Zoran Shihai adalah pemuda 19 tahun dari Bumi yang hidup sebagai perampok jalanan. Ia mencuri bukan karena rakus, melainkan demi bertahan hidup. Namun satu kesalahan fatal yakni merampok keluarga kaya yang terhubung dengan dunia gelap membuat hidupnya berubah selamanya.
Dikejar para pembunuh bayaran, Zoran terjebak dalam pelarian putus asa yang berakhir pada sebuah retakan ruang misterius. Ketika ia membuka mata, ia tidak lagi berada di Bumi, melainkan di Dunia Pendekar, sebuah dunia kejam tempat kekuatan menentukan segalanya.
Terlempar ke Hutan Angin dan Salju, Zoran harus bertahan dari cuaca ekstrem, binatang buas, manusia berkuasa, dan kelaparan tanpa ampun. Di dunia ini, uang Bumi tak berarti, belas kasihan adalah kelemahan, dan bahkan seorang pemilik kedai tua bisa memiliki kekuatan mengerikan.
Tanpa bakat luar biasa, tanpa guru, dan tanpa sistem,
Ini adalah kisah tentang bertahan hidup, ironi, dan kebangkitan seorang manusia biasa di dunia yang tidak memberi ampun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kon Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surga dunia fana?
Nama gadis yang membawanya adalah Ruian.
Ruian menjawab dengan tenang, sikapnya sama sekali tidak terlihat gugup. Justru ketenangan itulah yang membuat Zoran semakin bingung.
Apa dia tidak takut dimarahi karena membawa seorang pria asing ke rumah?
Atau di desa ini hal seperti ini dianggap biasa?
“Dia seorang pengelana yang tersesat, Ayah,” ujar Ruian dengan nada alami. “Aku membawanya ke sini agar dia bisa beristirahat.”
Pria paruh baya dan wanita paruh baya itu saling menoleh, lalu mengangguk pelan.
Dan lagi-lagi, reaksi itu membuat Zoran semakin tidak mengerti.
“Begitu rupanya,” ucap wanita paruh baya itu sambil menatap Zoran. Tatapannya lembut, sama sekali tidak mengandung kecurigaan. “Kalau Anda belum punya tempat tinggal, Anda bisa tinggal di rumah kami untuk sementara, Tuan.”
Zoran terdiam.
Mana marahnya?
Mana kecurigaannya?
Anak gadis kalian membawa seorang pria asing ke rumah saat rumah sedang sepi, lho…
“Benar,” sambung pria paruh baya itu tenang. “Kami kebetulan masih punya satu kamar kosong. Jika Anda tidak keberatan, silakan tinggal di sini dulu.”
Zoran menelan ludah. Kebingungannya semakin menjadi. Mengabaikan pikiran yang berputar-putar di kepalanya, ia akhirnya bertanya dengan ragu, “Apa… benar-benar boleh?”
“Tentu saja boleh, Tuan,” jawab Ruian tanpa ragu sedikit pun. Ia lalu berbalik dan mengajak mereka masuk.
Kedua orang tua Ruian berjalan masuk lebih dulu.
Ruian berhenti sejenak di ambang pintu, lalu menoleh ke arah Zoran yang masih berdiri diam. “Ayo masuk, Tuan.”
Zoran mengangguk lemah. Dengan perasaan campur aduk, antara lega, bingung, dan sedikit waspada, ia pun melangkah masuk ke dalam rumah itu.
Hari demi hari berlalu lalu minggu berganti minggu berlalu.
Tanpa disadari, Zoran mulai terbiasa, bahkan merasa sangat nyaman dengan kehidupan di tempat ini. Sebuah kehidupan yang, baginya, terasa seperti surga kecil di dunia manusia.
Setiap pagi, ia bangun tanpa rasa waspada. Minum teh hangat, menikmati camilan sederhana, lalu melakukan sedikit latihan ringan, jika masih ingat untuk melakukannya. Setelah matahari meninggi, ia pergi ke ladang membantu orang tua Ruian.
Bagaimanapun, ia menumpang tinggal dan makan di rumah mereka. Tidak pantas rasanya jika ia hanya bermalas-malasan seperti ikan asin yang dijemur tanpa guna.
Awalnya, Zoran beberapa kali berniat pergi. Namun setiap kali ia menyampaikan niat itu, keluarga Ruian selalu menahannya dengan senyum hangat dan kata-kata lembut.
“Tidak perlu terburu-buru.”
“Tinggallah lebih lama.”
“Anggap saja rumah sendiri.”
Dan entah sejak kapan, Zoran selalu mengalah. Bukan karena dipaksa, melainkan karena ia sendiri tidak lagi ingin pergi.
Di tempat ini, semua orang baik. Ramah. Tidak ada intrik, tidak ada bahaya, tidak ada ancaman yang mengintai nyawanya setiap saat. Tidak ada binatang spiritual, tidak ada pendekar arogan, tidak ada rasa lapar yang menggerogoti perut, dan tidak ada rasa takut akan mati esok hari.
Di tempat yang terasa seperti surga ini…
Untuk apa berlatih?
Apa gunanya?
Bukankah hidup sudah cukup nyaman?
Latihan terasa melelahkan. Pedang terasa berat tanpa alasan. Setiap tetes keringat justru terasa seperti sesuatu yang sia-sia.
Perlahan tapi pasti, Zoran mulai meninggalkan rutinitas latihannya.
Awalnya, ia hanya mengurangi intensitas. Lalu mengurangi durasi. Hingga akhirnya, latihan itu berubah menjadi formalitas belaka.
Kadang ia mengayunkan pedangnya sepuluh kali saja, lalu berhenti.
Tenaganya terasa lebih baik digunakan untuk hal lain. Membantu di ladang, duduk minum teh, atau sekadar menikmati hari yang tenang.
“Apa di desa ini tidak ada orang jahat?” tanya Zoran tiba-tiba pada Ruian.
Ruian menoleh sekilas, lalu menjawab dengan nada tenang. “Orang jahat? Tidak juga. Di sini, semua orang hanya melakukan apa yang perlu.”
Zoran terdiam.
Hanya melakukan apa yang perlu?
Jawaban itu terdengar sederhana, tapi justru terasa aneh. Di dunia mana pun yang pernah ia kenal, bahkan di dunia yang keras sekalipun, selalu ada hitam dan putih. Selalu ada yang menyukai dan membenci, yang menolong dan menyakiti.
Jawaban Ruian bukan mengatakan tidak ada kejahatan, melainkan seolah berkata: kejahatan tidak relevan di sini.
Pikiran Zoran terasa sedikit berat.
Dengan kepala yang masih mencoba mencerna makna ucapan itu, ia mengangkat bakul berisi sayuran dan membawanya berjalan. Langkahnya pelan, pikirannya melayang.
Tanpa sadar, pandangannya tertuju pada punggung Ruian di depannya. Tubuhnya ramping, namun berisi dengan cara yang alami. Setiap geraknya lembut dan teratur, seperti bagian dari desa ini sendiri.
Entah kenapa, pemandangan itu justru membuat Zoran teringat pada seseorang lain.
Zilan.
Gadis yang dulu selalu muncul di saat-saat terburuknya. Yang memberinya pakaian, makanan, buku, bahkan dorongan untuk menjadi lebih kuat. Jika dipikir-pikir, kekuatan yang ia miliki sekarang, baik secara fisik maupun mental, tidak lepas dari bantuan gadis itu.
“Bagaimana kabar gadis kecil itu sekarang, ya?” gumam Zoran pelan dalam hati.
Zilan memang kasar. Kadang menyebalkan. Sering menampar tanpa peringatan. Namun entah kenapa, sejak tinggal di desa ini dan tidak lagi melihatnya, Zoran justru merasa ada sesuatu yang hilang.
Tentang Ruian… Gadis ini mungkin adalah vas bunga paling cantik yang pernah ia lihat. Tenang, lembut, dan hampir terasa tidak nyata. Namun tetap saja, perasaan yang muncul berbeda.
Zilan adalah seseorang yang berdiri di sampingnya saat ia tidak punya apa-apa.
Ruian adalah seseorang yang menyambutnya saat ia sudah ingin berhenti berjuang.
Dan bagi Zoran, perbedaan itu terasa jelas.
Memang benar, kebanyakan pria di dunia ini menilai wanita dari wajah dan tubuh terlebih dahulu. Tapi bagi Zoran, itu bukanlah segalanya.
Ada hal-hal yang tidak bisa diukur dari kecantikan.
Ada ikatan yang tidak lahir dari kenyamanan.
Zoran tidak menyangkal bahwa ia terpesona oleh kecantikan Ruian. Namun ia bukan pria mata keranjang, bukan tipe yang begitu melihat wanita cantik langsung mengejar, lalu membawanya tidur bersama. Itu bukan gayanya, dan bukan pula prinsip hidupnya.
Ia menghargai kecantikan, tapi tidak pernah menjadikannya alasan.
Bruk.
Saat sedang berjalan, Zoran tidak sengaja menabrak seseorang hingga keduanya terjatuh. Ia tersentak kaget, lalu segera membantu pria itu berdiri.
“Maaf, tuan. Aku tidak sengaja,” ucapnya tulus.
Pria itu berdiri, merapikan pakaiannya, lalu tersenyum hangat. “Tidak apa-apa, tuan,” katanya singkat, tanpa nada kesal, tanpa tatapan curiga.
Setelah itu, pria tersebut langsung pergi begitu saja.
Zoran menatap punggung pria itu cukup lama.
Tidak ada makian.
Tidak ada kemarahan.
Bahkan tidak ada ekspresi tidak senang.
Di desa ini, semua orang tampak baik, pada siapa pun, tanpa pengecualian. Dan justru itulah yang perlahan membuat Zoran semakin larut dalam kenyamanan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia kembali melanjutkan perjalanannya.
Sesampainya di rumah Ruian, kedua orang tua Ruian sudah berdiri di teras, menyambut Zoran dan Ruian dengan senyum hangat yang sama seperti biasanya.
Hari ini mereka tidak pergi ke kebun.
Bukan hanya hari ini, hal seperti ini sudah sering terjadi sejak Zoran tinggal di rumah mereka. Kadang, orang tua Ruian memilih tinggal di rumah, sementara Zoran dan Ruian pergi ke kebun menggantikan mereka.
Sebenarnya, kedua orang tua Ruian ingin tetap bekerja seperti biasa. Namun justru Zoran lah yang menahan mereka.
Ia merasa tidak pantas membiarkan orang tua itu bekerja, sementara dirinya hanya menikmati tumpangan dan makanan. Maka tanpa banyak bicara, ia mengambil alih pekerjaan itu, bersama Ruian.
Dan seperti semua hal lain di desa ini, tak ada yang mempersoalkannya.
Semuanya berjalan lancar. Hangat. Dan damai.