Julius Randle Seorang Laki-laki yang Memiliki aura yang mampu membekukan ruangan, namun seketika mencair hanya oleh senyum satu wanita.
Jane Mommartre, Seorang Gadis Yang menganggap dirinya Hanya Figuran Dan Hanya Debu yang tidak Terlihat Dimata Julius Randle, Dengan segala kekaguman dari jarak Tiga Meter, Dia Sudah menyukai Julius Randle Sejak Lama.
Dibalik Layar seorang Mr A dan Ms J sebagai pelengkap, yang ternyata Mr A adalan Julius Yang Tak tersentuh, Dan Ms J adalah Jane Si gadis Tekstil.
Cinta mereka tumbuh di antara jalinan Kerja sama Tekstil. Julius yang kaku perlahan mencair oleh Jane si Ms J, menciptakan momen-momen manis yang puncaknya terjadi di malam penuh kenangan.
Kekuatan cinta mereka diuji oleh manipulasi kejam Victoria Randle, Yang merupakan ibu Dari Julius Randle . Fitnah mendorong ibu, pesan singkat palsu, hingga tuduhan perselingkuhan membuat Julius buta oleh amarah. Jane diusir dalam keadaan hancur, membawa rahasia besar di Rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sinyal di Balik Layar
Di dunia nyata, aku adalah Jane Montmartre yang tak terlihat. Namun, di dalam aplikasi Encrypted Chat yang aku unduh empat bulan lalu, aku adalah Ms. J.
Hanya di sana, aku punya suara. Dan hanya kepada Mr. A, aku berani menumpahkan segalanya.
Malam itu, setelah hari yang melelahkan karena disebut Tidak relevan oleh Julius, aku merebahkan diri di kasur dan menatap layar ponsel. Satu notifikasi muncul.
Mr. A: Bagaimana hari ini, Ms. J? Apakah Matahari mu masih sedingin kutub utara?
Aku tersenyum kecil. Mr. A adalah satu-satunya pelarianku. Aku tidak tahu namanya, pekerjaannya, atau bagaimana wajahnya. Kami hanya berjanji untuk menjadi anonim.
Ms. J: Lebih buruk. Dia bilang aku Tidak relevan di depan teman-temannya yang berisik itu. Rasanya aku ingin menghilang saja menjadi benang di pabrik Ayah.
Mr. A: Jangan. Jika kamu menghilang, siapa yang akan memperhatikan detail terkecil tentangnya? Kamu bilang dia selalu memperbaiki letak jam tangannya setiap pukul 10 pagi. Orang yang tidak relevan tidak akan tahu sedetail itu.
Aku tersipu. Benar, aku menceritakan segalanya pada Mr. A. Tentang bagaimana Julius selalu memesan Americano tanpa gula, tentang caranya mengerutkan alis saat membaca grafik yang salah, hingga tentang rasa minderku pada Grace Liberty.
Ms. J: Tapi Mr. A, dia itu Julius Randle. Dia punya segalanya. Dia punya Grace. Aku hanya debu yang kebetulan satu kelas dengannya.
Mr. A: Kamu bukan debu. Kamu hanya terlalu fokus pada cahayanya sampai tidak sadar bahwa kamu punya warna sendiri. Mengapa tidak coba menyapanya besok? Mungkin hanya sekadar Halo.
Ms. J: Mustahil! Aku bisa pingsan di tempat.
Mr. A: Cobalah. Atau setidaknya, jangan menyerah pada nilaimu. Fokuslah pada ujian minggu depan. Aku ingin melihat figuran ini mengalahkan skor sang pemeran utama. Tidurlah, Ms. J. Jangan biarkan dia menghantui mimpimu terlalu berat.
Aku mematikan ponsel dengan perasaan yang sedikit lebih ringan. Mr. A selalu tahu cara menyemangatiku. Dia pintar, dewasa, dan bahasanya sangat tertata. Kadang aku membayangkan apakah Mr. A adalah pria tua yang bijak, atau mungkin mahasiswa dari universitas lain.
Keesokan Harinya di Kampus...
Aku duduk di perpustakaan, mencoba fokus pada buku ekonomi internasional seperti saran Mr. A. Tak jauh dari sana, geng Julius masuk dengan kegaduhan standar mereka.
"Jules, serius lo mau ikut proyek penelitian Profesor Han?" tanya Henry sambil melempar tasnya ke meja.
Julius hanya mengangguk singkat sambil membuka laptopnya. "Aku butuh data mentah dari sektor industri menengah."
Tiba-tiba, mata Julius menyapu ruangan dan berhenti tepat padaku. Aku langsung pura-pura sibuk dengan bukuku. Namun, aku merasa langkah kaki mendekat. Bukan langkah kaki Henry yang serampangan, tapi langkah yang tenang dan berwibawa.
Deg. Deg. Deg.
Julius berdiri di depan mejaku.
"Jane Montmartre," suaranya membuat bulu kudukku berdiri. "Aku dengar nilai makro-ekonomimu semester lalu adalah yang tertinggi kedua setelah aku."
Aku mendongak, terpaku. "E-eh... iya, Tuan Randle."
Julius meletakkan sebuah map di meja. "Ada bagian dari analisis tekstil yang tidak aku pahami sepenuhnya. Kurasa... kamu bisa membantu."
Dia kemudian mencondongkan tubuh sedikit, suaranya merendah hingga hanya aku yang bisa dengar. "Dan berhenti menyebut dirimu debu. Itu tidak cocok untuk seseorang yang punya ambisi sebesar kamu."
Setelah mengatakan itu, dia berbalik dan kembali ke mejanya tanpa menunggu jawabanku. Aku terpaku. Tunggu... menyebut dirimu debu?
Tanganku gemetar. Aku baru saja menceritakan soal Debu itu pada Mr. A semalam.
Di kursi paling depan kelas, Immanuel Julius Randle tampak fokus pada paparan profesor di depan. Namun, di bawah meja, jemarinya yang panjang sesekali menyentuh layar ponsel yang menyala redup.
Sebuah pesan masuk.
Ms. J: Mr. A, tadi dia bicara padaku! Tapi dia sangat dingin. Aku merasa ingin menangis, tapi aku harus tetap terlihat profesional sebagai anak pengusaha tekstil. Kenapa dia harus sekejam itu?
Bibir Julius berkedut hampir tak terlihat. Sebuah senyum tipis yang jika dilihat oleh Henry atau Lucia, akan membuat mereka jatuh pingsan karena terkejut. Julius melirik sekilas melalui pantulan kaca jendela ke arah baris ketiga, di mana Jane Montmartre duduk dengan wajah tertunduk, meremas pulpennya.
Kejam? batin Julius. Aku hanya mencoba melindungimu dari mulut lancang Henry, Jane.
Julius mulai mengetik balasan dengan cepat.
Mr. A: Mungkin itu caranya melindungimu agar teman-temannya yang menyebalkan itu berhenti mengganggumu. Jangan menangis. Kau jauh lebih kuat dari benang sutra terbaik di pabrik ayahmu.
Ia menekan tombol kirim, lalu segera memasukkan ponselnya kembali ke saku saat ia melihat Jane di belakang sana tersentak kecil ketika ponselnya bergetar.
Bagi dunia, Julius adalah puncak menara gading. Tidak tersentuh, sempurna, dan sudah Dipesan oleh Grace Liberty. Namun, tak ada yang tahu bahwa tunangannya dengan Grace hanyalah kesepakatan bisnis yang dingin, sebuah kontrak tanpa jiwa.
Julius pertama kali menemukan Jane di aplikasi itu secara tidak sengaja. Awalnya, ia hanya ingin mencari seseorang yang tidak mengenalnya sebagai Pewaris Randle. Namun, saat ia menyadari bahwa Ms. J adalah gadis pendiam yang selalu duduk tiga meter di belakangnya, ketertarikannya berubah menjadi obsesi yang tenang.
Di dunia nyata, Julius harus menjaga citra. Dia tidak bisa mendekati Jane begitu saja tanpa membuat media atau Grace menghancurkan kehidupan tenang gadis itu. Maka, ia menjadi Mr. A.
"Jules, lo denger nggak sih?" Henry menyenggol lengannya. "Nanti malam ada pesta di club biasa. Grace juga datang. Lo wajib ikut."
Julius kembali ke mode dingin. "Aku sibuk."
"Sibuk apa sih? Belajar terus? Lo udah jenius, Bro!" seru Patrick sambil tertawa konyol.
"Ada urusan yang... relevan," jawab Julius singkat, matanya sengaja menangkap pandangan Jane yang kebetulan sedang menatapnya. Jane langsung membuang muka, pipinya bersemu merah.
Malamnya, Jane kembali mengirim pesan.
Ms. J: Mr. A, apakah menurutmu aku harus berhenti menyukainya? Dia terlalu jauh. Dia punya Grace. Tadi aku melihat mereka berpapasan, dan mereka terlihat... serasi. Aku merasa seperti debu lagi.
Julius yang sedang duduk di ruang kerjanya yang luas, dikelilingi kemewahan yang terasa hambar, mengerutkan kening. Jemarinya mengetik dengan sedikit penekanan.
Mr. A: Jangan pernah membandingkan dirimu dengan Grace. Dia mungkin berlian, tapi berlian itu dingin dan keras. Kamu punya kehangatan yang tidak dia miliki. Dan satu hal lagi, Ms. J... mata sang Matahari itu sebenarnya selalu mencarimu, meski ia berpura-pura menatap langit.
Jane di kamarnya memeluk bantal, jantungnya berdegup kencang membaca pesan itu. Bagaimana Mr. A bisa tahu? Apakah dia seorang peramal?
Tanpa Jane sadari, di gedung seberang kota, Julius sedang memandangi foto profil anonim Jane, sebuah gambar sketsa bunga melati yang kecil namun bertahan di tengah badai.
"Sedikit lagi, Jane," gumam Julius pada kegelapan ruangannya. "Sedikit lagi, dan aku akan memastikan kamu tidak perlu merasa menjadi figuran lagi."
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍😍