Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.
"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"
Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?
Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMNB 13
Suasana meja makan pagi itu terasa hangat, aroma nasi goreng mentega buatan Mutiara begitu harum sampai ke seluruh ruangan, rumah yang sudah kosong lama itu akhirnya benar-benar seperti rumah.
Denting sendok yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya musik latar, sampai sebuah getaran keras di atas meja kayu membuyarkan ketenangan.
Arkan melirik ponselnya. Mutiara yang duduk tepat di samping pria itu tak sengaja menangkap barisan huruf yang menyala di layar, 'My Son Calling'.
Jantung Mutiara seakan berhenti berdetak. Anak? Kenapa bisa ada anak yang menelpon Arkan sepagi itu?
Padahal pria itu berkata kepada dirinya kalau Arkan adalah seorang perjaka, belum pernah menikah sama sekali. Itu artinya tidak mungkin ada anak kalau pria itu saja belum pernah melakukannya terhadap wanita.
Arkan menggeser layar ponselnya, lalu menempelkan ponsel ke telinga dengan senyum hangat di bibirnya.
"Halo, Jagoan. Tumben sepagi ini sudah telepon?"
Suara di seberang sana terdengar cukup nyaring, menyusup keluar dari celah speaker. Mutiara mengerutkan keningnya, dia merasa familiar dengan suara yang ada di seberang telepon tersebut.
"Ayah sudah di rumah? Kata asisten Ayah, Ayah sudah pulang dari luar negeri beberapa hari yang lalu."
Mutiara terus memperhatikan obrolan antara Arkan dan juga putranya itu, kalau didengar-dengar suara putranya itu terdengar sudah sangat dewasa. Sedangkan usia Arkan baru tiga puluh tujuh tahun.
Rasanya tidak mungkin pria itu memiliki putra yang sudah dewasa, kecuali mungkin kalau pria itu menikah saat duduk di bangku SMP.
"Iya, Ayah sudah di rumah. Kenapa? Kangen?"
Arkan terkekeh, lalu dia melirik ke arah nenek Mia yang hanya tersenyum tenang seolah sudah biasa dengan panggilan itu. Berbeda dengan Mutiara yang langsung cemberut dengan rasa kesal.
"Sangat kangen! Oiya, ada hal penting. Aku mau kita makan malam bareng. Aku ingin mengenalkan calon istriku secara resmi pada Ayah. Dia wanita yang luar biasa, kapan kita bisa bertemu?"
Raut wajah Arkan tiba-tiba saja berubah, tapi yang pasti Mutiara tidak bisa membaca raut wajah suaminya tersebut, senyum yang seperti sedang menebar jebakan tapi sulit untuk diungkapkan.
"Tentu. Atur saja waktunya. Ayah tidak sabar bertemu calon menantu Ayah."
"Pokoknya yang pasti Ayah tidak akan kecewa, oiya. Mau makan malam di rumah atau mau makan malam di restoran?"
"Tidak perlu di restoran, makan di rumah saja. Nanti malam datang saja ke rumah, Ayah juga ingin mengenalkan seseorang kepada kamu."
"Siapa? Kenapa terkesan rahasia? Apa mungkin kekasih Ayah?"
"Ada pokoknya, kamu pasti akan terkejut."
"Iya iya, kalau begitu sampai jumpa nanti malam."
"Ya," jawab Arkan dengan senyum misterius.
Setelah sambungan terputus, Arkan meletakkan ponselnya kembali. Saat dia menolehkan wajahnya ke arah istrinya, dia mendapati Mutiara terpaku dengan sendok yang menggantung di udara. Wajahnya pucat pasi.
"Kamu kenapa? Sakit?"
"Aku gak sakit, Om. Pas waktu itu kamu pernah bilang kalau kamu belum pernah menikah. Kamu bilang kamu bujang, bahkan masih perjaka. Lalu siapa itu?"
Arkan menghela napas panjang, dia meletakkan serbetnya, lalu menatap Mutiara dalam-dalam.
"Dia memang anakku, Tiara. Tapi bukan anak kandungku."
"Maksudnya?"
Raut wajahnya kini berubah penasaran, tiba-tiba saja jiwa keponya meronta-ronta. Dia ingin mendengarkan suaminya itu menceritakan semuanya tentang kehidupan di masa lalunya.
"Dua puluh tahun yang lalu---"
Arkan mulai bercerita, matanya menerawang jauh. Dia mengingat-ingat apa yang terjadi pada waktu itu, kejadian yang menurutnya sangatlah menyakiti dirinya. Mutiara bahkan bisa melihat ada air mata yang menggenang.
Dia menjadi tak enak hati, dia merasa terlalu ikut campur. Padahal pernikahannya juga bukanlah pernikahan yang sesungguhnya, Mutiara cepat-cepat berkata.
"Kalau misalkan kamu tidak mau cerita tidak apa-apa, jangan dimasukkan ke hati ucapan aku yang tadi."
"Nggak kok, aku akan menceritakannya."
"Ya udah, aku tunggu. Aku ingin mendengarnya," ujar Mutiara.
"Saat itu aku pergi bersama ayah dan Ibu, kami akan pergi liburan. Saat itu kami tertawa bersama dan bercanda bersama, hingga tidak terduga sebuah mobil melaju kencang dari arah berlawanan."
Arkan menjeda ucapannya, dia menggenggam tangan Mutiara dengan begitu erat. Seperti ada hal yang begitu berat untuk diungkapkan, Mutiara cepat-cepat mengelus punggung pria itu.
"Tabrakan tidak bisa dihindari, tabrakan itu menghancurkan segalanya. Ayah dan Ibu meninggal di tempat."
Mutiara menutup mulutnya dengan tangan, ngeri sekali mendengar apa yang dikatakan oleh pria itu. Dia juga kerasa kasihan, sampai tak sadar memeluk Arkan dengan erat.
"Aku turut berduka cita," ujar Mutiara.
"Hem! Di mobil yang menabrak kami, ada sepasang suami istri. Mereka juga tidak selamat. Tapi, ada seorang anak kecil berumur sembilan tahun di sana, dia terhimpit di kursi belakang. Dia kritis selama berbulan-bulan. Saat bangun, dia tidak ingat siapa-siapa. Amnesia total."
Arkan mengurai pelukannya dengan Mutiara, lalu dia meraih jemari Mutiara yang dingin. Mutiara memperhatikan pria yang umurnya lebih tua dari dirinya itu, sangat perhatian dan juga pengertian.
Dia merasa kalau pria itu terus bersikap seperti itu, Mutiara rasanya akan jatuh cinta. Walaupun misalkan dia tidak mencintai pria itu, Mutiara rela hidup bersama dengan pria itu selamanya.
"Aku kehilangan orang tuaku karena kecelakaan itu, dia juga kehilangan segalanya. Aku merasa kami senasib. Akhirnya, aku mengadopsinya secara resmi. Aku memberinya nama anak itu Fajar."
Deg!
Dunia Mutiara seolah runtuh mendengar nama itu. Pria yang selama ini menghancurkan hatinya, yang memanfaatkannya demi ambisi perusahaan, ternyata adalah anak angkat dari pria yang kini berada di hadapannya.
"Fajar?" bisik Mutiara dengan suara tercekat. "Fajar yang memiliki perusahaan logistik itu?"
Arkan menganggukkan kepalanya, dia sebenarnya sudah tahu hubungan Mutiara dan juga Fajar. Dia juga sudah tahu bagaimana cara keduanya berpisah.
Namun, dia sengaja berpura-pura di depan istrinya tidak tahu apa-apa. Dia hanya ingin istrinya itu bercerita secara blak-blakan kepada dirinya, bukan dirinya yang menuntut untuk diceritakan.
"Iya. Dia anak yang hebat, meski jalannya dulu sulit, tapi dia mampu mengembangkan perusahaannya dalam 3 tahun, menurutku itu sangat bagus loh."
Arkan memperhatikan wajah Mutiara yang memucat, dia tahu kalau istrinya itu pasti saat ini sedang teringat akan masa di mana Fajar sudah menyakiti dirinya.
"Kamu kenapa, Mutia? Wajahmu pucat sekali."
Mutiara hanya bisa terdiam, tenggorokannya terasa tersumbat batu besar. Bagaimana mungkin takdir memutar lingkaran sesempit ini?
"Sayang," panggil Nenek Mia sambil mengusap punggung tangan cucunya.
"Ehm! Om, aku ini adalah istri kamu. Kalau misalkan aku memutuskan untuk bersama kamu seumur hidupku, terus aku minta kamu untuk memilih. Kamu mau pilih aku atau Fajar?" tanya Mutiara sambil menatap wajah Arkan dengan lekat.