Malam itu, di Desa Gadhing yang damai, Tirta hanyalah seorang pemuda biasa yang lebih akrab dengan cangkul daripada pedang. Wajahnya selalu menunduk malu, bicaranya pelan, dan tubuhnya kurus. Ia tak punya minat pada dunia persilatan yang sering dibicarakan para tetua di gardu. Baginya, kebahagiaan adalah melihat ladang bapaknya subur dan senyum ibunya mengembang.
Namun, ketenangan itu hancur saat desa mereka diserang. Sekelompok perampok yang dipimpin oleh Lurah Karta, seorang demang serakah yang terkenal bengis, datang dengan tujuan menjarah. Tirta menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua orang tuanya tewas di tangan mereka saat berusaha melindunginya. Suara pedang yang beradu dan jeritan pilu ibu masih terngiang-ngiang di telinganya. Dalam duka dan amarah yang meletup, sesuatu di dalam dirinya pecah. Sebuah kekuatan terpendam bangkit. Dengan tangan kosong, ia berhasil melumpuhkan beberapa perampok, membuat Lurah Karta terkejut dan mundur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA MATAHARI DAN PEDANG REMBULAN
Semburat fajar menyapu kabut di lembah Lemah Abang saat Tirta, Mayangsari, dan Dimas Rakyan berdiri di gerbang desa untuk berpamitan. Meskipun penduduk desa memohon dengan sangat agar mereka tinggal untuk merayakan kemenangan, Tirta tahu bahwa waktu bukanlah kawan mereka. Luka gores di pipinya memang sudah mengering, tetapi rasa lelah yang menghunjam hingga ke sumsum tulang akibat penggunaan Sinar Gadhing yang belum sempurna itu terasa nyata. Tubuhnya seolah-olah baru saja dipaksa memikul beban gunung.
Perjalanan kembali menuju Padepokan Lingga ditempuh melalui jalur perbukitan yang lebih tersembunyi. Mereka sengaja menghindari jalan utama, merayap di antara rimbunnya hutan jati untuk meminimalisir kemungkinan bertemu dengan telik sandi Nyai Rukmina atau sisa-sisa pasukan Ratna Gatri yang mungkin masih bersembunyi di balik semak.
"Kau terlalu banyak melamun, Tirta," tegur Dimas sambil mengunyah bekal ubi bakar pemberian warga desa. Meskipun wajahnya kotor oleh debu, semangat Dimas seolah tak pernah padam. "Biasanya kau paling rajin bertanya tentang jenis rumput atau perkiraan cuaca. Sekarang, kau seperti raga tanpa jiwa. Apa kau masih terbayang kecantikan Ratna Gatri?"
Tirta tersenyum tipis, mencoba mengusir kekalutan yang membebani pikirannya. "Aku hanya memikirkan ucapan Ratna Gatri semalam, Dimas. Nama 'Aki Sapu Jagad' terus berdenging di telingaku seperti lebah yang mengamuk. Ada getaran aneh di dalam darahku setiap kali nama itu disebut."
Mayangsari, yang berjalan di sisi kiri Tirta, memperlambat langkahnya. Wajahnya yang biasanya setenang telaga kini nampak sedikit tegang. "Bukan hanya kau, Tirta. Nama itu adalah legenda hitam di dunia persilatan. Sejak aku masih kecil, guruku sering bercerita tentang seorang pendekar yang konon bisa meratakan sebuah perguruan besar dalam satu malam sendirian. Namun, sudah tiga puluh tahun ia menghilang. Banyak yang mengira ia sudah menyatu dengan tanah."
"Jika ia benar-benar kembali dari tidurnya," lanjut Mayangsari pelan, "berarti ada sesuatu yang sangat besar yang memancingnya keluar. Sesuatu yang nilainya lebih tinggi dari sekadar emas atau wilayah kekuasaan."
Siang itu, mereka beristirahat di pinggir sebuah aliran sungai kecil yang airnya sebening kristal. Dimas segera menceburkan diri untuk menangkap ikan dengan tangan kosong—sebuah cara untuk melepaskan ketegangan—sementara Tirta duduk di atas sebongkah batu besar sambil memandangi telapak tangannya. Ia mencoba memanggil cahaya keperakan itu, namun hasilnya nihil. Tangannya tetap kasar dan biasa saja, seolah-olah energi luar biasa semalam hanyalah mimpi.
Mayangsari mendekat, membawa selembar daun pisang yang dibentuk menjadi wadah berisi air minum. Ia duduk di samping Tirta, membiarkan jarak di antara mereka menyempit hingga aroma harum melati dari tubuh Mayangsari tercium oleh Tirta. Hembusan angin hutan memainkan anak rambut Mayangsari, menciptakan pemandangan yang membuat Tirta sempat lupa akan bayang-bayang maut.
"Guru pernah bilang," Mayangsari memulai pembicaraan tanpa menoleh, matanya menatap aliran air yang tenang, "bahwa setiap kekuatan besar memiliki beban tersendiri. Sinar Gadhing adalah cahaya suci, tetapi jika wadahnya—yaitu tubuh dan jiwamu—belum siap, cahaya itu akan membakar dirimu dari dalam seperti lava."
Tirta menoleh, menatap profil samping wajah Mayangsari yang terkena pantulan cahaya air sungai. "Aku merasa... aku masih terlalu kecil untuk semua ini, Mayang. Beberapa bulan lalu aku hanyalah seorang petani yang takut pada bayangan prajurit desa. Sekarang, nasib banyak orang seolah-olah digantungkan pada tanganku. Bagaimana jika aku gagal? Bagaimana jika aku hanya membawa kehancuran bagi Padepokan?"
Mayangsari akhirnya menoleh, menatap langsung ke dalam mata Tirta. Ia meletakkan tangannya yang halus di atas tangan Tirta yang kasar. Sentuhan itu memberikan kehangatan yang aneh, seolah-olah kekuatan batin Mayangsari mengalir ke dalam diri Tirta.
"Ketakutan adalah tanda bahwa kau memiliki hati, Tirta. Hanya manusia yang memiliki hati yang pantas menyandang Sinar Gadhing. Seorang pendekar tanpa rasa takut hanyalah mesin pembunuh yang dingin. Mayangsari yang kau anggap tangguh ini pun..." ia tersenyum pahit, "pernah menangis semalaman di pelukan Guru saat pertama kali harus menghunuskan pedang ke arah manusia."
Tirta tertegun. "Kau? Menangis?"
"Tentu saja. Kita semua terbuat dari darah dan daging, Tirta. Jangan biarkan kekuatanmu membuatmu lupa akan kemanusiaanmu. Justru itulah yang akan membedakanmu dengan Aki Sapu Jagad atau Nyai Rukmina yang sudah kehilangan jiwa mereka."
Momen hening tercipta di antara mereka. Tirta merasa ingin mengatakan sesuatu yang lebih dalam, tentang bagaimana keberadaan Mayangsari menjadi satu-satunya alasan ia masih ingin melihat matahari esok hari, tetapi teriakan Dimas dari tengah sungai memecah suasana.
"Woi! Lihat! Aku dapat ikan mas sebesar paha! Malam ini kita pesta!" Dimas mengangkat ikan besar dengan bangga, membuat Tirta dan Mayangsari tertawa serentak, meskipun wajah mereka berdua sedikit memerah karena kedekatan yang baru saja terjadi.
Dua hari kemudian, mereka tiba di gerbang Padepokan Lingga. Namun, ada yang berbeda. Atmosfer padepokan yang biasanya tenang dan damai kini terasa berat seperti tertindih batu raksasa. Beberapa murid senior nampak berjaga dengan senjata terhunus di depan gapura kayu.
Saat melihat kedatangan Tirta, para murid segera memberi jalan dengan wajah cemas. Mereka langsung menuju ruang utama di mana Ki Ageng Lingga biasanya bermeditasi. Namun, mereka menemukan sang guru tidak sedang duduk bersila. Ki Ageng Lingga berdiri tegak di depan sebuah lukisan tua yang menggambarkan tiga matahari yang bersinar di atas puncak gunung.
"Kalian kembali tepat waktu," ujar Ki Ageng tanpa membalikkan badan. Suaranya terdengar lebih tua, lebih letih dari biasanya.
"Guru, kami telah mengalahkan pasukan Ratna Gatri di Lemah Abang," lapor Mayangsari sambil membungkuk hormat.
"Aku sudah tahu. Burung-burung pembawa pesan telah menyampaikannya lewat angin. Namun, ada harga yang harus dibayar untuk kemenangan itu," Ki Ageng berbalik. Matanya nampak merah. "Ratna Gatri hanyalah umpan, Tirta. Ia dikirim hanya untuk melihat sejauh mana kekuatan Sinar Gadhing telah bangkit di dalam dirimu."
Tirta melangkah maju, dadanya terasa sesak. "Guru, Ratna Gatri menyebut nama Aki Sapu Jagad. Siapa dia sebenarnya? Dan apa hubungannya dengan pusaka yang ada di tubuhku?"
Ki Ageng Lingga menghela napas panjang, lalu memberi isyarat agar mereka duduk di atas tikar pandan. Setelah menyesap teh hijaunya, ia mulai bercerita—sebuah rahasia yang selama ini terkunci rapat di dasar hatinya.
"Dahulu, Sinar Gadhing tidak berdiri sendiri. Ada tiga pusaka batin yang diciptakan leluhur untuk menjaga keseimbangan tanah ini. Sinar Gadhing yang melambangkan kemurnian, Sinar Baskara yang melambangkan kejayaan, dan Sinar Pangruwat yang melambangkan pemusnahan."
"Dua pusaka pertama adalah untuk membangun kehidupan. Namun pusaka ketiga, Sinar Pangruwat, diciptakan sebagai pemungkas untuk memusnahkan apa pun yang dianggap kotor di dunia ini. Sayangnya, orang yang mewarisi Sinar Pangruwat puluhan tahun lalu merasa bahwa seluruh dunia ini telah kotor dan layak dimusnahkan."
"Orang itu... adalah Aki Sapu Jagad?" tanya Dimas dengan wajah pucat pasi.
Ki Ageng mengangguk perlahan. "Namanya dulu adalah Baskara. Ia adalah saudara seperguruanku. Kami tumbuh di bawah bimbingan guru yang sama. Namun, ambisinya untuk 'membersihkan' dunia dari kejahatan membuatnya menjadi monster. Ia membantai siapa saja yang tidak sejalan dengannya. Ia percaya bahwa untuk menyempurnakan Sinar Pangruwat-nya, ia harus menyerap energi dari Sinar Gadhing milik keturunanmu, Tirta."
Tirta merasakan dingin menjalar di punggungnya. Ia kini sadar, kematian orang tuanya bukan hanya soal dendam politik Nyai Rukmina, tapi soal perebutan energi kuno yang bisa memicu kiamat.
"Lalu, di mana dia sekarang, Guru?" tanya Tirta dengan suara bergetar.
"Ia sedang menuju ke sini," jawab Ki Ageng tenang, namun nadanya mengandung kepastian yang mengerikan. "Nyai Rukmina telah berhasil membangunkannya dari meditasi panjang di Puncak Semeru. Mereka telah membuat kesepakatan gelap. Nyai Rukmina mendapatkan kekuasaan atas kerajaan, dan Aki Sapu Jagad mendapatkan nyawamu sebagai tumbal kekuatannya."
Malam itu, Padepokan Lingga berubah menjadi benteng pertahanan terakhir. Murid-murid senior diperintahkan untuk mengungsi, menyisakan hanya Tirta, Mayangsari, Dimas, dan Ki Ageng.
Tirta tidak bisa memejamkan mata. Ia pergi ke halaman belakang, tempat ia biasa berlatih. Di sana, ia mencoba menggerakkan tongkat jatinya, namun gerakannya terasa kosong dan hampa.
"Jangan dipaksa dengan amarah," suara lembut Mayangsari muncul dari kegelapan. Ia membawa sebilah pedang yang dibungkus kain sutra putih. "Pedang ini peninggalan ibuku, keturunan bangsawan dari timur. Guru bilang aku harus memberikannya padamu jika fajar terakhir telah tiba."
"Aku tidak bisa menggunakan pedang, Mayang. Aku hanyalah seorang petani yang terlempar ke dunia ini," tolak Tirta halus.
"Ini bukan soal pedang atau cangkul, Tirta. Ini soal keyakinan," Mayangsari melangkah mendekat, hingga napasnya yang hangat terasa di leher Tirta. "Besok, kita mungkin akan menghadapi akhir dari segalanya. Aku hanya ingin kau tahu... bahwa sejak hari pertama aku melihatmu bangkit di tengah puing desamu, aku tahu kau berbeda. Kau memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Aki Sapu Jagad."
"Apa itu?"
"Cinta dan rasa sakit karena kehilangan," bisik Mayangsari. "Aki Sapu Jagad bertarung untuk kesempurnaan ilmunya sendiri. Tapi kau... kau bertarung untuk aku, untuk Dimas, untuk warga Lemah Abang. Itulah sumber energi Sinar Gadhing yang sebenarnya."
Tirta menatap pedang di tangan Mayangsari, lalu menatap dalam ke mata wanita itu. Keberanian baru muncul dari lubuk hatinya. Ia mengambil pedang itu. Saat jemarinya menyentuh hulu pedang, cahaya perak samar mulai mengalir dari nadinya, merambat ke bilah baja itu, membuatnya bersinar lembut seperti rembulan yang turun ke bumi.
"Aku akan melindungimu, Mayang. Apapun harganya," janji Tirta.
Mayangsari menggeleng, air mata setitik jatuh di pipinya. "Jangan katakan itu. Jangan mati untukku. Hiduplah... hiduplah bersamaku setelah semua ini selesai."
Tirta menarik Mayangsari ke dalam pelukannya. Di bawah langit yang mendung, tanpa bintang, dua hati itu saling menguatkan. Di kejauhan, di kaki bukit, terlihat barisan obor yang bergerak mendekat bagai ular api yang panjang. Aki Sapu Jagad telah datang.