Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.
Tapi, nasib justru mempermainkannya. Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang mana ia harus menikahi Lilis, seorang janda kembang.
Suatu hari, Rayyan pamit harus kembali ke Ibu Kota demi menyelesaikan urusannya. Tapi lama waktu berlalu, Rayyan tak kunjung kembali, hingga Lilis makin gelisah menanti.
Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?
Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri, dan menetap di desa tersebut?
Lantas apa yang sebenarnya terjadi pada Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Niat Jahat
#9
Matahari baru juga beranjak menuju siang, namun Lilis sudah di buat meradang dengan tingkah Bu Saodah, ibu tirinya. “Pokoknya tidak. Titik!” tolak Lilis tegas.
“Tidak bisa, nanti malam, Juragan Sastro akan datang, bahkan dia sudah mengirimkan tanda jadi, berupa uang tunai 2 juta rupiah. Sebagai bukti keseriusannya.”
“Bu, aku pergi sekolah dulu, ya? Terima kasih uang jajannya,” pamit Arimbi riang, karena hari ini dapat uang jajan lebih dari hari biasanya.
“Nih, ada sisa 500 ribu buat kamu beli perlengkapan dandan.” Meski Lilis menolak, Bu Saodah tetap teguh dengan keinginannya. “Soal pakaian, kamu pinjam saja baju-baju Arimbi, biar gak keluar modal banyak.”
“Dih, nggak boleh!” Tolak Arimbi yang masih sibuk memakai sepatunya. “Nanti bajuku, bau gorengan dan kopi.”
“Hiihh! Kamu, kan, yang dapat uang paling banyak! Masa meminjamkan baju saja tak mau!” tegur Bu Saodah sedikit melotot.
Arimbi tak lagi membantah, “Atau kamu saja yang kawin sama Juragan Sastro?!” Arimbi menggeleng kuat-kuat.
“Ambil saja uang itu, aku tak butuh!” Sekali lagi, Lilis menolak dengan tegas. “Lebih baik aku mati kelaparan, daripada ibu menjadikanku alat untuk mendapatkan keuntungan.”
Lilis pun beranjak pergi, tanpa membawa uang yang diberikan Bu Saodah. Tak ingin lagi mempedulikan ucapan Bu Saodah, yang kini berseru keras memanggil dirinya.
“Lis! Lilis! Anak durhaka, kamu, ya! Awas kamu kalau pulang nanti malam!”
Semakin diancam, Lilis semakin teguh pendirian. Cukup sekali saja ia dijerumuskan Bu Saodah dalam perjodohan. Dan itu adalah pengalaman paling menyakitkan, harga diri terinjak-injak ditambah label janda yang akan terus melekat, entah sampai kapan.
Bila tak ingat pesan almarhum bapaknya, mana mungkin Lilis mau bersikap baik pada Bu Saodah, karena kini semakin lama sikap Bu Saodah dan Arimbi semakin menjengkelkan.
Padahal Lilis selalu berusaha, dan banting tulang seorang diri demi menghidupi semua orang di rumah, tapi di mata Bu Saodah, tetap saja kurang. Hingga nekat menawarkan dirinya untuk diperistri pria berusia lima puluhan.
•••
Siang ini warung Lilis sangat ramai, karena para pekerja yang mengerjakan lahan perkebunan milik Rayyan tengah istirahat, dan menikmati makan siang mereka di sana.
“Lis, hitung saja semua. Nanti, aku yang bayar, ya?” kata Rayyan setelah selesai makan siang dan minum.
Lilis mengangguk dan tersenyum tipis.
“Wah, terima kasih, bos mandor,” ucap para pekerja.
“Iya, sama-sama, aku cuma menyampaikan amanat pak bos di kota, membayar ongkos makan siang kalian,” sahut Rayyan merendah.
“Iya, lah, apa saja, pokoknya sampaikan ucapan terima kasih banyak.”
Rayyan mengangguk menanggapinya, kemudian benar-benar pergi untuk menunaikan kewajiban lima waktunya.
“Memang di bayar berapa kalian?” cetus salah seorang yang tidak ikut menggarap pekerjaan di peternakan.
“150 ribu dari jam 9 sampai jam 4 sore.”
Orang-orang melongo, “Banyak sekali upah kalian?”
“Tapi, ya gitu, pak Bos maunya cepat selesai, kalau kami berhasil menyelesaikan semua pekerjaan sebelum 2 minggu, kami akan dapat bonus lagi. Iya, nggak?” tanyanya memastikan pada teman-teman sesama pekerja yang lain.
“Sekarang saja sudah 50 persen kamu cangkul dan gemburkan, besok tinggal membentuk garis yang akan jadi tempat penyemaian bibit tanaman,” pamernya bangga.
“Sudah kebayang di kepalaku, Kang. Pasti bonusnya gede. Istriku pasti seneng.”
Orang-orang itu tertawa cekikikan, hingga si pria yang bertanya makin melongo. Di desa, uang sebesar itu harus mereka kumpulkan dalam 2 hari, itu pun pekerjaannya dimulai lebih pagi, dan selesai jam 5 sore. Tanpa uang makan. “Bosnya, masih terima pekerja lagi, nggak?”
“Sepertinya, nggak, Mas.”
“Huuh, paling itu akal-akalanmu saja.”
“Lho, gak percaya, tanya Mas Nanang, tuh. Dia temannya Pak Bos yang tinggal di kota. Katanya Pak Bos mau semuanya segera beres.”
•••
Malam mulai menyelimuti desa, tapi Lilis enggan meninggalkan warung kecilnya. Wanita itu sudah membersihkan warung, mengunci pintu dan menutup jendelanya, tapi masih duduk meringkuk di lantai dapur mini, yang ia alasi beberapa lembar koran bekas, agar layak menjadi tempat sholat.
Tadi ia juga menggunakan kamar mandi mushola yang tak jauh dari warung untuk membersihkan diri setelah beraktivitas seharian.
Kini, walau sempit dan sedikit tak leluasa bergerak, tapi Lilis enggan pulang, karena tahu malam ini Juragan Sastro akan bertandang ke rumah untuk lamaran. Lilis akan bertahan selama mungkin, membiarkan Bu Saodah terjebak dalam rencananya sendiri.
Ia sudah lelah dengan semua omelan, sindiran, ejekan, bahkan khayalan Bu Saodah. Wanita itu, seperti tak punya rasa syukur sedikitpun. Karena berapapun uang pemberian Lilis selalu saja terasa kurang baginya.
“Astaghfirullah, astaghfirullah, Allahu Akbar, Subhanallah,” ucap Lilis pelan, mengharap ketenangan dengan berdzikir, daripada membiarkan hatinya dikerubuti kemarahan.
Hingga beberapa saat waktu berlalu, adzan isya’ pun berkumandang. Lilis segera menunaikan sholat, karena setelah ini ia ingin tidur.
Tapi Lilis tak menyadari bahwa bahaya sedang mengintai dirinya.
Siang tadi, di tengah ramainya warung, dan kesibukan Lilis menyiapkan pesanan pembeli, ada seorang pria yang mengamati setiap gerak gerik Lilis dengan tatapan berbeda.
Lilis memakai rok panjang, dan kaos yang longgar, bahkan kepalanya ditutup jilbab instan. Tapi pada dasarnya pria itu sudah tercemar video porno yang sudah merusak otaknya, hingga di kepalanya hanya muncul fantasi liar tentang isi di balik pakaian longgar yang Lilis kenakan.
Tapi pria itu, hanya bisa menyembunyikan isi kepala mesumnya, serta menelan air liurnya, karena sedang di siang hari bolong, ditambah banyak orang di sekitarnya.
Dan kini, hari sudah gelap, saatnya menjalankan rencananya.
Semua bermula ketika tadi sore ia dan teman-teman sesama pekerja bermaksud meninggalkan tanah peternakan milik Rayyan.
Pria ia melihat Lilis pergi meninggalkan warung, dan tak lama kemudian sudah kembali, walau pakaiannya masih sama, namun, wajah Lilis yang baru selesai mandi terlihat lebih cerah dan membuat sisi kelelakiannya bergejolak.
Kini Desa Kembang Turi sudah di selimuti pekatnya malam, jalanan desa pun sudah sepi. Ditambah posisi warung Lilis yang sedikit jauh dari rumah warga, ah, sepertinya semesta mendukung penuh rencana jahatnya.
•••
“Nang, aku pinjam motor kamu, ya?” ucap Rayyan selepas sholat isya dan makan malam.
“Lho, mau kemana?”
“Keluar sebentar, nggak lama, kok,” sahut Rayyan, malas menjelaskan maksud kepergiannya.
“Sendirian, tumben gak sama Nanang, biasanya kayak Upin Ipin,” sindir Bu Siti ikut kepo.
Tapi Rayyan hanya tersenyum misterius, sambil menyalakan mesin motor bebek milik Nanang.
“Jangan kangen, ya, Nang, Bu,” seringai Rayyan.
“Dih, males banget,” cibir Nanang, kembali menatap TV yang sedang menayangkan acara discovery singkat.
“Nang, gantilah saluran TV nya, Emak mau lihat sinetron Istri Muda. Lagi seru soalnya,” pinta Bu Siti.
“Bentar, ah, Mak. Aku mau lihat Hiu di musim kawin.”
“Eh, sama, hari ini episode sinetron juga acara kawinan Mas Kenzo dan Neng Nada.”
🤣
“Haish! Repot kalo sudah melawan emak-emak,” gerutu Nanang, pasrah menyerahkan remote TV pada Bu Siti.
Tiga puluh menit kemudian—
Terdengar suara kentongan yang saling bersahutan, dari satu rumah warga, hingga menjalar ke rumah warga yang lainnya.
Di Desa Kembang Turi, kentongan sama halnya dengan alarm tanda bahaya seperti di kota. Jika kentongan berbunyi saling bersahutan, itu artinya sedang ada tanda bahaya yang mengharuskan warga bersiaga.
setelah Rayyan liat apa akan langsung ehem ehem ya🤭