Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kediaman Tikus Kecil
Keriuhan di dalam kelas semakin menjadi-jadi karena absennya Mr. John. Suara tawa dan obrolan antar murid memenuhi ruangan, sementara Clara tampak kewalahan di depan kelas, sesekali mengetuk papan tulis dengan spidol untuk meredam kebisingan sambil terus menyalin materi pelajaran.
Di sudut belakang yang agak tersembunyi, suasana terasa jauh lebih tenang. Greta dan Luca duduk berdampingan, tangan mereka bergerak lincah menyalin tulisan Clara ke buku catatan masing-masing.
"Greta..."
Greta langsung menoleh ke arah Luca. Namun, Luca tetap fokus pada bukunya, tangannya masih terus menulis dengan stabil seolah pembicaraan ini hanyalah angin lalu.
"Kemarin aku gak bisa menepati janji, kan? Nanti sepulang sekolah kamu ada acara gak?" tanya Luca tanpa sedikit pun menoleh.
"Acara? Gak ada sih..." jawab Greta jujur, meski sedikit bingung dengan arah pembicaraan ini.
"Kalau begitu... boleh aku antar kamu pulang?"
"Hmm, gak usah Luca... aku naik bus saja," ucap Greta terbata-bata. Ia teringat akan rumahnya yang sederhana mungkin dan ia belum siap jika Luca harus melihat kenyataan itu.
Seketika, gerakan pena Luca berhenti. Ia meletakkan pulpennya, lalu perlahan melirik ke arah Greta dengan tatapan yang sulit dibaca. Greta mendadak merasa gugup di bawah pengawasan mata tajam itu.
"Kamu malu ya diantar sama orang yang pantatnya kena tinta hitam?" tanya Luca dengan nada datar, namun ada kilat jenaka di matanya.
"Ah... eng... enggak gitu... maksudku..." Greta gelagapan, wajahnya mulai memerah karena salah tingkah.
Luca kembali menarik sudut bibirnya, sebuah tawa kecil lolos dari mulutnya melihat kepanikan Greta. "Baiklah kalau gitu. Nanti kita jalan bareng ya dari kelas, biar kamu gak jatuh lagi di tangga," ucap Luca santai sembari melanjutkan catatannya.
Greta hanya bisa membalas dengan senyuman kecil yang canggung, namun ada rasa hangat yang menjalar di dadanya. Ia kembali menunduk, mencoba fokus pada buku catatannya meskipun pikirannya sekarang melayang jauh.
Bel sekolah akhirnya berbunyi panjang, menandakan berakhirnya jam pelajaran sekaligus jam sekolah hari itu. Suasana kelas yang tadinya riuh mendadak menjadi sangat sibuk suara gesekan kaki kursi, resleting tas yang ditarik cepat, dan sorak-sorai murid yang bersiap menghirup udara bebas memenuhi udara. Cahaya matahari sore yang mulai menguning masuk melalui celah jendela, menyinari debu-debu yang beterbangan di dalam kelas.
Greta segera merapikan bukunya dan menghampiri meja guru di depan. Di sana, Clara tampak menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya, dikelilingi tumpukan modul materi.
"Ayo, Clara, kita pulang," ajak Greta lembut.
"Aku harus kembali ke ruangan guru lagi, Greta. Harus mengurus materi besok, berjaga-jaga kalau Ms. Jasmin juga tidak bisa hadir," jawab Clara dengan nada mengeluh yang kentara. "Kamu duluan saja, ya."
Greta terkekeh melihat wajah lelah sahabatnya itu, lalu dengan gemas ia mencubit pipi Clara pelan. "Semangat, Sekretaris! Sampai bertemu besok!"
Saat Greta melangkah keluar pintu kelas, jantungnya sempat berdesir. Di sana, bersandar pada dinding lorong yang dingin, Luca sudah menunggunya. Laki-laki itu berdiri dengan santai, satu tangannya dimasukkan ke saku celana, sementara tangan lainnya memegang tali tas yang disampirkan di bahu.
"Ayo, Greta," ucap Luca sambil menegakkan tubuhnya.
Mereka pun berjalan beriringan menyusuri lorong sekolah yang mulai ramai. Luca berjalan di sisi luar, seolah secara alami ingin melindungi Greta dari arus murid yang berlarian. Langkah sepatu mereka beradu rima di atas lantai marmer yang mengkilap. Sesekali, Luca melontarkan candaan kecil tentang materi filsafat Plato tadi, membuat Greta tertawa kecil dan melupakan sejenak ketegangannya.
Melewati koridor utama, beberapa pasang mata menoleh ke arah mereka bisik-bisik mulai terdengar, namun Luca tampak tidak peduli sama sekali. Ia tetap berjalan dengan langkah lebar namun santai, memastikan Greta tetap berada di sampingnya. Saat menuruni tangga legendaris tempat Greta terjatuh kemarin, Luca sengaja melambatkan langkahnya.
"Hati-hati, aku tidak mau ada plester tambahan di dahimu," goda Luca sambil melirik Greta.
Hingga akhirnya, mereka sampai di gerbang sekolah yang megah. Angin sore Toronto yang sejuk menyapa wajah mereka.
Di kejauhan, di balik pilar gerbang yang kokoh, Norah berdiri bersama Revelyn. Tatapannya dingin, mengunci pergerakan Luca dan Greta. Ia menoleh sedikit, memberikan isyarat dagu yang tajam kepada Zev. Tanpa membuang waktu, Zev langsung berlari kecil menyusul mangsanya.
"Kapten!" teriak Zev dengan suara lantang, langsung merangkul bahu Luca dengan akrab.
Greta yang melihat kehadiran Zev seketika tersentak. Bayangan kejadian di tangga kemarin saat Zev berdiri di sana dengan seringai jahatnya membuat rasa trauma menjalar di punggungnya. Ia refleks membuang muka, melangkah menjauh beberapa senti dari Luca untuk menghindari kontak dengan Zev.
"Eh... kenapa, Zev?" jawab Luca, sedikit risih dan melepaskan rangkulan Zev dari bahunya.
"Kamu mau ke mana? Kamu lupa kita ada latihan hari ini?" tanya Zev dengan nada mendesak yang dibuat-buat.
"Latihannya kan nanti sore, Zev. Ini kan baru jam pulang, masih ada waktu sebentar," ucap Luca heran, dahinya berkerut menatap sahabatnya itu.
Zev menghela napas panjang, berakting seolah ini adalah masalah hidup dan mati. "Kamu tahu kan dua hari lagi kita ada pertandingan besar melawan tim dari Northern Secondary School? Mereka itu lawan berat, Luca!"
"Ya, aku tahu... tapi masih jam segini..." Luca mencoba membela diri, namun Zev segera memotongnya.
"Kamu tahu kan pelatih kita seperti apa kalau ada yang telat sedikit saja? Ayolah, cepat!" Zev kembali merangkul Luca, mencoba memutar tubuh kaptennya itu ke arah gedung olahraga.
"T.. tunggu dulu..." Luca mencoba menahan langkahnya, ia merasa tidak enak meninggalkan Greta begitu saja.
"Tidak apa-apa..." Tiba-tiba suara Greta memecah perdebatan mereka. Gadis itu, yang tadinya membuang muka, kini menatap Luca dengan tatapan tenang dan senyuman kecil yang tulus. "Kamu bisa mengantarku besok, Luca."
"T.. tapi..."
"Ayoo... Kapten! Jangan buat seluruh tim menunggu!" potong Zev sambil menarik lengan Luca dengan lebih kuat.
Luca terpaksa mengikuti tarikan Zev, namun ia terus menoleh ke belakang, menatap Greta yang berdiri sendirian di dekat halte bus. "Maaf Greta! Besok... besok aku janji!" teriak Luca setengah menyesal.
Greta hanya melambaikan tangan kecil, tetap mempertahankan senyumnya sampai sosok Luca menghilang di balik belokan koridor luar. Namun, begitu Luca benar-benar hilang dari pandangan, senyum itu perlahan pudar. Greta merasa suasana di sekitarnya mendadak menjadi sangat dingin.
Tanpa ia sadari, dari jendela mobil yang tak jauh dari sana, Norah sedang memperhatikan keberangkatan Luca dengan puas. Rencananya menjauhkan Luca berhasil. Kini, Greta sendirian di gerbang sekolah tanpa pelindung.
Greta naik ke dalam bus kota yang sesak, berdiri di antara orang-orang asing yang sibuk dengan ponsel mereka. Ia menatap keluar jendela, melihat pemandangan gedung-gedung pencakar langit di pusat kota perlahan berganti menjadi deretan bangunan tua yang kusam dan dipenuhi coretan grafiti saat bus memasuki wilayah Parkdale.
Setibanya di halte tujuannya, Greta turun. Suasana di sini sangat berbeda dengan lingkungan sekolahnya yang mewah. Aroma sampah yang terlambat diangkut dan suara bising kereta api yang melintas di kejauhan menyambutnya. Ia berjalan menyusuri trotoar yang retak, melewati beberapa toko kelontong dengan lampu neon yang berkedip redup.
Akhirnya, ia sampai di depan sebuah gedung apartemen bata merah yang terlihat lelah dimakan usia. Pintu depannya sudah agak berkarat, dan tangga darurat di samping gedung tampak tidak meyakinkan. Greta menaiki tangga menuju lantai tiga, langkahnya bergema di lorong yang remang-remang karena beberapa lampu sudah mati.
Ia merogoh kunci dari tasnya, membuka pintu unit kecilnya yang berderit, dan disambut oleh keheningan total. Di dalam ruang tamu sempit yang merangkap dapur itu, beberapa meja kayu Dan rak buku kecil dengan botol-botol obat yang tertata rapi di atasnya pengingat bisu akan rahasia yang ia sembunyikan.
Greta meletakkan tasnya, lalu berjalan menuju jendela kecil yang menghadap ke jalanan. Ia menghela napas panjang, merasa aman di dalam "benteng" sederhananya. Namun, ia tidak menyadari bahwa jauh di bawah sana, sebuah mobil mewah yang ia kenali baru saja berhenti di seberang jalan.
Di dalam mobil itu, Norah menurunkan sedikit kaca jendela hitamnya. Ia menatap gedung apartemen kumuh itu dengan tatapan jijik sekaligus puas.
"Jadi, di sini tempat tikus itu bersembunyi," gumam Norah sambil memotret gedung tersebut dengan ponselnya.
Norah menyandarkan punggungnya di kursi kulit mobil yang empuk, matanya masih menatap tajam ke arah jendela lantai tiga tempat lampu kamar Greta baru saja menyala. Sebuah seringai kemenangan terukir di wajahnya yang cantik namun dingin.
Ia meraih ponselnya, lalu menekan sebuah nomor yang sudah ia hafal di luar kepala. Hanya butuh dua nada sambung sebelum suara di seberang sana menjawab.
"Rev, kamu sudah lihat kan? Rekaman dan fotonya sudah cukup," ucap Norah dengan suara yang tenang namun mematikan. "Nanti malam, kita rayakan.
oke lanjut thor.. seru ceita nya