NovelToon NovelToon
Membuang Tunangan Sampah, Ku Nikahi Pamannya

Membuang Tunangan Sampah, Ku Nikahi Pamannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!

Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.

Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.


Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.

Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat jarak menyadarkan perasaan

Mayra terbangun dengan leher yang pegal.

Dia tertidur di sofa ruang tamu dengan TV masih menyala menampilkan Netflix yang sudah diam. Lampu-lampu masih terang, dia lupa mematikan sebelum ketiduran.

Mayra meraih ponselnya dan mengecek waktu: 3:47 pagi.

Dev belum pulang.

Dengan khawatir, Mayra mengecek ponselnya, tidak ada pesan atau panggilan tak terjawab dari Dev. Dia mengetik cepat:

"Dev, kamu masih di kantor? Sudah hampir jam 4 pagi."

Tidak ada balasan.

Mayra mulai khawatir. Apa Dev baik-baik saja? Apa masalah di kantor lebih serius dari yang dia pikir?

Dia berdiri dan berjalan ke jendela besar, menatap Jakarta yang masih gelap dengan hanya sedikit lampu yang menyala di gedung-gedung.

Lima menit kemudian, ponselnya berbunyi. Pesan dari Dev:

"Maaf baru balas. Masih di kantor, masalahnya lebih rumit dari perkiraan. Mungkin baru pulang jam 6-7 pagi. Kamu tidur saja, jangan tunggu aku."

Mayra mengetik balasan:

"Oke. Jangan terlalu memaksakan diri. Kesehatan lebih penting."

"Akan kulakukan. Selamat malam, Mayra."

"Selamat malam, Dev."

Mayra menatap percakapan itu dengan perasaan aneh. Dia khawatir tentang Dev. Bukan cuma sebagai rekan dalam kontrak, tapi... sebagai seseorang yang benar-benar dia pedulikan.

Kapan ini terjadi?

Mayra menggeleng dan memutuskan untuk tidur yang benar, di kamarnya, bukan di sofa. Besok senin, dia harus kerja dan butuh istirahat yang cukup.

Tapi saat berbaring di tempat tidur yang nyaman, pikirannya terus melayang ke Dev yang masih di kantor, mungkin lelah dan stres, menghadapi krisis sendirian.

Mayra akhirnya tertidur dengan perasaan yang tidak tenang.

***

Jam 7 pagi, alarm Mayra berbunyi.

Dia bangun dengan mata yang masih berat, jelas kurang tidur. Setelah mandi cepat dan bersiap untuk kerja, Mayra keluar dari kamar dengan harapan Dev sudah pulang.

Tapi penthouse sunyi.

Mayra mengecek kamar Dev, pintu terbuka sedikit, tempat tidur masih rapi. Dev belum pulang.

Dengan kekhawatiran yang semakin besar, Mayra mengirim pesan:

"Dev, kamu oke? Sudah jam 7 dan kamu belum pulang."

Kali ini balasan datang lebih cepat:

"Maaf, masalahnya berlanjut sampai pagi. Saya baru selesai 30 menit lalu. Sekarang dalam perjalanan pulang. Kamu sudah sarapan?"

"Belum. Aku tunggu kamu dulu."

"Mayra, kamu harus sarapan sebelum kerja. Jangan tunggu aku. Saya akan lama, mau mandi dulu di kantor sebelum pulang."

"Oke... hati-hati di jalan."

"Akan kulakukan."

Mayra menatap percakapan itu dengan perasaan... entah? Kecewa? Karena Dev tidak bisa sarapan bersama?

Ya ampun, Mayra. Sadarlah. Ini cuma perjanjian. Dia bukan pacarmu yang harus sarapan bareng setiap hari.

Tapi entah kenapa, hatinya tidak bisa diajak berlogika.

Mayra akhirnya sarapan sendirian, sereal dengan susu, tidak ada panekuk buatan Dev yang dia sudah mulai nantikan setiap pagi. Rasanya... hambar. Sepi.

Sebelum berangkat kerja, Mayra sempat meninggalkan catatan di meja dapur:

"Dev, ada sisa pasta di kulkas kalau kamu lapar. Dan tolong istirahat yang cukup. Jangan terlalu memaksakan diri. - M"

Lalu dia berangkat ke kantor dengan perasaan yang masih tidak tenang.

***

Di kantor, Mayra mencoba fokus pada pekerjaannya: ada pertemuan dengan klien untuk perencanaan pernikahan, ada panggilan dengan vendor, ada spreadsheet anggaran yang harus ditinjau.

Tapi pikirannya terus melayang.

"Mayra! hei, Mayra!" Dina melambaikan tangannya di depan wajah Mayra.

Mayra tersentak. "Ah, maaf. Aku melamun."

"Jelas," Dina duduk di meja Mayra dengan penasaran. "Kamu oke? Kamu terlihat tidak fokus sejak tadi pagi."

"Aku baik-baik saja. Cuma kurang tidur," jawab Mayra sambil mencoba fokus kembali ke layar laptop.

"Kurang tidur karena...?" Dina menyeringai dengan penuh arti. "Fase bulan madu dengan Mr. CEO tampan?"

"Dina!" Mayra menatap sahabatnya dengan wajah memerah. "Bukan begitu!"

"Kalau begitu apa? Cerita!" desak Dina.

Mayra menghela napas. "Dev ada krisis di kantor semalam. Dia pergi jam 10 malam dan belum pulang sampai aku berangkat tadi. Dan aku... khawatir."

Dina menatap Mayra dengan tatapan yang aneh. "Kamu khawatir."

"Ya. Sebagai... rekan. Tentu saja," bela Mayra.

"Mayra," Dina menatapnya dengan serius. "Kamu mulai punya perasaan untuk dia, kan?"

"Tidak!" jawab Mayra cepat. Terlalu cepat.

"Girl, aku kenal kamu sejak kuliah. Aku tahu kapan kamu bohong," kata Dina sambil menyilangkan tangan. "Dan sekarang kamu benar-benar bohong. Kamu suka sama Dev Armando."

Mayra membuka mulut mau membantah, tapi tidak ada kata-kata yang keluar.

Karena Dina benar.

Sial. Dia memang mulai punya perasaan untuk Dev.

"Ya ampun," bisik Mayra sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Aku dalam masalah."

"Kenapa dalam masalah? Bukannya bagus kalau kamu suka sama suamimu sendiri?" tanya Dina bingung.

"Karena ini pernikahan kontrak, Din!" bisik Mayra keras sambil memastikan tidak ada orang lain yang dengar. "Ini seharusnya murni transaksional! Tidak ada perasaan yang terlibat! Tapi aku... aku mulai peduli padanya. Lebih dari yang seharusnya."

Dina terdiam, memproses informasi itu. "Tunggu. Pernikahan kontrak? Apa?"

Mayra menyadari dia kelepasan bicara. Tapi sudah terlanjur, dan dia butuh seseorang untuk diajak bicara.

"Ini antara kita berdua saja, oke?" kata Mayra dengan serius.

Dina mengangguk. "Janji. Aman."

Mayra menceritakan semuanya: dari menemukan perselingkuhan Arman dan Zakia, rencana gila untuk menikahi Dev, kontrak satu tahun, perjanjian mereka, semuanya.

Dina mendengar dengan mata melebar, mulut terbuka, benar-benar terkejut.

"Astaga," bisik Dina setelah Mayra selesai. "Mayra, ini seperti alur drama Korea!"

"Aku tahu," Mayra menghela napas panjang. "Dan sekarang aku punya perasaan yang tidak seharusnya ada. Aku bodoh."

"Kamu bukan bodoh. Kamu manusia," kata Dina sambil memegang tangan Mayra. "Kamu tinggal bareng dia, dia memperlakukanmu dengan baik, dia penuh hormat dan perhatian. Tentu saja kamu akan punya perasaan! Itu wajar!"

"Tapi ini akan memperumit segalanya!" keluh Mayra. "Kontrak kita jelas: tidak ada keterlibatan romantis. Kemitraan murni. Kalau aku mengakui perasaan ini, semuanya akan jadi canggung dan--"

"Mayra, tunggu," potong Dina. "Apakah Dev menunjukkan tanda-tanda bahwa dia juga punya perasaan?"

Mayra terdiam, berpikir.

Dev yang masak untuknya setiap pagi. Yang menyesuaikan AC karena Mayra kedinginan. Yang protektif saat Arman datang kemarin. Yang selalu memastikan Mayra aman dan nyaman. Yang menggenggam tangannya saat dia gugup. Yang bilang dia merasa "lebih terhubung" dengan Mayra daripada dengan hubungan manapun di masa lalu.

"Aku... tidak tahu," jawab Mayra pelan. "Mungkin dia cuma jadi rekan yang baik. Sesuai kontrak."

"Atau mungkin," kata Dina dengan senyum tipis. "Dia juga merasakan hal yang sama tapi tidak mau mengakui karena takut memperumit hal-hal."

Mayra menatap sahabatnya. "Kamu pikir begitu?"

"Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya," kata Dina. "Bicara dengannya."

"Aku tidak bisa. Ini terlalu berisiko."

"Mayra, kamu sudah mengambil risiko terbesar dengan menikah dengannya di altar di depan ratusan orang. Dibanding itu, mengungkapkan perasaan itu tidak ada apa-apanya," kata Dina dengan logika yang sayangnya masuk akal.

Sebelum Mayra bisa menjawab, ponselnya bergetar. Pesan dari Dev:

"Sudah sampai penthouse. Akhirnya bisa istirahat. Terima kasih untuk catatannya. Pastanya enak. Kamu juga istirahat yang cukup, ya?"

Mayra tersenyum tanpa sadar saat membaca pesan itu.

"Lihat! Kamu senyum-senyum sendiri baca pesannya!" tunjuk Dina. "Girl, kamu benar-benar jatuh hati."

"Aku tidak--"

"Ya, kamu jatuh hati. Dan jujur? Aku senang untukmu. Dev sepertinya orang yang baik. Jauh lebih baik dari sampah si Arman itu," kata Dina dengan tegas.

Mayra menghela napas. "Tapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dengan perasaan ini."

"Untuk sekarang? Biarkan saja. Perhatikan. Lihat apakah dia juga menunjukkan tanda-tanda. Lalu saat waktunya tepat, bicaralah," saran Dina.

Mayra mengangguk perlahan. Mungkin Dina benar. Mungkin dia harus biarkan saja... lihat bagaimana keadaan berkembang secara alami.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sore hari, sekitar jam 6, Mayra pulang dari kantor lebih awal karena tidak ada pertemuan mendesak.

Saat masuk penthouse, dia menemukan Dev di sofa ruang tamu, mengenakan celana olahraga dan kaos, rambut berantakan, dengan laptop di pangkuan tapi matanya tertutup. Ketiduran.

Mayra berjalan perlahan mendekat, tidak mau membangunkan.

Dev terlihat sangat lelah: ada lingkaran hitam di bawah matanya, garis stres di dahinya, tapi wajahnya terlihat... tenang saat tidur.

Tanpa sadar, Mayra mengambil selimut dari sofa seberang dan menyelimuti Dev dengan hati-hati.

Dev bergerak sedikit, mata terbuka setengah. "Mayra...?"

"Shhh. Tidur lagi. Kamu butuh istirahat," bisik Mayra.

Dev menatapnya dengan mata yang masih setengah sadar. "Kamu sudah pulang...?"

"Ya. Kerja selesai lebih awal," jawab Mayra sambil merapikan selimut.

"Maaf... tidak bisa sarapan bareng tadi pagi..." suara Dev masih ngantuk.

"Tidak apa-apa. Pekerjaan itu penting," kata Mayra sambil tersenyum.

"Tapi kamu juga penting," bisik Dev, dan Mayra tidak yakin apakah Dev sepenuhnya sadar saat mengatakannya.

Jantung Mayra berhenti sedetik. "Apa?"

Tapi Dev sudah tertidur lagi, napasnya teratur, jelas kelelahan.

Mayra duduk di meja kopi di depan sofa, menatap Dev yang tidur dengan perasaan yang sangat rumit.

"Tapi kamu juga penting."

Apa maksud kata-kata itu?

Apakah Dev juga...?

Tidak. Jangan berpikir berlebihan. Dia mungkin setengah tidur dan tidak sepenuhnya sadar dengan apa yang dia katakan.

Tapi tetap saja, kata-kata itu membuat jantung Mayra berdetak lebih cepat.

Mayra akhirnya bangkit dan berjalan ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Dev pasti lapar saat bangun nanti.

Dia memutuskan untuk memasak sesuatu yang sederhana tapi menghangatkan: sup ayam dengan sayuran. Sesuatu yang hangat dan mudah dicerna setelah malam tanpa tidur.

Sementara sup mendidih di kompor, Mayra duduk di meja dapur dengan secangkir teh, ponselnya menampilkan artikel tentang "Bagaimana Mengetahui Apakah Kamu Jatuh Cinta".

Konyol, dia tahu. Tapi dia penasaran.

Tanda-tanda jatuh cinta:

1. Kamu memikirkan mereka terus-menerus. Centang.

2. Kamu peduli dengan kesejahteraan mereka. Centang.

3. Kamu merasa bahagia saat mereka ada di sekitar. Centang.

4. Kamu merindukannya saat mereka tidak ada. Centang.

5. Hal-hal kecil yang mereka lakukan membuatmu tersenyum. Pasti centang.

6. Kamu ingin tahu lebih banyak tentang mereka. Centang.

7. Sentuhan fisik terasa seperti listrik. ...mungkin centang?

Mayra menutup ponselnya dengan frustrasi.

Sial. Dia benar-benar jatuh cinta pada Dev Armando.

Suami kontraknya.

Pria yang seharusnya murni rekan transaksional.

Pria yang mungkin tidak pernah membalas perasaannya.

"Mayra? Apa yang kamu masak? Baunya enak banget."

Mayra terlonjak. Dev berdiri di ambang dapur, rambut masih berantakan, tapi terlihat lebih segar sekarang.

"Ah, sup ayam. Kukira kamu butuh sesuatu yang hangat dan menghangatkan setelah... malam yang gila tadi," jelas Mayra sambil mengaduk sup.

Dev berjalan mendekat dan berdiri di sebelah Mayra, menatap sup yang masih mendidih. "Kamu masak untukku?"

"Secara teknis untuk kita berdua. Tapi ya, kebanyakan untukmu," jawab Mayra.

"Terima kasih," kata Dev dengan suara yang lebih lembut. "Kamu tidak perlu repot-repot. Kita bisa pesan."

"Aku yang mau. Kamu butuh makanan rumahan," kata Mayra sambil mematikan kompor. "Supnya sudah siap. Duduk, aku sajikan."

Dev duduk di kursi tinggi sementara Mayra menuangkan sup ke mangkuk dan meletakkannya di depan Dev bersama dengan roti hangat.

"Terlihat luar biasa," komentar Dev sambil mulai makan.

Mayra duduk di seberangnya dengan mangkuk supnya sendiri, memperhatikan Dev makan dengan perasaan...entah, Hangat?

"Bagaimana kerjamu?" tanya Dev setelah beberapa suap.

"Baik. Ada kemajuan dengan klien baru. Bagaimana denganmu? Masalah di kantor sudah selesai?"

"Kebanyakan. Tim IT masih memantau, tapi yang terburuk sudah teratasi," jelas Dev. "Maaf kalau aku pada dasarnya menghilang semalam dan pagi ini."

"Dev, tidak apa-apa. Aku mengerti. Krisis kerja sedang terjadi," kata Mayra.

Dev menatapnya dengan tatapan yang... berbeda. Lebih intens.

"Kamu sangat pengertian. Lebih dari siapapun yang pernah kukenal," kata Dev pelan.

Mayra merasakan pipinya memanas. "Yah, aku juga punya karier. Aku mengerti prioritas."

"Lebih dari itu," kata Dev sambil meletakkan sendoknya. "Kamu... kamu peduli. Padaku. Sebagai pribadi, bukan hanya sebagai... rekan dalam kontrak."

Mayra terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa.

"Aku menyadarinya, kamu tahu," lanjut Dev. "Hal-hal kecil. Catatan yang kamu tinggalkan. Selimut yang kamu selimutkan tadi. Sup ini. Kamu tidak berkewajiban untuk melakukan itu semua. Tapi kamu melakukannya."

"Karena aku peduli," jawab Mayra sebelum bisa menahannya. "Tentang kamu. Sebagai pribadi."

Hening.

Keheningan yang berat, penuh muatan.

Dev menatap Mayra dengan tatapan yang membuat jantungnya berdetak sangat cepat.

"Mayra, aku--"

Tiba-tiba bel pintu berbunyi, memecah momen itu.

Mayra dan Dev sama-sama terlonjak.

"Siapa yang datang jam segini?" gumam Dev sambil berdiri dan berjalan ke pintu.

Dia membuka interkom, dan wajahnya langsung mengeras.

"Valerie," kata Dev dengan nada yang sangat dingin.

Mayra membeku. Valerie? Mantan tunangan Dev yang meninggalkannya 10 tahun lalu?

"Apa yang dia mau?" tanya Mayra.

Dev menatap layar interkom dengan tatapan yang tidak terbaca. "Entah. Tapi sepertinya dia tidak akan pergi kalau aku tidak turun."

"Kamu mau aku ikut?" tawar Mayra.

Dev menatapnya, lalu mengangguk. "Sebenarnya, ya. Aku mau dia tahu aku sudah menikah."

Mayra mengangguk dan mereka berdua turun ke lobi menggunakan lift.

Di lobi, berdiri seorang wanita berusia sekitar 35 tahun, sangat cantik dengan rambut panjang bergelombang, riasan sempurna, mengenakan gaun desainer yang jelas mahal. Perhiasan berkilau di leher dan pergelangan tangannya.

Valerie.

Saat melihat Dev, wajah wanita itu langsung cerah. "Dev! Akhirnya! Aku sudah mencoba menghubungimu berhari-hari tapi kamu--"

Kata-katanya terhenti saat dia melihat Mayra berdiri di samping Dev.

"Siapa dia?" tanya Valerie dengan nada yang tiba-tiba dingin.

"Istriku," jawab Dev dengan tegas sambil melingkarkan lengannya di pinggang Mayra, gerakan posesif yang membuat jantung Mayra berdetak kencang.

Valerie menatap Mayra dari atas sampai bawah dengan tatapan... menilai? Meremehkan?

"Istri? Dev, kamu menikah?" tanya Valerie dengan nada tidak percaya.

"Ya. Dua minggu lalu," jawab Dev.

"Kenapa aku tidak tahu?! Kenapa aku tidak diundang?!" seru Valerie.

"Karena kamu tidak relevan dalam hidupku lagi, Valerie," jawab Dev dengan dingin. "Sekarang, apa yang kamu mau?"

Valerie menatap Dev dengan tatapan yang... putus asa? "Dev, aku... aku perlu bicara denganmu. Pribadi. Tolong."

"Apapun yang mau kamu katakan, kamu bisa katakan di depan istriku," kata Dev dengan tegas.

Valerie melirik Mayra dengan tatapan yang bermusuhan, lalu kembali ke Dev.

"Baiklah," katanya akhirnya. "Aku... aku menyesal, Dev. Meninggalkanmu 10 tahun lalu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Dan aku... aku mau kita coba lagi."

Mayra merasakan dadanya sesak mendengar itu.

Dev tertawa, tawa sinis yang membuat Valerie tertegun.

"Coba lagi?" ulang Dev dengan nada yang penuh ketidakpercayaan. "Valerie, kamu meninggalkanku untuk pria yang lebih kaya. Kamu bilang aku tidak cukup baik untukmu. Dan sekarang, setelah 10 tahun, kamu datang dan bilang kamu mau 'coba lagi'?"

"Dev, aku muda dan bodoh waktu itu! Aku tidak menyadari apa yang kumiliki!" bela Valerie dengan putus asa.

"Terlambat," kata Dev dengan tegas. "Aku sudah melangkah maju. Aku menikah. Dan aku bahagia."

Dia menatap Mayra dengan tatapan yang membuat jantungnya hampir berhenti.

"Dengannya," tambah Dev.

Valerie menatap Mayra dengan tatapan yang penuh kebencian. "Kamu pikir dia akan tetap bersamamu? Dev adalah pria yang sulit. Dingin. Tidak bisa mencintai siapapun sepenuhnya. Cepat atau lambat, dia akan menyadarinya dan kamu akan;-"

"Cukup," potong Dev dengan suara yang sangat dingin dan berbahaya. "Jangan pernah bicara tentang istriku seperti itu. Dan untuk informasimu, Mayra menerimaku apa adanya. Sesuatu yang tidak pernah kamu lakukan."

Valerie terdiam, jelas terluka.

"Sekarang tolong pergi. Dan jangan datang lagi." kata Dev dengan tegas.

Lalu dia berbalik dan membimbing Mayra kembali ke lift, meninggalkan Valerie berdiri di lobi dengan wajah yang terkejut dan terluka.

Di dalam lift, hanya ada keheningan.

Mayra bisa merasakan ketegangan memancar dari Dev.

"Dev, kamu oke?" tanya Mayra pelan.

"Ya. Cuma... tidak menyangka akan melihatnya," jawab Dev sambil menghela napas panjang. "Maaf kamu harus menyaksikan itu."

"Tidak apa-apa," kata Mayra sambil meraih tangan Dev dan menggenggamnya. "Kamu menangani itu dengan baik."

Dev menatap tangan mereka yang bergandengan, lalu menatap Mayra.

"Terima kasih. Karena ada di sana. Karena... mendukungku," kata Dev dengan suara yang lebih lembut.

"Kita rekan, ingat?" kata Mayra dengan senyum.

"Rekan," ulang Dev, tapi ada sesuatu yang berbeda dalam nadanya. Sesuatu... lebih.

Saat mereka sampai di penthouse dan masuk, suasana berubah.

Mereka berdiri di ruang tamu, berhadapan, dengan sesuatu yang tidak terucapkan menggantung di udara.

"Mayra," panggil Dev pelan.

"Ya?"

"Apa yang kukatakan tadi, sebelum Valerie mengganggu... aku mau menyelesaikannya."

Jantung Mayra berdetak kencang. "Oke..."

Dev melangkah lebih dekat, sampai jarak mereka hanya beberapa inci.

"Aku mulai merasakan sesuatu. Sesuatu yang tidak seharusnya ada dalam kontrak kita. Sesuatu yang... memperumit segalanya," kata Dev sambil menatap mata Mayra dengan intensitas yang membuat lutut Mayra hampir lemas.

"Apa yang kamu rasakan?" bisik Mayra, meskipun jauh di dalam dia sudah tahu.

Dev mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Mayra dengan lembut, sentuhan pertama yang benar-benar intim di antara mereka.

"Aku jatuh cinta padamu, Mayra," bisik Dev. "Dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan."

Mayra merasakan matanya berkaca-kaca, tapi bukan karena sedih. Karena lega. Karena bahagia.

"Aku juga," bisik Mayra balik. "Aku juga jatuh cinta padamu, Dev."

Sejenak, mereka hanya saling menatap, memproses pengakuan yang baru saja mengubah segalanya.

Lalu Dev membungkuk dan mencium Mayra, bukan seperti ciuman di altar yang singkat dan untuk pamer.

Ini nyata. Dalam. Penuh dengan emosi yang mereka berdua sudah tahan selama ini.

Dan Mayra membalas ciuman itu dengan segenap hatinya.

Karena ini bukan lagi hanya kontrak.

Ini menjadi sesuatu yang nyata.

Sesuatu yang indah.

Sesuatu yang mungkin benar-benar... cinta.

****

BERSAMBUNG

1
arniya
mampir kak
Siti Maryati
enak alur ceritanya
Siti Maryati
👏👏👏👏
Ryn
lanjut thourr
Siti Maryati
aku juga siap .....
menunggu mu update lagi
Siti Maryati
Doble triple ya up nya
olyv
lanjut....
Siti Maryati
seru
Siti Maryati
ditunggu up nya ya
astr.id_est 🌻
😄😄 wahh karya baru lagi thor semangat terus ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!