntahkannya—karena ia tahu itu sia-sia—melainkan untuk membasuh wajahnya dengan air es agar tetap sadar selama mungkin.

Ia kembali ke depan cermin. Ia mematikan lampu kamar dan hanya menyalakan satu lilin kecil di atas meja rias. Ia duduk diam, menatap pantulannya di cermin, menunggu bayangan itu muncul kembali.

"Tunjukkan dirimu, Paman," bisiknya dalam kegelapan. "Jangan bersembunyi di balik kaca."

Kesadaran Nadia mulai goyah akibat pengaruh susu, namun ia menggigit bibir dalamnya hingga berdarah untuk tetap terjaga. Dan di sana, di dalam remang cahaya lilin, ia melihatnya lagi. Bukan di belakangnya, tapi di dalam cermin.

Permukaan cermin itu seolah menjadi transparan sesaat. Di balik kaca itu, Nadia melihat sebuah ruangan kecil yang sempit. Dan di dalam ruangan itu, duduk seorang pria di depan deretan layar monitor yang menampilkan setiap sudut kamarnya.

Pria itu adalah Bramantya Mahendra.

Ia sedang menatap layar yang menampilkan Nadia. Tangannya menyentuh permukaan layar, tepat di bagian wajah Nadia, dengan gerakan yang sama seperti bayangan di cermin tadi.

Nadia terkesiap. Jadi itu bukan hantu. Itu bukan halusinasi. Meja riasnya adalah sebuah cermin dua arah. Dan di balik dinding kamarnya, terdapat ruang pabtauao rahasia di mana Bramantya menghabiskan malam-malamnya untuk "menjaga" tidurnya.

Rasa kantuk yang luar biasa akhirnya menang. Sebelum Nadia jatuh tersungkur di atas meja rias, hal terakhir yang ia lihat adalah mata Bramantya yang menatapnya dari balik kaca—mata yang penuh dengan obsesi, cinta yang sakit, dan kemenangan yang mutlak.

Nadia tidak lagi sendirian di kamarnya. Ia tidak akan pernah sendirian selama ia berada di Mansion Mahendra.

1
itsmeiblova
semangatt thor 🔥 yukk update lagi
Han*_sal
jadi kepo aku
Han*_sal
lanjut
Han*_sal
wawwwww 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!