Dunia telah berubah menjadi permainan maut.
Gerbang dimensi terbuka, monster meluap ke bumi, dan manusia terpilih membangkitkan kekuatan luar biasa yang disebut "Hunter". Namun, Kenzo tidak seberuntung itu. Dia hanyalah seorang Cleaner—pemulung mayat monster kelas rendah yang direndahkan dan dianggap sampah masyarakat.
Nasibnya berubah saat ia dikhianati dan dibiarkan mati di dalam Dungeon level tinggi oleh timnya sendiri. Di ambang maut, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem God Level Extraction Diaktifkan!]
[Target: Black Shadow Wolf (Grade A). Ekstraksi Berhasil!]
[Anda Mendapatkan Skill: Kecepatan Bayangan!]
Siapa sangka, pemulung yang dulunya diinjak-injak kini bisa mencuri bakat, kekuatan, hingga ingatan dari makhluk apa pun yang ia sentuh.
Satu per satu Hunter pengkhianat ia jatuhkan. Satu per satu monster penguasa ia jadikan batu loncatan. Dari pembersih sisa pertempuran, Kenzo bangkit menjadi predator puncak yang akan mengekstrak seluruh dunia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARENA PARA DEWA DAN DARAH BUATAN
Pulau Jeju hari ini nggak ada bedanya sama kandang jagal raksasa yang dikelilingi laut. Kalau biasanya turis dateng ke sini buat liat pemandangan, sekarang yang ada cuma moncong meriam Mana yang ngarah ke langit dan ribuan tentara elit IHA yang mukanya tegang kayak mau dihukum mati.
Di atas Jeju Dome, ratusan drone militer muter-muter, ngawasin tiap jengkal tanah seolah olah mereka takut ada setan yang bakal keluar dari aspal.
Jet hitam Shadow Faction mendarat dengan kasar di landasan pribadi. Pas pintu jet kebuka, hawa dingin yang bikin bulu kuduk berdiri langsung nyebar. Kenzo keluar duluan.
Zirahnya yang item legam mantulin cahaya matahari dengan cara yang aneh, seolah cahaya itu sendiri takut buat nempel di sana. Di belakangnya, Valeria, Freya, sama Hana jalan dengan muka yang nggak bersahabat.
Seorang pejabat IHA dengan setelan jas mahal nyamperin mereka. Senyumnya lebar, tapi matanya nggak bisa bohong kalau dia lagi kencing di celana.
"Selamat datang, Tuan Kenzo. Kami kira Anda bakal milih sembunyi di Jakarta setelah deklarasi... gila itu."
Kenzo nggak berhenti jalan. Dia bahkan nggak ngelirik pria itu. "Mana si sampah Xander?"
Pejabat itu keselek ludahnya sendiri. "Dia... dia sudah menunggu di ruang VIP. Mari saya antar."
Begitu Kenzo masuk ke ruang VIP, suasana mendadak jadi sunyi. Vladimir lagi duduk di pojokan sambil nenggak vodka, uap es keluar dari badannya sampe lantai di sekitarnya beku.
Di sisi lain, Seraphina berdiri natap jendela, auranya yang emas kelihatan gelisah kayak api yang mau mati ditiup angin.
"Lo telat, Naga Jakarta," Vladimir gumam, suaranya berat banget.
"Gue butuh waktu buat mastiin pisau gue cukup tajem buat motong leher orang orang di sini," bales Kenzo sambil narik kursi di tengah mereka. Dominasinya nggak bisa didebat.
Seraphina nengok, matanya tajem. "Jangan sombong, Kenzo. Xander itu bukan manusia lagi. IHA udah nyuntikin segala macem kotoran ke nadinya. Dia itu anjing gila yang dikasih pedang."
Belum sempet Kenzo ngebales, pintu aula kebuka dengan suara dentum berat. Dua belas orang masuk dengan seragam hitam merah yang kelihatan futuristik tapi norak di mata Kenzo.
Di depan mereka, jalan seorang pria yang mukanya pucet banget kayak mayat yang kelamaan direndem formalin. Kulitnya hampir transparan, nunjukin pembuluh darah item yang berdenyut-denyut di lehernya.
Itu Xander. Si pengkhianat yang sekarang jadi kelinci percobaan IHA.
Xander berdiri tepat di depan meja Kenzo. Dia nggak nunduk, nggak ada hormat hormatnya. Dia natap Kenzo pake mata yang item semua, nggak ada putihnya. Kosong.
"Kenzo," suara Xander kedengeran kayak rekaman kaset rusak. "Pecundang jalanan Jakarta sekarang pake baju besi mahal. Keren juga akting lo jadi raja."
Kenzo nyender, natap Xander dengan muka bosen.
"Bau lo busuk, Xan. Berapa liter cairan sampah yang disuntikin ke leher lo biar lo bisa berdiri tegak tanpa gemeteran di depan gue? Lo kelihatan kayak bangkai yang dipaksa gerak." ucap Kenzo.
Xander ketawa, tapi suaranya nggak enak didenger. "Kekuatan tetap kekuatan, Kenzo. IHA kasih gue evolusi yang lo dapet dari keberuntungan. Hari ini, gue bakal buktiin kalau sains manusia bisa ngerobek sistem purba lo itu."
Hana, yang berdiri di belakang Kenzo, tiba tiba megang kepalanya. Matanya mulai berpendar perak. "Guru..." bisiknya ngeri. "Dia... dia nggak punya aliran Mana yang bener. Seluruh badannya itu satu bom Mana yang nggak stabil. Dia nggak punya jiwa lagi."
Xander ngelirik Hana, terus nyengir ngeri. "Sayang banget murid lo harus liat gurunya jadi bahan rongsokan hari ini."
Satu jam kemudian, stadion udah penuh sesak sama orang orang kaya dan pejabat dunia yang pengen liat hiburan berdarah. Kenzo berdiri di tengah arena yang luasnya gila gilaan, lantainya terbuat dari baja Adamantite yang katanya nggak bisa ancur.
Lawan pertamanya bukan Xander, tapi dua orang Neo Hunter kembar, Castor sama Pollux.
"Kenzo dari Shadow Faction!" suara penyiar teriak lewat speaker raksasa. "Lawan lo adalah unit eksperimen 04 dan 05. Mulai!"
Si kembar melesat. Kecepatannya bener-bener di luar nalar manusia. Castor tangannya berubah jadi cakar monster gede, sementara Pollux matanya ngeluarin laser item yang ngebakar udara.
Hana mau maju, tapi Kenzo nahan dia pake tangan kiri. "Diem di situ. Jaga Valeria sama Freya. Gue mau beresin sampah ini dalam tiga detik."
Kenzo nggak nyabut pedangnya. Pas cakar Castor udah mau nempel di hidungnya, Kenzo cuma gerakin jarinya dikit. Dominator’s Touch.
BRAAAKKK!
Gravitasi di sekitar Castor mendadak jadi gila. Beban berat langsung neken badannya sampe dia ambles ke lantai baja. Bunyi tulang punggungnya yang patah kedengeran sampe ke tribun penonton.
Pollux nembakin lasernya, tapi Kenzo cuma jentikin jari lagi. Bayangan di depannya ngebentuk cermin, nyerep laser itu dan mantulin balik dua kali lebih kenceng.
DUARR!
Pollux kepental ke dinding arena sampe zirahnya ancur berkeping keping.
Stadion mendadak sunyi. Orang orang yang tadi sorak sorai sekarang pada melongo. Kenzo natap ke balkon VIP tempat Xander duduk. "Kalian ngirim laler buat lawan gue? Mana kesombongan lo tadi, Xan?"
Xander berdiri, mukanya masih datar. "Menarik. Lo mainin hukum fisika pake bayangan lo. Tapi gimana kalau bayangan lo sendiri yang berontak?"
Dia neken tombol di tangannya. Tiba tiba, menara di atas stadion ngeluarin gelombang frekuensi ungu yang bikin kepala Kenzo pening sesaat.
[PERINGATAN! Gangguan Mana Terdeteksi!]
[Koneksi Bayangan Diputus!]
Kenzo ngerasain hubungan batinnya sama Sato, Leviathan, sama Siegfried mendadak ilang. Bayangan di bawah kakinya mulai gejolak, nggak mau nurut, malah kayak mau nyekek kakinya sendiri.
"Inilah Project Ragnarok," teriak Xander dari atas. "Kita udah nemu frekuensi buat matiin sihir bayangan lo. Tanpa pasukan, lo cuma manusia biasa dengan pedang tumpul, Kenzo!"
Dua belas Neo Hunters lompat turun barengan, ngepung Kenzo dan timnya.
"Guru! Saya nggak bisa liat apa apa! Semuanya kacau!" Hana panik.
Valeria sama Freya udah pasang posisi tempur, tapi muka mereka tegang banget karena kerasa Mana mereka meredup.
Kenzo berdiri diem di tengah kepungan. Dia bisa ngerasain Jantung Naganya detak kencang, marah karena ada frekuensi sampah yang nyoba ngeganggu wilayahnya. Bukannya takut, Kenzo malah ketawa rendah. Tawa yang bikin semua orang di arena itu merinding.
"Kalian pikir kekuatan gue dateng dari bayangan?" Kenzo natap Xander yang masih di atas. "Bayangan itu cuma manifestasi dari kehendak gue. Kalau lo kunci bayangan gue, berarti gue harus pake cara lama."
Kenzo cengkeram dadanya sendiri. "Sistem... bodo amat sama batasan manusia. Aktifkan Dragon Sovereign Mode: 100% Blood Overload!"
[Peringatan! Penggunaan 100% bakal hancurin tubuh inang!]
[Konfirmasi: Ya.]
BOOOOOMMMM!
Aura merah darah meledak dari badan Kenzo, bikin gelombang kejut yang ngehancurin semua drone di udara. Zirahnya pecah berantakan, nunjukin sisik naga item yang mulai tumbuh nembus kulitnya. Tanduk naga muncul dari dahinya, dan matanya berubah jadi emas murni yang nyala.
Kenzo bukan lagi manusia yang pake kekuatan naga. Dia adalah naga itu sendiri.
Dengan satu langkah
BLAM!
dia ilang dan muncul di depan salah satu Neo Hunter. Tanpa pedang, dia cuma pake tangan kosong buat ngerobek dada orang itu seolah olah itu cuma kertas tisu. Darah muncrat ke mana mana.
"Bunuh dia! Tembakin semua meriam!" teriak petinggi IHA yang udah panik liat monsternya dipretelin satu satu.
Stadion itu berubah jadi tempat pemujaan darah. Kenzo gerak kayak badai, tiap pukulannya bikin bagian tubuh lawan terbang ke tribun penonton. Jeritan minta ampun nggak digubris.
Xander akhirnya nggak tahan cuma liat. Dia lompat turun, nyabut dua pedang laser ungu yang dialirin Mana nggak stabil. "Cukup, Kenzo! Sini, biar gue yang kirim lo balik ke lobang sampah!"
Kenzo nengok ke arah Xander. Mulutnya ngeluarin uap panas, senyumnya nunjukin taring yang tajam. "Ayo, Xan. Gue pengen tau rasa darah buatan lo itu kayak gimana."
Di atas mereka, satelit Aegis di luar angkasa mulai berpendar terang, siap buat nembakin laser penghancur ke pulau itu. IHA udah nggak peduli siapa yang menang; mereka mau ngeratain Jeju beserta isinya.
Kenzo dan Xander tabrakan di tengah arena, dan ledakan energinya bikin seluruh pulau Jeju bergetar. Perang yang sebenernya baru aja dimulai.