Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏
Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!
Donasi ke aku:
Saweria: parleti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Akhir Kisah?
Tiga hari telah berlalu sejak pertengkaran hebat itu. Tiga hari di mana aku dan Asha sama sekali tidak berbicara satu sama lain.
Di sekolah, kami bersikap seperti orang asing. Asha tidak lagi menungguku di depan kelas. Tidak lagi membawakanku bekal. Tidak lagi tersenyum kepadaku.
Dan aku... Aku seharusnya merasa lega. Seharusnya aku bisa lebih fokus belajar tanpa dibebani rasa bersalah.
Tapi kenapa... Kenapa dadaku terasa begitu sesak?
🌷🌷🌷🌷
Pagi ini aku datang ke sekolah lebih awal dari biasanya. Koridor masih sepi, hanya beberapa siswa yang terlihat berjalan terburu-buru.
Aku berjalan menuju kelasku dengan langkah yang berat. Kepalaku masih terasa pusing karena semalam begadang lagi.
Saat aku hampir sampai di depan kelas, aku melihat Asha berdiri sendirian di dekat jendela koridor. Gadis itu menatap keluar dengan pandangan kosong.
Aku berhenti melangkah. Entah mengapa kakiku seolah terpaku melihat Asha yang terlihat begitu rapuh.
Wajahnya pucat. Matanya sembab. Bahkan dari kejauhan pun aku bisa melihat betapa kurusnya Asha sekarang.
'Asha... Kamu kenapa?' batinku dengan perasaan cemas yang tiba-tiba muncul.
Aku ingin menghampiri Asha. Ingin bertanya apakah dia baik-baik saja. Tapi aku tidak berani.
Karena akulah yang membuat Asha seperti ini.
Aku berbalik dan berjalan masuk ke kelas, meninggalkan Asha yang masih berdiri sendirian di dekat jendela.
🌷🌷🌷🌷
Saat jam pelajaran dimulai, aku mencoba fokus mendengarkan penjelasan guru. Tapi mataku terus saja melirik ke arah Asha.
Gadis itu duduk dengan kepala yang menunduk, tidak memperhatikan pelajaran sama sekali.
Sesekali tangannya memegang dadanya sendiri, seperti menahan sesuatu.
"Arsa, bisa kamu jawab soal nomor tiga?" tanya guru matematika tiba-tiba.
Aku tersentak. "Maaf Bu, bisa diulang pertanyaannya?"
Guru itu menghela nafas panjang. "Kamu gak dengerin dari tadi ya? Sudah, duduk saja."
Beberapa teman sekelas tertawa kecil. Aku menunduk dengan perasaan malu.
'Fokus Arsa... Fokus...' batinku mencoba menenangkan diri.
Tapi bagaimana aku bisa fokus kalau pikiranku terus saja dipenuhi oleh Asha?
🌷🌷🌷🌷
Saat istirahat pertama, aku melihat Asha berjalan keluar kelas sendirian. Cinta yang biasanya selalu menemani Asha, kali ini tidak terlihat.
Aku ragu sejenak, tapi akhirnya kakiku bergerak mengikuti Asha dari kejauhan.
Asha berjalan menuju taman belakang sekolah. Tempat yang sepi dan jarang dikunjungi siswa.
Aku bersembunyi di balik pohon, mengamati Asha yang duduk di bangku taman sendirian.
Gadis itu mengeluarkan kotak bekal dari tasnya. Tapi ia tidak membukanya. Ia hanya menatap kotak itu dengan tatapan kosong.
Lalu... Air mata Asha jatuh.
"Kenapa... Kenapa aku masih bikin bekal buat dia..." gumam Asha dengan suara yang bergetar.
"Padahal dia udah gak mau lagi... Padahal dia udah bilang aku ganggu dia..."
Asha memeluk kotak bekal itu dengan begitu erat.
"Arsa... Aku kangen... Kangen banget sama kamu..." isak Asha.
"Kangen sama kamu yang dulu... Kamu yang selalu ketawa bareng aku... Kamu yang selalu ngegombal... Kamu yang selalu bilang aku cantik..."
Dadaku terasa seperti ditusuk mendengar tangisan Asha. Tanganku mengepal begitu kencang.
'Asha... Maafkan aku... Maafkan aku...'
"Aku tau... Aku tau ini bukan salah kamu. Tapi kenapa sakit banget ya?" lanjut Asha sembari memegang dadanya.
"Kenapa rasanya kayak kamu udah mati... Padahal kamu masih hidup, masih di depan mata aku... Tapi kamu bukan kamu yang dulu lagi..."
Asha menghapus air matanya dengan kasar.
"Mungkin... Mungkin aku emang harus nyerah. Mungkin aku emang harus ngelepas kamu..."
Jantungku berdegup kencang mendengar ucapan Asha. Ada perasaan panik yang tiba-tiba muncul di dadaku.
'Jangan... Jangan nyerah Asha...' batinku tanpa sadar.
Tapi kenapa? Kenapa aku tidak mau Asha menyerah?
Bukankah ini yang aku inginkan? Agar Asha berhenti mengejarku? Agar aku bisa fokus belajar tanpa dibebani rasa bersalah?
Tapi kenapa... Kenapa rasanya begitu sakit mendengar Asha akan menyerah?
Aku tidak sanggup lagi melihat. Aku berbalik dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu.
🌷🌷🌷🌷
Malam harinya, aku duduk di meja belajar dengan tumpukan buku di depanku. Tapi mataku sama sekali tidak fokus membaca.
Pikiranku terus saja memutar ulang ucapan Asha tadi siang.
"Mungkin aku emang harus nyerah. Mungkin aku emang harus ngelepas kamu..."
'Kenapa... Kenapa aku gak bisa berhenti memikirkan kata-kata itu?'
Aku memegang kepalaku yang tiba-tiba terasa sakit lagi.
Dan dalam bayangan penglihatanku, aku melihat...
Taman. Langit sore yang berwarna jingga. Dan seorang gadis yang berdiri di hadapanku dengan senyuman lebar.
"Mau gak, kamu jadi pacar aku?" Aku mendengar suaraku sendiri bertanya.
"Mau!!" jawab gadis itu dengan begitu antusias.
Gadis itu... Gadis itu adalah Asha.
Tapi Asha yang berbeda. Asha yang senyumannya begitu tulus. Asha yang matanya berbinar penuh kebahagiaan.
"Aku janji, aku akan selalu sayang sama kamu, Asha" ucap suaraku dengan begitu lembut.
"Aku juga sayang sama kamu, Arsa. Sayang banget..." balas Asha dengan pipi yang merona.
Lalu... Bayangan itu hilang.
"Argh!!" erangku sembari memegang kepalaku yang terasa seperti akan pecah.
Keringat dingin membasahi wajahku. Nafasku tidak karuan.
'Itu... Itu pasti kenangan kami...'
'Berarti... Berarti aku benar-benar mencintai Asha dulu...'
Aku menatap foto kami yang ada di meja. Foto di mana kami berdua tersenyum begitu bahagia.
'Tapi kenapa... Kenapa aku gak bisa merasakan cinta itu sekarang?'
'Kenapa yang aku rasakan sekarang hanya... Hanya kebingungan dan rasa bersalah?'
Aku memegang dadaku yang terasa sesak.
'Asha... Sebenarnya apa yang harus aku lakukan?'
🌷🌷🌷🌷
Keesokan harinya, aku datang ke sekolah dengan tekad yang sudah bulat.
Aku harus bicara dengan Asha. Aku harus memberitahunya tentang keputusanku.
Keputusan yang mungkin akan menyakitinya lebih dari ini. Tapi ini adalah keputusan terbaik untuk kami berdua.
Saat istirahat kedua, aku melihat Asha berjalan sendirian menuju atap sekolah. Aku mengikutinya dari belakang.
"Asha" panggilku ketika kami sudah berada di atap yang sepi.
Asha berbalik dengan wajah yang terkejut. "Arsa... Ada apa?"
Aku menarik nafas panjang. "Aku... Aku mau ngomong sesuatu ke kamu."
Asha terdiam. Tatapannya terlihat waspada tapi juga penuh harap.
"Aku... Aku udah mikirin tentang kita. Tentang hubungan kita" ucapku dengan suara yang pelan.
"Dan?" tanya Asha dengan suara yang bergetar.
Aku menatap mata Asha. Mata yang dulu katanya selalu penuh cinta untukku. Tapi sekarang, mata itu hanya penuh dengan kesedihan dan kelelahan.
"Asha... Aku rasa... Aku rasa kita gak bisa lanjutin hubungan ini."
Deg.
Aku melihat wajah Asha langsung berubah menjadi sangat pucat. Bibirnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar.
"Bukan karena aku gak appreciate usaha kamu. Bukan juga karena aku gak peduli sama kamu" jelasku cepat.
"Tapi... Tapi aku gak bisa terus-terusan membohongi kamu. Aku gak bisa pura-pura punya perasaan yang sama seperti dulu."
Air mata Asha mulai jatuh. Tapi gadis itu tidak mengeluarkan suara apapun.
"Aku tau kamu sayang sama aku. Aku tau kamu udah berusaha keras buat bikin aku ingat. Tapi Asha... Aku gak bisa memaksa diriku sendiri buat jatuh cinta sama kamu lagi."
Aku menelan ludah yang terasa begitu pahit.
"Lagian... Lagian setiap kali aku coba ngingat kamu, kepala aku sakit. Rasanya kayak ada sesuatu yang ngeganggu aku buat ingat."
"Dan aku... Aku cape Asha. Aku cape ngeliat kamu sedih gara-gara aku. Aku cape ngerasa bersalah tiap kali lihat kamu."
Aku menatap mata Asha dengan tatapan penuh penyesalan.
"Makanya... Makanya aku rasa lebih baik kita akhirin aja. Kamu... Kamu berhak dapetin orang yang bisa sayang sama kamu sepenuh hati. Bukan orang kayak aku yang bahkan gak bisa inget kamu."
Keheningan merajai kami untuk beberapa saat. Hanya suara angin yang berhembus pelan.
Asha menatapku dengan tatapan yang kosong. Air matanya terus mengalir tapi ia tidak mengeluarkan suara apapun.
"Jadi... Jadi ini keputusan kamu?" tanya Asha akhirnya dengan suara yang sangat pelan.
Aku mengangguk. "Iya... Maafin aku, Asha."
Asha tertawa pahit. "Maaf... Maaf kamu bilang..."
"Kamu tau gak Arsa... Aku udah nunggu kamu dua minggu di rumah sakit. Ngedoain kamu setiap hari. Nangis tiap malem."
"Terus pas kamu siuman, kamu malah lupa sama aku. Tapi aku tetep gak nyerah. Aku tetep berusaha bikin kamu inget."
"Tapi sekarang... Sekarang kamu malah bilang mau ngakhirin semuanya?"
Asha memegang dadanya dengan tangan yang bergetar.
"Kamu tau gak sesakit apa rasanya? Lihat orang yang kamu sayang, yang katanya juga sayang sama kamu, tiba-tiba lupa sama semua moment bahagia kalian?"
"Rasanya kayak kamu mati, Arsa. Padahal kamu masih hidup. Tapi kamu yang dulu... Kamu yang sayang sama aku... Udah mati."
Air mata Asha semakin deras.
"Dan sekarang kamu bilang mau ngakhirin semuanya? Kamu pikir semudah itu buat aku ngelepas kamu?"
Aku terdiam. Tidak tau harus berkata apa.
"Tapi kamu tau yang paling sakit apa?" lanjut Asha dengan suara yang semakin bergetar.
"Yang paling sakit itu... Aku gak bisa marah sama kamu. Aku gak bisa nyalahin kamu. Karena ini emang bukan salah kamu."
"Ini salah aku... Salah aku yang egois waktu itu. Salah aku yang bikin kamu kecelakaan. Salah aku yang bikin kamu kehilangan ingatan."
Asha jatuh berlutut dengan air mata yang terus mengalir.
"Ini semua salah aku..." isak Asha.
Dadaku terasa begitu sakit melihat Asha seperti ini. Aku ingin memeluknya, menghiburnya.
Tapi aku tidak bisa. Karena aku tidak punya hak untuk itu lagi.
"Asha... Ini bukan salah kamu. Dengerin aku-" ucapku sembari mencoba mendekat.
"JANGAN MENDEKAT!" teriak Asha dengan suara yang nyaring.
Aku berhenti melangkah. Terkejut dengan teriakan Asha.
"Aku gak mau dikasihani sama kamu. Aku gak butuh belas kasihan kamu" kata Asha sembari berdiri dengan langkah yang sempoyongan.
"Kamu mau putus? Oke. Kita putus."
Asha menatapku dengan tatapan yang dingin. Tatapan yang sama sekali tidak aku kenal.
"Tapi jangan harap aku bakal mudah ngelepas kamu, Arsa. Gak akan."
Setelah itu, Asha berbalik dan berjalan meninggalkanku dengan langkah yang terhuyung-huyung.
Aku berdiri di atap itu sendirian. Angin berhembus kencang, tapi aku sama sekali tidak merasakannya.
Yang kurasakan hanya... Kekosongan.
'Apa... Apa aku udah melakukan hal yang benar?'
Tapi kenapa rasanya... Rasanya kayak aku baru saja kehilangan sesuatu yang sangat penting?
🌷🌷🌷🌷
Malam harinya, aku berbaring di kasur dengan mata yang menatap kosong ke langit-langit.
Seharusnya aku merasa lega. Seharusnya aku merasa bebas dari beban.
Tapi kenapa... Kenapa dadaku terasa begitu sesak?
Aku meraih bingkai di sebelah kasurku dan melihatnya dengan seksama. Di sana ada foto aku dan Asha.
Foto kami tertawa bersama. Foto kami makan bersama. Foto kami di taman hiburan.
Kami terlihat begitu bahagia.
'Kenapa... Kenapa aku gak bisa ingat semua kebahagiaan ini?'
Air mataku tiba-tiba jatuh. Untuk pertama kalinya sejak aku siuman, aku menangis.
"Asha... Maafin aku... Maafin aku..." gumamku dengan suara yang tercekat.
"Aku... Aku juga gak mau kehilangan kamu. Tapi aku gak tau harus gimana..."
Aku memeluk bingkai itu dengan begitu erat. Seolah-olah dengan begitu aku bisa memeluk Asha.
"Kumohon... Kumohon bantuin aku buat ingat kamu..."
Tapi hanya keheningan yang menjawabku.
END OF ARSA POV
Dan di suatu tempat, di kamarnya yang gelap, Asha juga menangis dengan cara yang sama.
Dua orang yang saling mencintai, tapi terpisah oleh ingatan yang hilang.
TO BE CONTINUED
🌷🌷🌷🌷🌷
Huhuhu sedih banget 😭😭 Arsa akhirnya memutuskan buat ngakhirin hubungan mereka, tapi kenapa rasanya malah sakit banget yaa...
Kedua-duanya sama-sama nangis, sama-sama menderita. Padahal mereka saling sayang, tapi gak bisa bersama 💔
Kira-kira ini beneran akhir dari kisah mereka? Atau masih ada harapan?
Penasaran kan kelanjutannya? Stay tune terus dan jangan lupa follow ig author!
Follow ig author ya!
@Jaaparr.
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku